
Mereka berdua masuk ke dalam saluran air yang entah membawa mereka ke mana. Dirga akhirnya tak sadarkan diri setelah melihat gadis itu melapisi tubuhnya dengan pelindung agar aman dari guncangan dan bahaya lainnya. Sedangkan Rheva masih bertahan di tengah pusaran yang terus mendorongnya dam membuatnya berputar dalam saluran.
“sebenarnya ini saluran apa... dan menuju kemana... lalu apa hubungannya dengan limbah berbahaya tadi?” batin Rheva yang masih tidak tahu pasti menuju kemana ujung saluran itu.
Setelah beberapa lama akhirnya sampailah di ujung saluran itu. Untung saja dia waspada saat dia keluar dari saluran itu dan berakhir di sebuah bebatuan sungai yang menurun ke bawah.
“Plop....!” gadis itu keluar dari pelindung yang dia buat sambil memegangi tubuh Dirga lalu dengan gesit berpijak pada bebatuan dan melompat ke batu lain yang ada di bawahnya sampai ke tepi sungai.
“Akhirnya sampai juga...” ucap gadis itu setelah memijakkan kakinya di tanah. Ia membaringkan tubuh Dirga dan duduk di sebelahnya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan untuk mengusir rasa lelah dan penatnya setelah berjuang di tengah arus yang sangat kuat.
Setelah nafasnya tenang dan tenaganya pulih ia mencoba menyadarkan Dirga dengan menekan beberapa titik kesadaran yang ada di sekitar leher dan bahu.
“Aah....aku ada dimana... ?” ucap Dirga setelah dia membuka matanya dan mendapati dirinya ada di sebuah tepi sungai. Ia mengingat kembali hal terakhir yang terjadi padanya.
“Kau sudah sadar... ?” ucap gadis itu merasa lega setelah melihat Dirga sadar. Dia langsung duduk dan melihat sekitar yang terasa asing baginya. Meskipun dia bukan penduduk sekitar Pantai Mahakam, dia tahu betul lokasi itu.
“Rheva apa kau tahu kita ada di daerah mana sekarang ? Ku harap kau tahu kita ada dimana...” tanyanya yang melihat gadis itu menggeleng.
“Apa kau sudah merasa baikan ? Jika kondisi mu sudah pulih kita harus pergi dari tempat ini secepatnya dan mencari jalan keluar.” menatap ke sekitar dan mencari jalan yang bisa mereka lalui karena di sekitar mereka hanya terdapat tebing curam.
__ADS_1
Mereka berjalan menyisir daerah itu melewati pepohonan yang merupakan spesies baru dan belum pernah mereka temui sebelumnya. Di tengah perjalanan Dirga berhenti di sebuah pohon dimana pohon itu sama sekali tidak berdaun dan mempunyai banyak dahan yang membentuk suatu jalinan yang menjulang ke atas tinggi sekali seperti tanpa batas. Dia mencoba untuk memanjat pohon itu, namun Rheva menghalanginya dan mengajaknya terus berjalan hingga mereka sampai di tepi tebing.
“Sepertinya tak ada jalan lain selain jalan ini. Ini jalan buntu. Kita harus melompat ke tepi tebing di depan kita. Ya hanya tebing itu jalan satu-satunya untuk kita.” ucap Dirga menunjuk tebing lain di depannya.
“Rheva pegang tangan ku. Pegang yang erat. Kita akan melompat ke sana !” ucapnya lalu meraih tubuh gadis itu dan memegang pinggangnya lalu melompat melewati celah lebar di antara dua tebing itu.
“Bruk...” pendaratan yang di lakukan Dirga kurang mulus dan membuat mereka jatuh. Lagi-lagi gadis itu menduduki tubuh Dirga.
“Ah maaf... maksud ku terimakasih...” ucap gadis itu kembali salah tingkah saat mereka terlalu dekat dan segera bangun dan berjalan.
“Hey tunggu....!” ucap Dirga yang segera berdiri dan mengikuti gadis itu berjalan menjauhi dirinya. Akhir-akhir ini gadis itu sering bertingkah aneh padanya, seperti layang-layang. Kadang terlalu dekat namun di lain sisi menjauhinya tanpa sebab yang jelas.
“Rheva... tunggu... tunggu aku. Aku merasa terkadang belakangan ini kau menjauhi aku tanpa sebab. Ah tidak... bukan begitu maksud ku... ah lupakan saja.” ucapnya takut terjadi salah paham dan malah semakin memperburuk situasi. Rheva kembali menoleh ke samping tapi ia mengabaikan pertanyaan Dirga barusan dan berjalan seperti biasanya.
Dalam perjalanan terasa sepi karena mereka berdua tidak bicara. Dirga akhirnya angkat bicara untuk mencairkan suasana yang baginya mencekam.
“Em... Rheva... maaf jika ada perkataan ku yang membuat mu tidak nyaman. Tapi aku sangat berterima kasih pada mu karena sudah menyelamatkan aku dari serangan mematikan makhluk parasit itu. Aku tidak tahu bagaimana nasibku sekarang jika saja kau tidak menebas lidah binatang ordo hirudinea itu menggunakan pedan mu...” ucapnya tulus agar gadis itu kembali seperti biasanya.
Mendengar apa yang di ucapkan Dirga barusan membuat langkahnya seketika berhenti. Raut mukanya terlihat shock dan sekarang dia merasa dihakimi dan terpojok. Apa dia sebelumnya ceroboh hingga membuat anak itu mengetahui kekuatannya. Tapi dia yakin jika dia melihat Dirga sudah tak sadarkan diri saat ada di ngarai. Lalu bagaimana bisa anak itu melihatnya menjatuhkan binatang itu ?
__ADS_1
“Ah... aku-aku tidak melakukan itu...”. ucapnya terbata-bata karena gugup dan kalimatnya terjeda karena Dirga memotong pembicaraan.
“Dengar Rheva... aku tak bermaksud menghakimi mu atau menyudutkan mu, tidak. Aku masih sadar saat kau menyelamatkan aku yang ada di titik terendah kekuatan ku. Aku melihatmu bagaimana kau bisa merobohkan binatang itu. Yang ingin ku tanyakan padamu adalah.... adalah... apa kau juga punya kekuatan seperti aku ? Itu saja tidak lebih....” ucap Dirga berjalan mendahului dan menghentikan langkah gadis itu yang ingin kabur darinya.
Rheva berhenti dan menundukkan wajahnya menghindari tatapan menyelidik Dirga. Dia berpikir dalam kebingungan yang menderanya saat itu. Dia pun akhirnya menyadari tak selamanya dia bisa menyembunyikan hal itu dari anak itu. Mungkin saat ini memang sudah waktunya bagi Dirga untuk mengetahui semua itu. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam bersiap menceritakan jati dirinya.
“Itu... aku... memang benar punya kekuatan sepertimu. Dan aku tidak berasal dari tempat yang sama dengan mu. Aku adalah keturunan Ighist murni.” terangnya singkat sambil mengangkat kepalanya menatap tepat ke mata Dirga tanpa rasa takut lagi.
“Apa... apa maksudmu... aku tidak tahu yang kau maksud itu...” ucapnya mencerna perkataan gadis itu. Rheva melihat wajah Dirga yang tampak bingung dan tak mengerti kata-katanya. Namun ia tak mau menjelaskan lebih detail pada anak itu.
“Aku tak bisa menjelaskannya pada mu saat ini...” ucap gadis itu sambil berlalu dan terus berjalan tanpa mempedulikan pertanyaan lainnya dari anak itu.
Dirga yang merasa tak di anggap menghembuskan nafas dengan berat. Untuk mengusir rasa kesalnya dia bersenandung kecil sambil menikmati setiap pemandangan yang ia lihat. Dia merasa pemandangan di jalan yang dilaluinya memberikan kesejukan mata dan tak sadar ia sudah berjalan di depan gadis itu dan mendahuluinya.
Setelah beberapa saat berjalan sampailah ia di suatu tempat yang lebih indah dari sebelumnya. Di depannya terdapat salju yang turun. Di sepanjang jalan juga terlihat salju yang menumpuk.
“Rheva cepat kemari... cepat kemari ! Tempat ini begitu indah. Kau harus melihatnya.” teriaknya berhenti dan berbalik memanggil gadis itu.
Rheva yang penasaran segera berlari dan menyusul Dirga. Betapa terkejutnya dia saat sampai di tempat itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG....