
Dirga melihat kakek Sanca yang semakin terlihat jauh darinya karena dia semakin melayang ke atas.
“Argh...!” tiba-tiba tubuh Dirga berputar dan terdorong keras ke atas hingga pada batas ruang dimensi bagian atas.
“Kakek guru... tolong bantu aku agar bisa kembali mendarat dan menapakkan kakiku ke tanah.” ucap Dirga meminta bantuan pada gurunya. Sang kakek hanya tersenyum saja melihatnya.
“Anak muda kau harus turun sendiri dari atas sana. Anggap saja ini adalah latihan pertamamu. Dan kau harus bisa menguasai keseimbangan agar kau bisa mengontrol dirimu. Baik kalau begitu aku akan pergi dulu. Setelah kau menguasai ilmu keseimbangan aku akan kembali ke sini untuk mengajarimu lagi.” ucapnya sambil memegang jenggot putihnya yang panjang. beberapa saat kemudian kakek Sanca menghilang dari ruang dimensi itu entah kemana.
Dirga yang melihat sang kakek menghilang secara tiba-tiba dari hadapannya merasa sangat kesal sekali.
“Latihan apanya... kakek guru kau sama sekali tidak melatihku. Kau malah membawaku dalam ruang penuh masalah ini....” ucapnya sambil mengumpat pada sang guru yang masih membuatnya kesal.
“Argh.... !!” lagi-lagi tubuh Dirga berputar di atas dan akan terdorong mundur.
“Apa yang harus kulakukan agar bisa mendarat....kakek guru, tolong aku... ” ucapnya terus memanggil kakek Sanca namun sang guru tetap tak kunjung datang menampakkan dirinya.
Dirga mencoba menggunakan kekuatannya. Dia mencoba mendorong tubuhnya maju untuk turun. Namun sama sekali tubuhnya Tak Bergerak dan tetap ada di atas langit-langit ruang dimensi.
Anak itu tidak menyerah dan mencoba berulang kali dan akhirnya tubuhnya turun satu meter di bawah langit-langit ruang dimensi, namun sayang itu hanya Bertahan menit saja dan tubuhnya kembali lagi ke atas.
“Sial... sial... sial... ! dalam wujud roh ini kekuatanku menurun drastis. Aku hanya bisa menggunakan 10% saja dari kekuatan ku.” ucap anak itu yang tampak stress karena gagal setelah berulang kali mencoba dan sekarang dia mulai kehabisan tenaga.
Dua jam berlalu, Dirga masih belum menyerah dan kembali mencoba untuk turun namun lagi-lagi usahanya tak membuahkan hasil sama sekali.
Dia beristirahat sejenak untuk memikirkan teknik apa yang bisa dipakai nya sambil memulihkan energinya yang terkuras habis. tanpa dia sadari dia pun tertidur di bawah langit-langit dan mulai bermimpi.
“Ting... ting.. ting...” suara bandul besi yang yang saling berdenting saat salah satu bandul itu berayun dan dan membuat bandul lain yang ada di sebelahnya ikut bergerak dengan irama yang beraturan.
__ADS_1
“Ting...” kembali suara bandul terdengar saat berdenting karena bersentuhan dengan bandul lainnya yang memberikan gaya dorongan pada bandul yang ada di sebelahnya dan membuatnya kembali berayun berirama secara beraturan ke kiri dan ke kanan.
“Bam...” suara bandul yang lepas dari talinya dan jatuh menghantam gelas kaca yang membuatnya pecah dan menggelinding jatuh ke bawah.
“duk... duk... duk...” satu bandul yang jatuh tadi terus meluncur dan akhirnya berhenti di sudut dinding.
Suara denting bandul yang sangat keras tadi membangunkan kesadaran Dirga yang sedang tertidur.
“Hah... aku bermimpi ?! Suaranya seperti nyata sekali. tapi kenapa aku tiba-tiba memimpikan bandul ?” gumamnya heran setelah membuka matanya dan mengingat kembali apa yang dimimpikan nya barusan.
“Apa ada hubungannya bandul tadi dengan latihan ku ini...?” ucapnya lagi mencoba menarik benang merah dari mimpinya tadi.
Anak itu diam merenung dan mulai berpikir mendalam. Masih teringat jelas dalam ingatannya irama gerakan bandul yang searah dan beraturan.
“Searah....berirama...” gumamnya lagi setelah menemukan inti maksud dari mimpinya tadi. Dia pun mencoba mempraktekkan Apa yang dilihat dalam mimpinya tadi.
“Wuus....” Dirga mencoba untuk mendorong tubuhnya maju dan dia berhasil turun tiga meter ke bawah. Namun dalam waktu lima menit dia kembali ke posisi semula.
“Argh.... kenapa hanya bisa turun separuh dan sekarang kembali lagi seperti ini ?” ucap anak itu yang kembali menggerutu karena kesal hanya bisa sebentar turun dan kembali lagi.
Anak itu mencoba seharian penuh untuk turun namun rasanya tetap dia hanya bisa turun sampai separuh tinggi dari ruang dimensi itu. Walaupun hanya ada sedikit kemajuan, anak itu tak kenal lelah dan tak pernah berhenti untuk mencoba.
Sudah seharian penuh Dirga mencoba menerapkan gerakan bandul dan itu sangat menguras sekali tenaganya. Dia pun akhirnya tertidur dalam kelelahan.
Hari berikutnya Dirga berlatih lagi untuk turun. Namun sampai malam dia berlatih, hanya ada sedikit perkembangan. Dia berhasil turun setinggi 3.5 meter dari langit-langit.
Dua hari berikutnya Dirga masih tak menyerah dan dia terus berlatih untuk mendarat ke tanah. Ada sedikit perkembangan dan dia berhasil turun setinggi 4 meter dari langit-langit dan bisa menahan posisinya selama satu jam lamanya dan kembali ke posisi awal.
__ADS_1
Setiap hari anak itupun terus berlatih dan ada sedikit perkembangan dari setiap latihan yang dilakukannya. Sampai dia tidak menyadari sudah berapa lama dia berlatih di ruang dimensi itu.
Tepat satu minggu latihan dia merasa dia masih belum berhasil dan kembali berpikir.
“Meskipun aku sudah berhasil turun dan menjejakkan kakiku ke tanah tapi aku tidak bisa bertahan lama di sana. Pasti ada yang salah pada pemahaman ku selama ini.” batin anak itu melakukan koreksi pada latihannya sendiri dan mulai berpikir ulang. Dia kembali membayangkan gerak bandul sambil memejamkan matanya.
Lama sekali dia merenung dan membayangkan bandul yang jatuh menggelinding dari gelas yang pecah. Akhirnya dia pun mengerti esensi dari bandul yang jatuh itu berasal dari hentakan yang cukup intens dan membuatnya menyimpan tenaga besar.
“Ya benar selama ini aku tak pernah menyimpan tenaga ku sehingga tetap saja aku tak punya tenaga besar untuk turun. Baiklah aku akan mencobanya lagi semoga saja kali ini berhasil.” ucapnya saat membuka mata dan terlihat bersemangat untuk mencoba kembali.
Dirga berkonsentrasi penuh dan kembali menerapkan esensi dari bandul yang sudah dimengerti nya dengan benar. Kembali dia menyelaraskan hati, pikiran dan kemauannya serta mengumpulkan seluruh tenaga dan memusatkan pada kakinya.
“brak....” beberapa saat kemudian tubuh anak itu meluncur ke bawah. Dia berhasil mendaratkan kakinya ke lantai bahkan sampai membuat lantai di ruang dimensi itu retak.
“Apakah aku berhasil... ?” ucapnya sambil mencoba berjalan dan berpindah tempat ke lantai yang tidak retak.
Wajahnya terlihat ceria dengan senyum yang terkembang di bibirnya saat mendapati dirinya sudah tidak terpental lagi kembalikan langit-langit dan bisa leluasa berjalan-jalan di lantai.
“Huft.... akhirnya aku bisa kembali mendaratkan tubuhku ke lantai.” ucap anak itu lega dan mulai bersantai merebahkan tubuhnya di lantai setelah sekian lama tak merasakan berada ada disana.
Belum puas dia bersantai tiba-tiba datang seberkas sinar di hadapannya dan muncullah kakek Sanca saja yang melayang lalu turun di depannya.
“Anak muda akhirnya kau bisa juga menguasai teknik keseimbangan roh mu. Tapi sekarang bukan saatnya untuk bersantai. Aku akan memulai latihan kedua sekarang.” ucap kakek itu sambil tersenyum.
“Apa... latihan lagi... ? tapi kakek aku baru saja merebahkan tubuhku disini.” ucap anak itu yang masih ingin bersantai lebih lama lagi. Dengan terpaksa dia pun bangun lalu berjalan menghampiri kakek guru untuk melanjutkan latihan kedua.
BERSAMBUNG...
__ADS_1