Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 107 Tempat Latihan


__ADS_3

Malam harinya Dirga dalam wujud roh yang terbiasa tidur saat di malam hari mencoba berbaring di sebelah tubuh aslinya.


Namun sudah dua jam berlalu dia sama sekali tidak merasakan ngantuk.


“Yah... aku lupa jika diriku yang sekarang ini dalam wujud roh.” ucap anak itu lalu duduk.


Dia melihat ke sekeliling dan mendapati ayah dan ibunya tertidur pulas. Karena tak ada aktivitas yang bisa dilakukannya dia pun berjalan-jalan di ruangan lainnya yang ada di rumah sakit itu.


Dia menembus beberapa ruangan dan berhenti di ruangan perawat. Melihat ada dua perawat yang masih terjaga di antara sepuluh perawat lainnya, muncullah keisengan dalam pikirannya.


Satu perawat yang masih terjaga meras mulai merasa mengantuk. untuk mengusir rasa kantuknya itu dia mencoba membuat kopi.


Perawat wanita itu menuju ke mesin pembuat kopi yang ada di ruangan itu.


Dirga berdiri di dekat wanita itu. Dia memegang gelas kosong yang ada di meja.


“Aku akan membantu mu mengambilkan gelas...” ucapnya.


Saat perawat itu akan mengambil gelas, tiba-tiba gelas itu bergeser mendekat padanya. Dia pun merasa terkejut namun mengira hal itu adalah halusinasi akibat rasa kantuknya.


Perawat itu mengarahkan tangannya pada tombol yang ada di mesin pembuat kopi itu. Namun hal aneh lagi-lagi terjadi. Belum sempat dia menekan tombol, air dari mesin pembuat kopi itu sudah mengalir seperti sudah ada yang menekan tombolnya dan sekarang gelas yang di pegangnya sudah terisi penuh oleh kopi.


“Ha... Hantu...” ucap perawat itu gemetar saat melihat tombol di mesin pembuat kopi ada yang menekannya lebih dulu dan setelah dilihat tak ada siapapun di sana.


Rasa kantuk perawat itu seketika hilang karena ketakutan. Dia menaruh gelas kopi yang di bawahnya kemeja lalu berlari menyusun temannya yang masih terjaga.


“Maaf... aku hanya bermaksud membantumu saja...” ucap Dirga melihat perawat yang ketakutan itu sambil tersenyum kecil melihat perawat yang masih memeluk temannya itu.


Dirga yang merasa sudah puas, meninggalkan ruangan itu dan masuk ke ruangan lainnya sampai lewat tengah malam.


Beberapa jam kemudian karena hari hampir pagi dia pun kembali ke ruangan tempatnya dirawat. Anak itu duduk di kursi kosong yang ada di ruangan sambil memejamkan matanya dan menunggu pagi datang.

__ADS_1


“kriek....” suara pintu ruangan yang terbuka. beberapa orang perawat masuk ke ruangan itu dan memeriksa kondisi Dirga.


Suara cari beberapa perawat tadi membangunkan roh Dirga yang tertidur di kursi.


“Sudah pagi rupanya...” ucap anak itu saat melihat jam dinding yang ada di ruangan itu menunjukkan pukul 07.00 pagi.


Dia kembali teringat pada ucapan kakek Sanca yang memintanya untuk mencari dirinya di pagi hari. Dengan cepat dia keluar dari ruangan itu dengan menembus dinding keluar dari rumah sakit.


“Mungkin Kakek Sanca sudah menungguku di sana.” batin anak itu sambil melihat atap bangunan di luar tempat mereka kemarin berbicara dan menuju ke sana.


Dirga naik ke atap bangunan itu lalu duduk untuk menunggu kedatangan kakek Sanca. Sudah dua jam lamanya dia duduk di sana namun sang kakek tak kunjung datang juga. Dia bermaksud menunggunya lagi beberapa saat dia akan kembali jika tidak bertemu dengan kakek itu.


“Sepertinya kakek Sanca tidak datang kemari.” ucapnya lalu berdiri setelah tiga jam menunggu dan akan turun dari atap. Namun saat dia akan turun tiba-tiba datang seorang kakek berjenggot putih panjang dengan rambut putih mendatanginya.


Karena merasa tak ada urusan dengan roh kakek itu dia pun kembali berjalan dan meninggalkan kaki itu tanpa berkata sepatah kata pun.


“Tunggu Dirga kau mau kemana ?” panggil kakek itu pada Dirga.


“Kakek memanggilku...?” tanyanya pada sosok kakek tua yang tidak di kenalnya itu.


“Ya... kau sudah lama menunggu ku ?” ucapnya bertanya balik pada Dirga yang membuatnya tampak bingung.


“Maaf kakek... aku tidak mengenalmu. dan aku aku ke sini untuk bertemu dengan kakek Sanca.”jawabnya singkat.


“Jadi kau tidak mengenal ku ?” tanya sang kakek itu lagi padanya.


Dirga diam sejenak dan berpikir.


“Apakah kakek adalah kakek Sanca ?” tanyanya pada kakek itu menduga-duga. Dan kakek itu menganggukkan kepalanya sambil melempar senyum ke arahnya.


“Ini adalah wujud asli ku.” ucap kakek itu yang mempunyai wajah berbeda dengan wujudnya sebelumnya. Dirga tampak diam terpaku melihat wujud asli sang kakek yang memakai kalung tasbih di lehernya dan mengenai kan baju serba putih.

__ADS_1


Melihat Dirga yang masih diam menatapnya, sang kakek pun kembali bicara.


“Ini adalah wujud asli ku. Aku hanya menampakkan wujud asli ku pada muridku saja. Sekarang aku mengangkat mu menjadi murid ku dan panggilah aku dengan sebutan guru.” ucap sang kakek itu kembali menjelaskan pada Dirga.


“Baik... mulai sekarang Aku akan memanggilmu dengan sebutan Kakek guru...” jawabnya sambil memberi hormat pada guru barunya itu.


“Baiklah aku akan mulai mengajarimu sekarang. Ikuti aku.” ucap kakek itu berbalik lalu pergi dari tempat itu.


Dirga mengikuti kakek itu pergi dan turun dari atap lalu pergi ke sana tempat di belakang bangunan rumah sakit itu.


“Kita akan mulai melakukan latihan di sini.” jelasnya pada Dirga yang masih menatap tempat itu yang merupakan ladang jagung dan menurutnya tak ada tempat kosong yang bisa dipakai untuk berlatih.


“Apa aku akan benar-benar latihan di sini ? di tengah ladang jagung ?” batinnya masih menatap ladang jagung itu dan membayangkan latihan seperti apa yang akan dilakukannya kali ini.


Di tengah keraguannya, kakek Sanca memegang kalung tasbih yang ada di lehernya. Dia mengambil satu butir tasbih di lehernya itu dan membuatnya melayang di udara.


Dirga terkejut sekali saat melihat tasbih yang melayang di udara itu tiba-tiba membesar, berputar dan berubah wujud menjadi kristal.


“Tempat latihan kita ada di sini. Ini adalah ruang dimensi. Ayo ikuti aku masuk.” ucap kakek Sanca menjelaskan pada Dirga.


Kakek Sanca masuk kedalam kristal dan Dirga pun mengikuti masuk ke sana. Setelah masuk ke sana, ternyata ruangan itu merupakan ruangan hampa. Sebuah ruangan yang memang di desain khusus untuk latihan.


Begitu memasuki ruangan itu Dirga merasa tubuhnya tidak stabil dan dia tidak bisa mengontrol dirinya. Tubuhnya terus melayang di udara dan dia tak bisa menapakkan kakinya ke lantai di ruangan itu.


“Apa yang terjadi padaku kakek guru ? Kenapa tubuhku terus melayang di udara ?” tanyanya pada pada sang kakek yang berdiri di bawahnya dan bisa menapakkan kakinya di tempat itu.


Sementara itu kakek Sanca hanya tersenyum menatapnya dari bawah.


“Anak muda latihan kita sudah dimulai sekarang. ini latihan pertamamu.” ucapnya lagi sambil tertawa menatap Dirga yang masih melayang di udara.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2