
Beberapa hari setelah pertama kalinya Elsa melihat Dirga bermain dengan teman tak Kasat matanya, ia menceritakan hal itu pada Hadwan. Namun Hadwan hanya mendengarkan saja ucapannya dan tidak pernah menganggapnya serius sama sekali. Baginya memang Dirga anak autis, sedikit berbeda dengan anak normal seusianya. Jadi wajar saja jika dia sering bertingkah aneh atau melihat keanehan. Itu semua memang karena ada masalah pada sarafnya.
Sejak melihat kejadian itu, diam-diam Elsa sering memperhatikan tingkah Dirga. Sore sepulang kerja setelah mandi dan berganti baju, ia mencari anak itu di kamar, namun tidak menemukannya. Ia lalu mencarinya di halaman belakang rumah.
Benar saja, ia melihat Dirga sedang bermain sepak bola di sana, seorang diri. Kali ini dia tidak memanggilnya dan ingin melihat secara langsung. Untuk memastikan bahwa yang ia lihat sebelumnya memang benar, tidak seperti yang di ucapkan oleh suaminya.
Elsa mulai mengawasi. Ia tak melepaskan pandangannya dari Dirga. Ia melihat Dirga menendang bola. Awalnya semua terlihat biasa dan normal saja. Hingga ia benar-benar melihat keanehan kali itu.
Bola datang menggelinding dengan cepat dari arah depan Dirga tanpa ada sosok yang menendangnya. Lalu ia menembak kembali bola itu dengan kencang dan seketika berhenti seolah ada yang menahannya, sehingga bila itu berhenti.
Selain itu ada yang lebih aneh lagi. Ia melihat Dirga berhenti bermain kemudian terlihat berbicara seorang diri sambil menggerakkan tangan seolah sedang berbicara dengan seseorang. Elsa mengucek matanya tak percaya.
“Auw...!!” Elsa merasa kesakitan setelah ia mencubit tangan dan menepuk pipinya.
“Ini memang sungguh nyata, aku tidak mengada-ada jika anak ku memang bisa melihat makhluk astral. Semoga saja itu akan menjadi hal positif dan berguna baginya suatu saat nanti.” melihat dengan takjub kemampuan anaknya itu.
Ia kemudian masuk ke dalam rumah dan menyimpan rahasia itu untuknya sendiri, karena pasti tidak akan ada yang percaya dengan hal seperti itu.
Menjelang sore setelah Elsa masuk ke dalam rumah, Dirga mengakhiri permainannya dengan Peter. Mereka berbicara sebentar kemudian berpisah.
Dirga sering bermain dengan Peter. Dan baginya anak itu lebih mengerti dirinya daripada teman sebaya tetangga rumahnya dan teman sekolahnya.
Hari berlalu demi hari, selain bisa melihat Peter, Dirga juga bertemu dengan makhluk astral lainnya dari anak seusianya sampai orang dewasa seusia neneknya. Namun ia tak pernah bermain dengan mereka, hanya ngobrol saja sekilas dan itu kadang-kadang saja, jika ia sedang mood, tidak malas.
Pada suatu malam, ia terbangun dari tidurnya karena mendengar suara alunan musik, tepatnya suara dari alat musik biola.
“Apa itu...” Dirga turun dari tempat tidurnya.
Ia mencari ke arah sumber suara itu berasal. Ia berjalan keluar dari kamarnya, lalu berjalan ke luar rumah menuju ke semak yang ada di sebelah barat rumah. Saat dia keluar, tak ada seorang pun yang mengetahuinya, karena semua sedang tertidur pulas.
__ADS_1
Dirga menutup pintu kembali dengan pelan, agar tidak membangunkan yang lainnya. Ia terus berjalan dan berhenti tepat di depan semak yang gelap di barat rumah.
Ia melihat seorang anak lelaki kecil berusia di atasnya, sekitar 7 tahunan.
Anak lelaki itu membawa biola dan sedang menggeseknya. Anak lelaki itu mengenakan jas berwarna hitam, dasi hitam dan sepatu hitam, semuanya serba hitam.
Ia terus menggesek biola itu sambil tersenyum ke arah Dirga.
Dirga diam, memperhatikan cara anak lelaki itu bermain.
Tiba-tiba anak lelaki itu berhenti bermain dan melompat mendekati Dirga. Lagi-lagi anak lelaki itu seperti Peter. Ia berbicara pada Dirga tanpa menggerakkan bibirnya sama sekali.
“Kau bisa mendengar ku bermain biola ?” berdiri tepat di depan Dirga.
Dirga masih diam dan memandangnya. Kali ini ia mencoba membalasnya dengan berbicara dalam hati, seperti yang ia lakukan pada Peter selama ini. Mungkin kali ini anak lelaki itu juga bisa mengerti apa yang dia katakan, dan ia mulai mencobanya.
“Jangan takut pada ku Dirga, aku Simmon. Aku ingin bermain dengan mu. Apakah kau ingin mencoba bermain biola ?” mengulurkan biola pada Dirga.
Dirga kaget, ternyata anak itu bisa tahu namanya, padahal dia belum menyebutkannya. Sehingga dia berpikir jika anak lelaki itu memang sejenis dengan Peter, bisa membaca pikirannya.
“Aku tidak bisa bermain biola. Dirga belum di ajari main biola. Dirga masih di ajari main gitar, drum dan keyboard saja.” menolak menerima biola.
Namun anak yang bernama Simmon itu tetap menaruh biola ke tangan Dirga tanpa bisa di tolak, karena Dirga mencoba melepas biola itu dari tangannya, namun biola itu seolah tak mau jatuh dari tangannya.
Dirga menatap Simmon mengerakkan tangan, mengayun di udara. Tiba-tiba tangannya bergerak sendiri menggesek gitar di tangan kirinya itu. Mulai terdengar alunan musik. Alunan musik yang keluar terdengar merdu, walaupun ia tidak bisa dan tidak pernah memainkannya sebelumnya. Bahkan baru mengetahui alat musik itu barusan.
“Kenapa kau mengajari Dirga bermain alat musik gesek ini ?” kembali menatap Simmon.
“Nanti jika kau sudah mahir dan menguasai, kita bisa bermain bersama setelahnya.” berdiri di dekat Dirga dan melihatnya bermain biola.
__ADS_1
Dua jam kemudian Simmon membuat Dirga berhenti memainkan biola miliknya. Biola itu terbang ke arahnya.
“Besok kita akan bertemu lagi, di tempat dan waktu yang sama.” menghilang dari hadapan Dirga.
Setelah Simmon menghilang, suara alunan dari biola itu tidak terdengar lagi. Dan tiba-tiba dalam sekejap ia sudah berada di kamarnya tanpa berjalan melangkah masuk ke dala rumah dan kamarnya. Ia pun kemudian naik ke tempat tidurnya dan tertidur.
Hari berikutnya, di malam hari pukul 24:00 Dirga kembali terbangun dari tidurnya. Dan ia keluar dari rumah menuju ke semak yang ada di barat rumah.
Simmon sudah menunggunya di sana. Dan seperti hari sebelumnya, Simmon membuatnya bermain biola dengan menggerakkan tangan Dirga yang memegang bow dan memetik senarnya sampai dua jam lamanya.
Kejadian itu berulang setiap malam selama sebulan, dan Dirga tidak pernah menceritakan kejadian itu pada orang tuanya maupun kepada nenek dan kakeknya.
Tiba-tiba suatu hari Dirga menghampiri Ayahnya yang sedang santai, duduk di teras.
“Ayah... Dirga ingin biola... belikan Dirga biola Ayah...”
“Dirga apa bisa memetik biola ? Nanti Ayah kursuskan kalau ingin belajar. main biola.”
“Tidak... Dirga tidak ingin kursus. Dirga ingin biola, biola Ayah...sekarang.” merajut pada Ayahnya dan Ayahnya tak bisa menolaknya dan hanya mengangguk sambil memangku nya duduk.
Malam harinya, Hadwan keluar sendiri untuk membeli biola di sebuah toko alat musik. Ia kemudian pulang dengan membawa biola untuk Dirga. Ia memberikan biola itu pada Dirga.
Elsa dan yang lainnya yang saat itu duduk di dekat Dirga sedang melihat TV, seketika menatap Dirga yang bermain biola. Mereka semua terkejut, termasuk Hadwan. Meskipun suaranya belum sempurna, namun cara memegang biola dan cara menggesek bow nya benar.
Mereka benar-benar tidak tahu, bagaimana anaknya bisa bermain biola, sedangkan mereka tidak pernah mengajarinya sebelumnya.
Dirga terus memetik senar dengan menggesekkan hair pada bow seperti yang di ajarkan Simmon selama ini. Sedangkan yang lain masih bertanya-tanya sambil mengagumi keahlian Dirga bermain musik.
BERSAMBUNG...
__ADS_1