
Sesaat setelah tiba di Rumah Sakit, dokter langsung memeriksa kondisi Elsa. Setelah di lakukan pengecekan, dokter menyampaikan memegang sudah saatnya melahirkan, karena sudah pembukaan empat. Meskipun maju dari tanggal perkiraan, untung janin yang di kandung Elsa sudah berusia 34 minggu, semua organ janin sudah terbentuk lengkap dan matang.
Tak beberapa lama kemudian, Elsa di pindahkan ke ruang bersalin. Dokter dan perawat masuk ke ruangan dan membantu proses persalinan Elsa.
Dua jam kemudian terdengar suara tangis bayi dari dalam ruangan. Setelah selesai melakukan perawatan dan bayi sudah di bersihkan, keluarga di izinkan masuk. Ayah-Ibu, Hadwan dan juga Dirga ikut masuk ke dalam untuk melihat.
“Ini putri Bapak...” perawat menyerah kan bayi mungil itu pada Hadwan.
Dokter dan perawat keluar dari ruangan. Ayah-Ibu bergantian menggendong bayi imut itu. Sedangkan Dirga hanya melihat Adiknya saja, tidak berani menggendong, karena masih terlihat merah dan juga kecil.
“Ini putrimu, kita beri nama siapa ?” Hadwan menghampiri Elsa yang masih lemas dan menunjukkan bayi perempuan itu.
Elsa melihat Adiknya Dirga dan menyentuh pipi kecilnya sambil tersenyum.
“Aku beri nama dia Luna, sisanya kamu yang melengkapi.” menatap bayi yang di gendong Hadwan.
Mereka memang belum sempat mencari nama, karena kesibukan masing-masing. Hanya Elsa yang sudah menyiapkan nama panggilannya saja.
“Iya, aku akan mencari sisa namanya segera.” menimang putri kecilnya.
Karena memang bayi itu sangat lah imut dan mungil, membuat Nenek yang memang menginginkan cucu perempuan, mengambil bayi itu dari gendongan Hadwan.
Dirga tidak merasa cemburu atau sebal pada adik barunya itu. Ia justru senang sekali dan tak sabar melihat adiknya segera tumbuh besar, agar bisa di ajak bermain bersama.
Tiga hari kemudian, Mama dan Luna pulang ke rumah. Para keluarga menyambut kedatangan mereka, terutama Nenek dan Dirga yang tak sabar menunggu kedatangan mereka.
Satu tahun berlalu, dan Luna sekarang sudah mulai belajar berjalan. Ia sudah mengetahui yang mana kakak, ayah, mama atau kakek dan neneknya.
Sepulang dari sekolah, Dirga bermain dengan Luna. Ia mengajari Adiknya berjalan dan sabar mengikuti adiknya yang sedang latihan berjalan itu kemana saja, karena nenek sakit pinggang saat mengajari Luna berjalan.
Sekarang Dirga tidak kesepian lagi. Setiap hari ia bermain dengan Luna dan juga Firoz, sepanjang hari, meskipun tidak ada teman bermain.
__ADS_1
Siang itu Dirga sedang berada di teras depan bersama Firoz. Ia menunggu elang putih itu terbang dari satu pohon ke pohon lain. Setelah lelah terbang kesana-kemari, Firoz terbang turun dari pohon dan hinggap di bahu Dirga.
Ia mematuk-matuk telinga Dirga yang menandakan jika dia sedang lapar.
“Kamu lapar ya Firoz... kamu tumben sudah lapar. Aku akan ambilkan ikan untuk mu.” berjalan masuk ke dalam rumah.
Dirga menuju ke kulkas dan mengambil beberapa ikan segar lalu memasukkan nya dalam ember kecil dan membawa ke teras.
Ia menaruh ember ke tanah, lalu Firoz turun dari bahunya dan memakan ikan segar dalam ember itu.
Di jalanan terdengar ramai, ternyata ada beberapa anak yang sedang berjalan beramai-ramai melewati depan rumah Dirga. Mereka berhenti do depan pagar saat melihat Dirga memberi makan elang putih miliknya.
Anak-anak kecil itu tertarik pada Firoz. Terlihat mereka berbisik-bisik, lalu menatap Dirga.
“Dirga... apakah jenis burung itu ?”
Salah satu Anak yang bernama Nathan memanggil Dirga. Dia juga tetangga dekat rumah yang berusia sama dengan Dirga, namun bersekolah di sekolah umum.
Dirga tidak menyangka jika ada yang menyapanya, biasanya ketika ia memanggil mereka, tak satupun dari mereka yang menjawab atau berhenti untuk bermain dengan nya.
“Ada apa Nathan ? Nathan mau main bersama Dirga ?” memegang pagar dan melihat Nathan.
Terlihat anak-anak kecil lainnya menyikut punggung Nathan, seperti memberikan sebuah tanda. Nathan hanya melihat teman-teman di dekatnya sambil sedikit melotot , yang membuat mereka berhenti menyikut punggungnya.
“Itu burung elang putih...”
Nathan maju dan lebih mendekat ke pagar agar lebih dekat dengan Dirga.
“Aku... maksudku kami ingin melihat burung itu dan bermain dengannya. Apa boleh ?” menatap dan menunjuk elang putih yang sedang makan.
Dirga menoleh ke belakang untuk melihat apakah Firoz sudah selesai makan apa belum. Ia melihat Firoz sudah tidak bertengger di ember, yang berarti jika ikan di dalam ember tadi sudah habis.
__ADS_1
Daripada berjalan ke sana, ia memanggil Firoz agar terbang menghampirinya.
“Firoz sini...ada yang ingin bermain dengan mu Firoz.” memanggil sambil sesekali bersiul.
Firoz yang mendengar panggilan dari Dirga pun langsung terbang dan hinggap di bahu Dirga.
Nathan dan anak-anak kecil lainnya pun merasa takjub melihat seekor elang yang bisa menurut seperti kucing. Ia lebih mendekat ke pagar lagi dan menyentuh burung elang itu dari balik pagar.
Tapi apa yang terjadi ? Tidak sesuai dengan apa yang di harapkan, Firoz merasa tidak nyaman dengan kehadiran Nathan dan teman-temannya itu. Selain karena ia tak mengenalnya, ia juga merasakan jika mereka punya maksud yang buruk padanya.
Firoz langsung mematuk keras tangan Nathan yang membuat anak itu merasa kesakitan. Kemudian ia terbang tinggi menjauh dari Dirga dan anak-anak tadi.
“Aduh... sakit !! Dasar burung nakal ! Aku kira kau lucu, ternyata menyebalkan !! Kami tidak jadi main dengan kalian.” menatap Firoz dan Dirga dengan marah lalu langsung pergi beramai-ramai meninggalkan Dirga.
“Hei... tunggu... Nathan tunggu... !!” berteriak memanggil Nathan dan teman-temannya namun mereka tidak menoleh dan tidak mau kembali.
Dirga merasa kecewa setelah di tinggalkan oleh mereka. Ia kemudian berjalan kembali ke arah teras menghampiri Firoz yang kembali bertengger di ember ikan.
“Akak... akak...” Luna meracau keluar dari dalam rumah dengan merangkak untuk menghampiri Dirga.
“Luna... ?” melihat Adiknya terus merangkak untuk mendekatinya.
Sampai di kaki Dirga, Luna menarik tangan Dirga agar menemaninya berjalan.
“Kau mau berjalan ? Luna mau jalan sama Kakak ?” memegang kedua tangan Luna.
Dirga kemudian berjalan sambil mengajari Luna jalan. Di tengah jalan Luna melihat Firoz. Ia ingin menghampiri burung itu dan menyentuhnya. Namun Dirga tak mengizinkan Adiknya menyentuh elangnya. Sehingga Luna melepas tangannya dari genggaman Kakaknya dan terjatuh.
“huwa.. huwa...” Luna menangis karena merasa kakinya sakit saat terjatuh.
Dirga mengangkat Adiknya itu dan membawanya ke teras. Di sana ia menggelitik Luna dan membuatnya tertawa, sehingga ia berhenti menangis.
__ADS_1
Kesedihan Dirga karena di tinggalkan oleh Nathan dan teman-teman lainnya pun terobati oleh tawa Luna. Setidaknya ia punya Luna sebagai teman bermain sekarang, walaupun masih belum mempunyai teman lelaki seusianya.
BERSAMBUNG...