
Dirga langsung menarik tangannya dengan gugup. Dia tidak tahu apa yang harus di katakannya pada gadis itu jika dia bertanya padanya.
“Hmm.... sedang apa kau di sini ? Sejak kapan kau... kau berdiri disini ? ” tanyanya pada gadis itu dengan gelisah.
“Aku... aku baru saja datang ke tendamu. Bagaimana dengan luka mu?” tanyanya memegang lagi tangan kiri Dirga untuk memastikan. Ia heran bagaimana luka itu tiba-tiba bisa hilang dengan cepat, padahal dia yakin sekali luka itu lebat tadi. Tapi sekarang sama sekali tak ada bekas luka di tangan anak itu.
“Em... ku rasa kau meyembunyikan sesuatu dari ku....ceritakanlah pada ku...” ucap Rheva menatap serius. Dirga merasa terpojok dan tidak bisa berkelit lagi. Dia dalam kebimbangan antara mau menceritakan pada gadis itu atau tidak. Selama ini dia selalu menutupi dan bisa menunda gadis itu mengetahui kemampuannya. Tapi sampai kapan ? Bukankah sedalam-dalamnya suatu bangkai di kubur tetap akan tercium juga baunya ? Itu hanya masalah waktu, cepat atau lambat pasti gadis itu juga akan mengetahuinya.
Setelah mempertimbangkan masak-masak akhirnya Dirga mau menceritakan itu pada gadis itu.
“Ehm... Mm... kalau soal itu aku bisa ceritakan semua pada mu, tapi tidak di sini. Tidak di tempat ini karena banyak telinga di sini.” jawabnya menyetujui permintaan temannya itu. Dia mau cerita mengingat sebelumnya gadis itu seringkali menyelamatkan dirinya.
“Baiklah... kalau begitu kita pergi dari sini. Kita cari tempat yang aman.” ucapnya berbalik dan melangkah pergi dari tenda, sedangkan Dirga mengikutinya dari belakang.
Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan Nathan dan Tomy.
“Wah kebetulan sekali kami mencari kalian dan bertemu di sini. Ayo ikut kami. Senior Simon meminta semuanya berkumpul untuk acara api unggun sekarang.”ucap Nathan merangkul Dirga dan mengajaknya berjalan bertiga. Dirga tak bisa menolak ajakan dua temannya itu. Dia lalu berjalan di tengah Nathan dan Tomy sambil menatap Rheva tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kali ini dia bisa selamat dan dalam hati merasa lega.
“Ah... dasar kalian berdua ini... mengganggu saja padahal anak itu sudah mau mengaku...” batin gadis itu kesal melihat dua temannya yang sudah beralu meninggalkannya sendiri.
__ADS_1
“Hei kalian... tunggu aku !” berlari menyusul mereka bertiga.. Beberapa saat kemudian mereka tiba di tempat dan mengikuti acara api unggun itu. Acara yang sempat tertunda pun karena hilangnya dua anggotanya itu akhirnya bisa dilanjutkan kembali.
Selama acara berlangsung Simon mengadakan diskusi santai terkait kegiatan yang mereka lakukan itu, menampung keluh-kesah serta membahas kegiatan selanjutnya yang akan di adakan beberapa pekan ke depan. Acara itu berlangsung sampai malam karena itu merupakan acara puncak sekaligus penutup dari rangkaian kegiatan saat itu dan esok harinya mereka akan keluar dari hutan Hamakua dan kembali ke kota mereka.
Tiga hari setelah mereka kembali, pelajaran di kampus di liburkan bagi para peserta yang mengikuti kegiatan pecinta alam sebelumnya di karenakan pihak kampus mendengar berita dua mahasiswa mereka yang sempat hilang di daerah itu dengan maksud memberikan waktu istirahat bagi mahasiswa untuk menghilangkan rasa trauma mereka akan kejadian itu.
Dirga lupa bahwa perkuliahan di liburkan selama tiga hari tetap masuk ke kampus. Dia menatap seisi kelasnya yang kosong, tak ada satu pun mahasiswa yang ada di kelas itu.
“Kok sepi pada kemana ya semua mahasiswa kelas ini ? Apa ada pelajaran di kelas lain ?” tanyanya heran. Ia lalu keluar dari kelas itu dan melihat kelas lainnya yang tetap melangsungkan kegiatan pembelajaran. Dia melihat beberapa kelas lainnya, barangkali saja ia tak tahu ada perpindahan kelas karena terkadang seperti itu.
“Hah... tak ada juga... mereka tak ada. Ada apa ya...” ucapnya berjalan kembali dan menuju ke perpustakaan.
“Hai Dirga... kau mahasiswa yang hilang di hutan saat kegiatan pecinta alam, bukan ? Wah hebat sekali kau bisa kembali dengan selamat dari tempat angker itu. Salut aku padamu...” menepuk bahu Dirga dan membuat anak itu berhenti sebentar. Mereka kemudian berbicara sebentar. Dirga tersenyum saja untuk merespon kakak seniornya, Andy. Beberapa saat kemudian dia kembali berjalan dan banyak mahasiswa yang membicarakannya di sepanjang jalan.
Tanpa dia ketahui sejak saat itu dia menjadi tenar di kampus. Semua orang mengenalnya karena itu.
Dirga masuk ke perpustakaan. Seperti biasa dia mengambil buku tebal tentang historical kuno dan membawanya ke meja.
“Hai... Dirga...” ucap seorang gadis yang tiba-tiba masuk dan membuatnya kaget.
__ADS_1
“Rheva... Rheva... kamu...” ucapnya terbata-bata dan kaget saat melihatnya.
“Kau rajin sekali masuk padahal sudah ada pengumuman kita libur selama tiga hari...” menarik kursi di depan Dirga lalu duduk.
“Jadi... jadi itu sebabnya hari ini juga tidak ada yang masuk kelas ? Pantas saja aku periksa ruangan kelas lain kosong. Lalu kalau kau tahu hari ini libur, lalu.... kenapa kau masuk ?” tanyanya pada gadis itu.
“Aku tahu kalau kau pasti masuk hari ini dan kau pasti ke sini. Aku mau menagih janji mu pada ku...” gadis itu menatap ke sekitar lalu kembali menatap Dirga.
“Janji... janji apa ? Aku tak pernah menjanjikan apapun padamu...” ucapnya sambil mengingat-ingat kembali barangkali dia memang benar melupakan suatu hal. Rheva mencondongkan tubuhnya ke depan sedikit dan berkata pelan. “Janji itu... kau bilang akan menceritakan pada ku saat kita ada di hutan Hamakua.” berkata pelan sambil berbisik lalu kembali duduk ke tempatnya semula. Terlihat wajah Dirga yang menjadi pucat setelah mendengar perkataan temannya itu.
“Oh... itu ya... itu...” ucapnya sambil melihat ke sekeliling yang masih ada mahasiswa lain di sana.
“Bagaimana jika kita tunggu tempat ini sepi. Maksud ku kita tunggu mahasiswa lainnya keluar dari perpustakaan dulu.” tambah Dirga dengan lirih.
“Baiklah waktu mu satu jam dari sekarang. Satu jam ke depan mereka akan kembali ke kelas mereka masing-masing.” ucap Rheva lalu nerdiri dari kursi dan menuju ke rak buku. Dia mencari beberapa buku.
Satu jam berlalu, satu per satu mahasiswa keluar dari tempat itu dan saat ini tinggal mereka berdua sekarang. Dirga mengambil buku yang biasa dia baca lalu mengembalikannya ke rak buku. Rheva ikut berdiri dari kursinya dan mengikuti anak itu. Sekarang dia berdiri di depan Dirga dan memojokkannya ke rak buku.
“Sekarang katakan padaku semuanya sudah keluar.” lebih mendekat ke anak itu dan melihat wajah lelaki itu dari dekat. Dia merasa terlalu dekat dengan anak itu dan membuatnya tidak nyaman karena dia merasakan debaran jantungnya menjadi tidak beraturan. Ia lalu mundur dan sedikit menjauh dari anak itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG....