Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 19 Melihat Lebih Banyak


__ADS_3

Keesokan harinya di pagi hari, Setelah Dirga bangun tidur bukannya menuju ke toilet untuk mandi, ia langsung ke teras untuk melihat Firoz. Ia takut burung elang miliknya itu kembali lepas.


Ia berlari menuju ke teras, dan ketika sampai di sana ia merasa lega, karena Firoz ternyata ada di tempatnya.


“Dirga kira kau hilang. Aku kira kau lepas lagi...” mengelus tubuh Firoz.


Elang itu menikmati setiap sentuhan yang di sapukan tangan Dirga ke tubuhnya. Ia bahkan mematuk-matuk tangan Dirga untuk mengajaknya bermain.


“Nanti ya... aku akan main dengan mu. Nanti kita main lagi.” mengusap sayap Firoz untuk terakhir kalinya.


Dirga pergi meninggalkan elang itu dan kembali masuk ke dalam rumah, menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai mandi ia bergabung untuk sarapan bersama keluarganya di ruang makan.


Tak ada keanehan yang nampak pada diri Dirga saat itu. Semua terasa normal dan seperti biasanya. Selesai makan ia berlari ke kamar untuk mengambil tas sekolahnya.


“Dirga sudah siap Yah, ayo kita berangkat.” menghampiri Ayahnya yang masih duduk dan meminum kopi hangat.


“Sebentar dulu Nak, Ayah menghabiskan kopi ini dulu ya, tinggal separuh saja. Nanggung, nanti keburu dingin dan akan merubah cita rasanya.” mengangkat cangkir kopi lalu menyesapnya pelan-pelan sampai habis.


Dirga mengangguk cepat menatap Ayah, dan duduk diam untuk menunggunya selesai menikmati kopi. Saat menunggu, ia melihat ada seorang wanita tua yang berdiri di belakang Nenek.


Nenek tua itu berbaju putih, berambut panjang dan berwajah pucat sedang tersenyum ke arahnya.


“Siapa kau apa yang kau lakukan di rumah ini ? Siapa kau... pergi dari sisi Nenek ! Pergi... !!” tanpa sadar berteriak di meja makan, saat semua masih berkumpul di situ.


Dirga berteriak karena ia merasakan hawa negatif dari sesosok nenek tua tadi. Selain dari tatapan dan senyumnya yang terlihat menakutkan, aura di sekitar sosok itu tampak gelap.


Sontak semua langsung menatap ke arah Nenek untuk melihat orang yang di maksud Dirga ada di belakang Nenek. Tapi mereka tidak melihat siapapun di belakang Nenek, lalu mereka semua saling pandang satu sama lain.


Nenek merasa merinding setelah mendengar ucapan Dirga barusan. Ia memang merasakan sebuah hawa dingin di belakang tubuhnya walaupun tidak ada apa-apa di sana.

__ADS_1


Kemudian semua yang ada di ruang makan saat itu menatap Dirga. Elsa sebagai orang tua menjadi khawatir setelah Dirga berkata demikian. Ia tidak tahu, apakah putranya itu sedang berhalusinasi saja ataukah memang bisa melihat makhluk astral ?


“Apa yang kau lihat Nak, Mama tidak melihat siapa-siapa di belakang Nenek.” Elsa menatap Dirga dengan rasa khawatir.


“Ada Nenek tua berbaju putih di belakang Nenek tadi Ma. Tadi Dirga melihatnya tersenyum jahat.” menjelaskan apa yang ia lihat tadi.


Sekarang sosok Nenek tua berbaju putih itu sudah menghilang, setelah menggoda Dirga, entah ia pergi kemana. Seolah-olah ia sengaja ingin menunjukkan kemampuan Dirga di depan semuanya.


“Tidak ada siapapun Nak, kau pasti salah lihat. Apakah badan mu panas ?” berdiri lalu menghampiri Dirga dan menyentuh dahinya.


Ia menyentuh dahinya sendiri untuk membandingkan suhu tubuh mereka, dan ternyata sama. Suhu tubuh Dirga normal dan tidak panas.


Ia kembali duduk dan semakin khawatir dengan perkembangan anaknya itu. Sedangkan yang lain hanya diam melihat kejadian barusan.


Karena waktu semakin siang, Hadwan pun segera mengajak Dirga untuk keluar dari ruang makan dan mengantarnya ke sekolah.


Mereka masuk ke mobil. Saat di jalanan anak itu kembali melihat berbagai sosok di jalanan yang ia lewati, ada sosok orang dari masa lalu berwujud seorang raja tersenyum ke arahnya.


Ia juga melihat sosok anak kecil berkepala botak dengan beberapa temannya masuk ke beberapa toko, dan masih banyak lainnya. Ia hanya menatap dengan ekspresi sedikit terkejut saja dan tanpa bersuara, tidak bilang jika dia melihat sosok makhluk gaib pada Ayahnya dan lebih memilih diam. Karena takut akan ketahuan lagi jika dia bisa melihat. Dan lebih parahnya ia akan di bawa ke tempat pengobatan lagi.


“Ada apa Nak ?” melihat Dirga yang terus melihat ke arah samping kiri.


Dia teringat jika beberapa waktu yang lalu Dirga pernah cerita padanya jika dia melihat sosok anak-anak kecil di jalanan menuju sekolah. Setelah itu ia menghubungkan dengan kejadian di rumah tadi. Lalu ia menyimpulkan jika anaknya memang mempunyai kemampuan melihat sosok astral, anak indigo. Karena sudah dua kali dan itu tidak mungkin suatu kebetulan saja.


“Tidak ada Ayah, tidak ada apa-apa...” berhenti menatap jalanan di samping kirinya dan menatap Ayahnya.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di sekolah. Dirga segera masuk ke sekolah dan Hadwan kembali ke rumah setelahnya.


Sampai di rumah ia melihat ke tiga orang di rumah sedang berdiskusi. Karena waktu untuk kerja masih panjang, ia ikut bergabung dengan mereka.

__ADS_1


“Kebetulan kamu datang, duduk sebelah sini.” Ayah mertua meminta Hadwan untuk duduk di sebelahnya.


Hadwan langsung duduk di sebelah Ayah berhadapan dengan Ibu dan istrinya.


“Bagaimana menurutmu dengan Dirga tadi ?” Ayah membuka pembicaraan dan menatap Hadwan.


“Beberapa waktu yang lalu Dirga pernah cerita saat aku mengantarnya ke sekolah. Dia bilang dia melihat beberapa sosok di jalanan menuju ke sekolah yang tidak aku lihat.” menatap Ayah dan yang lainnya.


“Berarti memang anak itu spesial... maksudku dia indigo.” tambah Ayah setelah mendengar penjelasan Hadwan.


“Itu bagus jika dia mempunyai kemampuan seperti itu. Karena kemampuan spesial itu tidak di miliki oleh semua anak. Aku tidak menyangka jika cucu ku bisa melihat makhluk tak kasat mata.” ucap Nenek merasa senang dengan kemampuan yang di tunjukkan oleh Dirga tadi.


Terlihat dari Diskusi itu jika tiga anggota keluarga senang akan kemampuan Dirga, namun tidak dengan Elsa. Dia tidak senang jika anaknya punya kemampuan seperti itu.


“Aku takut jika kemampuan itu akan mengganggunya atau mempengaruhi kehidupannya.” menyampaikan pendapat sambil menatap satu per satu anggota keluarga saat itu.


“Elsa menurutku itu tidak mengganggunya. Karena selama ini dia baik-baik saja, tidak pernah mengeluh dan kondisi psikologisnya stabil.” Hadwan membantah Elsa.


“Mungkin saat ini memang belum mengganggunya, tapi jika di biarkan sampai lama. Mungkin itu akan mengganggunya. Mumpung masih awal menurutku harus segera di tindak lanjuti sebelum itu menjadi sebuah masalah.”


“Maksud mu... ?” tanya Hadwan meminta penjelasan lebih rinci pada Elsa.


“Kita harus membawa Dirga ke orang pintar atau mungkin saja seorang ustad juga boleh untuk menutup penglihatannya.” berkata tegas dan penuh keyakinan.


“Jangan Nak... jika hal itu sudah sangat mengganggu barulah kita bawa Dirga ke sana.” usul Ayah pada Elsa karena ia berpikir jika Elsa terlalu berlebihan.


Elsa dan yang lain mempertimbangkan saran dari Ayah. Diskusi buyar, karena Hadwan dan Elsa harus segera bersiap untuk berangkat kerja.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2