
Anak itu berdiri dan berjalan ke sisi lain sungai untuk memastikan apakah yang dia lihat kali ini juga bukan fatamorgana ?
“Rheva... Rheva... apa ini benar dirimu ?Ataukah aku melihat fatamorgana lagi ?” ucapnya tak percaya melihat sesosok gadis yang di kenalnya.
Dia memegang tangan gadis itu memastikan apakah yang di lihatnya ilusi atau nyata.
“Astaga... ini nyata bukan fatamorgana. Tapi Rheva bagaimana bisa... bagaimana bisa kau ada di sini, dan apa yang terjadi pada mu ?” menatap temannya itu dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya. Tapi yang lebih penting sekarang adalah menyelamatkan temannya itu.
Dirga mengangkat tubuh gadis itu setelah tubuh yang dia sentuh tidak menghilang dan membawanya ke tempat yang agak sejuk. Ia kemudian memeriksa kondisi temannya itu. Tubuhnya pucat dan badannya panas sekali. Ia juga melihat sisa ikan yang ada di tepi sungai itu.
“Apa mungkin... apa kau keracunan ?Melihat gejala yang kau tunjukkan ini kau pasti keracunan. Apa ini yang telah meracuni mu ?” mengambil sisa ikan yang tergeletak di tanah lalu memeriksa dengan membaunya yang tercium bau racun yang sangat kuat.
“Ikan ini memang beracun... untung saja aku tadi tidak meminum air sungai ini.” Dirga menyandarkan tubuh Rheva ke bahunya.
Dia lalu mengeluarkan racun dari tubuh gadis itu dengan mengalirkan reiki untuk membersihkan racun yang sudah masuk ke peredaran darahnya. Beberapa saat kemudian racun itu keluar dari tubuhnya.
“Uhuk...” Rheva memuntahkan darah warna hitam dari mulutnya. Berangsur-angsur wajahnya yang pucat kembali memerah dan panas tubuhnya sudah turun. Seharusnya gadis itu segera siuman setelah semua racun keluat dari tubuhnya, namun gadis itu mengalami kejang dan nafasnya berhenti.
“Rheva... sadarlah... sadarlah ! Apa yang terjadi pada mu ? Oh tidak...” ucapnya panik lalu menekan dadanya agar gadis itu bisa bernafas, namun tetap saja tak ada reaksi apa pun.
“Gawat... jika keadaan seperti ini di biarkan lama akan berbahaya baginya. Ah... haruskah aku memberinya PCR ?” ucapnya yang semakin panik melihat kondisi gadis itu.
Dalam dilema akhirnya dia membuang egonya dan memberikan nafas buatan pada gadis itu.
“Maaf... aku terpaksa melakukan ini...” menyentuh bibir merah Rheva yang lembut. Ia memberikan nafas buatan sambil mengalirkan energi reiki lagi.
__ADS_1
“Aah...” Rheva membuka mata dan merasakan ada yang mencium bibirnya. Seketika Dirga langsung mengakhiri PCR dan mukanya bersemu merah melihat gadis cantik yang sudah sadar itu karena baginya itu adalah ciuman pertamanya dengan seorang gadis.
“Dirga... apa itu benar kau ?” tanyanya tak percaya melihat teman yang di carinya itu sambil memegang bibirnya.
“Kau ceroboh sekali memakan makanan yang beracun. Apa kau tidak bisa melihatnya ?” ucapnya dengan nada agak tinggi karena khawatir.
“Iya... aku ceroboh karena kelaparan. Terima kasih sudah menyelamatkan aku. Tapi bagaimana kau bisa ada di sini ? Aku sudah mencari mu kemana-mana.” ucapnya merasa bersalah telah membuatnya khawatir.
“Ceritanya panjang... akan ku ceritakan padamu.” jawabnya singkat.
Dirga lalu menceritakan semua kejadian yang di alaminya pada gadis itu. Begitu pula dengan Rheva, dia juga menceritakan apa yang di alaminya pada Dirga dan mereka berbincang lama. Karena waktu terus berjalan dan mereka tak mau membuang waktu lagi, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Mereka berdua keluar dari bukit itu dan mencari jalan untuk kembali ke hutan Hamakua. Mereka menyusuri jalan baru yang sebelumnya belum pernah di lewati. Terbersit ingatan barusan saat Dirga memberinya nafas buatan dan itu membuat gadis itu merasa canggung dan memilih diam di sepanjang perjalanan karena salah tingkah.
“Jangan ke sana di sana jalan buntu.” ucap Rheva melarang Dirga masuk ke tempat dirinya jatuh.
Karena Rheva bilang tempat itu jalan buntu, ia pun mengambil jalan lain. Mereka berdua terus menyisir daerah itu dan berhenti di depan sebuah terowongan di bawah bukit.
“Bagaimana dengan tempat itu, apa kau pernah melewatinya ?” tanyanya pada Rheva yang di jawab dengan gelengan.
“Kita masuk saja ke terowongan bawah tanah itu. Pasti akan tembus ke suatu tempat.” ucapnya langsung masuk ke terowongan itu tanpa ragu dengan berjalan cepat.
“Hey tunggu... tunggu aku Rheva !” berlari mengejar gadis itu dan masuk ke terowongan.
Mereka menyusuri terowongan selebar satu meter dan gelap gulita itu, sama sekali tak ada sinar di sana. Dirga menarik gadis itu dan memintanya mengikuti dia dari belakang karena dia bisa melihat dengan jelas dalam kegelapan jika menggunakan kekutlatan matanya. Rheva menurut saja dan kini dia mundur berjalan di belakang Dirga.
__ADS_1
Dirga mulai mengaktifkan kekutan matanya. Sinar violet tipis memancar dari kedua matanya. Ia sengaja mengeluarkan sedikit kekuatannya karena tak mau gadis itu mengetahui kekuatannya. Dengan penglihatannya dia bisa melihat jelas lorong itu.
“Awas... ada akar besar ! Jangan sampai kau terkena akar itu.” ucap Dirga melihat banyak akar di atas mereka, akar lembut dan akar tunggang. Dia menyibak akar-akaran yang mengganggu itu agar itu tidak menggores kulit Rheva karena beberapa akar itu ada yang berduri.
Tiba-tiba sesuatu yang cepat turun dari akar yang menggantung itu dan sekarang berjalan ke kepala gadis itu turun ke bawah yang membuatnya merinding.
“Auw... apa ini ?” gadis itu mengibaskan sesuatu yang merayap di tubuhnya itu dan tanpa sadar melompat ke punggung Dirga dan memegangnya erat.
“Ada apa... ada apa Rheva ? Kenapa kau...” berbalik lalu mendekap gadis itu dan melihat ada seekor tikus yang turun dari kaki Rheva. Lalu tikus itu berlari cepat ke dinding terowongan dan naik ke salah satu akar lalu melompat ke akar lainnnya.
“Ha... ha... ha... itu hanya tikus. Dia tak akan menggigit mu.” ucap Dirga melihat di atasnya ternyata banyak tikus putih bergelantungan.
“Tikus kata mu ? Aku...” segera turun dari punggung Dirga dan mengibaskan tangan di seluruh tubuhnya karena merasa jijik dengan binatang itu.
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan dan terus menyusuri terowongan panjang yang gelap itu. Mereka berhenti di persimpangan terowongan dan bingung akan melilih jalan yang mana.
“Kau punya ide Rheva ? Menurut mu kemana kita harus berjalan kali ini ?” melihat lorong yang bercabang ke kiri dan kanan. Gadis itu mengamati keadaan lorong itu kemudian memutuskan.
“Kita pilih jalur ke kanan saja.” ucapnya memberi saran.
“Lorong ke kanan penuh dengan tikus sedangkan yang di kiri sama sekali tak ada tikus. Kau yakin.... yakin memilih lajur kanan itu ? Bukannya kau takut pada tikus ?” tanyanya meyakinkan.
“Tikus itu pasti menuju ke suatu tempat sedangkan jalan ke kiri mungkin saja buntu.” jawabnya yakin.
Mereka pun akhirnya berjalan ke lajur kanan. Banyak sekali tikus di atas mereka, mungkin saja itu adalah sarangnya. Rheva berjalan di belakang Dirga dengan menarik tangan lelaki itu dan terus menggenggamnya erat karena ia takut pada tikus itu. Dirga melihat gadis itu menggenggam tangannya lalu dia menarik gadis itu lebih dekat dengan tubuhnya karena tau gadis itu jijik pada binatang berbulu itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG....