Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 18 Bisa Berubah Wujud


__ADS_3

Ayah dan Dirga kembali ke rumah setelah membeli perlengkapan untuk tempat tinggal burung elang itu. Mereka tidak membeli kandang melainkan hanya tangkringan saja sebab dikhawatirkan burung itu akan stres apabila di masukkan pada sebuah kurungan.


Selain itu mereka juga membeli makanan untuk hewan peliharaan mereka berupa ikan segar, daging unggas dan pakan selingan berupa ulat dan cacing putih. Namun untuk pemberian makanan berupa cacing putih tidak di anjurkan terlalu banyak dalam pemberiannya karena tinggi zat kapur dan itu akan berakibat tidak baik pada pencernaan hewan itu.


“Kita taruh dimana tangkringan untuk elang mu...” menatap Dirga dan Ayah mertua.


Ayah mencari tempat yang bisa di pasang tangkringan di luar rumah. Dimana tempat itu haruslah nyaman dan aman untuk hewan itu. Ia menemukan tempat yang pas untuk meletakkan tangkringan, yaitu di dekat pohon kelengkeng besar yang ada di halaman depan.


“Menurutku taruh di sini saja.” kata Kakek Dirga menunjuk ke bagian pojok teras yang masih terlindungi oleh atap rumah.


“Apa tidak apa-apa jika di taruh disitu Ayah ?” bertanya untuk meyakinkan saja.


“Menurutku lebih baik daripada kau meletakkannya di dekat pohon kelengkeng itu. Untuk saat ini hewan itu akan aman berada di sana saat cuaca panas seperti ini, tapi bagaimana jika musim hujan tiba ? Apakah nantinya burung itu tidak basah kuyup setiap harinya ?”


Ayah yang berjalan menuju ke pohon kelengkeng akhirnya berbalik setelah Kakek memberi saran tempat pada Ayah. Ia berdiri di teras rumah, di tempat yang di tunjuk oleh Kakek. Setelah mempertimbangkan lagi, ia pun setuju jika tangkringan itu di letakkan di sana.


Tak beberapa lama kemudian, Ayah memasang tangkringan untuk elang itu di teras, persis seperti yang Ayah mertuanya minta. Setelah satu jam, akhirnya tangkringan itu selesai di pasang dan siap di gunakan. Ia kemudian membereskan peralatan yang di pakai untuk memasang tangkringan tadi.


“Ambil dan bawalah burung itu kemari sekarang.” ucap Kakek pada Dirga.


Dirga mengangguk menatap Kakeknya tanda mengerti. Ia kemudian berlari menuju ke kamarnya untuk mengambil burung itu. Tak berapa lama, ia kembali dengan membawa burung yang sekarang hinggap di bahu kirinya itu.


“Ini rumah mu sekarang. Rumah mu sudah jadi.” Dirga memindahkan elang dari bahu ke tangkringan baru itu.

__ADS_1


“Tunggu sebentar, Ayah akan memasang tali pada kakinya. Agar tidak lepas lalu hilang.” mengikat kedua kaki dengan tali dan menalinya ke tangkringan.


Ayah memasang tali yang cukup panjang sekitar 2 meter panjangnya, agar burung itu bisa leluasa terbang.


“Tapi Ayah kenapa harus di ikat ?kasihan dia kesakitan nanti. Tadi kan dia tidak lepas, dia tidak lepas keluar dari rumah ini.” merasa kasihan melihat burung elang itu di ikat.


“Iya untuk awalnya Ayah akan ikat dulu. Sampai dia benar-benar jinak, barulah Ayah lepas tali pengikat di kakinya. Karena dia burung liar, bukan burung yang kita beli.” mengelus kepala burung itu.


“Lalu siapa nama dari burung ini ?” tanya Kakek melihat Dirga.


Dirga kemudian berpikir sejenak untuk mencari nama yang pas untuk burung elang nya itu. Karena dia sering menonton tayangan film anak yang menayangkan superhero berkekuatan super, ia pun menamakan burung itu dengan nama salah satu pahlawan super dalam serial film anak yang setiap hari ia tonton.


“Namanya Firoz Kek. Elang ini aku beri nama Firoz.” mengelus sayap burung elang itu.


Memang burung karnivora itu hanya makan dua hari sekali tidak setiap hari. Dikarenakan jenis makanan yang di makannya kaya akan lemak dan protein, sehingga lebih bertahan lama di tubuhnya, dan baru akan merasa lapar pada dua hari setelahnya.


Setelah lelah bermain dengan Firoz, mereka bertiga meninggalkan burung itu dan masuk kembali ke dalam rumah.


Saat malam hari tiba, tidak ada keanehan yang terjadi. Ketiga lelaki yang ada di rumah itu sebelum tidur melihat kembali Firoz di halaman rumah, untuk memastikannya apakah burung itu masih ada ataukah lepas.


Setelah memastikan burung itu masih ada di tempatnya dan terikat dengan kencang, mereka bertiga kembali masuk ke rumah, kamu masuk ke kamar tidur masing-masing.


Semua orang sudah tertidur lelap malam itu. Di saat semua sedang terlelap, Dirga kembali terjaga. Saat dia mendengar suara auman hewan, ia terbangun dari tidurnya. Suara itu mengusik tidurnya. Walaupun suara itu sangatlah pelan, Dirga bisa mendengarnya dengan jelas. Karena memang telinganya sangat sensitif dengan berbagai jenis suara.

__ADS_1


“Suara apa itu... suaranya dari luar...” duduk di tempat tidurnya lalu kembali mendengar suara tadi.


Yang ia pikirkan saat itu adalah Firoz. Dia takut elang nya kenapa-napa, takut jika elang itu di mangsa oleh hewan yang suaranya barusan ia dengar. Tanpa pikir panjang, Dirga segera keluar dari kamarnya dan menuju ke teras depan.


Dirga berjalan dengan terburu-buru, dan sesampainya di sana, ia tak melihat Firoz. Burung itu hilang dari tempatnya. Ia melihat tali pengikatnya tidak putus. Jika terlepas harusnya tali pengikat itu putus, namun tali itu sama sekali tidak tergores.


Dirga kemudian berjalan menuju ke tanah untuk mencari jejak kaki seseorang. Mungkin saja ada yang mencuri Firoz. Namun tak ada jejak kaki manusia di sana. Malahan ia menemukan jejak kaki hewan.


Ia mengikuti jejak kaki yang menuju ke arah pohon kelengkeng berada. Ia harap bisa menemukan hewan yang telah memangsa Firoz dan akan memberinya pelajaran.


Setibanya di bawah pohon kelengkeng, jejak kaki hewan tadi menghilang. Ia kemudian menatap ke atas. Ia melihat ekor burung yang sedang berkibas.


“Firoz... Firoz... apa itu kamu Firoz ? Turun Firoz !! Kembalilah... !!” berteriak memanggil burung elang miliknya.


Burung itu memang Firoz dan ia melihat ke arah Dirga kemudian turun dan hinggap di bahunya. Dirga kemudian berjalan kembali menuju ke teras. Ia bersyukur elangnya tidak di mangsa hewan buas.


Baru beberapa langkah berjalan, ia merasakan ada hewan panjang dan licin membeli tubuhnya.


“Apa ini ? Ular dari mana ? Dimana Firoz ?” menatap ular di tubuhnya dan mencari keberadaan Firoz.


Tiba-tiba ular tadi berubah wujud kembali menjadi Firoz. Dirga sangat terkejut melihat perubahan itu. Dia baru mengetahui jika hewan peliharaan nya bukanlah hewan biasa. Burung itu memiliki kemampuan untuk berubah wujud menyerupai hewan lainnya baik bentuk dan suaranya pun mirip.


Firoz kembali berubah menjadi seekor serigala dan melolong , kemudian berubah menjadi harimau yang mengaum. Dan terakhir ia berubah kembali menjadi elang putih. Ia terbang sendiri saat sampai di depan tangkringan dan hinggap pada tangkringan. Lalu tali pengikat itu mengikat kaki Firoz tanpa ia mengikatnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2