Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 74 Terapi Ekstrim part 1


__ADS_3

Dirga tertidur pulas malam itu tanpa adanya gangguan dari luar. Begitu juha dengan Rheva yang tertidur pulas meski tidak mengenakan jaket tebak ataupun selimut, karena dia sudah terbiasa dengan suhu dingin seperti itu sejak dari kecil dulu.


“duk...” suara buku yang di pegang Rheva jatuh ke lantai. Dirga terbangun dari tidurnya saat mendengar suara itu. Dia membuka mata dan duduk untuk mengamati sekitar dan mencari suara apa tadi. Dia khawatir saja jika ada serangan mendadak.


Dia berjalan ke jendela dan sedikit menyibak tirai yang menutup jendela itu. Ia lalu melihat dengan kekuatan matanya ke arah luar jendela yang gelap gulita itu dan tidak mendapati ada yang berbahaya di luar sana lalu dia menutup kembali tirai jendela itu.


“Rheva...” melihat gadis itu tertidur di kursi. Dia tidak tahu kapan gadis itu pindah ke kursi itu. Dia mengambil selimut yang di pakainya tadi dan menyelimuti gadis itu agar tidak kedinginan.


“Dasar gadis ini...” ucapnya tersenyum melihat gaya tidur gadis itu yang berantakan. Dia tak menyangka saja gadis yang biasanya super rapi saat di kampus ternyata aslinya seperti ini. Dia berjongkok saat melihat ada buku yang jatuh dan mengambilnya.


Dia melihat wajah Rheva dari dekat saat dia menaruh buku yang jatuh itu ke meja. Dia jadi teringat momen saat gadis itu terjatuh di tubuhnya juga saat gadis itu takut pada tikus dan naik ke punggungnya lalu kembali tersenyum.


“Ah apa yang ku pikirkan...” ucapnya merasa malu bercampur rasa senang saat mengingat kejadian itu. Melihat rambut panjangnya yang terjuntai ke lantai, dia merapikan rambut gadis itu. Sejenak dia memandangi paras cantik gadis itu lalu kembali ke kursi dan merebahkan diri lagi memejamkan matanya menghindari pikiran anehnya yang terus muncul untuk mendekati gadis itu.


Pagi hari saat pemanas ruangan itu mati udara terasa sedingin saat malam hari dan membuat mereka berdua bangun dari tidur nyenyak mereka.


“Aah...” Rheva duduk sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Dia tidak sadar ada selimut yang menutupi tubuhnya semalam. Lalu dia melipatnya setelah melihat selimut yang di pakai Dirga itu telah berpindah padanya.

__ADS_1


Gadis itu melihat Dirga yang masih tertidur pulas. Dia berjongkok di dekat Dirga lalu menatap wajahnya dari dekat. Wajahnya memerah karena merasa malu teringat kejadian sebelumnya bersama anak itu saat dia memberikan nafas buatan untuknya dan kejadian lainnya.


“Argh...” Dirga bangun dan berteriak kaget saat melihat wajahnya Rheva mendekat ke wajahnya. Rheva segera mundur dan berdiri mendengar teriakan anak itu.


“ap...apa yang mau kau lakukan padaku ?” ucapnya lalu duduk dan menarik badannya menjauh dari gadis itu. Rheva yang salah tingkah dan tak tahu harus berbuat apa, secara refleks dia melihat melempar selimut yang dia bawa dan mau dia selimutkan pada Dirga.


“Oh... ku kira ada apa... kau... mengagetkan ku saja. Ku kira siapa...” jawabnya menghembuskan nafas panjang sambil mengambil selimut di tubuhnya itu dan merapikannya lagi dan menaruhnya ke kursi.


“Terima kasih sudah membangunkan aku...” tambah anak itu dengan masih menguap dan masih merasa ngantuk.


Gadis itu mencari buku yang di bacanya dan menemukan buku itu sudah berpindah ke meja dan dia yakin buku itu pasti tadinya terjatuh dan Dirga yang mengambilnya. Karena selama ini dia sering seperti itu dan ibu yang selalu mengambilkan bukunya yang terjatuh.


Saat Dirga merasa senang mendengar hal itu tiba-tiba dia melihat Rheva menarik kembali buku yang sekarang di pegangnya. Dia merasa kesal baru saja dia membacanya dan belum selesai, gadis itu sudah menariknya lagi.


“Tapi aku tidak yakin... aku takut jika terapi ini gagal kau keadaan mu akan semakin lebih parah dari yang sekarang dan kondisi itu akan berlangsung permanen. Tapi jika itu berhasil, kau akan sembuh dan hasilnya pun akan permanen.” jawabnya panjang lebar.


Dirga diam sejenak dan berpikir. Sebenarnya terapi macam apa yang punya resiko sebesar itu. Tapi menurutnya tak ada salahnya jika di coba. Tidak mungkin juga akan terjadi seperti yang di ucapkan Rheva sebelumnya jika terapi itu gagal. Dirinya tidak selemah yang di bayangkan gadis itu.

__ADS_1


“Aku mau... aku mau mencoba terapi yang kau sebutkan barusan. Em... terapi apa namanya itu ? Ayo kita coba semoga saja berhasil.” jawabnya tanpa keraguan sedikit pun membuat Rheva yang awalnya ragu mau mencobanya sekarang jadi tidak takut untuk mulai mencoba terapi itu.


“Terapi hiperbarik. Jika yakin kita akan mencobanya besok. Karena aku harus mempersiapkan peralatannya dulu hari ini.” jawabnya.


Tanpa pikir panjang dan takut, anak itu menyetujui usulan terapi itu. Karena dia percaya pada kemampuan gadis yang selama ini sering menyelamatkan dirinya.


Setelah mendengar jawaban Dirga yang yakin, Rheva lalu menyiapkan segala peralatan yang di butuhkan untuk terapi besok. Sementara itu Dirga mengisi menyisir tempat itu sekaligus berjaga-jaga jika ada serangan susulan atau serangan mendadak.


Sambil menyisir lokasi dia berjalan-jalan menikmati pemandangan di daerah itu yang tertutup oleh salju dan tampak indah baginya. Sesekali ia tertawa sendiri saat bermain salju. Pikirannya melayang ke adiknya, luna. Pasti jika saat ini dia sedang bersama adiknya mereka bisa main lempar salju atau membuat orang-orangan dari salju.


Setelah berjalan cukup jauh dan merasa kakinya pegal dia duduk di sebuah batu besar. Dia melihat ke sekeliling dan mendapati sebuah tulisan yang terdapat di sebuah papan yang tergantung pada sebuah pohon di depannya. Dia membaca tulisan itu, sebuah tulisan yang sama dengan sebelumnya yang menyebutkan kata pixy dan Infinix.


“Lagi-lagi aku menjumpai kata infinix. Sebenarnya siapa Infinix itu ? Siapa Pixy itu? Lalu apa hubungannya dengan Ighist ?” gumamnya bicara sendiri dan terus membaca kalimat itu. Namun tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai dua kata yang membuatnya penasaran itu. Dia pun kembali ke rumah Rheva setelah puas melihat tempat itu.


Keesokan harinya, semua peralatan yang di butuhkan untuk menjalani terapi sudah siap.


“Bagaimana kau sudah siap ?” tanya Rheva berdiri di samping tabung kaca besar berukuran tinggi tiga meter, dimana memang di sesuaikan dengan tubuh Dirga. Tabung itu di isi cairan penuh yang merupakan bahan kimia berwarna biru, dimana cairan itu adalah buatan Rheva yang berisi berbagai ramuan Ighist untuk mengobati penyakit. Gadis itu menjelaskan langkah terapi yang akan di dilakukannya pada Dirga.

__ADS_1


Setelah mengerti penjelasan dari Rheva, Dirga pun berjalan mendekat ke tabung kaca itu.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2