
Dalam pikirannya terlintas gadis kecil itu selalu menemaninya di saat yang lain tak mau menemaninya. Satu per satu ingatan tentang gadis kecil itu bermunculan dalam ingatannya.
Ingatan itu muncul secara acak tidak berurutan. Hanya moment berkesan yang muncul dalam ingatannya.
“Mungkin kau tidak akan bertemu lagi dengan ku. Jaga dirimu baik-baik. Jangan cari aku...” gadis itu tersenyum padanya dan menyimpan kesedihan yang tetap terlihat dari matanya.
“Jangan pergi... jangan pergi...hei kembali... kembali...” teriak Dirga meminta gadis itu dan menariknya, namun dia tiba-tiba menghilang.
Dirga lalu duduk dan mendapati dirinya ada di sebuah rumah bambu dengan perban membalut luka di dadanya.
Satu hari sebelumnya di sore hari,
Seorang nelayan tua sedang melemparkan jaring ke sebuah lautan biru yang tenang. Lelaki separuh baya dengan beberapa rambut putih yang tumbuh di kepalanya memutar balik perahu yang di naikinya setelah mendapati jaring yang ia tebar hanya berisikan sedikit ikan.
“Tak apalah daripada tak dapat sama sekali. Besok bisa mencari lagi.” ucapnya menghibur dirinya sambil memasukkan ikan hasil tangkapannya ke ember yang terisi ikan hanya separuh, tidak seperti biasanya yang pulang membawa tiga ember penuh ikan.
Nelayan itu lalu memegang dayung dan duduk. Ada sebuah angin yang keluar dari ke dua tangannya yang menggerakkan dayung itu dan membuat perahu itu bergerak maju dengan kekuatan itu.
Tanpa sengaja pria paruh baya itu menoleh ke sisi kanan dan mendapati air yang berwarna merah darah.
“Darah siapa itu... hewan ataukah manusia ?” mencari tubuh hewan yang terluka atau tubuh manusia yang mungkin terluka.
Nelayan itu lalu memutar perahunya ke arah air berwarna merah darah itu dan menelusurinya. Tiga meter dari lokasi tadi ia melihat ada sesuatu yang mengapung. Saat mendekat ternyata memang tubuh manusia.
“Astaga manusia...”
Nelayan itu lalu segera masuk ke air dan mengangkut tubuh itu ke perahunya. Ia mengecek pembuluh nadinya.
__ADS_1
“Syukurlah anak ini masih hidup, walaupun denyut nadinya lemah.” ucap nelayan itu mengecek kondisi tubuh yang di temukannya barusan. Dia melihat ada luka tusuk di dada sebelah kanan. Setelah itu ia mengalirkan sedikit kekuatannya yang membuat wajah pemuda tadi pucat dan sangat dingin tubuhnya berubah ke suhu normal.
“Untunglah nak, kau selamat. Bukan organ vital mu yang terluka. Jadi aku masih bisa menolong mu.” ucap nelayan itu layu memutar balik perahunya ke arah seharusnya dan menjalankan perahu itu.
Tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah rumah kecil. Rumah itu berukuran 4 x 4 meter. Terbuat dari bambu kuning. Meskipun kecil, rumah itu bersih, rapi dan nyaman untuk di huni.
Nelayan itu segera membaringkan tubuh Dirga ke tempat tidur. Ia kemudian membersihkan luka di tubuhnya lalu membalutnya dengan perban. Ia juga membuatkan obat untuk diminum saat nanti sadar.
“Kau sudah sadar, nak...?” ucap nelayan yang barusan masuk ke kamar itu setelah keluar dari dapur membawa minuman.
“Bapak... bapak yang telah menyelamatkan aku ?” ucap Dirga segera duduk dan masuh merasakan sakit di dadanya sambil melihat lelaki paruh baya yang tersenyum di depannya.
“Iya...namaku Tantrayana... aku seorang nelayan di sini. Siapa nama mu anak muda ?” tanyanya sambil menyerahkan satu mangkuk obat pada Dirga.
“Minumlah... ini obat. Kau juga mengalami luka dalam. Dalam tiga hari ke depan kau akan pulih.”
“Terima kasih Pak Tantrayana...terima kasih sudah menolong ku. Aku tidak tahu bagaimana nasib ku jika tidaka ada Bapak. namaku Dirga... aku berhutang budi pada Bapak...” sambil mengingat sebuah nama barusan. Karena nama itu tidak asing baginya.
“Nama Bapak mirip dengan nama seorang raja yang populer pada zamannya. Namanya mirip, Raja Tantrayana. Apakah Bapak mungkin....” ucapnya setelah berhasil mengingat nama yang pernah ia baca dari buku-buku sejarah kuno.
“Oh... Ku rasa hanya sebuah kemiripan nama saja, nak. Aku tak menyangka masih ada yang mengetahui cerita kuno itu di zaman ini...” tersenyum kecil dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Di kisahkan dahulu kala ada seorang raja bernama Raja Tantrayana. Dia merupakan raja bijak dan kuat di negara Komorros. Salah satu kekuatannya adalah dia bisa mengendalikan semua binatang dan taat pada perintahnya.
Suatu hari kemudian dia menghilang setelah ada suatu bencana besar yang menimpa kerajaannya. Dia menghilang tanpa di temukan jasadnya dan tak ada yang mengetahui kondisinya setelah menyelamatkan rakyatnya dari tsunami besar yang melanda saat itu.
“Tak usah sungkan begitu nak... bagaimana ceritanya kau bisa terluka dan jatuh ke lautan ?” tanyanya penasaran.
__ADS_1
Dirga lalu menceritakan awal mula kejadian saat ia mulai mencari kayu bakar di hutan Hamakua, lalu terpisah dari temannya dan sampai tertangkap oleh pasukan demon dan sampai akhirnya dia bisa terluka pada lelaki yang duduk di dekatnya itu.
“Kalau begitu beristirahatlah dulu agar kau segera pulih. Baru nanti kau bisa kembali ke hutan itu.” ucapnya lalu berdiri dan meninggalkan Dirga untuk beristirahat.
Dirga merebahkan kembali tubuhnya. Dia merasakan energinya sudah pulih 70%. Cukup baginya dengan energi yang ada sekarang itu untuk menyembuhkan lukanya.
“Aku harus segera pulih. Aku harus segera sembuh. Aku tak bisa berlama-lama disini. Aku harus segera kembali...”
Dia lalu memejamkan mata dan menaruh tangan kirinya ke dada kanannya. Dia fokus dan mulai memusatkan energinya pada luka itu lalu memulai reiki. Setelah merasa agak baikan, ia segera menghentikan reiki lalu kembali tertidur setelas energinya terkuras.
Beberapa jam berikutnya Pak Tantrayana masuk untuk mengganti perbannya. Ia melihat Dirga tertidur pulas, namun ia tetap membuka perbannya dengan perlahan. Betapa terkejutnya dia saat melihat luka yang tadinya menganga sudah menutup rapat hanya dalam hitungan jam dan luka itu mengering.
“Apa yang terjadi ?Baru kali ini aku melihat kejadian seperti ini. Biasanya luka seperti ini akan sembuh dalam waktu satu bulan. Anak ini... bukan orang biasa. Siapa dia ?” tanyanya sambil mengganti dan memasangkan kain untuk membalut lukanya.
Saat dia membalut luka, dia melihat tubuh anak itu bersinar dan muncul simbol di tengah dadanya.
“Simbol apa ini... ini kan simbol...” ucapnya bertambah heran melihat simbol kuno itu yang dalam sekejap mata kemudian menghilang saat dia menyentuhnya.
“Pak Tantrayana.....” Dirga bangun karena merasa ada yang menyentuh dadanya.
“Kau bangun...” menyelasaikan memperban luka Dirga.
“Luka mu hampir sembuh saat aku ganti perbannya. Tapi beristirahatlah dulu agar tubuh mu segera pulih.” melihat Dirga yang duduk.
“Pak terima kasih sudah menolong ku. Terima kasih, aku berhutang budi pada Bapak. Tapi aku harus segera kembali. Aku mau kembali sekarang...” jawabnya lalu berdiri dan bergegas untuk keluar.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
tolong dukung penulis dengan like, komen ataupun vote. Agar penulis semangat memuliis lagi melnajutkan kisah ini dan tahu pembaca setia agar bisa menyapa. Terima kasih... 🙏🙏