
Dirga terus menjalani terapi dari umur 2 tahun hingga sekarang. Saat ini ia berumur tiga tahun. Namun ia sudah tidak mengkonsumsi obat berbahan dasar madu yang sebelumnya selalu ia konsumsi.
Elsa dan Hadwan banyak mencari referensi tambahan untuk membantu tumbuh kembang anaknya itu.
Karena usianya yang sudah masuk usia sekolah, mereka pun memasukkan Dirga ke sekolah anak berkebutuhan khusus. Dimana di sekolah itu hanya diisi oleh anak autis.
Jenjang di sekolah itu lengkap, mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai tingkat SMU. Kebanyakan anak yang sekolah di situ mengalami perkembangan yang positif.
Di awal-awal masuk sekolah ia mengalami kesulitan belajar. Namun setelah dua tahun belajar di sana, ia mulai menunjukkan perkembangan meskipun masih sedikit. Di usia 4 tahun ia sudah bisa membaca, menulis dan berhitung seperti kemampuan anak seusianya seharusnya.
Masih banyak ketinggalan yang harus ia kejar. Namun di bandingkan teman lain sekelasnya, perkembangannya termasuk cepat. Dan di usia itu ia mulai bisa berbicara kalimat panjang, meskipun cara berbicaranya sering di ulang-ulang beberapa kali.
Namun Elsa berusaha mencari bakat lain yang ada pada Dirga. Awalnya ia mengenalkan sepak bola padanya dengan tujuan agar ia tertarik.
Satu minggu lamanya ia mengantar Dirga ke tempat kursus sepak bola dan ternyata ia mulai tertarik. Akhirnya ia mendaftarkan Dirga kursus sepak bola. Ia bilang pada pelatihnya dan menceritakan kondisi Dirga yang autis serta kurang bisa berbaur dengan lainnya, agar membantu menyampaikan nya pada teman-teman lainnya.
Selain sepak bola, Hadwan juga mengajari Dirga renang. Selain untuk mengisi waktu, dengan berenang di maksudkan sebagai terapi juga yang membantu proses penyembuhan anak autis. Kegiatan berenang dan sepak bola ia lakukan seminggu dua kali.
Setelah tiga bulan Dirga mengikuti sepak bola dan renang, mulailah nampak jika dia mulai bisa mengoper bola ke teman dan dalam skill berenang ia sudah menguasai gaya katak.
Mereka berdua terus mensupport Dirga saat ia sedang malas untuk ikut kursus.
__ADS_1
“Ini botol air minumnya Nak, bawa lah.” Elsa memberikan botol minum berwarna biru pada Dirga.
Walaupun Dirga sudah bisa bicara, ia hanya akan bicara jika mood. Jika sedang tidak mood, dia hanya akan diam saja.
“Tidak mau.... Dirga tidak mau masuk kursus bola. Dirga tidak mau.” menolak botol minum yang di berikan oleh Elsa.
“Kamu kenapa... ayo nanti Mama belikan mainan bola basket.” mengelus kepala sambil membujuk ya pelan.
Namanya juga masih anak-anak, karena mendengar bujukan akan di belikan mainan, akhirnya ia tidak jadi mokong.
Elsa mengantar Dirga kursus sepak bola dan menunggunya karena khawatir akan di ganggu anak lain. Ia tidak tahu selama ini Dirga mendapat bully-an atau tidak selama kursus bola. Karena ia hanya bisa menunggu saat libur kerja saja.
Ia tersenyum melihat aksi Dirga yang bisa menggiring bola menuju ke gawang walaupun tidak mencetak gol. Dan selama di lapangan ia tidak melihat teman lainnya mengganggunya. Selesai kursus sepak bola, Elsa memenuhi janjinya untuk membelikannya mainan. Ia membawa Dirga ke toko mainan dan membiarkan anaknya itu memilih mainan yang ia suka.
Satu bulan berikutnya, Elsa mendaftarkan Dirga untuk mengikuti kursus musik yang di jadwalkan satu minggu sekali setiap hari Selasa.
Di kursus musik, Dirga belajar memetik gitar, menggepuk drum dan bermain organ. Kali ini Elsa tidak memaksanya. Jika Dirga tidak mau masuk, ia tidak membujuknya. Karena ia tahu tidak boleh menekan apalagi memaksanya yang akan berakhir pada suatu depresi. Ia tak ingin anaknya mengalami itu.
Selain itu ia juga mengikutkan Dirga les melukis. Karena setahunya mayoritas anak autis lebih menonjol dalam bidang seni. Ia pernah membaca artikel tentang Ludwig Van Beethoven yang merupakan seorang maestro seni terkenal di dunia, ternyata semasa kecilnya adalah seorang anak yang autis.
Ia hanya bisa membekali anaknya dengan ilmu-ilmu itu. Ia berharap kelak suatu saat nanti ilmu itu akan berguna dalam hidupnya.
__ADS_1
Tiga bulan berikutnya Elsa mendaftarkan Dirga untuk belajar taekwondo. Ia berharap suatu saat ilmu bela diri itu berguna untuk melindungi dirinya sendiri. Ia tidak berharap Dirga akan memberinya sabuk hitam, cukup dengan mengikuti rutin saja, ia sudah merasa sangat senang sekali dan itu lebih dari cukup baginya.
Elsa mencoba mengamati Dirga, apakah ia merasa berat dan tidak mampu mengikuti banyak kursus. Jika memang terasa berat, ia akan mengurangi beberapa kursus yang di rasa sudah mahir. Namun ia tak menyangka, ternyata ia kuat mengikuti semua kursus itu. Dan anehnya ia juga mampu menyerap ilmu itu.
Dari fisik Dirga tidak kelihatan autis. Sekilas ia tampak kelihatan normal. Tapi setelah mengajaknya bicara, pasti akan terlihat perbedaannya dengan anak normal. Mungkin itu karena dia tergolong autis ringan.
Pada kasus autis berat, si anak sama sekali tidak bisa melakukan komunikasi dua arah. Bahkan pola pikir dan perilaku mereka masih seperti anak berusia 2 tahun. Mereka ada yang tidak mandiri, dalam artian tidak bisa berpakaian sendiri, memakai sepatu sendiri. Ada juga dari mereka yang selalu menangis setiap hari tanpa sebab dan juga ada yang gampang emosi dan marah.
Jika teman Dirga ada yang pemarah dan gampang tersulut emosi. Itu tidak sama dengan Dirga. Dia cenderung tidak punya dendam dan tidak pernah membalas meskipun di pukul keras sekalipun.
Hatinya bersih bagai malaikat, tanpa dendam tanpa kebencian pada siapapun, termasuk teman atau saudara seumuran yang mengganggunya.
Dalam kesehariannya, Dirga tergolong mandiri jika di bandingkan dengan teman sekelasnya. Ia bisa mandi sendiri. Memakai seragam dan sepatu sendiri, meskipun untuk mengikat tali sepatu ia masih belum bisa dan membutuhkan bantuan.
Di sekolah dia juga dikenalkan pada kemampuan lainnya, yaitu berlari. Pihak sekolah mengumpulkan beberapa anak yang unggul lalu membekali mereka dengan kemampuan di bidang olahraga. Diharapkan suatu saat kemampuan itu akan berguna bagi para siswanya. Selain itu juga akan menjadi bahan pertimbangan saat mendaftar pada sekolah umum nanti. Karena banyak dari murid yang bersekolah di sana bisa pindah ke sekolah umum, bahkan mengenyam pendidikan sampai ke jenjang universitas.
Setelah mengenalkan beberapa cabang olahraga, ternyata guru menemukan kemampuan Dirga saat berlari lebih cepat di banding lainnya.
“Ayo terus Dirga...” sorak guru olahraga Dirga saat menunggunya ikut lomba lari.
Pak Dion menyaksikan sendiri Dirga menyalip empat orang pelari yang berusia di atasnya, di stadion olahraga kota. Ia berhasil berada di nomor urut tiga setelah sebelumnya berada di urutan ke tujuh. Hal itu merupakan prestasi di usianya yang masih dini.
__ADS_1
BERSAMBUNG...