
Pagi hari Dirga terbangun karena suara kicauan burung elang itu. Burung itu melolong panjang. Suara itu terdengar menggema ke seluruh isi rumah dan membuat yang lain ikut mendengar suara kicauan yang aneh itu.
Hadwan terbangun mendengar kicauan burung yang terdengar sangat aneh dan membuatnya penasaran pada suara itu. Ia yakin suara itu berasal dari dalam rumahnya.
“Mau kemana ?” tanya Elsa melihat Hadwan yang turun dari tempat tidur.
“Kau dengar suara aneh barusan tidak ? Kenapa ada suara hewan di dalam rumah ini ?” menatap Elsa.
“Iya aku mendengarnya sayang, suara itu membuat ku merinding. Suara itu seperti kicauan burung tapi juga terdengar melolong seperti serigala.” menyentuh tangannya yang merinding.
“Maka dari itu aku akan mengecek nya terlebih dulu, sayang. Itu suara hewan ataukah hanya halusinasi ku saja. Kau tunggu di sini saja.” keluar dari kamar untuk mencari hewan itu.
Hadwan berjalan menyisir rumah untuk mencari dimana sumber suara hewan tadi berasal. Ia mencari ke setiap ruangan yang ada di rumah, namun belum menemukannya karena suara itu sudah tak terdengar lagi di rumahnya.
Hanya satu ruangan yang belum ia periksa, yaitu kamar Dirga. Namun ia ragu jika suara itu berasal dari kamar anaknya itu. Namun meskipun merasa tidak mungkin jika Dirga memasukkan hewan ke dalam rumah, akhirnya ia pun ke sana juga. Untuk sekedar memastikan saja dan tidak ada salahnya mengecek kondisi putra semata wayangnya itu.
Hadwan berjalan menuju kamar Dirga dan akhirnya ia sampai di depan pintu kamarnya. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
Ia terperanjat melihat ada seekor burung di kamar Dirga. Ternyata suara hewan tadi nyata dan benar adanya, bukan halusinasi. Dan suara yang membuat merinding tadi ternyata dari seekor burung langka yang sekarang ada di kamar putranya.
“Ayah... ? Ayah kenapa kesini, ada apa ?” menatap Ayahnya yang masuk secara tiba-tiba ke kamarnya dan seketika membuatnya kaget.
Dirga berpikir jika Ayahnya pasti akan marah padanya. Karena membawa burung masuk ke dalam rumah, apalagi menaruhnya di dalam kamar. Ia takut jika Ayah nya memintanya untuk melepaskan burung itu. Karena memang tidak ada yang memelihara hewan di rumah itu.
“Burung ini Dirga temukan di luar rumah semalam. Jangan usir burung ini, Dirga suka pada elang ini. Jangan Ayah lepaskan ya...” memeluk kaki Ayah untuk menahannya, agar tidak mengambil paksa burung itu.
Hadwan melihat Dirga yang bergelayut pada kakinya itu, lalu berjongkok dan mengelus rambut anaknya itu.
“Ayah mau melihat burung itu dulu boleh kan ?”
__ADS_1
Dirga memegang tangan Ayahnya lalu menariknya untuk mendekat dan melihat burung itu secara dekat dan jelas.
Hadwan berada tepat di depan burung itu. Ia melihat dan mengamati untuk memastikan jenisnya. Setelah ia mengamati, ternyata itu memang jenis burung elang yang langka keberadaannya. Ia berpikir sayang juga jika melepas burung itu begitu saja. Dan bermaksud akan membiarkan Dirga merawatnya saja.
Ia mengelus sayap burung elang itu, dan burung itu malah terbang dan berjalan di atas tangannya. Sebenarnya ia juga baru pertama kali ini menyentuh burung. Karena dari ia kecil sampai sekarang ia tak pernah memelihara hewan sama sekali.
Ia melihat anaknya yang tidak punya teman, lalu melihat kembali ke burung yang sudah turun dari tangannya dan kembali ke tempatnya bertengger tadi.
Sepertinya tak masalah jika ia mengenalkan putranya pada hewan, agar mempunyai rasa empati pada makhluk lain.
Selain itu agar ia mempunyai teman, tidak merasa kesepian seperti dirinya saat masih kecil dulu yang selalu kesepian sampai akhirnya mempunyai seorang adik, barulah hilang kesepiannya.
Tapi ia ragu, apakah mertua dan istrinya mengizinkan burung itu untuk di pelihara di rumah ? Tapi ia juga menyukai burung itu sekarang,dan ia akan membuat keluarga yang lain memberi izin agar elang itu boleh di pelihara.
“Ayo kita tunjukkan burung ini pada Mama dan Kakek-Nenek, mereka pasti akan menyukainya.”
“Sayang... lihat ini apa yang ku bawa ?” tersenyum menatap Elsa yang baru turun dari tempat tidur.
“Burung....? Jadi suara tadi adalah suara dari burung ini ?” berjalan menghampiri Hadwan dan Dirga.
Elsa melihat raut wajah suami dan putranya yang tampak senang dan tertarik pada burung itu.
“Jangan bilang kalian mau...” kalimatnya langsung di potong oleh Hadwan.
“Boleh kan kami memeliharanya sayang ? Maksudku biarkan burung ini menjadi teman anak kita. Kau lihat kan dia menyukai burung ini ?” memberikan burung itu ke Dirga.
Elsa melihat elang itu hinggap di bahu kanan Dirga dan mematuk-matuk bahunya, yang membuatnya gemas.
“Kau tahu kan burung ini termasuk spesies langka, elang putih.” menjelaskan pada Elsa.
__ADS_1
Elsa baru mengetahuinya jika jenis burung itu termasuk burung yang langka dan jadi sayang jika melepasnya begitu saja jika tidak memeliharanya. Setelah ia berpikir memang benar apa yang di katakan suaminya itu. Burung itu akan menjadi teman Dirga.
Selain itu ia pernah membaca sebuah artikel jika salah satu cara untuk menyembuhkan anak autis adalah dengan jalan merawat hewan peliharaan. Mungkin memang mereka berdua berjodoh.
“Iya sayang, kau boleh memelihara nya, nanti biar Ayah yang membelikan sangkar untuk burung cantik mu itu ya.” mengelus kepala Dirga lembut sambil tersenyum.
“Terima kasih Ma, terima kasih.” menatap balik Mamanya.
Ia tak menyangka jika Mama juga memberinya izin untuk memelihara hewan itu. Dan itu membuatnya senang sekali.
Hadwan kemudian mengantar Dirga untuk mencari mertuanya, dan ternyata dia menemukan mertuanya sedang ada di depan rumah. Nenek dan Kakek nya Dirga sedang jogging di halaman.
Melihat Kakek dan Neneknya di teras depan, Dirga segera menghampiri mereka berdua. Sedangkan Hadwan berjalan mengikuti Dirga.
“Kakek lihat ini Kek. Dirga punya elang putih. Elang putih yang langka.” menunjukkan elang yang sedang bertengger di lengan nya pada Kakek.
Kakek melihat elang yang di bawa Dirga itu. Ia tak tahu darimana anak kecil itu mendapatkan burung yang menurutnya bagus itu. Karena ia tak pernah melihat burung seperti itu sebelumnya. Apakah burung itu Hadwan yang membelikan ataukah burung yang nyasar ke rumahnya.
“Iya bagus burung elangnya...” mendekati Dirga dan melihat lebih dekat burung yang masih bertengger di tangan Dirga itu.
“Kek, Dirga boleh pelihara burung ini di rumah ya ? Burung ini saja, tak akan ada peliharaan yang lain.”
Melihat Dirga yang tampak suka sekali dengan burung itu, ia pun memperbolehkan Dirga memelihara burung itu.
“Hore... !!! Aku boleh memelihara burung ini di rumah...” bergelayut di kaki Kakek sambil tersenyum.
Dirga kemudian kembali ke dalam rumah dan untuk sementara mengembalikan burung itu ke kamarnya. Setelah itu ia pergi bersama Ayahnya untuk membeli sangkar atau apapun yang bisa di pakai burung itu untuk berpijak.
BERSAMBUNG...
__ADS_1