
Elsa segera keluar dari tempat ia mendaftarkan Dirga. Ia menyibak keramaian untuk mencari Dirga. Ia melihat anak lelaki kecil yang berlari di depannya. Ia segera berlari dan menarik tangan anak itu.
“Dirga... kemana saja kau Nak ?” menarik anak lelaki yang mirip dengan Dirga mendekat.
Setelah anak lelaki tadi mendekat dan menoleh padanya, ternyata anak itu bukan Dirga. Elsa langsung melepasnya dan kembali berjalan mencari Dirga. Ia mencari Dirga di di sekitar loket pendaftaran tadi, namun tidak menemukannya.
“Kemana ya anak itu pergi, apa mungkin dia mencari penjual makanan ?” melihat ke sekeliling halaman sekolah untuk mencari penjual makanan atau kantin sekolah.
Elsa menemukan ada beberapa penjual sosis telur. Biasanya Dirga suka membeli jajanan itu saat masih berada di sekolah lama. Ia segera berlari ke tempat penjual itu mangkal.
Sampai di sana, ia melihat satu per satu anak-anak yang sedang antri membeli sosis telur atau yang duduk di sekitar penjual itu, namun ia tak menemukan Dirga di sana.
“Pak, maaf permisi. Apa tadi ada anak lelaki memakai tas bergambar Harry Potter membeli sosis telur disini ?” tidak berhenti menyerah dan bertanya pada penjual itu.
“Kalau disini tadi tidak ada anak lelaki dengan ciri-ciri yang Mbak sebutkan membeli sosis telur.” menjawab Elsa sambil menggoreng sosis untuk pembeli lainnya.
“Iya terima kasih, Pak.” meniggalkan penjual itu dan menuju ke penjual sosis telur lainnya.
Di sana ada 5 orang penjual sosis telur. Elsa kemudian menanyai mereka satu per satu untuk mencari Dirga. Namun ke empat penjual sosis telur lainnya pun juga tidak melihat Dirga.
Elsa yang masih bingung dan khawatir jika anaknya hilang, kembali mencari Dirga ke seluruh halaman sekolah itu. Ia panik karena takut terjadi sesuatu pada Dirga. Karena di berita ada kasus penculikan anak. Ia tak menyerah dan terus mencari Dirga sampai ke ujung sekolah.
Dirga melihat gadis kecil bernama Agnes tadi sudah keluar dari sekolah. Ia kemudian berjalan untuk kembali pada Mama.
Ia menuju ke loket pendaftaran tadi. Namun suasananya aneh. Lokasi pendaftaran yang tadinya sangat ramai sekali, sekarang sepi. Tak ada orang sama sekali di sana. Bahkan petugas pendaftaran pun juga sudah tutup. Yang lebih terasa aneh lagi, waktu di sana berubah menjadi sore hari.
Ia sangat yakin jika tadi masih siang hari dan antrian pendaftaran masih sangat panjang. Kenapa tiba-tiba sudah sore dan tutup ? Kemana semua orang pergi ?
Dirga melihat lagi ke sekeliling untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Ia mengucek matanya, memejamkan mata lalu membukanya kembali. Saat ia membuka mata, suasana yang ia lihat tetap, sepi dan sunyi.
__ADS_1
“Mama... Mama...” memanggil Elsa dan berjalan ke arah lain untuk mencari Mamanya.
Ia merasa ada yang aneh, karena di sepanjang jalanan yang ia lihat tidak ada orang sama sekali. Ia berjalan ke tempat parkir kendaraan, mencari mobil Mama dan bermaksud menunggu di sana saja. Ia tak menemukan mobil milik Mama. Padahal ia yakin di tempat itu tadi Mama memarkir mobilnya. Bahkan tempat parkir itu kosong dan sepi, tak ada satu pun kendaraan yang terparkir di sana.
“Aneh sekali... kemana semua kendaraan yang tadi di parkir di sini ?” melihat tempat parkir yang kosong.
Ia lalu berjalan ke tempat lain yang juga kosong. Di tengah perjalanan ia kembali mendengar suara keramaian dari jauh. Suara itu berasal dari tempat pendaftaran tadi. Ia kemudian berbalik dan melihat jika loket yang tadinya sepi menjadi ramai kembali, seperti saat awalnya tadi.
Dirga berjalan pelan kembali ke loket pendaftaran tadi. Ia kembali merasa aneh saat melihat ke sekeliling. Walaupun sekarang sudah kembali ramai seperti tadi, ia masih merasa di sana sepi. Ia merasa aura kali itu berbeda dengan aura sebelumnya.
Sesampainya di loket pendaftaran, ia melihat Mama masih mengantri. Ia segera menghampiri Mama tanpa rasa curiga.
Beberapa saat kemudian Mama selesai melakukan registrasi pendaftaran.
“Sudah selesai, ayo kita pulang.” Mama tersenyum menatap Dirga sambil membawa map dan juga kain seragam sekolah untuknya.
Dirga merasa Mama berbeda dengan biasanya. Ia merasakan tangan Mama sedingin es, dan wajahnya sedikit pucat, serta lebih pendiam tidak seperti biasanya yang banyak bicara, menanyakan hal apa saja yang bisa ia tanyakan.
Dirga mengajukan beberapa pertanyaan untuk membuktikan keraguannya.
“Mama apa sakit ?” berhenti berjalan lalu menatap Mama.
Mama tidak menjawab hanya menggelengkan kepala saja dan menatapnya, yang membuatnya makin curiga. Karena Mama selalu menjawab saat ia bertanya. Selain sorot matanya berbeda, bukan sorot mata biasanya yang ia kenal.
“Kau haus ? Mama punya sesuatu untuk mu.” mengeluarkan minuman.
Mama memberinya minuman rasa jeruk. Ia menerima botol minuman rasa jeruk itu dan membuatnya semakin yakin jika orang itu bukanlah Mama. Karena Mama selalu melarangnya makan atau minum segala sesuatu yang berbau jeruk. Dikarenakan hal itu akan memicunya semakin bertambah hiper aktif.
Ia di anjurkan menghindari makan jeruk oleh terapis, karena jeruk buah yang paling tinggi jumlah vitaminnya, dan itu akan memicu dia semakin bertambah aktif. Bahkan Mama menghitung nilai kalori dan julmlah vitamin yang terkandung dalam makanan dan minuman untuknya.
__ADS_1
“Kenapa tidak segera di minum ? Bukankah kau haus ?” Mama memintanya untuk segera minum secara halus.
“Katakan padaku kau siapa ? Kau siapa ?” Dirga menarik tangan dari genggaman Mama.
Karena tidak menjawab dan hanya tersenyum menyeringai menatapnya, ia pun mengaktifkan penglihatannya. Ia menyentuh mata sambil mengalirkan energi reiki ke matanya.
Beberapa saat kemudian penglihatannya terbuka. Saat iris matanya berubah menjadi violet, ia melihat wanita di samping nya bukanlah Mama, melainkan seorang wanita yang memiliki wajah rusak seperti belas luka karena kecelakaan yang parah. Ia tidak tahu siapa wanita itu, tapi yang jelas wanita itu bukanlah manusia dan meniru menyerupai Mama.
Wanita yang menyamar sebagai Mama Dirga takut melihat perubahan mata Dirga. Karena ia merasakan panas saat mata itu melihatnya, seolah membakar tubuhnya. Ia pun pergi meninggalkan Dirga dan menghilang. Seketika sekeliling Dirga berubah kembali ke awalnya.
Namun Dirga merasa pusing melihat perubahan yang mendadak itu, dan membuat pandangannya kabur untuk sesaat sebelum matanya kembali normal dan penglihatannya tertutup kembali.
“Mama... Mama... tolong Dirga... !!” berteriak kencang memanggil Mama sambil memegang matanya yang terasa panas.
Elsa yang saat itu kembali berjalan ke loket pendaftaran mendengar teriakan Dirga. Ia langsung berlari ke tempat dimana Dirga berada. Sampai di sana, ia melihat Dirga terduduk di tanah terlihat kesakitan sambil memegang matanya.
“Dirga... !!” membantu Dirga berdiri dan menarik tangan yang menutupi matanya untuk melihat apakah terjadi sesuatu pada mata anak itu.
Samar Elsa melihat iris mata Dirga berwarna ungu transparan, namun kembali lagi berwarna cokelat.
“Tetes mata Ma, Dirga butuh tetes mata. Mata Dirga perih.” menatap Mama masih menahan perih.
“Ayo kita ke mobil saja. Mama terkadang menaruh tetes mata di mobil. Ayo kita lihat.” berjalan menggandeng tangan Dirga.
Mereka langsung masuk ke mobil. Elsa mencari tetes mata di dasbor mobil, untuk berjaga jika matanya kemasukan debu saat mengendarai mobil. Untung saja ia menemukan tetes mata dan langsung meneteskan ke mata Dirga beberapa kali sampai ia merasa tidak perih lagi.
Ia tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada Dirga dan kemana anak itu tadi pergi. Ia akan bertanya, namun Dirga ternyata tidur. Elsa pun tidak jadi bertanya pada Dirga dan langsung mengendarai mobil menuju ke rumah dengan penuh tanda tanya dalam pikirannya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1