Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 115 Kembali Ke Tubuh


__ADS_3

Kakek guru duduk bersama Dirga di ruang dimensi dan mulai bercerita tentang masa lalunya. Raut mukanya terlihat sedih saat menceritakan dan mengingat masa lalunya yang menceritakan jika wanita yang terlihat dalam ilusi tadi adalah tunangannya di masa muda dulu.


Tunangan nya itu meninggalkan dirinya demi kebaikannya. Karena jika mereka tetap bersama akan banyak yang terluka dan menjadi korban dengan hubungan mereka yang kontradiksi dan bertentangan.


Kakek Sanca tidak ingin membuat dua keluarga besar awalnya bermusuhan menjadi musuh bebuyutan. Dia pun merelakan kepergian wanita itu dan memilih menjadi pendeta.


“Jadi seperti itu ceritanya kakek guru... aku tidak menyangka ternyata masa lalu kakek guru sungguh miris.” ucap Dirga setelah mendengar cerita dari kakek guru dan mencoba membesarkan hati gurunya itu.


“Ah... biar bagaimanapun masa lalu tetaplah masa lalu. Aku sama sekali tidak menyesali apa yang terjadi dalam hidupku, anak muda.” ucapnya sambil tersenyum menatapnya.


Kakek Sanca berdiri dan mulai berjalan.


“Kita lanjutkan latihannya besok. sekarang kita keluar dari ruang dimensi ini.” ucapnya mengajak Dirga berjalan meninggalkan ruang dimensi.


Setibanya di luar ruang dimensi mereka berdua berpisah di tengah jalan. Kakek sanca menghilang entah kemana sedangkan Dirga kembali ke ruangan tempatnya dirawat sebelumnya.


Di dalam ruangan Dirga hanya duduk di samping kedua orang tuanya yang masih setia menemaninya.


Pagi hari berikutnya dia berjalan menuju ke ruang dimensi dengan bersemangat. Sesampainya dia di dalam ruang dimensi ternyata kakek guru belum ada di sana. Dia pun menunggu sambil rebahan di ruang dimensi dan sampai ketiduran.


“Hey anak muda... kau bukannya latihan tetapi malah tidur.” ucap kakek guru berdiri di samping Dirga yang terlihat tertidur pulas.


Ucapan kakek guru barusan membuat Dirga kaget dan terbangun dari tidurnya.


“Kakek guru... sejak kapan kakek datang ? Aku sudah lama menunggu kakek guru sampai tidak terasa aku tertidur disini.” ucapnya tanpa merasa bersalah lalu duduk dan berdiri di samping gurunya.


“Aku ada sedikit urusan tadi. Ayo sekarang kita lanjutkan latihannya. kau harus bisa menguasai teknik ilusi ini sebelum satu bulan. Karena genap 30 hari ke depan jika kau tak bisa kembali ke tubuhmu maka selamanya kau tak akan pernah membuka mata lagi.” ucapnya menjelaskan pada anak itu.


Dirga terkejut sekali mendengar penjelasan dari kakek guru kenapa harus ada batas waktu untuk kembali ke raganya.


“Jika kau tidak segera kembali ke tubuhmu dalam waktu satu bulan maka roh mu akan masuk ke Alam nirwana dan mungkin kau akan bereinkarnasi.” ucap kakek Sanca kembali menjelaskan.


Raut muka Dirga yang awalnya santai sekarang terlihat tegang dan menjadi serius mendengar penjelasan dari gurunya.


“Kalau begitu ayo kita mulai latihan sekarang, kakek guru.” ucap anak itu dengan nada serius.

__ADS_1


Dirga memulai kembali latihannya bersama kakek Sanca. Kali ini dia terlihat serius dan tidak main-main seperti biasanya. Dia menghitung sisa waktunya yang masih tersisa tujuh hari dari sekarang.


“Zap...” Dirga kembali menggunakan teknik ilusi pada kakek guru. Namun lagi-lagi dengan mudah kakak saja berhasil mematahkan teknik ilusi anak itu.


Namun Dirga tidak menyerah dan terus mengulangi latihannya berulang kali sehingga dia tidak tahu sudah berapa kali dia mengulangnya.


Kakek Sanca yang melihat Dirga bersemangat latihan merasa senang namun melihat waktu latihan kali ini sudah lama dia pun memutuskan untuk mengakhiri sesi latihan kali ini.


“Sudah kita akhiri dulu latihannya sampai disini besok kita lanjutkan lagi.” ucap kakek guru mengajak itu menghentikan latihan.


Dia berhenti sejenak melakukan latihan sambil mengatur nafasnya nya yang tidak beraturan.


“Kakek guru... jika kakek ingin pergi maka kakek pergi saja aku akan tetap berada di ruang dimensi ini berlatih sendiri.” ucapnya bersikeras tak mau berhenti latihan.


“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu.” ucap kakek guru meninggalkan anak itu melakukan latihan sendiri di ruang dimensi.


Selepas kakek guru pergi dari ruang dimensi, Dirga menyemangati dirinya sendiri. Meskipun dia merasa lelah dan tenaganya sudah banyak terkuras namun dia tetap semangat dan kembali mengulang latihannya.


“Tinggal tujuh hari lagi...” ucapnya berulangkali sebagai pengingat dan penyemangat.


“Argh....” ucap anak itu mengakhiri latihannya.


“Tenaga yang kupakai sudah diluar batas maksimal. Aku sudah benar-benar tak sanggup melakukan latihan lagi kali ini.” gumamnya lalu merebahkan diri di lantai ruang dimensi dan beberapa saat kemudian dia tertidur karena kelelahan.


Pagi harinya kakek Sanca masuk ke ruang dimensi. Dia tidak melihat anak itu di ruangan, lalu terus berjalan dan mendapati anak itu masih berbaring di lantai memejamkan matanya.


“Rupanya kau masih belum bangun...” ucapnya tersenyum kecil menatap anak itu dan tidak membangunkannya namun duduk di sebelahnya dan melakukan bermeditasi.


Beberapa saat kemudian Dirga tersadar dari tidurnya dan mendapati kakek guru yang bermeditasi di sebelahnya.


“Kakek guru maaf sudah membuat mu menunggu ku...” ucapnya yang membuat kakek Sanca mengakhiri meditasinya.


“Oh... kau sudah bangun rupanya. kalau begitu ayo kita mulai latihannya sekarang.” ujar kakek Sanca berdiri setelah membuka matanya.


Mereka pun akhirnya memulai latihan. Dirga kembali fokus dan melakukan teknik ilusi menyerang kakek guru.

__ADS_1


“Ya lumayan kau sudah lebih baik dari hari sebelumnya tapi masih belum sempurna. Kau masih perlu mengasahnya lagi.” ucap kakek guru di tengah latihan.


Dirga pun menyerah dan kembali melanjutkan latihannya. Seperti hari sebelumnya sang guru meninggalkannya dan dia berlatih sendiri.


Empat hari kemudian di pagi hari Kakek Sanca kembali memasuki ruang dimensi. Ternyata di sana sudah ada Dirga Ya sudah menunggunya dari tadi dan siap melakukan latihan.


“Ayo pakai guru kita mulai latihannya. Aku yakin hari ini aku pasti berhasil.” ucapnya dengan mantap dan percaya diri.


Kakek guru bersiap menerima teknik ilusi dari Dirga. Sementara itu dia terlihat serius dan mulai menatap mata kakek guru. Dengan yakin dia mulai melancarkan aksinya.


Tampak kakek Sanca tak bisa bergerak, terkunci oleh teknik ilusi Dirga.


“Luar biasa... akhirnya kau berhasil menguasai teknik ilusi ini dengan sempurna anak muda.” ucap kakek Sanca sambil tersenyum puas melihat muridnya berhasil menguasai teknik ilusi.


“Benarkah kakek guru ?” ucapnya senang dan menarik bola-bola cahaya beraneka warna ke tangannya yang membuat kakek Sanca kembali bisa bergerak bebas.


“Anak muda dengan keberhasilan mu ini tugasku selesai sampai disini. Pergunakanlah ilmu itu dengan sebaik-baiknya. Sampai jumpa lagi. Aku akan pergi ke alam nirwana sekarang dan bereinkarnasi.” ucapnya sembari tersenyum pada Dirga untuk terakhir kalinya.


Roh kakek Sanca tiba-tiba bersinar dan berubah menjadi seekor naga putih bertanduk emas yang besar sekali lalu keluar dari ruang dimensi dan menembus langit.


“Kakek guru jadi itu kau... ?” ucapnya balas tersenyum dan terus menatap ke atas sampai naga itu hilang dari pandangannya.


Ruang dimensi menghilang begitu Kakek Sanca menghilang dari sana. Dirga kalau berjalan dengan cepat menembus ruangan tempat dirinya dirawat.


“Ayah... ibu aku akan segera kembali.” gumamnya lalu masuk ke tubuhnya yang terbujur kaku di ruangan itu.


“blast...” cahaya terang bersinar saat rohnya kembali menyatu dengan raganya.


Elsa yang setengah tertidur membuka matanya melihat kilatan cahaya dari tubuh anaknya. Betapa terkejutnya dia saat melihat aneh itu membuka matanya dan duduk di tempat tidur.


“Dirga... akhirnya kau sadar juga nak.” ucapnya yang tak percaya melihat anak itu sudah siuman setelah tiga bulan tidur panjang.


Elsa memeluk Dirga dengan erat sambil menitikkan air mata bahagia. Hadwan yang baru kembali dari luar dan masuk ke ruangan itu langsung berlari memeluk mereka berubah setelah melihat putranya sadar.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2