Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 40 Ingatan Yang Terhapus


__ADS_3

Proses itu masih berlanjut selama 10 menit. Dan Dirga masih mengikuti gerak jam yang mengayun semakin cepat. Tiba-tiba dia merasakan sangat pusing. Kepalanya terasa berputar-putar dan pandangannya menjadi kabur. Master Ah tong yang mengetahui bahwa proses hipnosis di mulai terus membinbing Dirga memasuki alam bawah sadarnya.


“Fokus... lihat kemana jam ini bergerak.”Dirga yang merasakan kepalanya semakin pusing setelah melihat ayunan jam itu tiba-tiba tak sadarkan diri.


Dalam keadaan tak sadarkan diri, master Ah tong masih membimbing Dirga dan terus berbicara padanya.


“Sekarang kau akan merasa tenang. Semua beban dan semua gangguan yang selama ini mendera mu perlahan-lahan pudar. Rasakan semua kenangan itu menjauh darimu, semua itu tak pernah terjadi padamu...” melihat Dirga yang semakin dalam memasuki alam bawah sadarnya.


“Sekarang lupakan... Lupakan semua hal buruk yang mengganggu mu. Dan kau kembali ke dirimu seperti biasanya.” memegangi tubuh Dirga yang terkulai lemas agar tidak jatuh dari kursi dan dia semakin masuk jauh ke alam sadarnya. Hingga Master Ah tong memanggil nya berulang kembali keluar dari alam bawah sadarnya, namun tak ada respons. Anak itu tetap tertidur pulas.


“Apa yang terjadi master? Kenapa anak kami belum sadar juga ?” tanya Hadwan dan Elsa yang cemas karena sudah 30 menit sejak master Ah tong berusaha menyadarkannya.


Master Ah tong menjelaskan memang terdapat berbagai reaksi yang berbeda pada setiap pasien hipnotis. Dan dia menambahkan agar tidak khawatir karena itu proses menghapus ingatan. Apabila di paksa jika proses itu belum selesai akan berakibat fatal, hal terburuknya adalah akan melupakan semuanya bukan sebagian hal yang ingin di hapus.


Setelah mendapatkan penjelasan dari master Ah tong pun mereka tak lagi khawatir pada kondisi anaknya yang masih belum sadarkan diri. Dan mereka pun segera pamit setelah terapi hipnosis itu selesai. Namun langkah mereka terhenti setelah Master Ah tong memanggilnya.


“Ambil ini dan pakaikan pada anak kalian. Jangan pernah melepaskannya.” master Ah tong memberikan kalung jimat yang di percaya bisa terbebas dari gangguan sihir, roh halus dan sejenisnya. Kemudian mereka masuk ke mobil membawa tubuh Dirga uang masih belum sadarkan diri.


Sampai di rumah, Hadwan membaringkan tubuh anaknya, di tempar tidur Dirga. Elsa segera memakaikan kalung jimat bersimbolkan tulisan china yang ia tak mengerti itu sebagai tolak balak gangguan.

__ADS_1


Satu jam berlalu mereka menunggu namun anaknya masih belum bangun. Dua jam berlalu dan kondisi Dirga masih sama seperti tadi. Hadwan yang merasa ngantuk pun tertidur di samping Dirga. Sedangkan Elsa memilih untuk meregangkan otot tubuhnya yang kaku di kamarnya sendiri.


“Tik-tak.... tik-tak...” suara detik jam yang terdengar sangat keras di tengah suasana yang sepi membangunkan Dirga.


“Dimana ini, jam berapa sekarang ?” duduk seketika lalu menatap jam uang menunjukkan pukul 20.00. Dan dia masih bingung saat tersadar kenapa ada ayahnya yang tidur di kamarnya. Dia mencoba mengingat kembali kejadian terakhir dan ia ingat bahwa sebelumya orang tuanya mengajaknya menemui master Ah tong.


“Ayah... ayah bangun yah...” mengguncang halus tubuh Hadwan yang membuatnya terbangun.


“Kau sudah bangun nak... syukurlah. Apa yang kau rasakan sekarang ?” bangun dengan tersenyum lalu merangkul anaknya. Beberapa saat kemudian Elsa masuk dengan Luna.


“Mama... Luna?” panggil Dirga. Elsa dan Luna mendekat ke Dirga.


“Mama sangat khawatir padamu karena tiga jam kau baru sadar...” ikutan merangkul anaknya yang merasa ikut tenang setelah melihat kondisi anaknya yang baik-baik saja. Kemudian mereka bertiga keluar dari kamar untuk membiarkan Dirga istirahat. Dan dia pun merebahkan badan di kasur.


“Aku akan tanya pada mama atau ayah besok, apa sebenarnya manfaat kalung ini? Apakah manfaatnya...” menggenggam erat kalung itu kemudian tertidur karena dia merasa kelelahan.


Di tengah malam sesosok lelaki yang biasa mendatanginya muncul kembali dari pintu dimensi. Lelaki itu mendatangi Dirga dan saat mendekat dia terpental oleh sebuah energi yang melindungi tubuh anak itu menabrak dinding dan membuat Dirga bangun karena kaget mendengar suara hantaman di kamarnya.


Dia segera turun dari tempat tidurnya dan menghampiri lelaki tua itu.

__ADS_1


“Siapa kau... katakan pada ku siapa kau ? Katakan apa tujuan mu kesini ?” Lelaki tadi berdiri dan malah tiba-tiba tertawa.


“Siapa aku, lucu sekali bocah. Setiap malam kita bertemu dan aku tak akan berhenti sampai kau mengatakan dimana keberadaan gadis itu !” menembak kan serangan angin penghancur ke arah Dirga, namun serangannya terpental seperti mengenai perisai dan berbalik mengenai tubuhnya.


“Gadis... gadis siapa maksud mu. Aku tidak punya teman seorang gadis. Pergilah kau. Pergi jangan ganggu aku lagi!” mengangkat tubuh orang yang terjatuh itu lalu membantingnya ke lantai dan menyerang titik vitalnya menggugunakan teknik krav maga di beberapa titik saraf yang membuatnya tak bisa bergerak.


“Kau pura-pura lupa atau memang lupa?” tanya lelaki itu tersenyum menyeringai.


“Aku tidak tahu yang kau bicarakan. Aku tidak kenal dengan gadis yang kau sebut itu. Pergi dari sini !” teriak Dirga sambil menyerangnya lagi.


“Argh.... tidak...!!! teriak lelaki itu yang seketika seluruh tubuhnya hancur dan lenyap tak berbekas dari ruangan itu.


Dirga tetap waspada berjaga-jaga kalau sosok tadi kembali lagi. Tapi ternyata tidak, dia juga sudah tidak merasakan kehadiran lelaki tadi dan suasana kembali hening seperti sedia kala.


Ia lalu duduk di kasurnya dan memandang ke arah jendela. Dia menatap dengan pandangan kosong sambil memikirkan apa yang di ucapkan sosok tadi.


“Siapa yang dia maksud dengan gadis yang dia bilang adalah teman ku? Lalu siapa dia? Siapa dia... sepertinya dia mengenal ku, tapi aku tidak tahu...” dia mengingat kembali satu persatu temannya dan tak ada seorang gadis yang menjadi temannya seperti yang di sebutkan orang tadi. Dia berpikir keras dan mencoba mengingat kembali karena menurutnya pasti ada yang salah dengan dirinya.


“Aaargh....” Dirga merasakan pusing yang teramat hebat dan memegangi kepalanya. Semakin dia berusaha keras, semakin bertambah pusing kepalanya.

__ADS_1


Hadwan yang keluar dari toilet melewati kamar anaknya lalu masuk untuk melihat kondisi anaknya. Betapa terkejutnya dia saat melihat anaknya terkapar di lantai dan tak sadarkan diri.


BERSAMBUNG....


__ADS_2