
El memarkirkan mobilnya di depan restoran Jepang yang kebetulan ada di sisi jalan yang mereka lalui. Restoran dengan bangunan bertingkat yang didominasi warna hitam dengan sedikit hiasan garis memanjang berwarna merah. Ada board besar bertuliskan nama restoran dan juga gambar menu yang menggugah selera.
Luna menelan ludah dengan susah payah, bukan karena membayangkan betapa enaknya makanan yang akan dia makan nanti, melainkan karena takut tidak mampu membayar. Restoran ini tampak terlalu mewah untuk rakyat jelata seperti dirinya. Dia sudah menjerit panik dalam hati.
Gue enggak disuruh bayar, kan? Kita bakal bayar sendiri-sendiri, kan? Gue enggak lupa bawa dompet, kan???
Berbeda dengan Luna yang ketar-ketir, El melangkah masuk dengan santai ke dalam restoran. Aura orang kayanya sudah tidak diragukan lagi. Luna cuma bisa mengikuti El, berjalan pelan dan mencoba tidak terlihat.
"Buat 2 orang..." El menjawab pertanyaan pelayan yang menyambut mereka. Setelahnya, mereka duduk di kursi dan sang pelayan memberikan daftar menu pada El dan Luna. Luna menatap lekat sang pelayan, mbak-mbak cantik pikirnya. Lihat saja kulit putih bersih dengan badan langsing dan rambut yang disanggul rapi. Jangan lupakan dandanannya yang tidak kalah kece. Dia lebih pantas sebagai pengunjung dan Luna pelayannya. Haha.
Luna berhenti menatap saat pelayan itu balas memandangnya. Dia mengalihkan pandangannya ke buku menu. Mulai meneliti. El melirik Luna dari balik buku tebal berisi macam-macam gambar makanan dan minuman yang sedang dipegangnya itu. Dia mengamati gerak-gerik Luna, bentuk hiburan baru untuknya. Luna tampak sedang menepuk dahinya sendiri tanpa suara kemudian menggumam tanpa suara lagi. Lagi-lagi ia tidak sadar kalau sedang diperhatikan.
Mikir apa sih dia? El tersenyum kecil melihat Luna. Melihat gadis ini selalu menyenangkan.
"Kamu mau pesan apa?" tanya El. Dia meletakkan buku itu di atas meja. Luna yang ada di hadapannya, mengikuti apa yang El lakukan.
Luna masih belum bisa memesan. Semua makanan terlihat enak tapi harganya membuat ia ingin menangis. Luna mengernyit, diam, mengernyit, diam lagi. Dia mulai duduk tak tenang, bergerak kesana-kemari tanpa tujuan.
Aduh, harus pesen makanan apa sih ini? Aneh banget namanya, tapi gambarnya kayak mi? bihun? spaghetti? Gue cuma kenal ramen doang. Gile, ramen apaan nih mahal amat??
Karena El dan sang pelayan sedari tadi sudah menatapnya, menunggu jawaban, Luna akhirnya menunjuk satu gambar di buku itu. "Saya pesan yang ini, mbak..." Terlihat gambar mangkuk putih berisi dengan tulisan varian original. Dia memilih menu yang harganya paling murah.
"Baik, mau minumnya apa?" tanya pelayan itu.
"Air putih aja ya. Makasih..." Luna menjawabnya dengan senyuman canggung.
Kini si pelayan beralih ke El, menanyakan pesanannya. El menunjuk sebuah gambar berisi paket makanan lengkap yang membuat Luna lemas saat melihat harganya. Kenapa untuk sekali makan bisa begitu mahal?
Setelah mencatat pesanan El dan Luna, pelayan itu menunduk sopan lalu pergi. Luna tidak memikirkan lagi makanan mahal yang dipesan El, dia sibuk dengan pikiran bahwa lembar uang seratus ribu simpanannya akan melayang sia-sia setelah ini. RIP si merah.
"Luna..." El memanggil Luna, membuat lamunan Luna tercecer seketika.
__ADS_1
"Ya, kak?" Luna menjawab panggilan El. Dia melakukannya seperti yang El pinta, dengan kata 'Kak'. Luna menyadari wajah El yang berubah sumringah saat dia melakukan itu. Dia cuma bisa menghela nafas mengikuti kemauan si bos ini.
Perasaan apa ini? Kok rasanya seneng banget dipanggil kakak. El.
Kok rasanya aneh banget manggil kak? Selama ini kan gue kakaknya. Luna.
"Kamu kelas berapa sekarang?" tanya El, mencoba mencari tahu tentang Luna.
"Kelas 12, kak." Luna menjawab tanpa ragu.
"Oh, berarti sebentar lagi lulus terus kuliah, dong. Mau kuliah dimana?" El melanjutkan interogasinya. Mencoba mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya.
"Aku belum tau, kak..." Luna menjawab pelan.
"Belum nemu kampus yang bagus? Aku bisa rekomen kampus yang---
"Belum tau bakal kuliah atau engga." Luna memotong perkataan El.
Gue terlihat menyedihkan banget, ga sih..
Tuh kan, tuh kannnnnn... Baper kan dia.
Luna sendiri sudah menyiapkan hati bahwa dia mungkin tidak akan kuliah karena semua adiknya masih sekolah dan membutuhkan biaya. Ayahnya cuma pegawai kantoran biasa dan ibunya cuma guru honorer di Sekolah Dasar. Selama ini mereka bersekolah di sekolah negeri yang menggratiskan biaya sekolah, tapi tetap saja perlu ongkos dan uang jajan setiap hari. Bayangkan, lima anak untuk biaya sekolah dan tujuh orang untuk biaya makan. Sangat banyak.
"Adik-adik aku masih sekolah, kak." Luna menjawab jujur.
"Memang adik kamu ada berapa?" tanya El. Dia masih terus menggali.
"Empat, kak." Luna menunjukkan deretan gigi putihnya, mencoba menghibur diri sendiri karena dia mulai ingat lagi kejadian tragis hari ini.
Dan semuanya laki-laki. Dan semuanya menyebalkan. Jangan ingatkan lagi.
__ADS_1
"Kamu anak ke berapa?" tanya El.
"Ke satu."
Pembicaraan mereka terpotong dengan pelayan yang membawakan makanan. Luna melihat pesanan El. Set menu lengkap, nasi, daging, sayuran dan minuman berwarna yang entah apa, tapi sepertinya enak. Setelahnya pelayan meletakkan pesanan Luna, yang cuma satu buah mangkuk ramen dan sebotol air mineral.
"Makan dulu ya..." El mulai menyantap makanan di hadapannya tanpa ragu. Ia ingin Luna juga melakukan hal yang sama.
Luna menatap mangkuk di depannya. Cuma ada sumpit dan sendok. Pasrah, dia mengambil sumpit dan mulai makan. Bukannya tidak bisa pakai sumpit, tapi dia tidak lancar menggunakannya!
Dalam waktu singkat, El sudah menyelesaikan makannya dan sedang menyeruput minumannya santai. Sementara di seberangnya, Luna masih berjuang dengan sumpitnya. Lagi dan lagi membuat bibir El bergerak membentuk senyuman.
Kenapa harus pakai sumpit kalau garpu sudah tercipta?? Luna mengomel dalam hati.
"Kenapa? Susah?" El mengambil sumpit yang dipegang Luna dan mulai mengambil mi di mangkuknya.
Tunggu... Tunggu... Dia bukan mau nyuapin gue kan??
"Nih..." El meminta Luna membuka mulutnya. Dia bisa melihat Luna yang terkejut dan bimbang dengan tawaran El.
Tapi setelah perang tanpa suara di otaknya, Luna menerima suapan itu, dengan terpaksa.
"Makasih kak." Luna merebut sumpitnya. "Aku bisa makan sendiri, kok..." Dia tidak ingin disuapi lagi. Mengerikan.
"Oke." El memberikan sumpitnya dan duduk santai lagi. "Kenapa kamu ga minta garpu aja tadi?" tanya El.
JDERRR!!! Petir khayalan menyambar di dalam otak Luna.
Kenapa gue beg* banget sih?? Kenapa ga minta garpu???
Setelah selesai makan, El menerima bill yang diberikan pelayan dan memasukkan beberapa lembar uang ratusan ribu ke dalamnya.
__ADS_1
"Ambil aja kembaliannya," ucap El. "Yuk..." El beranjak dari kursinya, meminta Luna mengikutinya keluar restoran.
Luna menyumpah dalam hati. Kalau tau diabayarin kenapa gue ga pesen yang mahal tadiiiiiiii..... Udinnnnn......