Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
41. Sayang


__ADS_3

⚠️⚠️⚠️Pembaca di bawah umur jangan ditiru ya!!!⚠️⚠️⚠️⚠️


"Hah?"


Sekilas info: Proses reproduksi adalah proses..................................................................................................................................... (silahkan cari di buku biologi masing-masing yaaaa... 😁)


Pak Deni langsung berlari ke laboratorium diikuti oleh Tyo. Setelah sampai di dekat lab, Tyo melihat Jessika dan Luna lalu menganggukkan kepala memberikan kode.


BRAK!!


Pintu lab dibuka dengan kasar, menampilkan dua orang pelajar yang saling memagutkan bibirnya. Tersentak mereka langsung menghentikan apa pun yang sedang mereka lakukan saat itu.


Luna menutup matanya.


Aaaaaaaaaaaaaa! mata gue...


Aaaaaaaaaaaaaa! tapi gue penasaran...


Luna menatap pandangan di depannya. Seorang siswi cantik berambut panjang bergelombang dengan seorang siswa yang juga lumayan ganteng.


Sang siswi yang duduk di atas meja lab itu tampak memegang erat baju seragam yang kancingnya sudah terbuka seluruhnya. Dia juga tampak menurunkan roknya yang memperlihatkan paha putih mulus miliknya. Sebuah kain segitiga, yang kau tau apa, menggantung bebas di salah satu kakinya.


Luna mengalihkan pandangannya ke sang siswa. Keadaannya hampir mirip dengan yang perempuan. Seluruh kancing bajunya sudah tidak pada tempatnya, memperlihatkan dada bidangnya. Lalu bagian bawahnya---


Set!


Tanpa disadari, Jessika sudah menutup mata Luna. Padahal sedikit lagi matanya sampai ke bagian bawah.


"Elo jangan liat yang begituan," Jessika mendekap Luna, "nanti otak elo jadi kotor."

__ADS_1


"Cepat rapihkan baju kalian! Ikut saya ke kantor!"


Kedua pelajar itu segera memakai kembali baju mereka kemudian berjalan mengikuti Pak Deni.


"Cih! Dasar tukang ngadu." Sang siswa laki-laki menyindir Tyo tepat di sebelahnya. "Kayak elo ga pernah aja sama cewek elo." Dia menatap Jessika yang ada di sebelah Tyo. "Gue yakin elo juga pasti sering kan? Emang tahan liat body bagus gitu---


GREB!


Tyo menarik kerah baju siswa itu. "Elo jangan sembarangan ngomong!"


"Berhenti, Alex!" Pak Deni melerai mereka. Dia membebaskan Alex dan menarik badan Alex mundur.


Siswa itu, Alex, ternyata adalah teman lama Tyo. Kalau ada status mantan teman, dia sudah lama memberikannya pada Alex. Tapi bahkan untuk memberikan status saja, Tyo malas.


"Udah..." Jessika memegangi lengan Tyo berusaha menenangkannya, karena Tyo dan Alex masih saja saling menatap dengan tatapan membunuh.


Tyo menghela nafas panjang. "Sayang engga harus ditunjukkin pakai sentuh-sentuhan. Kalau sayang itu DIJAGA, bukan DIRUSAKIN!"


Luna mengacungkan dua jempol ke Tyo.


"Gue ga nyangka elo sekeren itu, Yo..." Luna menatap kagum.


"Berisik Lo!" Tyo beranjak meninggalkan lab. Luna dan Jessika mengikutinya.


***


Setelah urusan penggerebekan selesai, Tyo, Jessika dan Luna memilih duduk di warung dekat sekolah yang selalu buka.


"Lama juga ya, si om itu." Jessika mulai menggumam lagi.

__ADS_1


"Iya, udah lama kita nunggu. Mau gue pesenin ojek aja?" Tyo mulai kasihan melihat Luna.


"Coba gue telepon," Luna meraih ponsel.


Ga diangkat, tumben..


"Neng Luna!"


Luna menoleh mendengar namanya dipanggil. Itu Pak Ahmad, supir El yang baru saja keluar dari mobil keluarga besar berwarna putih.


"Pak Ahmad?" Luna menoleh ke arah suara.


Kok bukan kak El? Kak El kemana?


"Siapa Lun?" Jessika melihat ke arah yang sama seperti Luna.


"Supirnya kak El," Luna berdiri saat Pak Ahmad menghampiri nya.


"Kok sama Bapak? Kak El mana?"


"Kata Pak El nanti ketemu di sana.." Pak Ahmad membuka pintu mobil.


Luna menoleh ke arah Jessika dan Tyo. "Gue balik dulu. Makasih ya udah nungguin. Tyo, nitip Jessika." Luna kemudian melambai dan masuk ke dalam mobil.


Bersambung..


EPILOG


"Kapan kamu jemput aku pakai mobil, ay?" Jessika masih melambai ke Luna.

__ADS_1


"Yang penting kan aku sayang sama kamu, ay..."


Jessika menghela nafas panjang


__ADS_2