Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 20


__ADS_3

Chapter 20: Bersenang-senang


"Sebenarnya, apapun yang aku lakukan bersamamu, aku merasa senang. Walau cuma bernafas sekalipun." -El-


"APA?!" Mereka berteriak tak percaya.


"Kapan?"


"Dimana?"


"Kenapa?"


Teman-temannya menuntut jawaban, dan Luna sungguh malas menjawabnya.


"Setelah pertunangan, di tempat pertunangan, ingin saja..." Jawab El sekaligus.


Sultan mah bebas...


El mengembalikan tab nya pada Reza, dia sudah selesai. "Lanjutkanlah mengobrolnya, saya mau istirahat sebentar." El menyandarkan kepalanya di bahu Luna lalu memejamkan matanya.


"Bener Lun?" Reina bertanya pelan.


Luna mengangguk. "Tapi kalian jangan kasih tau siapapun, rahasia." Luna menempelkan telunjuknya di bibir.


"Terus elo udah pernah itu dong?" tanya Tiara.


"Itu apaan?" tanya Luna.


"Ena-ena," ucap Tiara.


"Apaan yang enak?" Luna bertanya lagi.


"Belah duren," jawab Tyo.


"Elo kan tau gue kagak suka duren," jawab Luna.


"Haish..." penonton kecewa.


Apa Luna perlu gue ajak nonton bareng gitu? batin El.


***


"Kenapa elo ga bilang kalau kita mau berenang?!" Luna menjadi satu-satunya yang tidak membawa baju renang. Ah, kak El juga. Atau mungkin Pak Kris, tapi kenapa harus peduli soal Pak Kris?


"Elo kagak nanya!" balas Jessika.

__ADS_1


"Ahhhh!!! Gue juga mau main kolam ombak sama naik perosotan!" Luna berteriak kesal. Teman-temannya tidak perduli langsung pergi bersama pasangan masing-masing. Jessika dengan Tyo, Tiara dengan Sandi, dan Reina dengan Reza. Sungguh menyebalkan!


Tidak ada pilihan lain. Luna harus melakukannya. Senjata rahasia.


"Kak El~" panggil Luna manja. Meskipun dirinya juga merasa jijik, tapi dia memutuskan untuk hilang ingatan sementara dan mengesampingkan harga dirinya untuk saat ini.


"Kenapa sayang?" tanya El.


"Aku mau," ucap Luna.


"Mau apa?" tanya El. Ini mengagetkan. Mau apa yang dimaksud Luna? El yang sedang berbaring santai di atas kursi berjemur langsung duduk dan melepas kacamata hitamnya.


Luna menarik ujung baju El.


Ah, gue gak tahan kalau udah begini, nih.


"Mau berenang," jawab Luna. "Aku ga bawa baju renang." Luna menatap El penuh pengharapan. "Ayo, kakak juga temenin aku! Liat, mereka udah ninggalin!" Luna menunjuk ke arah teman-temannya yang sedang meminjam ban renang besar untuk dipakai berpasangan. Luna sangat iri melihatnya.


"Oke," ucap El. "Kris, tolong siapin," titahnya. Dan dalam 10 menit El dan Luna sudah siap berenang dengan ban di tangannya.


El menatap Luna lekat. Baru kali ini ia melihat Luna dengan baju renang, ketat dan menunjukkan bentuk tubuhnya dengan jelas. Tak perlu tau apa yang El pikirkan. Yang pasti, baju renang berwarna hitam yang memiliki pita di dada dan rok mini berumbai itu ujian berat untuk El.


"Pemanasan dulu," El melotot ke Luna yang sudah ingin menceburkan diri ke kolam.


"Ah..." Luna mencebik kesal. Tapi ia patuh juga.


"Ih,,, kok panjang banget sih..."gerutunya. Luna bisa melihat teman-temannya sudah jauh di depan. Dia menghentakkan kakinya kesal.


El melirik Kris yang kemudian segera memberikan mereka jalan untuk langsung maju ke depan. Dia menarik tangan Luna agar terus berjalan.


"Kenapa duluan?" tanya Luna.


"Karena kamu spesial," jawab El. Luna meloncat senang dan memeluk El.


"Makasih!" serunya.


Setelah turun dari seluncuran, Jessika dan Tiara menghampiri Luna.


"Ih, kok elo curang sih! Kan kita udah antre duluan!" ucap Tiara.


"Nyalip Lo! Rese!" susul Jessika.


Luna menjulurkan lidahnya meledek. "Bomat..."


Jessika dan Tiara menjambak rambut Luna kesal. Tapi Luna bergegas sembunyi di balik badan El.

__ADS_1


"Ish!" mereka mendecak kesal.


Setelahnya, Luna mengajak El naik seluncuran lagi, dan setelah 5 kali dia baru merasa puas. Mereka lalu mencoba kolam ombak. Luna beberapa kali terjatuh dari bannya karena ombak yang terlalu besar. El akhirnya menyuruh Luna berpegangan pada pundaknya saja daripada pada ban yang tidak bisa diandalkan itu.


Luna mengajak El naik seluncuran air lagi, tapi yang lebih kecil, yang tidak perlu menggunakan pelampung. El mengangguk.


Seperti sebelumnya, deretan manusia bisa terlihat disana. Dan Luna tertawa senang saat melewati barisan, karena mereka orang yang bebas antre.


"Kakak mau di depan atau di belakang?" tanya Luna.


"Kamu ga bisa pegangan yang bener, kakak di belakang aja," jawab El.


"Oke," Luna sudah duduk di atas air dan menunggu El di belakangnya.


El memaki dirinya sendiri karena memilih posisi belakang. Dia bisa melihat dada putih Luna dari sisi ini. Jangan lupakan sepasang paha yang ramping itu. Ah, mudah-mudahan tidak ada yang bangun.


El memegangi perut Luna dan mereka meluncur turun. Luna berteriak senang selama meluncur.


"Kak, lagi ya!" seru Luna.


El mengangguk pasrah sambil membatin pilu. Berapa lama lagi kamu harus menyiksaku, Luna...


Hari sudah siang dan mereka berhenti berenang karena sudah lapar. Kris sudah menyiapkan makanan untuk mereka. Tanpa basa-basi makanan langsung dihabiskan tanpa sisa.


Setelah membasuh diri dan berganti baju, mereka berkunjung ke taman bermain yang ada di tempat ini. Ada bianglala, roller coaster, kereta luncur, merry-go-round, dan banyak lagi. Teman-temannya menuju ke antrian roller coaster, tapi Luna tidak suka. Dia mengajak El naik bianglala. Lagi-lagi karena mereka spesial, mereka hanya berdua di dalam satu kompartemen bianglala itu.


"Luna, kamu senang?" tanya El.


Luna mengangguk bersemangat. "Senang banget! Makasih ya, kak..." ucap Luna. Ia menatap pemandangan dari ketinggian lewat jendela sambil terus tersenyum.


El mendekati Luna. "Kakak boleh ga--


"Boleh apa?" tanya Luna.


"Boleh tutup mata kamu?" tanya El yang langsung menghampiri bibir Luna. Dia sudah menahannya dari tadi, ini tidak akan selesai dalam waktu singkat, batinnya. Dan benar saja, semakin lama kecupan El semakin memanas. Luna mendorong tubuh El karena jantungnya sudah berdentum menggila dari tadi.


Memegangi dadanya, Luna menatap El. "Ga kuat, kak..." ucapnya.


El semakin kehilangan akalnya mendengar pernyataan Luna. "Kalau jantung kamu sampai meloncat keluar, kakak akan masukin lagi," ucap El. "Kalau sampai berhenti, kakak akan tukar sama punya kakak."


Belum sempat Luna menjawab, El sudah menyerangnya lagi. Tangan El menahan tengkuk Luna, dan tangan lainnya memegangi tangan Luna agar Luna tidak bisa mendorongnya lagi.


Setelah puas di lengkungan berwarna pink itu, bibir El turun ke leher mulus Luna dan memberi sebuah tanda disana. Bersusah payah ia menarik dirinya menjauh dari Luna, menggapai kembali kesadarannya dan mengunci hasratnya. El mengakhirinya dengan sebuah kecupan di puncak kepala Luna.


El menarik nafas dalam. "Thank you for being mine, sweetheart..." ucapnya pelan lalu memeluk Luna lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2