
"Ga sekalian sepatunya, mi?
"Ukuran kamu nomor berapa Luna?" Mami akhirnya bertanya.
"Ga papa Bu, sepatu aku ga terlalu basah kok. Masih bisa dipakai..."
"Nomor berapa?" El tidak mendengarkan.
Luna menyerah. "37,"
"Yah, ukuran mami 39.... Kebesaran, El." Mami mendesah kecewa. "Kamu beliin aja sana!"
Jangan.... Gue mau pulang, nanti kemalaman... Nanti gue dimarahin Bunda lagi...
"Ga usah kak, ga usah Bu," Luna menolak. "Bukannya saya mau nolak kebaikan ibu, tapi kaki saya agak sakit. Kalau boleh saya pinjam sandal jepit aja..."
El tersadar akan keadaan kaki Luna, kemudian dia mengangguk pelan. "Yawda mi, next time aja... Kasian juga nanti kakinya Luna sakit."
"Yahhhhhhhh..." mami masih menatap kecewa. "Ya udah nanti kita belanja bareng ya Luna?"
Gak.
"Ah, iya Bu.. hehehe..." Luna cuma berani nolak dalam hati.
"Hati-hati ya," ucap mami saat Luna menyalami tangannya untuk berpamitan.
"Iya, makasih Bu."
Mami memeluk Luna. "Nanti kalau kita ketemu lagi, kamu panggil mami aja ya..."
Setelahnya Luna dan El masuk ke dalam mobil.
Di perjalanan Luna mengobrol ringan dengan El, sampai El melihat toko kue di sisi jalan. Dia pun parkir di sana.
"Kakak mau kemana?" Luna bertanya bingung saat El hendak turun.
"Kamu tunggu disini, kakak cuma sebentar." Luna mengangguk.
__ADS_1
El masuk membawa sekotak kue. "Kakak laper?"
"Enggak, ini oleh-oleh buat kamu..." El meletakkan di pangkuan Luna.
"Eh? Kok? Kenapa?"
"Habis kayaknya tadi ada orang yang udah makan banyak tapi engga kenyang-kenyang. Ahahaha..."
Nyindir gue nih pasti.
Luna membuka kotak kue itu.
Cheesecake!
Luna tersenyum senang. "Makasih ya, kak!"
"Sama-sama..."
Beberapa saat kemudian, mobil El tiba di depan rumah Luna.
"Bentar, kakak bantuin." El keluar dari mobil dengan cepat kemudian membantu Luna turun.
"Kakak tungguin kamu masuk."
Luna gelisah. "Jangan kak, Bunda aku galak..."
"Hhhh... Oke. Nanti chat ya," El melambai kemudian masuk ke dalam mobil.
Luna menunggu sampai mobil El menghilang di kegelapan malam. Luna tidak menyadari, bahwa sedari tadi ada seseorang yang memperhatikannya dari jendela, Arga.
Luna mengetuk pintu beberapa kali, setelah itu Ayah keluar membukakan pintu.
"Luna dari tadi kemana?" Luna menyalami Ayah. Ayah memberi jalan pada Luna agar bisa masuk. "Kenapa ga ikut rayain ulang tahun Arga?"
"Maaf, Yah. Aku sudah ada janji sama teman." Bohong.
"Nanti lain kali kalau ada acara keluarga kamu ikut ya." Ayah menepuk bahu Luna. "Kamu selalu ga ikutan..."
__ADS_1
"Hehe..." Luna tersenyum kecut. "Iya, Yah..."
Luna pasti ikut kalau Luna diajak. Atau paling engga, gak diusir.
"Benar ya? Nanti ulang tahun Arka sama Arsya kan deketan. Kamu harus ikutan..."
"Iya, yah..." Ayah duduk kembali di ruang tamu sambil meminum kopinya. Luna pun kembali ke kamarnya.
"Hhhh..." Luna menghela nafas lelah, lalu meletakkan kotak kuenya di atas meja.
Capek bohong...
Luna mengangkat kakinya ke atas kasur. Ia memijit pelan pergelangan kakinya yang terasa sakit.
Luna merebahkan kepalanya yang penat. Ia sudah akan terbuai ke alam mimpi sebelum wajah El terbayang di benaknya.
Kirim chat.
Kak, maaf aku agak capek. Aku tidur duluan ya... Bye... Makasih buat hari ini...
Send.
Bersambung..
EPILOG
El tersenyum melihat pesan dari Luna.
mengetik....
Oke, good night.. sweet dreams... ❤️❤️❤️
*mikir*
Apaan emot love ini! Delete!
Sejak kapan gue jadi norak begini?
__ADS_1
Dan El menghabiskan waktu 10 menit hanya untuk berpikir akan mengirim emoticon love atau tidak..