Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 30


__ADS_3

Chapter 30: Perhatian


"Perhatian adalah bukti nyata dari kasih sayang..." -El-


"Jangan bilang... kita nyasar...?" tanya Jessika. Luna sudah berkeringat dingin. Tersesat di hutan? Yang benar saja!


SRAK.


"Su-su-suara apa itu?" Luna sekarang sudah gemetaran.


"Ay, lihat ay... Cek," ucap Jessika.


"Enggak mau ah, takut. Anggap aja kita gak dengar," sahut Tyo. "Aku belum mau mati, sayang... Aku belum nikahin kamu. Kita juga belum ena-ena."


Jessika memukul kepala Tyo. "Kamu jangan pintar, dong!" Jessika memekik sebal. "Arahin aja kesana senternya!"


"Aku enggak siap, ay... Nanti kalau yang kelihatan warnanya putih gimana?" Pertanyaan Tyo membuat Luna ingin menangis.


"Elo jangan nakutin, Yo..." Luna menelan ludahnya susah payah.


"Gue ga nakutin, Lun. Gue takut beneran. Elo ga liat apa ni senter udah joget sendiri? Tangan gue udah bergetar hebat ini," ucap Tyo.


SRAK. SRAK.


Suaranya terdengar semakin mendekat. Langkah Luna, Jessika dan Tyo terhenti.


"Ya Tuhan, tolong..." Luna mulai merapalkan doa dalam hati.


"Suaranya makin dekat, ay. Kamu mau kita mati ketakutan sebelum lihat itu sebenarnya makhluk apaan?" Jessika mulai ngotot. Dia takut tapi juga penasaran. Perasaan yang membuat adrenalinnya terpacu sempurna.


"Nih, kamu aja yang pegang senternya." Tyo menyerah dan memberikan benda bercahaya putih itu pada Jessika.


Setelah diserahkan padanya, Jessika malah menjadi ragu.


SRAK. SRAK.


Suara itu semakin mendekat dan sekarang mereka bisa melihat pendaran cahaya. Jessika menguatkan imannya. Perlahan, dia mengalihkan sinar dari senternya ke arah suara. Dia bisa melihat sesuatu, sesuatu itu, sesuatu itu, sesuatu itu berwarna putih...


"AAAAAAAAAAAAAAA!!!!" Mereka berteriak hampir bersamaan lalu segera mengambil langkah seribu.


"Jess!!!" Luna berteriak saat langkahnya terhenti karena terjatuh dan kedua temannya itu sudah menghilang entah kemana. Keadaan menjadi gelap sempurna. Tidak ada suara. Tidak ada cahaya. Hitam dan hening.

__ADS_1


Luna menjerit dalam hati. BUNDAAAAA!! KAK ELLLLLLL!!


SRAK. SRAK. SRAK.


Luna bisa mendengar suara lagi. Dia terduduk di tanah, sudah lemas. Dia ketakutan setengah mati. Air matanya sudah berderai. Entah berapa banyak, mungkin satu liter. Dia menyembunyikan kepalanya diantara kedua lututnya. Berharap dengan sangat, bahwa makhluk apapun itu, kakinya harus menjejak tanah.


Tuk.


"Aaaaaaaaaaaaaa...!" Luna menjerit kaget merasakan sesuatu di bahunya.


"Kak!"


Seruan itu membuat Luna membuka matanya dan mendapati Arga di depannya. "Arga!" Luna berdiri dan memeluknya erat. Bukan hantu. Syukurlah.


Setelah pulih dari keterkejutannya, Luna melepaskan pelukannya dan melihat dengan jelas orang-orang di depannya. Arga dan Reina.


"Kalian ngapain berduaan disini?" Luna mengelap air matanya dengan punggung tangan.


"Arga anterin gue kebelet," jawab Reina sambil membantu Luna menghapus air matanya.


"Kakak ngapain disini sendirian?" tanya Arga ketus. Apa yang dilakukan orang kaya itu, tidak menjaga kakaknya dengan benar.


"Gue ga sendirian, tadi bareng Jessika sama Tyo. Mereka ninggalin gue. Gue kesini minta dianterin juga...."


"Yah... Gue ngompol..."


***


Reina hendak masuk ke dalam tenda milik El. Luna memintanya mengambilkan pakaian ganti untuknya.


"Permisi, om!" Reina berteriak cukup keras. Beberapa saat kemudian El keluar dari tendanya, bertanya tanpa suara ada apa mencarinya.


"Boleh saya masuk? Saya mau ambil pakaian Luna," ucap Reina sopan.


"Kenapa? Luna dimana?" tanya El curiga. "Dia harus ambil sendiri."


"Dia ga bisa, om. Dia minta tolong saya ambilin," jawab Reina.


"Memangnya dia sedang apa?" El sudah cukup kesal dengan sikap Luna yang tidak peka seharian ini. Dan sekarang malah menyuruh temannya mengambil barangnya? Dia mau kabur kemana?


"Dia lagi menunggu disana..." Reina menunjuk ke belakang tenda perempuan. El bisa melihat Luna berdiri dengan seseorang. Seseorang yang sudah membuatnya naik pitam dua kali.

__ADS_1


El melangkahkan kakinya cepat ke tempat Luna dan Arga. "Apa yang kamu lakukan disini, sayang?" El menarik tangan Luna agar berpindah ke sisinya.


Luna tidak bergeming. Bagaimana bisa dia mendekat ke El, dia belum mengganti celananya. Ini sungguh memalukan. Lebih memalukan daripada kentut di dalam kelas.


"Luna, kesini, sekarang." El sudah menekan nada bicara pada setiap kata yang diucapkannya. Tapi Luna masih tampak tidak mau bergerak. Luna malah meringis kecil karena El menariknya terlalu keras.


"Lepas!" Arga membuka paksa genggaman El. "Dia ga mau ikut sama elo!" Ditariknya tangan kakaknya itu menjauh dari El.


Luna diam, nampak bingung.


El mengulurkan tangannya. "Kesini. Kalau kamu tidak kesini sekarang, kakak akan benar-benar marah."


Ditatapnya tangan El yang terbuka menunggunya. Ucapan El membuat Luna ciut. Dia tentu saja ingin segera menghampiri El. Tapi kan...


"Maaf, kak..." Luna berucap lirih. Ini masalah harga diri.


El melemparkan tangannya ke udara dan berteriak kesal. Dia memilih kembali dengan amarahnya.


Reina datang membawa tas Luna. Dia merasakan aura kebencian yang menguar hebat saat tiba. "Nih, Lun," ucapnya.


Luna mengambil tasnya. "Thanks. Temenin gue ganti." Reina dan Arga mengangguk mengerti dan mengantar Luna.


Sekembalinya mereka, Luna mendapati Tyo dan Jessika sudah ada di depan tenda. Dimakinya habis-habisan dua temannya itu.


"Sorry, Lun... Kita tuh takut banget, enggak berani balik lagi," bujuk Jessika. "Ini aja masih untung kita ketemu sama supirnya si om itu, makanya kita bisa sampai sini."


"Iya, Lun. Elo tau, kan, gue takut banget tadi." Tyo menunjukkan tangannya. "Lihat, nih, tangan gue masih gemetar sampai sekarang."


"Cih! Bomat!" Luna berteriak kesal. Dia masih kesal kepada dua temannya itu.


"Nanti pulang dari sini, kita traktir elo, deh..." Jessika menggoyang-goyangkan lengan Luna, mencoba menarik simpatinya. "Di tempat favorit elo. Elo boleh pesan apa aja, nanti Tyo yang bayar."


Raut wajah Tyo langsung berubah. Masalah seperti ini memang selalu berakhir begini.


"Bener ya?" tanya Luna. "Awas elo berdua kalau bohong, gue santet nanti," ancamnya.


"He eh, iya, Luna sayang." Jessika menganggukkan kepalanya cepat.


"Ya udah, gue mau tidur. Udah malam. Kalian juga tidur ya," Luna melambaikan tangan dan berjalan ke arah tenda miliknya dan El. Dia berhenti sejenak di depan tenda, menarik nafas panjang, menyiapkan hati karena tau El pasti sedang marah sekarang.


Dibukanya resleting tenda itu tapi Luna tidak mendapati siapa pun di dalam sana. Tidak ada El. Dia masuk dan duduk menunggu ke dalam. Kemana kira-kira El? Tidak mungkin dia tidur bersama anak laki-laki yang lain kan? Mereka tidak seakrab itu. Luna membuka tenda, hendak melangkah keluar. Tapi dia menarik kakinya lagi. Sudah sepi di luar, dan dia takut. Luna akhirnya hanya duduk dan menunggu di dalam. Berharap El cepat kembali agar ia bisa meminta maaf.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2