
Chapter 46: Pacar semalam
"Menyakiti dan disakiti itu sama-sama mengorbankan perasaan..." -Luna-
"Bisa enggak, sekali aja---
"--sekali aja... Malam ini, jadi pacar gue..."
Luna mengernyit sesaat. Apa maksud dari perkataan Alex... Apa dia benar-benar, dengan sadar, bertanya?
"Otak elo... geser lagi kah?" Luna memandang Alex ragu-ragu.
"Let's fall in love for the night and forget in the morning..." Ditariknya tangan Luna dalam genggaman. Kedua pasang mata mereka saling beradu, mencari pembenaran atas pernyataan yang baru saja diucapkan Alex.
"Haha..." Luna tertawa canggung. "Elo nyanyi?" Ia tau itu adalah lirik dari sebuah lagu. Mengajak jatuh cinta malam hari dan melupakan pada pagi hari, seolah tak pernah terjadi apa pun. Oh, ayolah, yang benar saja...
"Ijinin gue jadi pacar elo, semalam aja. Habis itu gue ikhlas terima elo sebagai kakak gue..."
Luna terdiam. Tawaran itu sungguh tampak menjanjikan. Dia masih kewalahan dengan sikap seorang Arga yang seperti itu... Apa mungkin cara yang diusulkan Alex bisa lebih baik?
"Gue enggak akan minta apa pun dari elo..." Luna memilin bajunya, membuatnya keriting sedikit. Dia berpikir dan menimbang. Ini terlihat menggiurkan tapi juga salah. Ada yang mengganjal.
"Cuma beberapa jam saja..." Luna belum menjawab.
"Baiklah hanya satu jam..." Alex menatap mata Luna sendu, dia sudah sejelas ini tapi pujaan hatinya itu belum juga menjawab. Harus bagaimana lagi dia mengorbankan harga dirinya?
__ADS_1
"Lima belas menit... Tapi tolong peluk gue..." Nada suaranya terdengar memohon, membuat Luna tidak tega. Tangannya sudah terulur menggapai Alex, menarik badan cowok itu mendekat ke dirinya.
"Maaf, gue enggak bisa..." Luna mengelus kepala Alex yang ada dalam dekapannya. "Gue memegang hati seseorang sekarang, dan gue enggak berniat untuk menambahnya, apalagi menggantinya..."
Alex tersenyum getir. Jika memang sesulit itu untuk mendapatkan sebuah cinta. Kenapa di saat dirinya sudah benar menyukai seseorang, orang itu malah sama sekali tidak bisa ia miliki. Apakah ia berbuat suatu kesalahan di masa lalu yang membuatnya harus mengalami ini semua? Tidak, ini salah. Dia senantiasa melakukan perbuatan jahat pada banyak perempuan, mungkin inilah balasannya. Semua itu berawal dari papanya, semua kelakuan bejatnya menurun dari orang itu...
***
Lima tahun yang lalu...
"Elo yakin enggak mau main bareng kita?" tanya Tyo sekali lagi. Hari ini sekolah selesai lebih awal karena ada kabar duka dari salah seorang guru. Semua jajaran sekolah berencana untuk berkunjung setelah sebelumnya mengadakan rapat tertutup. Mereka memulangkan siswanya seusai melakukan berbagai pertimbangan.
"Enggak deh, gue balik aja. Mau temenin mama gue di rumah." Alex teringat lagi keadaan mamanya saat ia tinggalkan. Tadi pagi wanita itu sedikit demam ketika Alex pamit berangkat ke sekolah. Mama masih berbaring lemah di tempat tidur, tapi dengan senyum tulusnya ia mengecup kening Alex dan berucap tidak perlu khawatir karena ia cuma sedikit pusing. Alex yang tidak berpikir macam-macam mengiyakan saja. Ia meminta mama untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu.
Alex membuka pintu rumahnya, mendapati keadaan di dalam yang sunyi seperti biasa. Iya, rumah sebesar ini hanya ada dirinya, papa dan mama. Asisten rumah tangga hanya datang berkala dan tidak menetap. Mama yang memilih seperti itu. Ia tidak begitu suka dengan kehadiran orang asing, kilahnya.
"Mas..." terdengar suara desahan dari ruangan yang ada di paling ujung. Itu bukan dari kamar mamanya. Kamar utama sudah terlewat dari tadi. Kalau ia tidak salah ingat, di ujung sana adalah kamar kosong.
Alex mengendap pelan. Dia memang belum mengecek kamar mamanya, jadi kecurigaannya masih 50-50. Bisa saja itu mamanya, suara tadi sangat tidak jelas.
Pintu kamar terbuka sedikit. Karena itulah suara-suara lolos dari dalam sana, batin Alex. Dia mengintip melalui celah itu. Matanya menjelajah, mengitari sudut kamar dengan akses terbatas. Ia menahan nafas, entah kenapa ia melakukan itu. Mungkin naluri agar tidak ketahuan.
"Mas... Pelan-pelan..." Kali ini suara itu terdengar jelas. Suara seorang wanita, dan bukan suara mama. Ia yakin.
Nekat, Alex mendorong sedikit pintu itu, melakukannya sepelan mungkin tanpa menimbulkan suara. Sekarang ia bisa melihat lebih leluasa. Pandangannya tertuju ke satu titik. Sudut ruangan, dimana ia mendapati sosok seorang wanita yang ia tidak kenali siapa sedang bercumbu dengan pria.
__ADS_1
Tubuh Alex membeku. Matanya tertuju ke depan memperhatikan setiap apa-apa yang diperbuat kedua orang itu di depannya. Pikirannya sudah jauh melayang, mengobrak-abrik memorinya, mencari tau apa sebenarnya yang dilakukan pasangan itu.
Matanya membulat kaget dan tubuhnya mulai gemetar saat pakaian mereka tertanggal satu-persatu. Pastilah apa yang terjadi sekarang itu apa yang harusnya dilakukan oleh pasangan suami-istri, bukan antara papanya dengan wanita dari antah-berantah.
BRAK!
Alex mendorong pintu itu keras, membuat kedua orang tersebut menatapnya kaget.
"Kamu sudah pulang, Lex?" tanya papa sambil mendekati anak satu-satunya itu dengan bertelanjang dada. Alex yang merasa jijik mundur selangkah, menghindari sentuhan Daniel.
"Apa yang papa lakukan?" sinis Alex. Dia menatap mengancam pada wanita yang tadi bermesraan dengan Daniel. Wanita itu bukannya merasa bersalah malah melambaikan tangan menggoda dirinya.
"Papa cuma sedang membicarakan sesuatu dengan Carla, dia asisten baru papa." Alex memicingkan mata tak percaya. Dia bukan bocah yang bisa ditipu semudah itu. Mana ada orang bicara sambil buka baju segala. Ini kan bukan kolam renang. Pantai apalagi, mustahil.
"Ada apa?" Mama Alex muncul di ujung pintu karena mendengar keributan. Seketika mama ditarik menjauh oleh papanya keluar kamar.
"Tak ada apa-apa..." ucapnya sambil terus menggandeng sang istri menjauh. Alex bisa mendengar suara mereka memudar yang diakhiri dengan bunyi pelan pintu tertutup.
Kini hanya tersisa Alex dan Carla di dalam sana. Alex menatap wanita di hadapannya, sama sekali tidak tau malu dengan pakaian yang entah kemana, memperlihatkan kulit putih mulusnya.
"Padahal sedang nanggung..." Sindirnya pada Alex.
"Kau mengganggu di saat yang tepat, Nak..." Carla menoel dagu Alex itu. Tampan juga anak ini, batinnya.
"Karena kau sudah berani mengganggu, kau harus bertanggung jawab..." bisiknya tepat di telinga Alex.
__ADS_1
"Gantikan papamu..."
Bersambung