Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 60


__ADS_3

Chapter 60: Sepi


"Yang berarti, kadang tidak disadari, kecuali saat sudah pergi..." -Luna-


Dewi melangkahkan kakinya pelan menuju kamar kontrakannya. Semenjak kejadian itu, ia tidak berani tinggal kembali di rumah bersama Hendra dan keempat anak lelakinya. Selain tidak berani, ia juga malu untuk menunjukkan wajahnya lagi di sana.


CKLEK.


Pintu kayu itu terbuka perlahan, menampilkan sepetak kamar yang hanya memiliki luas 3 x 3 meter. Ia melepaskan sepatunya lalu duduk di atas kasur lipat tipis berwarna biru.


"Hhh..." Dewi menghela nafas panjang kemudian merebahkan dirinya di sana. Dia baru saja pulang bekerja. Biasanya setelah ini ia akan merapikan rumah lalu memasak, sambil mengurus si bungsu tentu saja. Terkadang ada pekikan saat anaknya itu mulai nakal. Terus-terusan menonton TV atau tidak mau mandi.


Dewi memiringkan badannya. Hanya ada dinding berwarna putih yang balas menatapnya. Ruangan itu kosong, seperti hatinya.


Tangan Dewi perlahan meraba alas tidurnya, cuma sebuah alas tidur, tanpa ranjang ataupun bantal. Dewi melirik benda lain yang ada di ruangan ini selain barang yang ia tiduri, itu adalah sebuah kardus kecil berisi pakaian miliknya. Tidak ada yang lain lagi. Iya, beberapa hari yang lalu ia memutuskan keluar dari rumah, meninggalkan semua rajutan kenangan yang telah terjadi selama 15 tahun terakhir. Andai saja, andai saja, saat itu ia tidak termakan rayuan Daniel, mungkin sekarang dia masih bisa tidur nyaman, makan, dan bercengkrama bersama suami dan anak-anaknya.


Tidak ada lagi suara tawa, pekikan atau bahkan suara pertengkaran Arga, Arka, Arsya dan Arya. Geraman Arka yang biasa ia dengar saat anak itu sibuk bermain dengan ponselnya, senantiasa disambung oleh ledekan Arga yang setia menjadi supporter, siap sedia untuk menghujat. Sedangkan Arsya, dia lebih kalem. Anak penurut. Dia lebih suka menemani si bungsu Arya bermain, atau sekedar menonton acara anak sama-sama.


Dewi memejamkan matanya, mulai membayangkan lagi, melemparkan dirinya ke masa lalu. Kali ini ia seolah mendengar suara ketukan pintu dan salam saat suaminya pulang ke rumah. Kejadian yang mulai mengabur dari ingatannya. Dia mencoba mengingat lagi, bagaimana ia menyambut ayah, lalu membawakan tasnya, menyiapkan makanan untuk lelaki itu, layaknya seorang istri. Dia juga selalu ingat bagaimana suaminya selalu mengalah, memberikan segala yang ia inginkan, menuruti semua kemauannya, tidak pernah protes apalagi marah padanya. Baru ia sadari, betapa Hendra sangat menyayangi dirinya. Perasaan sayang, bukan hanya sekedar cinta.


Air matanya perlahan menetes di pipi. Dewi membiarkannya saja, enggan untuk bergerak. Bibirnya terkatup rapat, menahan isak tangis yang mungkin saja bisa terdengar ke kamar sebelah karena tembok pembatas yang sangat tipis. Ia mengatupkan bibirnya serapat yang ia bisa, mencoba menghalangi suara yang keluar dari sana.


Ini membuatnya menderita. Sendirian seperti ini sangat mengerikan. Tanpa kehidupan, tanpa kasih sayang...


SEPI


Di sini sepi, bukan karena tak ada siapa-siapa


Sunyi bukan akibat tidak ada suara


Tapi karena tak ada cinta


Separuh hati pergi


tanpa membawa diri ini


raga yang tertinggal


kehabisan nafas tersengal


Lelah merajai jiwa


seolah tiada lagi yang bisa dirasa


Letih membunuh mimpi


merasa tiada yang perduli


bahkan walau hanya berpura-pura


dalam sekejap masa


Kehidupan ini kosong


kehilangan makna yang sanggup menyokong


semuanya dusta belaka


kenangan yang dulu ada memporak-porandakan segalanya


Semesta sedang tertawa


mencemooh insan yang terluka


bukan karena apa


semua berasal dari kebodohan dirinya


Entahlah, nampaknya setelah ini aku akan berlari


mencari tujuan untuk menepi

__ADS_1


menghindari siang dan malam yang sepi


mungkin bisa juga memilih mati...


***


📞 Kakak...


Luna yang sebelumnya senang luar biasa saat mengangkat telepon dari Arsya, dalam sekejap berubah menjadi suram setelah mendengar suara panik dari seberang sana.


📞 Kenapa Arsya?


📞 Kakak bisa ke rumah? Tolong bantu kita...


Ia bisa mendengar suara adiknya yang memelas keluar dari dalam benda itu.


📞 Kakak kesana sekarang...


Luna menutup sambungan itu lalu segera menuju lemari, mengambil pakaian ganti. Saat ini kepalanya penuh dengan tanda tanya. Ia penasaran dengan apa yang terjadi. Semuanya buram.


Secepat kilat Luna berganti baju. Setelah itu ia langsung menyambar ponsel serta dompetnya, menaruhnya di dalam tas kecil yang ia sudah keluarkan dari lemari tadi. Setengah berlari, Luna menuju ke halaman rumah dengan nafas terengah.


"Pak, antar ke rumah saya..." ucapnya pada sang supir yang sedang duduk santai sambil main catur dengan satpam rumah.


Pria itu langsung berdiri lalu mengangkat tangannya hormat, "siap, bos..." candanya.


Luna sempat tersenyum simpul sesaat, sebelum ia akhirnya sadar kembali dengan keadaan yang sepertinya, menurut firasatnya, ia harus sampai ke rumah secepat yang ia bisa.


Dalam waktu kurang dari sejam Luna sudah sampai di rumah. Arsya membukakan pintu lalu segera menarik Luna masuk ke dalam.


"Kak, Arya sakit... Enggak tau kenapa..."


Luna terkejut melihat Arya yang sedang terbaring di atas ranjang, bermandikan peluh sambil mengigau.


"Arya, apa yang sakit?" Luna memegang kening adiknya, panas. Arya demam.


"Bunda...." rengek Arya.


Luna menoleh cepat ke belakang, menatap Arsya lekat. "Bunda mana?" tanyanya kemudian. Tadi dia terlalu panik sampai tidak menyadarinya. Tapi sekarang, saat Arya menyebutkannya, ia sadar. Dirinya mungkin tidak akan ada di sini saat Bunda ada. Apa sedang pergi?


"Coba telepon dulu..." Luna meraih ponselnya dari dalam tas, hendak menekan tombol, tapi Arsya mencegahnya.


"Kak..." Tangannya memegangi Luna, kemudian ia menggeleng pelan. "Bunda udah enggak tinggal di sini lagi..." Arsya berbicara lirih.


"Maksud kamu?" Luna mengernyit bingung. "Kalau enggak di sini tinggal dimana?" Otak Luna belum terhubung dengan keadaan saat ini. Dia masih menduga apa maksud Arsya.


"Jelaskan..." Luna ingin tau lebih banyak, apa-apa saja yang telah ia lewatkan.


"Hm..." Arsya menggumam sesaat, ragu untuk berucap.


"Cepat, Arsya..." Luna berdecak tak sabaran. Ia sungguh ingin tau apa yang sedang terjadi.


"Hm... Bunda... pergi dari rumah kak..." Arsya tersenyum kecut.


"Kenapa? Kapan? Kok bisa? Ada apa?" Seperti yang sudah Arsya duga, Luna pasti kaget. Arga pastilah belum mengabari Luna.


"Sejak... di rumah kak Alex waktu itu... Tak lama... Bunda pergi... sampai sekarang..."


"Kemana??" Luna tanpa sadar membentak adiknya itu. Dia kesal dan kecewa karena tidak ada yang memberitahu dirinya kalau keluarganya sudah sehancur ini. Kenapa mereka semua bungkam?


"Tidak tau..." Arsya menunduk lemas. Ia menatap Luna dengan tatapan memelas, seolah meminta maaf padahal bukan dirinya yang salah.


"Bunda..." Suara erangan Arya mengagetkan Luna. Ia terlupa akan hal yang lebih penting, kesehatan Arya.


"Hhhh...." Setelah menghela nafas panjang, Luna memandang Arsya sedetik kemudian berucap. "Siapkan baju Arya, kita bawa dia ke rumah sakit..."


Arsya mengangguk dan segera semuanya siap. Luna meminta Arsya untuk membawa adik bungsu mereka ke dalam mobil. Setelah itu, mobil meluncur cepat ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di sana, adiknya langsung ditangani dokter. Luna menggigit jari khawatir melihat Arya yang wajahnya semakin pucat. Arsya pun sama tegangnya. Mereka hanya berdua di sana, bingung, tanpa ayah dan bunda, bagai anak ayam kehilangan induknya. Sungguh tak tau harus apa dan bagaimana. Cuma bisa menatap dokter dan suster yang memeriksa.


Panik? Tentu saja. Cemas? Tidak perlu ditanya. Tapi, hal yang lebih mengkhawatirkan daripada itu semua adalah, mereka kehilangan arah.

__ADS_1


"Gejala tifus, harus dirawat... Silahkan urus administrasinya dahulu..." Ucapan dokter membuat Luna terhenyak. Bagaimana pula caranya urus administrasi? Tadi karena panik dia langsung saja membawa adiknya ke UGD.


"Tenang saja, dokter akan langsung melakukan tindakan di sini. Kakak bisa ke meja depan." Sang suster menyodorkan Luna sebuah map berisi catatan dokter. Hanya saja, Luna tidak paham. Ia berdiri mematung. Karena melihat lawan bicaranya yang tak bergeming, suster memimpin jalan. Luna mengikutinya kikuk.


"Di sini, kak..."


Kini, Luna ada di depan meja kayu besar setinggi dada. Suster memberikan catatan yang tadi tidak disambut Luna kepada wanita di balik meja. Orang di depannya yang tadinya sedang duduk di kursi segera mengetikkan data yang diterimanya dalam komputer, sambil beberapa kali menanyakan data pribadi pada Luna. Luna yang baru pertama kali mendapatkan pengalaman seperti ini terbata-bata menjawabnya, membuat si seragam putih itu berkerut beberapa kali.


"Total biayanya adalah...."


Luna melotot mendengar angka yang sangat banyak. Sekejap saja saat ini ia merasa ingin pingsan. Dia lupa kalau administrasi berkaitan dengan uang, sepertinya otaknya menguap lalu menciut, membuatnya kurang pintar.


"Mau dibayar cash atau debit, kak?" Sekarang wanita itu menatapnya, mengharapkan jawaban.


"Ah!" Luna menjadi salah tingkah. "Bayar ya..." Ia membuka tasnya lalu mengambil dompet. Dengan tangan gemetar, ia meneliti isinya. Seketika, ia menjadi tegang. Kalau diingat lagi, Kak El memang memberinya uang jajan, tapi tidak sebanyak angka yang disebutkan tadi. Bukan karena pelit, hanya saja Luna yang sering menolaknya kalau El memberinya uang saat ia masih memiliki lembaran di dompetnya. Dan sekarang ia menyesal.


Luna terpaku sesaat sebelum menarik benda segi empat yang selama ini belum pernah ia gunakan. "Pakai ini, bisa?" tanyanya ragu. Itu adalah kartu yang diberikan El dulu sekali. Luna menyimpannya, belum pernah ia coba pakai. Pastinya sekarang saat yang tepat.


"Bisa..." Luna mendesah lega saat kartu itu berpindah dari tangannya. Puji Tuhan, ia selamat. Mudah-mudahan saja uang di dalam kartu itu cukup.


"Silahkan..."


Setelah menekan beberapa angka pada mesin bersinar, benda itu mengeluarkan dua rangkap kertas. Sekali lagi, Luna menghela nafas lega. Sukses, batinnya.


"Sudah selesai, Kak. Terima kasih. Semoga cepat sembuh..." Luna membalas senyum manis kakak itu dengan senyum kaku miliknya.


"Ha-ha..." Dia mulai menertawakan dirinya sendiri. Pengalaman pertama mengurus orang di rumah sakit. Jadi begini rasanya menjadi orang tua.


Langkah Luna terhenti saat telepon dalam tasnya bergetar. Ia terkejut sesaat menatap nama di layar telepon, kak El.


📞 Luna!


Luna sampai kaget dengan suara tiba-tiba itu. Tidak biasanya kak El bicara dengan pekikan.


📞 I.. iya, kak...


Luna menjawab takut-takut. Langsung melempem.


📞 Apa yang kamu lakukan di rumah sakit?!


Ampun ultramennnn... Kok bisa tau gue ada di rumah sakit...


📞 Kamu sakit apa? Kakak sebentar lagi sampai kesana...


Ya Tuhan... Luna tak sanggup mengatakan apapun karena El berada jauh di luar ekspektasinya. Jika Luna baru saja berpikir akan melangkah atau tidak, maka El sudah ada di garis finish menunggunya.


📞 Aku tidak--


📞 Tunggu di sana. Jangan pergi kemanapun...


Telepon ditutup begitu saja. Luna cuma bisa menatap layar ponsel yang cahayanya sudah meredup. Ia menggerakkan kakinya. Lebih baik kembali ke tempat Arya.


CKLEK.


Luna membuka pintu ruang rawat Arya. Arsya sudah ada di sana, sedang duduk di kursi menunggui Arya yang tertidur di sampingnya. Luna mendekat ke arah Arsya. Ia bisa melihat Arya yang terbaring lemah dengan jalinan selang infus di tangannya.


"Apa Arya menangis tadi?" tanya Luna.


Arsya menjawab dengan gelengan kepala. "Tidak, kak..."


Entah kenapa Luna tidak merasa bersyukur seperti seharusnya. Ia merasa Arya terlalu dewasa dengan menahan sakit dan tidak menangis. Sepertinya bahkan tidak protes atau merengek sama sekali tadi.


"Bunda..."


Ah, lagi-lagi rintihan itu...


Luna duduk di tepi ranjang lalu mengelus kepala adiknya pelan. "Iya..."


Adiknya yang mungkin sedang mengigau itu meringis sesaat. "Bunda, Arya tidak akan nakal lagi... Jangan tinggalin Arya..."


Bersambung

__ADS_1


Aku minta maaf sebesar-besarnya pada pembaca yang menunggu kelanjutan cerita ini. Ada beberapa hal yang harus kuutamakan. Bukan karena aku tidak sayang kalian... Sekali lagi aku minta maaf. Dan,,, semoga kalian terhibur membaca chapter kali ini. Kalian sangat berarti untukku, lebih dari spesial... ❤️


With love, dewiluna


__ADS_2