Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
24. Makanya...


__ADS_3

Kak El calling....


"Angkat tuh, Lun..." Tyo tersenyum penuh kemenangan.


Gue udah bilang, gue ga mungkin salah,kan.


Luna menatap ponselnya bingung.


"Udah lah, ga usah diangkat." Luna memasukkan ponsel ke saku. "Yuk, balik kelas."


"Yakin, Lun?" Tyo memojokkan Luna.


"Iyaaaa... Emang dia bakal ngapain? Ngadu ke kepala sekolah?" Luna mengucap asal.


"Ya kali aja...." Tyo cuma angkat bahu.


***


Saat ini jam pelajaran setelah istirahat. Semua siswa sudah ada di kelas nya masing-masing.


"Maaf, permisi Pak," seorang guru tiba-tiba mengetuk pintu dan masuk ke kelas Luna saat Pak Deni tengah mengajar.


"Iya, ada apa Bu?"


"Siswa yang bernama Luna Putri dipanggil ke ruangan kepala sekolah."


Sejenak semua tatapan tertuju pada Luna.


"Elo ngapain, Lun?" Jessika berbisik ke Luna kuatir.


"Gue ga ngapa-ngapain," balas Luna tak kalah bingung.


"Luna, ikut Bu Eva," Pak Deni menyuruh Luna segera beranjak dari tempatnya.


Luna berdiri dan berjalan mengikuti Bu Eva, menuju ruang kepala sekolah sembari terus bertanya-tanya apakah dia melakukan kesalahan.


"Permisi, Pak. Bapak cari saya?" Luna mendekat ragu saat melihat Pak Kepala Sekolah sedang duduk di kursinya sambil menelepon seseorang.


"Oh iya, Luna. Kesini," Luna diminta mendekat dan setelahnya Bu Eva langsung undur diri.


"Ini, ada telepon buat kamu."


Luna membelalak kaget. "Buat saya, Pak?" Luna menunjuk dirinya sendiri tidak yakin.


Bukannya tadi si Bapak yang lagi ngomong?? Kok jadi ke gue?

__ADS_1


"Iya, sini." Pak Kepala menyerahkan ponselnya ke tangan Luna.


📞 Halo?


Luna berucap ragu.


Who the hell is this??!


📞 Halo, Luna?


📞 Kak El??


Mau nangis rasanya.


📞 Luna, kenapa ga angkat telepon kakak?


📞 Oh, itu, iya, aku lagi di kelas kan...


Mencoba ngeles seperti biasa.


📞 Tadi kan masih jam istirahat.


Ih, kok dia tau, sih!


📞 Iya tadi aku ke toilet dulu bentar.


Aaaaaaaaaaaaaaaa.......!!!!!!!!


📞 Kenapa kakak telepon?


Mencoba membelokkan percakapan.


📞 Hari ini kakak ada meeting. Nanti pulang sekolah kakak udah minta supir jemput kamu, ya.


Ngapain jemput, gue bisa pulang sendiri.


📞 Iya, kak.


Lain di hati, lain di mulut. Gue sudah menjadi manusia dewasa seutuhnya.


Sambungan telepon terputus. Luna pun mengembalikan ponsel ke tangan Kepala Sekolah.


Setelah mengucapkan terima kasih, Luna berjalan malas ke kelasnya.


"Ada apa Lun?" Jessika langsung bertanya, sedetik setelah Luna duduk di kursinya.

__ADS_1


Luna menjambak rambutnya frustasi. "Jangan tanya."


"Gue penasaran sih," Jessika masih berbisik pelan.


"Luna! Jangan ngobrol. Cepat selesaikan tugas kamu." Setelahnya Pak Deni merapikan barang-barang nya di meja guru.


"Selesaikan tugas kalian, ketua kumpulkan ke kantor nanti."


"Yessss....!" terdengar teriakan berjamaah sesaat setelah Pak Deni menutup pintu.


"Jadi kenapa? kenapa? Elo kenapa dipanggil kepala sekolah?" Jessika langsung menyerbu Luna dengan pertanyaan.


"Huhu.. Jess..." Luna bersandar manja pada Jessika. "Gue kesel banget..."


Sendok mana sih, sendok?


"Kenapa? Elo dimarahin? Jangan bilang elo diskors? Emang elo ngapain sih? Udah mau lulus masih cari masalah aja."


"Ihhhh... Mulut ini nyerocos aja yaaaa..." Luna mencubit pipi Jessika dan melebarkannya kesal.


"Tuyus kunupu?" (baca: terus kenapa?)


Luna melepaskan tangannya dari pipi Jessika. "Kak El nelepon Pak Kepala Sekolah..."


"Kok bisa??" Jessika terkejut. "Kok bisa kenal Kepala Sekolah?"


"Mana gue tau!" Luna memajukan bibirnya kesal.


"Makanya..."


"Apaan?"


"Makanya kalau ngomong tuh yang bener. Kejadian kan..."


"Ihhhh...." Luna menyambar pipi Jessika lagi.


Bersambung


EPILOG


"Mau kemana El?" Mami bingung melihat El yang sudah bersiap.


"Ke sekolah, mi."


"Kan, habis ini ada meeting." Mami mengingatkan. "Telepon aja sekolah kamu."

__ADS_1


"El ga tau nomor teleponnya mi."


"Kan, kakak ipar kamu di dinas, tanya dia aja...."


__ADS_2