Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
40. Reproduksi


__ADS_3

Pagi ini, Luna merasa kakinya lebih sakit dari kemarin. Saat ia menyiapkan sarapan, ia terpikir untuk berangkat bersama Arga.


Luna baru saja selesai berpakaian seragam saat melihat Arga keluar dari kamarnya.


"Arga!"


Arga menoleh ke Luna. "Hari ini kakak boleh bareng?"


Kalau butuh, baru manggil gue. Arga membatin kesal.


"Kenapa kakak ga bareng pacar kakak aja?" sinis Arga.


Kok dia jadi sewot?


"Kakak ga punya pacar--


"Terserahlah!" Arga melangkah ke kamar mandi dan membanting pintunya.


Udah pergi seharian, ucapin selamat juga enggak!


Luna berdiri bingung melihat sikap Arga. Kalau Arka yang membanting pintu mungkin dia akan maklum, karena Arka terkadang bisa meledak-ledak, tapi Arga? Bukannya dia biasanya lebih logis?


Luna mengalah dan berjalan pelan menuju dapur untuk sarapan dan menyiapkan bekal.


Jalan kaki aja, siapa tau sembuh... Ga ada salahnya menghibur diri sendiri, ye kan?


Luna sampai di sekolah tepat waktu, walau dengan langkah terpincang-pincang. Dia tidak tau kenapa kakinya malah menjadi tambah sakit.


"Akhirnyaaaa...." Luna mengusap peluh saat duduk di kursinya.


"Kenapa jalan elo gitu, Lun?" Jessika memperhatikan Luna sejenak. Dia sedang sibuk saat ini. Sibuk menyalin PR. Kalian tau, kan? PR \= Pekerjaan Ramai-ramai.


"Tau, Jess. Sakit. Terkilir kayaknya." Luna memegang kakinya. Dia lalu mengaduh kesakitan. "Cenat-cenut, Jess.."


"Kayak cinta aja, cenat-cenut..." Jessika mulai bernyanyi, "you know me so weeeelllll~"


Luna menatap Jessika, "elo nyanyi apaan sih, Jess?"


"Ahahaha... Enggak... Ada aja!" Jessika kembali menyalin PRnya. "Nanti gue anterin elo ke UKS abis beres nyalin PR." Jessika menunjuk PRnya. "Elo udah beres belom?"


"Udah lahhh... Emang elo..." ledek Luna.


"Yeeee... coba cek dulu, siapa tau ada tambahan PR berhitung lagi..." Jessika tertawa geli. Dia teringat insiden 1+1\=2.

__ADS_1


"Enggak lah, sekarang gue kunci kamar gue terus..." Luna tertawa jahat.


"Dasar..." Jessika menggeleng. "Emang elo lagi marahan sama adek-adek elo?"


"Engga..." Luna menjawab. Sesaat kemudian dia melanjutkan, "tapi ga tau kenapa si Arga lagi sensi ama gue, deh. Tadi pagi gue mau nebeng, dia ga mau... "


"Lagi PMS kali.."


"Ya kali PMS..."


"Iya, PMS, Pengen Menikmati Sendiri.."


"Singkatan elo dari tadi aneh-aneh, deh.." Luna menggeleng.


Sayangnya setelah itu, guru masuk ke kelas Luna sebelum Jessika sempat mengantarnya ke UKS. Alhasil Luna harus menunggu hingga jam istirahat.


"Agak bengkak sedikit, jalannya pelan-pelan ya," guru penjaga UKS memberi perban pada kaki Luna.


Saat ini Luna sedang berada di UKS ditemani Jessika.


"Kalau sakit sekali, minum obat ini ya," guru itu memberikan obat pereda nyeri.


"Makasih, Bu." Luna dan Jessika pamit. Jessika menuntun Luna.


"Kesandung kaki gue sendiri," Jessika langsung ngakak.


***


"Masih lama?" Jessika bertanya pada Luna.


Pelajaran tambahan sudah selesai dan waktunya pulang. Jessika sedang menunggui Luna yang belum dijemput El. Terpaksa dia minta bantuan El karena Arga yang lagi PMS. Lagipula, Arga kan pulang lebih awal.


"Ga tau, ga biasanya kak El telat. Biasanya belum jam pulang juga dia udah nongkrong disini." Luna diam sejenak. "Jess, anterin ke toilet, yuk!"


Jessika mengangguk dan mereka berjalan beriringan di lorong sekolah yang sudah sepi.


Sampai Jessika mendengar suara. Suara desahan.


"Lun, elo denger ga?"


"Denger apa, Jess?" Luna bingung.


"Ada suara..."

__ADS_1


"Elo jangan nakutin, deh..." Luna menggenggam tangan Jessika semakin erat.


"Sssttt..." Jessika menutup mulut Luna dan meletakkannya telunjuknya di depan bibir. "Suaranya dari sini, nih..." Jessika menunjuk ke laboratorium IPA.


"Jess.. Pergi aja yuk, gue takut nih.." Luna berbisik.


Kalau hantu gimana? Gue ga bisa lari, kaki gue kan lagi sakit!


Jessika mengintip dari jendela laboratorium. Luna mengikuti walaupun takut.


Rasa penasaran bisa membunuh. Jessika membatin pelan. Dia benar-benar yakin ada suara dari sana.


Mereka lalu menajamkan penglihatan menembus jendela. Lalu samar-samar terlihat dua orang dengan seragam yang acak-acakan sedang memadu kasih.


Luna dan Jessika langsung terduduk bersamaan.


Aaaaaaaaaaaaaa!!! Mata gue!!!!


Jessika langsung mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan ke Tyo.


Ay, ada yang lagi ML di lab IPA, buruan lapor.


Kirim.


Saat itu, Tyo baru selesai membeli minuman di warung dekat sekolah untuk dua nyonya besar, Luna dan Jessika. Dia sedang mencicip minuman yang dia baru saja beli.


Pesan masuk dan Tyo langsung membukanya.


"Ohhoookkkkk...!" minumannya menyembur ke segala arah.


Dia langsung berlari ke ruang guru. Tersisa 3 guru yang belum pulang. Dua diantaranya sedang bersiap pulang.


"PAK!" Tyo memanggil Pak Deni yang pertama ia lihat.


"Kenapa kamu lari-lari?"


"Pak, cepet pak. Di-Di Di lab---


"Ada apa?"


"Di lab, ada yang lagi melakukan proses reproduksi!"


"Hah?"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2