
Chapter 27: Jadwal libur
"Liburan membuatmu tetap waras." -Luna-
📞 Jess...
📞 Hm...
📞 Elo lagi ngapain?
📞 Mau elo apa sih, Lun? Ini udah kelima kalinya elo telepon gue seharian ini! Elo enggak ada kerjaan?!
📞 Kagak, kita kan lagi libur...
📞 Tapi kerjaan gue banyak! Udah ah, gue sibuk.
📞 Jess...!
Telepon terputus. Luna menekan tombol lagi.
📞 Jess...
📞 Astaga, Bambang... Elo ngapain telepon lagi, sih?
📞 Gue bosen.
📞 Main sama laki elo, sana!
📞 Kerja.
📞 Samperin.
📞 Enggak mau.
📞 Terus mau elo apa?
📞 Gangguin elo...
📞 Fucek!
Telepon terputus lagi.
📞 Jess....
📞 Omegotttttt... Kalau deket udah gue cium!
📞 Mau...
📞 Pakai sendal!
📞 Enggak apa deh, asal elo kesini.
Telepon terputus lagi. Luna menelepon lagi, tapi tidak tersambung, nada sibuk yang didengarnya.
Ditariknya boneka beruang putihnya sampai duduk di sofa lalu Luna merebahkan dirinya di atasnya. Dia meraih ponselnya lagi, menelepon Jessika, tidak tersambung lagi. Beberapa detik setelahnya sebuah panggilan masuk.
📞 Luna...
📞 Iya, kak...
📞 Jangan ganggu Jessika...
Kambing si Jessika, pakai ngadu segala.
📞 Iya kak, maaf...
__ADS_1
📞 Kamu siap-siap, Pak Ahmad tunggu kamu di bawah.
📞 Mau kemana, kak?
📞 Lima belas menit cukup?
📞 Iya, kak...
Luna akhirnya memiliki kegiatan seharian ini. Dia segera memilih baju. Apakah harus terlihat cantik? Ia memutuskan untuk memakai sebuah dress berwarna putih selutut. Setelahnya, Luna mengambil sepasang sepatu Loafer berwarna hitam dari dalam lemari, dan tas yang juga berwarna hitam. Mungkin tak mengapa kalau OOTD hari ini adalah monokrom.
Luna bersyukur dalam hati setelah tau tempat yang ditujunya adalah kantor El. Beruntunglah dirinya memakai baju yang layak bukannya setelan jeans dan kaos polos. Pasti akan memalukan.
"Kak..." Luna langsung menghampiri El setelah membuka pintu.
"Kamu sudah sampai?" El berdiri dan melebarkan tangannya, menyambut Luna dalam pelukannya.
"Apa aku mengganggu?" tanya Luna. Dia bisa melihat tumpukan pekerjaan di meja El.
"Tidak..." jawab El membelai kepala Luna lembut.
Terdengar suara decakan kesal, membuat El mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Reza terdiam seketika.
"Benarkah?" Luna menatap Reza curiga. Keluhan Reza pasti berarti sesuatu. "Aku tidak mau mengganggu kakak."
"Tapi tidak apa-apa kalau mengganggu Jessika?" tanya El.
"...." Luna kehabisan jawaban.
"Kakak cemburu, loh..." El membuat lengkungan di bibirnya.
Ganteng. Luna berseru dalam hati.
"...."
"Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan jawabannya." El menuntun Luna ke kursinya, lalu ia duduk di sana. Luna berdiri di sebelahnya, bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
"Aduh, mata perjaka gue..." Reza mengumpat pelan. Di ruangan yang sunyi ini desahan nafas pun akan terdengar, tentu saja ucapan Reza itu sudah mampir di telinga El.
"Apa kau keberatan?" tanya El.
Menurut Elo?? Plis deh, kenapa kalian enggak pacaran di rumah aja sih?! Beban kerja gue udah banyak, gue ga mau ditambah beban hati juga!
Reza memberikan senyuman seorang profesional. "Tidak, Pak," jawabnya. "Silahkan dilanjutkan. Saya akan menunggu di sini. Anggap saja saya hanya hembusan angin, tak terlihat tapi bisa dirasakan..."
Luna tertawa dalam hati.
"Apa liburan kamu masih lama, sayang?" tanya El dengan tangan yang sibuk bekerja.
Dilihatnya tulisan yang ada di kertas itu, tidak ada satu pun yang Luna pahami. "Tiga hari lagi," jawabnya.
"Apa kau mau berlibur?" tanya El. "Sepertinya kita belum bulan madu," lanjutnya.
Oh, tidak. Kerjaan elo sudah menggunung dan sekarang mau liburan??? Reza sudah mendemo dalam hatinya.
"Apa boleh?" tanya Luna. Dia hampir mati kebosanan di rumah. Dia cuma belajar saja selama ini. Belajar dan nonton TV. Sungguh berguna sekali hidupnya.
"Kamu mau kemana?" tanya El.
Tidakkkkk!!! Reza menjerit tanpa suara.
"Pantai?" tanya El. "Bali? Nusa Dua? Lombok?" El suka ke pantai, dia bisa melihat Luna dengan bikini.
"Aku mau kemping," jawab Luna.
Dan dari sekian banyak tempat, Luna mau kemping??? El hampir merasa kalau pendengarannya terganggu.
__ADS_1
"Apa kamu yakin?" El merasa ini tidak mudah. Kemping? Kegiatan merepotkan dan melelahkan tanpa manfaat untuk dirinya, karena Luna pasti akan memakai pakaian serapat mungkin. Astaga.... Tidak ada pilihan lainkah?
"Tidak bisa?" tanya Luna kecewa.
"Bi-bi-bisa..." jawab El. Dia bisa melihat Reza yang tersenyum mengejek di sudut sana.
"Apa boleh ajak teman-teman? Kita lulus sebentar lagi, aku akan merindukan mereka..." Luna memainkan ujung baju El.
El paling tidak bisa kalau sudah begini. "Boleh... Kita berangkat besok," jawaban El diiringi desahan nafas panjang.
Reza mulai tertawa tanpa suara.
"Setelah ini kita akan beli persiapan untuk besok," ucap El. Dia sengaja mengeraskan suaranya. "Sekretaris kakak juga sepertinya akan ikut kemping, karena adiknya pasti diajak, kan?" El melirik Reza penuh arti. Reza balas menatapnya horor.
"Tentu saja! Aku mau ajak Jessika, Reina dan Tiara. Biasanya Tyo dan Sandi juga ikut. Jadi Reina sendirian. Kak Reza harus ikut," kata Luna polos.
Mampu* kau!
El gantian meledek Reza. Yang diledek cuma bisa menghela nafas pasrah. Tentu saja, hal seperti ini pasti akan terjadi. Bos selalu benar.
***
Keesokan harinya, Luna dan El sudah siap dengan barang bawaan mereka. Kris menjadi supir sekaligus pemandu mereka dalam kemping ini. Dia memang bisa melakukan segalanya.
"Minum dulu, kakak tidak mau kamu masuk angin nanti." El memaksa Luna meminum jamu penghangat badan. Luna cemberut dan terpaksa meminumnya. Rasanya seperti makan daun rasa cabe. Dia langsung minum air banyak-banyak.
Mereka parkir di depan rumah Jessika dan sudah melihat beberapa orang berkumpul di sana. Ada Jessika dan Tyo, juga Sandi dan Tiara. Belum lengkap.
"Reina mana?" tanya Luna. Dia masih memegang botol minumnya. Jamu tadi rasanya tidak hilang-hilang, seperti kenangan mantan. Walaupun dia tak tau rasanya, karena dia tidak pernah punya mantan.
"Otw, katanya. Masih di taksi online," jawab Jessika.
"Ya udah, barang kalian masukin bagasi dulu."
Jessika mengangguk dan menyuruh Tyo melakukannya. Tentu saja, Tiara juga sama, menyuruh para budak cinta itu.
Tak lama, sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Tuh, dia," celetuk Tiara. Dia menunjukan ke arah Reina yang baru saja turun dari mobil.
"Elo lama banget sih?" protes Jessika.
"Sorry.." Reina tersenyum kecil.
"Ya ga papa, cepetan masukin barang ke bagasi," seru Luna.
"Tunggu, elo sama siapa?" Jessika menyipitkan matanya. "Kok kayaknya gue kenal?" Jessika merasa tidak asing dengan sosok laki-laki yang ada di dalam mobil.
"Sama kakak gue," jawab Reina.
"Bukan." Jessika melambaikan tangannya. "Yang satu lagi..."
"Oh itu---
"Lah, elo sama Arga?" tanya Jessika. Sekarang dia sudah bisa melihat jelas karena cowok itu sudah keluar dari mobil sambil membawa tas mendekati mereka.
"Kok bisa?" tanya Jessika penasaran.
"Bukannya dia sekolah ya?" tanya Tyo. Memang hanya kelas 12 saja yang libur sekolah sekarang. "Elo yang ngajak, Lun?"
Luna menggeleng.
"Gue yang ngajak," jawab Reina.
"Hah...?" Jessika melongo. "Elo emang deket sama Arga?"
__ADS_1
"Dia pacar gue," jawab Reina.
Bersambung