Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
32. Kencan


__ADS_3

Belakangan ini kak El sudah bersikap sewajarnya. Dia tidak mengirim pesan terus-terusan dan menunggu sampai Luna membalas. Bahkan dia meminta izin kalau mau menjemput Luna. Arga and the gank juga sedang adem-adem saja belakangan ini.


Kehidupan yang damai dan menyenangkan seperti yang selama ini berjalan, tetapi dengan plus El.


Semuanya baik-baik saja sampai hari itu datang...


Jam 6 pagi di hari Minggu, Luna baru saja selesai membantu Bunda menyiapkan sarapan.


Di rumah, hanya Luna yang akan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Anak laki-laki tidak boleh melakukannya. Peraturan tidak tertulis yang dibuat Bunda.


"Luna," Bunda memanggil Luna pelan. Saat ini hanya ada Luna dan Bunda di dapur.


"Iya, Bun."


"Ini buat kamu," Bunda menyerahkan selembar uang seratus ribuan. "Hari ini kamu boleh pulang sampai malam."


Gue ga tau harus senang atau sedih. Gue dapet uang dan diusir pada saat yang bersamaan.


"Makasih Bun..." Luna mengambil uang itu.


"Udah kamu cepet mandi, terus berangkat."


Uang ini bukti nyata kalau dugaan gue itu anak pungut semakin terasa benar.


Luna mengambil handuk dan beranjak masuk kamar mandi.


*Sabar Lun, hidup itu memang tidak adil, jadi biasakanlah.


Kayaknya gue kebanyakan nonton Sp*ngeb** deh sama Arya*.


Luna selesai dengan urusannya di kamar mandi dan memilih pakaian santai untuk hari ini, celana jeans dengan kaos putih. Dilapisinya kaos putihnya dengan kemeja flanel karena cuaca pagi hari masih cukup dingin.

__ADS_1


Luna menyiapkan bekal lalu memasukkannya ke dalam tas dan pamit pergi.


Setelah berjalan kaki sampai ke luar komplek, Luna akhirnya mengeluarkan ponselnya.


Jam setengah tujuh pagi!!! Gue harus kemana pagi-pagi begini?!


Masa iya gue harus ke pasar...


Luna nongkrong di depan supermarket yang belum buka, memperhatikan orang yang lalu lalang. Beberapa lari pagi, beberapa hanya berjalan santai, sisanya tampak mengayuh sepedanya.


Oh iya, gue bisa ke CFD!


Luna tiba di lokasi CFD yang sudah mulai ramai. Dia memandang berkeliling dan memutuskan untuk mencari tempat duduk saja.


Masa iya, gue harus ngelamun gini sampai entar malem. Gue butuh temen!


Luna membuka ponsel, mencari sosok teman yang dia maksud. Jarinya sudah akan menekan tombol telepon di kontak Jessika tapi kemudian mengurungkannya.


Luna menyusuri kontaknya lagi.


Kok gue ngerasa engga punya temen sih??


Kesal sendiri Luna membuka aplikasi pesan dan kemudian teringat El.


***


Pagi itu El masih berbaring malas di ranjangnya sambil menonton TV. Hari Minggu adalah hari sempurna untuk bersantai sampai...


Luna calling...


El kaget sekaligus senang bukan main saat melihat ponselnya berkedip menampilkan nama Luna di sana.

__ADS_1


Sepagi ini dan dia udah kangen sama gue...


Dengan hati riang, El langsung menerima panggilan itu


📞 Halo, Luna?


📞 Halo, Kak El?


📞 Ada apa Lun?


Kangen kan? Kangen pasti...


📞 Kakak lagi apa? Hari ini lagi sibuk ga?


Wait... jangan bilang dia mau ngajak ketemuan... Hidung gue bisa terbang,nih..


📞 Enggak. Kenapa Lun?


📞 Bisa dateng ke CFD? Aku share lokasinya..


Beneran ngajak date....


📞 Oke, kakak kesana sekarang.


Sambungan terputus. El langsung berlari ke kamar mandi dan bersiap-siap. Dia memakai celana pendek dan kaos polos. Kali ini, dia menata rambutnya agar terlihat lebih tampan. Walaupun dia yakin dia sudah ganteng maksimal.


Mami El mencium wangi semerbak dari El yang lewat. "Mau kemana pagi-pagi, El?"


"Nge-date dong, mi." El memakai kacamata hitam nya dengan sok keren.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2