Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 2


__ADS_3

Chapter 2: Bersama


"Bahagia itu adalah sesuatu yang terjadi di dalam hatiku saat kau tersenyum."


-El-


"Mulai sekarang kamu bisa tinggal disini..." En membuka pintu apartemen tempat Luna akan tinggal.


Luna bisa melihat sebuah ruangan yang jelas lebih besar dari kamar lamanya. Ada tempat tidur yang cukup besar, lemari, sofa, meja, televisi, dapur, kamar mandi, dan banyak hal lain yang bisa membuat sebuah kamar ini layak disebut rumah.


"Maaf kakak belum sempat bereskan." En tersenyum pada Luna. "Karena kakak tidak sehebat Malin Kundang!" En melirik ke arah El yang pura-pura tidak mendengarnya, padahal dia setengah berteriak.


Masih bagus dia bisa menyiapkan satu apartemen lengkap dengan isinya dalam semalam!


En bukannya tidak bisa melakukannya, hanya saja dia juga memiliki banyak hal penting yang harus diurus. Dan El memintanya melakukan banyak hal dalam waktu yang sama. Dia sengaja memberikan bantuannya seminimal mungkin agar El bisa mencoba mengerjakannya sendiri.


"Tidak, kak En. Kamar ini bahkan terlalu bagus untukku. Aku merasa aku tidak pantas menerimanya." Luna tidak bisa membayangkan betapa mahalnya harga sewa kamar ini, atau mungkin betapa mahalnya harga beli kamar ini. Dia sedang mencoba menghitung berapa angka nol yang berderet di otaknya.


"Mungkin sebaiknya aku ke rumah Jessika saja." Luna meraih tasnya dan berbalik pergi.


"Kamu mau kemana?" El menarik lengan Luna.


"Aku ga bisa tinggal disini, kak." Luna mencoba melepaskan tangan El dari pergelangannya.


"Kenapa?!" Karena emosi, El tanpa sadar membentak Luna.


Luna yang kaget langsung terdiam.


"Emm..." En maju di antara mereka. "Aku tidak mau mengganggu. Tapi aku pamit pergi sekarang, aku ada urusan lain. Silahkan lanjutkan pertengkaran kalian." Dalam sekejap mata, En sudah menghilang di balik pintu.


El beralih dari pintu yang tertutup ke arah Luna. Dia bisa melihat Luna yang sudah menunduk dan mencoba mengalihkan matanya ke segala arah. Selalu seperti itu saat Luna menghindari sesuatu. Sesuatu yang ia hindari saat ini tentu saja, masalah dengan El.


Kalau begini gue ga ada bedanya dengan keluarga Luna!


El menggeram frustasi, membuat Luna yang mendengarnya mundur selangkah.


Bagus sekali, El. Sekarang dia malah takut.


"Maaf, aku buat kakak marah. Aku akan tinggal disini." Luna tau, harusnya dia mematuhi El saja, bersyukur masih ada orang yang mau membantunya.


El mengetahui apa yang dirasakan Luna, tekanan. Dia tidak bisa melanjutkan ini.


"Kemarilah," El menarik Luna dalam pelukannya. "Maaf kakak sudah membentakmu." El menunggu sampai Luna tenang, sebelum dia mulai bicara lagi.


Berbicara selembut mungkin, El kemudian bertanya, "kenapa kamu ga mau tinggal disini?"


Luna melepaskan pelukannya. "Ini terlalu mewah buat aku, kak. Aku belum pantas mendapatkan yang seperti ini dari kakak."


"Kenapa?"


"Aku kan cuma pacar kakak. Ini terlalu banyak buat aku. Dan aku ga bisa membalasnya."

__ADS_1


"Kakak ga pernah minta balasan apapun."


"Kalau begitu, aku jadi memanfaatkan kakak."


"Kamu boleh memanfaatkan kakak sesuka kamu."


Entah kenapa Luna malah jadi teringat dengan Monika dan Angel. "Kak, aku ga mau dibilang *******...."


El terkejut mendengar pernyataan Luna. "Kamu tidak seperti itu, kakak cuma bantu kamu."


"Tapi di mata orang lain, aku terlihat seperti itu."


El akhirnya mengerti maksud Luna. Tapi dia sungguh tidak menyangka bahwa Luna akan berpikiran sampai sejauh itu. Harusnya dia seperti orang lain yang langsung menerimanya saja.


"Kakak sudah memberikan aku banyak hal, makanan, pakaian, sepatu, bahkan merawat aku di rumah sakit. Aku sangat berterima kasih." Luna mengeratkan pelukannya. "Tapi cuma satu hal yang paling aku sukai dari kakak. Kakak mendengarkan aku di saat orang lain tidak."


Luna merenggangkan pelukannya. "Aku mau kakak menyimpan aku disini." Luna menunjuk tepat ke arah jantung El berdetak. "Bukan cuma di sini." Dia mengelus kepala El pelan lalu tersenyum lebar.


***


"Jadi kamu mau kemana sekarang?" El bertanya pada Luna saat mereka sedang melintasi jalan raya dengan mobil El seperti biasa.


"Ke rumah Jessika..." Sebenarnya Luna malu kepada Jessika, tapi siapa lagi yang bisa dia andalkan saat ini.


"Sekarang masih jam sekolah Luna.."


Luna tampak kaget. "Hari apa sekarang, kak?"


"Hari Senin..."


"Kamu kan sakit..." ucap El.


"Tapi aku kan sebentar lagi ujian!" Luna semakin panik.


"Kamu mau ke sekolah sekarang?" tanya El.


"Enggak..."


Kaum kalian memang terlahir untuk dimengerti.


"Ya sudah, kamu bolos saja hari ini. Ga apa kalau cuma sehari. Lagi pula kamu kan memang baru keluar dari rumah sakit."


Luna akhirnya mengangguk mengiyakan. "Terus kita mau kemana kak?"


"Ke tempat yang bagus..."


Luna melihat sekelompok ikan berenang di depannya. "Kereeeennnnn!!!"


"Kamu belum pernah kesini?" El merasa senang melihat Luna yang bersemangat.


"Kak, ayo foto." Luna sadar sedetik kemudian. "Ah, aku lupa ga bisa foto."

__ADS_1


Ah, sayang banget. Padahal ini pertama kali gue ke akuarium sebesar ini, tapi ga bisa foto....


"Ayo, foto." El mengeluarkan ponselnya dan menyuruh Luna berpose.


Pose pertama: Luna menaruh kedua tangannya yang sudah dibentuk huruf V ke atas kepalanya, sambil memiringkan badannya sedikit dan tersenyum.


Pose kedua: Luna pura-pura terkejut melihat seekor lumba-lumba yang lewat.


Pose kesepuluh: Luna menggembungkan pipinya meniru ikan buntal yang ada di belakangnya.


Kalau sudah berpose bisa tidak terasa kan, sudah berapa kali berpose dan menekan tombol ambil gambar.


"Ah, kak!" Luna menarik tangan El. "Ayo kita foto bareng." Luna mengambil ponsel El. "Pinjam sebentar."


Luna menghampiri petugas yang lewat. "Pak, bisa tolong foto?"


Seorang cleaning Service berpakaian biru itu mengangguk kemudian menerima ponsel dari Luna.


Luna berlari kecil kembali pada El kemudian berbisik pelan, "aku udah lama banget pingin foto kayak gini kalau punya pacar."


"Ayo, kak!" Luna berdiri di sebelahnya sambil membentuk tangannya seperti setengah hati. Dia menatap El seolah menyuruh El melakukan hal yang sama.


El tersenyum lalu memberikan setengah hatinya untuk Luna.


"Sudah," ucap si pemoto.


"Pak, sekali lagi ya, Pak. Deketan." Si Bapak hanya menghela nafas pasrah.


"Kak, sini tangan kakak." Luna menaruh lengan El di bahunya. "Gini kak, gini tangannya." Luna menunjukkan simbol hati dengan ibu jari dan telunjuknya.


"Begini?"


"Iya" Luna merangkul pinggang El. "Ayo senyum kak." El dan Luna pun tersenyum menghadap kamera.


Setelah selesai Luna mengucapkan terima kasih banyak-banyak kepada Bapak itu.


"Ada lagi yang mau kamu lakukan sama pacar?" El meledek Luna.


"Ada dong, kak. Aku pingin photo box, candle light dinner, melihat sunset di pantai, terus naik bianglala waktu malam hari. Pasti romantis banget!"


"Mau coba sekarang?"


Luna setengah tak percaya. "Kakak bercanda, kan?"


"Memang..." El berlari menjauh sebelum Luna berhasil memukulnya karena kesal.


Sementara itu, di belahan dunia yang lain...


"Sia-sia waktu yang gue habiskan buat mikirin bocah ini."


"Siapa?" Tyo bertanya pada Jessika yang sedang memandang ponselnya.

__ADS_1


"Ini bocah ternyata malah asyik pacaran!" Jessika mendorong ponselnya ke muka Tyo, menunjukkan dengan jelas foto profil El dengan gambar El dan Luna yang memberikan simbol hati.


Bersambung


__ADS_2