Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 39


__ADS_3

Chapter 39: Bercanda


"Harus ada batasan jelas antara kata bercanda dan keterlaluan." -Luna-


Luna menutup matanya erat, mempercayai perkataan Alex. Rasa penasarannya sudah kalah dengan rasa takutnya. Mudah-mudahan saja nanti malam dia tidak bermimpi buruk, cuma itu yang bisa ia pikirkan saat ini.


Alex menepati perkataannya. "Si cowok lagi masuk ke dalam rumah, ngecek..." Ia menjelaskan apa yang ia tonton. Luna mendengarkan Alex dan juga suara-suara percakapan dari film tersebut. Ia bisa membayangkan dalam otaknya adegan apa yang sedang terjadi di layar besar itu.


"Terus..." bisik Luna menuntut lanjutan cerita. Ia masih bisa mendengar suara percakapan, menandakan adegan terus berganti. Terdengar alunan musik sendu menyapa telinga Luna, menyeramkan.


"Terus udah enggak ada apa-apa lagi," jawab Alex santai. Ia menikmati waktunya saat ini. Luna mendekap lengannya erat. Sesederhana itu bisa membuatnya senang.


"Beneran? Gue buka mata, nih?" tanya Luna. Ia masih ragu untuk membuka mata.


"Udah, buka aja sih! Apa perlu gue yang bukain!" gerutu Alex. Luna menggerakkan kelopak matanya perlahan, matanya membuka sedikit.


"Elo lebay banget, sih! Film ini lucu tau..." sambung Alex.


Lucu darimana, Tarjo...


"Beneran lucu, liat aja kalau enggak percaya." ucap Alex.


Luna setengah yakin untuk menatap layar lebar itu. Tapi karena melihat wajah Alex yang tersenyum, diputarnya wajahnya ke depan, penasaran dengan apa yang lucu.


Adegan lari-larian yang bisa dilihat Luna. Sama sekali tidak lucu. Semua orang berlari dan berteriak ketakutan. Bulu kuduknya sampai berdiri. Dia memalingkan wajahnya ke arah Alex lagi, sepertinya lebih baik kalau tidak melihat.


Suara musik berubah drastis menjadi bunyi dentuman yang mendebarkan. Alex berbisik pada Luna. "Elo harus lihat, rugi kalau enggak." Ia memutar paksa kepala Luna sehingga adegan itu terlihat jelas di depan matanya.


Whoa!


Sosok makhluk halus muncul seketika memenuhi layar besar itu, membuat Luna menjerit kaget. Ia ketakutan dan ingin berpaling, tapi tangan Alex sangat kuat sehingga wajah Luna tidak bisa bergerak sedikitpun.


"Lex, lepasin, gue takut!" Luna memekik tertahan.


"Elo harus liat, biar enggak takut lagi. Ini kan cuma bohongan," ucap Alex. Dia masih memegangi dagu Luna. Mata gadis itu sudah memejam, tak mau melihat.


Efek suara ditambah dengan suara jeritan yang bersahut-sahutan membuat Luna menutup telinganya rapat-rapat. Ia tidak ingin melihat atau mendengar apa pun sekarang.

__ADS_1


Alex melihat itu, lalu timbul rasa jahil dalam dirinya. Ia ingin mengerjai Luna. Diraihnya kedua tangan cewek itu dengan sebelah tangannya, membuat telinga Luna terbebas dan bisa mendengar lagi. Sementara tangannya yang lain masih memegangi wajah Luna. "Buka mata, udah selesai..." ucapnya. Alex berbohong, sekarang justru sedang bagian klimaks.


Karena Luna tidak mendengarkan suara sama sekali, ia membuka mata. Surprise! Adegan yang membuat olahraga jantung yang ditemuinya. Saking kagetnya Luna sampai ia tidak bisa memekik atau berteriak sama sekali.


Plak!


Tamparan sampai di pipi Alex setelah Luna menepis tangan Alex kasar dan mendorongnya karena geram. Ia tidak mau melanjutkan menonton. Tahu begini, lebih baik dia tidak ikutan. Luna mengeluarkan ponselnya untuk memberikan cahaya agar ia bisa melangkah ke pintu keluar. Alex keterlaluan, menipunya dan memaksanya. Bukannya ia sudah bilang dari tadi kalau ia takut! Bagian mana yang kurang jelas?!


Teman-teman Luna tidak mengetahui apa yang terjadi antara Luna dan Alex. Mereka melanjutkan tatapan mereka ke layar, film sedang seru-serunya dan sebentar lagi selesai. Tidak peka.


Alex terdiam mengusap pipinya. Apa ia sudah keterlaluan? Dia senang melihat Luna yang ketakutan, seperti anak kucing kecil yang manis. Ia tak menyangka Luna akan benar-benar marah dan pergi.


"Luna!" Alex menggapai tangan Luna mencegahnya berjalan lebih jauh. Dia berhasil menemukan Luna di lorong bioskop yang sepi. Ditariknya Luna mendekat, lalu Alex mendapati Luna yang sudah berderai air mata.


Oh, ****! Beneran takut ternyata.


"Sorry," ucap Alex. Dia merendahkan badannya sedikit kemudian menengadahkan kepalanya, mencoba melihat wajah Luna lebih dekat. Alex lebih tinggi, jadi kalau ia tidak melakukan itu, yang bisa dilihatnya cuma ujung kepala Luna.


"Sorry, ya..." Alex berusaha meminta maaf lebih tulus.


"Elo kebangetan!" Luna menghapus air matanya kasar. Ia sudah berhenti menangis.


DUK!


Luna menendang kaki Alex dengan sangat keras, tapi Alex diam saja seolah tidak merasakan apapun.


"Enggak kerasa, Luna..."


Ucapan Alex membuat Luna semakin geram. Dia menendang laki-laki itu sekuatnya, berkali-kali. Entah terbuat dari apa kaki Alex, jangankan meringis bergerak saja tidak. Biasanya sekali saja menyerang, Tyo sudah mengaduh kesakitan. Jangan-jangan selama ini Tyo pura-pura? Atau memang dia saja yang terlalu lemah?


"Jangan begitu, nanti kaki kamu yang sakit." Lagi-lagi Alex membuat emosi Luna meninggi. "Tampar aja, yang sebelah sini belum." Alex mendekatkan wajahnya ke Luna, menunjuk pipi yang belum sempat ditampar cewek itu tadi.


PLAK!


Alex masih tidak merasakan apapun. Tapi orang-orang yang lewat mulai memperhatikan mereka.


Freak. Ceweknya sadis banget.

__ADS_1


Luna bisa mendengar gumaman yang membuatnya terpojok. Alex pasti juga bisa.


"BERISIK!" Teriakan Alex mengejutkan Luna. Beberapa orang ikut melonjak kaget, sebagian memutuskan pergi dengan cepat, sebagian lagi melangkah pelan menjauhi mereka.


"Enggak usah dengerin mereka, elo boleh tampar gue lagi..."


Kebimbangan mendatangi Luna. Ia tidak ingin dibilang cewek bar-bar. "Sudahlah, enggak apa-apa..." ucapnya.


"Yakin?" tanya Alex.


"Iya," jawab Luna. "Tapi lain kali, elo harus bisa bedain, mana yang bercanda, mana yang keterlaluan..."


"Sorry, Luna cantik..." ucap Alex. "Enggak cuma cantik di luar, ternyata hati elo cantik juga..."


Luna memutar matanya. "Elo gombalin gue?" tanyanya. Ia merasa geli digoda Alex.


"Gue beneran, loh..." Alex meraih tangan Luna dan mengecupnya. "Elo cantik--


BUAK!


Luna tidak tau apa yang terjadi. Semuanya berlangsung begitu cepat dan sekarang ia bisa melihat Alex yang sudah tersungkur di lantai.


"Elo enggak apa-apa?" Luna yang panik segera membantu Alex berdiri. Dia berjongkok mendekati cowok itu.


"JANGAN-DEKATI-LUNA." El menarik Luna menjauh, Luna sampai sempoyongan karena belum siap berdiri.


"Kak..." Luna tidak percaya El langsung menyerang Alex begitu saja tanpa bertanya atau mengetahui duduk permasalahannya terlebih dahulu.


"Luna sayang, kakak sudah bilang kamu harus jaga jarak aman."


Luna menggigit bibir bawahnya setelah mendengar ucapan El. El benar, ia sudah memperingati Luna. "Tapi, Alex kan cuma teman aku, kak..." Ia berusaha menjelaskan.


"Kita enggak ada hubungan apa-apa. Cuma teman, enggak lebih..." Luna menggoyangkan lengan El, mencoba membujuknya.


"Coba tanya sama dia, apa dia cuma anggap kamu teman?"


Luna menatap Alex yang sudah bangkit berdiri. "Lex, kita cuma teman, kan?" tanya Luna.

__ADS_1


Alex tidak langsung menjawab, ia malah tersenyum sinis. "Sayangnya dia benar. Gue suka sama elo, Luna cantik..."


Bersambung


__ADS_2