
Saat pulang sekolah, El menjemput Luna lagi. Terlepas dari perkataan Monika, Luna memang suka dijemput El. Apakah dia salah kalau dia suka diantar dengan mobil dan ditraktir makan? Sama orang ganteng lagi!
"Lun, mau balik?" Alex mencegatnya dekat tempat parkir.
"Iya. Gue udah dijemput." Luna menunjuk mobil El.
"Oh. Engga mau balik bareng gue aja?" Alex tersenyum.
Kalau senyumnya normal gini, gue baru ngerasa dia ganteng.
"Engga."
"Yah, padahal gue bisa kasih elo servis lebih loh, daripada om-om itu."
Luna mendecak kesal. "Katanya elo mau balikin otak elo? Masih mau jadi temen gue ga? Ngomong elo benerin dulu!" Luna menjitak kepala Alex.
"Gue boleh jadi temen elo?" Alex tersenyum senang.
Luna mengangguk. "Asal elo ga norak dan malu-maluin. Dan mulut elo, dipasangin filter bisa ga?" Luna menunjuk bibir Alex yang tak bosan-bosannya melengkung indah.
"Oke sayang. Minta kiss-bye dulu dong..."
"Gue tonjok ya."
"Silahkan tuan putri." Alex memejamkan mata dan memajukan wajahnya.
Luna meletakkan telunjuknya di dahi Alex dan mendorongnya dalam sekali sentakan.
Alex yang terdorong, oleng sejenak dan membuka matanya, lagi-lagi tertawa.
"Luna, ayo pulang." Luna dikejutkan dengan suara dari belakang.
"Kak El?"
Sudah lama sejak El menunjukkan dirinya. Biasanya dia hanya menunggu Luna di dalam mobil. Tapi saat ini, dia merasa perlu turun keluar. Dia tidak suka melihat cowok ini dekat dengan Luna. Firasat.
Luna menyalami tangan El. "Maaf kakak nungguin ya?"
El membalas senyum Luna. Alex gerah melihatnya.
"Yuk." El mengajak Luna pergi.
"Bye Lex," Luna melambai pada Alex, setelahnya Luna memegang ujung lengan kemeja El dengan dua jari dan menariknya pergi.
Alex cuma bisa menatapnya kesal. "Pantes dia ga pernah ngelirik gue."
***
"Luna."
"Iya kak?"
"Hari Minggu ini kamu ada kegiatan? Sibuk ga?"
"Aku mana sibuk? Hehe... Kerjaan aku kan cuma sekolah aja."
__ADS_1
"Pergi sama kakak ya, kakak jemput pagi."
"Mau kemana gitu, kak?"
"Mami mau ketemu."
Luna langsung terlonjak. "Ma-ma-mami?" Luna memainkan jarinya seperti biasanya. "Kenapa?"
El menggenggam tangan Luna, menenangkannya. "Engga kenapa-kenapa." El mengalihkan tangannya, mengetukkan jari-jarinya ke setir, tampak menimbang sejenak. Ia kemudian melanjutkan ucapannya. "Kayaknya mau ngajak kamu jalan-jalan."
Luna semakin kaget, "kenapa?"
"Hmmm... Entah." El tersentak sejenak, baru saja mengingat sesuatu. "Luna, tolong ambil kotak di jok belakang."
Luna memutar tubuhnya ke belakang dan memanjangkan tangannya, meraih sebuah kotak.
"Buka," ucap El setelah melihat Luna kembali duduk dengan kotak di tangannya.
"Sepatu?"
"Iya, buat kamu. Coba pakai..."
Luna melepas sepatu yang dia pakai kemudian menggantinya.
"Muat ga?" El mencoba melirik ke kaki Luna, tidak terlihat jelas.
"Muat, kak. Ini buat aku?"
Ah, sogokan ternyata...
"Besok kamu pakai ya. Sepatu yang kemarin kakak belikan ga usah dipakai lagi. Tinggalin aja di mobil."
Luna memegangi sepatunya sayang, "Kenapa?? Aku suka sepatu dari kakak."
"Nanti kamu ga mau pakai sepatu dari mami, kalau pakai sepatu dari kakak terus." El menoel pipi Luna yang menggelembung karena dia cemberut. "Lagian sepatu dari mami lebih bagus."
Luna berpikir sejenak. "Ya udah, aku pakai sepatu kakak pas ada pelajaran olahraga." Luna akhirnya menyerah sambil manyun. Sungguh, dia lebih suka sepatu dari El. Tentu saja lebih suka karena El yang membelikannya.
"Gitu dong," El mengacak rambut Luna sebentar, kemudian dia membelokkan mobilnya. "Eh, Luna. Boleh mampir sebentar ya? Tadi sebenarnya kakak dapat telepon harus ke kantor lagi. Gapapa ya?"
Tanpa Luna sadari, mereka sudah ada di depan loby kantor.
"Luna ikut aja yuk ke atas." El membuka pintu mobil dan turun. Luna menyusulnya.
"Sore, Pak." Satpam di pintu masuk menyapa El sopan sambil menadahkan tangan meminta kunci mobil untuk memarkirkan mobil El.
"Makasih." El memberikan kuncinya kemudian menoleh ke Luna. "Yuk, Lun."
Luna mengekor El masuk ke dalam lift kemudian mereka sampai di lantai delapan. Semua orang menyapa El sopan tapi tidak menyadari kehadiran Luna sama sekali.
Di depan ruangannya, El membukakan pintu untuk Luna lalu memberikan jalan agar Luna masuk duluan. Reza yang melihat El sudah datang langsung bersiap menghampiri El.
"Luna, duduk disini dulu, ya."
__ADS_1
El mendudukkan Luna di tempat yang sama saat dulu dia dan El bertemu. Saat dia menabrak El dan malahan menangis. Kalau diingat lagi, itu sungguh membuatnya tak habis pikir, kenapa dulu dia tidak malu ya? Padahal mereka baru pertama kali bertemu.
Tapi sekarang keadaannya malah sulit dipercaya. Tidak pernah terbayangkan malah kalau mereka akan menjadi sedekat ini. Bahkan dalam mimpi pun tidak pernah. Untuk Luna, sebuah anugrah bisa bertemu dengan orang sebaik dan seganteng El, jangan lupakan kalau El juga sangat kaya. Tapi, Luna penasaran dengan perasaan El. Apakah El juga merasakan hal yang sama? Merasa bahwa dirinya adalah sebuah keberuntungan?
"Luna?" El menggoyangkan bahu Luna, membawa kembali kesadaran Luna.
Luna yang baru menyadari bahwa wajah El sudah ada di depannya langsung teringat lagi kejadian first kiss nya. Terlalu dekat.
"Luna? Kamu gapapa? Telinga kamu merah? Kamu sakit?"
"Hatchi!" Luna malah bersin saat ia mau menjawab tidak apa-apa.
"Ma-ma-maaf kak!" Luna bersin tepat di muka El. Panik, Luna langsung mencoba membersihkan wajah El. "Aduh,,, aku ga sengaja, maaf..."
"Gapapa Luna," El menghentikan tangan Luna yang sedang membersihkan pipinya, membuat mereka saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat.
Luna menatap El dari dekat. Sangat tampan. Kulitnya yang putih bersih tanpa jerawat atau noda sedikitpun, hidungnya mancung dengan ujung bulat dan bibirnya bahkan berwarna pink alami. Tuhan sangat dermawan saat menciptakan El.
"Pak, saya mau----
Pintu ruangan terbuka seketika, dan El serta Luna langsung menoleh.
---mau keluar lagi. Ahhahahahaha.. Maaf mengganggu." Reza langsung menutup pintu lagi.
"Hatchi! Hatchi!" Luna bersin lagi, tapi kali ini dia menutup mulutnya. "Maaf, kak."
"Kamu pasti ga kuat dingin ya?" El melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Luna, memastikan Luna merasa hangat. "Maaf ya, setelan AC nya dari center, jadi semuanya sama, ga bisa dirubah."
"Ga apa, kak." Luna mengelap hidungnya yang berair.
"Tunggu bentar ya, kakak selesaikan pekerjaan dulu." El kemudian keluar ruangan dan memanggil Reza untuk masuk.
Reza masuk sambil membawa setumpuk dokumen. "Maaf Pak, tadi saya ga bermaksud melihat--
"Ehm!" El berdeham memberi tanda agar Reza menutup mulutnya.
"Maaf Pak," Reza segera meletakkan dokumennya di meja El, dan El langsung duduk, membuka dokumen itu dan memeriksanya.
Luna memperhatikan El dari tempatnya kemudian menggumam "Keren!"
Bersambung...
EPILOG
"Ta-da!" Luna menunjukkan sepatu barunya. "Liat sepatu gue..."
"Wah, sepatu baru nih." Jessika baru akan menginjak sepatu Luna ketika Reina berteriak.
"Tunggu! Jangan injak, gue pernah liat sepatu ini." Reina mengecek ponselnya cepat. "Coba buka sepatu elo, Lun."
"Kenapa?" Luna bertanya heran.
"Elo pasti dapet sepatu ini dari si om kan?" Luna mengangguk. " Lihat nih, harganya...."
Luna langsung menganga tak percaya. "Ini baru gue pakai sebentar, bisa gue jual lagi ga ya? Gue mau tuker sama motor aja."
__ADS_1