
"Kenapa?" El tidak senang melihat Luna melangkah mundur dan menjauhinya.
"Eh, emm..." Luna bingung harus menjawab apa.
"Kenapa menjauh?" El maju selangkah, Luna mundur selangkah.
"Kenapa?" El maju selangkah lagi, tapi Luna mundur dua langkah.
"Aku janji sama Arga ga akan dipeluk siapapun lagi."
What the hell?! Arga, bisa-bisanya elo membuat gue tersiksa!
El mengepalkan tangannya erat. "Ya sudah, kalau begitu kamu yang peluk kakak, sini."
Luna hanya menatap tangan El yang sudah siap menyambutnya. "Kenapa? Kenapa harus peluk kakak?"
Arghhhh!
El akhirnya duduk dengan kesal, kemudian Luna menyusul duduk di sebelahnya dengan jarak.
"Maaf kak." Luna tidak berani menatap El. Sedangkan El hanya diam saja memperhatikan TV yang menyala di depannya.
Untungnya setelah beberapa lama tenggelam dalam kesunyian, mami muncul dengan dress warna nude dengan brokat di bagian atasnya. Sangat cantik dan elegan. Tangannya memegang clutch dengan warna yang sama.
"Kenapa? Kenapa kalian diem-dieman?" Mami aneh melihat suasana yang muram. Luna tampak mengalihkannya matanya ke arah mana saja asal bukan ke El. Sedangkan El tampak tidak merespon apapun.
"Fine!" Mami menarik tangan Luna berdiri. "Ayo kita pergi saja, Luna!"
"Tapi, kak El," Luna akhirnya memandang ke arah El sekilas. El nampak tidak perduli.
Mami berbisik pelan, "biarkan saja, nanti juga dia menyusul." Setelahnya, mami menyeret Luna keluar. Mereka menaiki mobil berwarna merah milik mami. Pak Ahmad yang menyetir.
"Pak, ke butik ya." Mami memberi tahukan tempat tujuannya, dan Pak Ahmad mengangguk lalu sibuk dengan tugasnya.
"El kenapa?" Mami masih menggenggam tangan Luna di pangkuannya. Hangat.
Luna yang tidak siap dengan pertanyaan mami, mulai kebingungan. "Emmm..."
Mami menunggu jawaban Luna. "Gak apa-apa, kamu bilang aja. Mami ga akan marah." Mami mengelus kepala Luna kemudian menatap Luna sambil tersenyum. Luna mulai berharap seandainya orang di depannya ini adalah ibunya, pasti dia akan senang sekali bisa disayang seperti sekarang.
"Aku... aku..." Luna memainkan jarinya cemas. Dia masih bingung harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
"Iya, kenapa Luna?" Mami masih menatapnya, menunggu jawaban.
"Aku yang salah, Mi. Maaf." Luna menundukkan kepalanya.
"Kamu bahkan belum bilang ada apa, kenapa tiba-tiba kamu yang mengaku salah?"
Ucapan mami sontak membuat Luna terharu. Biasanya selalu Luna yang disalahkan. Bahkan sebelum dia mengatakan apapun. Penjelasan menjadi percuma saat harus berhadapan dengan Bunda. Tapi, mami El mendengarkannya, memberikan kesempatan. Satu hal yang belum pernah Luna dapatkan dari ibunya sendiri.
Luna memeluk mami sambil menangis. Biarkan saja kalau dia dianggap cengeng, dia tidak perduli. Saat ini dia cuma merasa sangat senang dan terharu dengan perlakuan mami padanya. Mungkin begini rasanya disayangi oleh orang tua.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" mami mengelus kepala Luna lembut. "Kamu kenapa nangis? El jahat sama kamu?"
Luna cuma bisa menggeleng sambil terus terisak. Dia ingin seperti ini, sebentar lagi saja. Merasakan disayangi. Apa boleh?
***
Luna turun dari mobil dengan mata sembab. Dan di hadapannya, ternyata sudah ada El yang menunggunya.
"Kamu kenapa menangis?" El menghampiri Luna, sedikit menundukkan kepalanya, menatap Luna lebih dekat.
"Bukannya gara-gara kamu?" Mami tadi sempat mengirimkan pesan pada El kalau Luna menangis. Dalam sekejap mata El sudah menyusul mereka dan bahkan tiba lebih dulu.
"Mami masuk duluan, ya." Mami masuk ke dalam butik meninggalkan El dan Luna.
"Maaf ya, kakak ga akan peluk kamu kalau kamu ga mau..." El menghapus sisa air mata di ujung mata Luna. Kemudian mengelus pelan pipi Luna yang basah.
"Ga apa kak," Luna menjawab dengan suara parau.
Bukan karena kakak.
El mengelus kepala Luna kemudian menggenggam tangan Luna erat. "Masuk yuk, kita duduk di dalam."
Luna mengangguk pelan dan mengikuti El. El mendudukkan Luna di sofa, kemudian meminta air kepada pegawai butik.
Setelah meminum air, Luna menjadi lebih tenang. Dan dia mulai menyadari keadaan sekitarnya.
Butik mewah dengan ruangan yang sangat besar. Di tengahnya terdapat tiga buah sofa berwarna nude, satu sofa berukuran besar, satu berukuran sedang, dan satu berukuran lebih kecil. Untuk setiap sofa, ada sebuah meja kaca dengan kaki-kaki berwarna hitam pekat. Sedangkan dindingnya terlapisi cermin sehingga memberikan kesan ruangan yang lebih luas. Di depan cermin yang melapisi dinding, ada rak yang terbuat dari kaca dengan lis untuk menggantung baju. Beberapa baju tampak tergantung rapi di sana.
Luna mengangguk, membiarkan isakannya reda beberapa saat kemudian.
"Luna, coba baju-baju ini," mami datang dengan pegawai butik berseragam hitam yang membawa lima buah dress di tangannya.
Luna mengusap matanya yang berair sebentar, lalu berdiri. Dia mengikuti mami berjalan ke ruang ganti.
El berdiri menghentikan mami. "Mami, jangan yang terlalu terbuka." El mengambil dress dengan belahan dada rendah. "Jangan yang panjang, nanti Luna jatuh. Dia gampang tersandung." El mengeliminasi satu gaun lagi, dan tersisa tiga gaun sekarang.
"Yang ini bisa?" Mami menunjuk tiga gaun tersisa. El mengangguk.
"Nah, coba baju-baju ini Luna." Mami memberikan ketiga baju tersebut dan mendorong Luna masuk ke ruang ganti.
Luna mencoba gaun pertama. Gaun selutut bermodel kemben berwarna navy yang dilapisi dengan Lace. Lace nya memiliki motif etnik berwarna perak di bagian atas menutupi bahu membentuk lengan sampai ke bagian perut, serta bagian bawah gaun. Bagian bawah gaun tampak sedikit mengembang, menciptakan sedikit efek rumbaian. Secara keseluruhan, gaun ini menampakkan sisi dewasa dan elegan pemakainya.
Luna mencoba gaun kedua. Dress lengan panjang berwarna hitam beludru dengan model Sabrina. Model sabrinanya menggunakan furing transparan dengan beberapa mutiara berwarna hitam bertabur di atasnya. Di bagian kerahnya dengan beludru lagi, memberikan kesan seperti choker necklace. Sementara itu, di ujung tangan ada hiasan pita yang membuat baju itu terlihat semakin manis.
Tersisa gaun terakhir, gaun berwarna merah maroon. Gaun ini berlengan pendek dengan brokat bermotif bunga. Bagian dadanya berbentuk seperti kebaya dan bagian lengannya transparan hanya brokat tanpa lapisan. Gaun yang indah yang menunjukkan sisi dewasa.
Setelah Luna mencoba semuanya, mami mulai berkomentar. "Mami suka yang pertama, yang warnanya biru."
"El lebih suka yang warnanya hitam mi." Dia lebih suka karena itu lebih tertutup.
"Kamu suka karena warnanya hitam kan?" Mami meledek El. "Coba warna lain dong, hitam terus, mami bosan melihatnya."
__ADS_1
"Tapi El ga bosan, mi."
Mami membiarkan El yang kesal. Dia beralih ke Luna. "Kalau Luna, suka yang mana?"
Terkejut sebentar, Luna memandang mami ragu. "Emmm.. Aku suka yang warna putih." Luna menunjuk gaun berwarna putih yang ada di pojok ruangan.
Gaun berwarna putih bersih diatas lutut bermodel camisol dengan lapisan Lace yang dibuat ruffle bertumpuk tiga di bagian bawahnya. Bagian belakang gaun itu lebih panjang dari bagian depannya, memberikan kesan seolah memiliki ekor.
Luna selalu menyukai baju berwarna monokrom. Tapi dia suka sekali dengan baju yang ada di hadapannya sekarang.
"Coba aja." El memberikan gaun itu kepada Luna.
"Boleh?"
"Tentu saja boleh, Luna."
Luna tersenyum senang kemudian menerima baju itu. Dia langsung melangkah menuju ruang ganti.
El takjub melihat Luna saat keluar ruang ganti. Wajahnya yang polos sangat cocok dengan baju itu, membuatnya ingin menafkahi gadis di depannya. Yang benar saja!
El menahan senyum menyadari apa yang muncul di benaknya.
"Baiklah. El, ambil tiga-tiganya." Mami mendorong Luna ke ruang ganti lagi. "Ganti dulu baju kamu, Luna. Kita mau ke toko sepatu."
El membayar ketiga baju yang dipilih oleh mami, Luna, dan juga dirinya. Luna melotot melihat harga baju itu menunjukkan delapan digit angka. Tapi belum sempat dia berkomentar, mami sudah menariknya pergi.
"Mami duduk di depan, dong. El mau sama Luna."
"Kamu kan tadi bawa mobil sendiri. Sana, naik mobil kamu."
El mendengus kesal kemudian duduk di kursi sebelah kemudi.
Setelah beberapa saat, mereka tiba di toko sepatu yang tak kalah mewah dari toko sebelumnya. Sepatu-sepatu disusun rapi dalam rak kaca yang menempel di sepanjang dinding. Di tengah ruangan terdapat sofa yang sangat besar. Luna duduk di sofa pink dengan sebuah cermin di depannya. Sementara mami dan El sibuk memilihkan sepatu untuk Luna.
"Coba ini, Luna." Mami memberikan sepasang sepatu ankle strap berhak tinggi berwarna perak.
Luna mencobanya, dan kemudian berdecak kagum saat melihat hasilnya. "Bagus sekali."
Tak lama, El datang membawa sepasang peep toe berwarna putih yang gemerlap. "Coba yang ini, pasti cocok sama baju yang kamu suka tadi."
Luna mencobanya, dan pas sekali untuk kakinya.
Terakhir, El membawakan boots warna hitam. "Kakak suka sepatu yang ini." Luna mengambilnya dan mencobanya. Dia merasa aneh karena belum pernah memakai sepatu boots dengan hak sebelumnya. Tapi tampaknya El menyukainya.
Lagi-lagi El membeli semua sepatunya dan harganya tak jauh berbeda dengan gaun tadi.
Di luar toko sepatu, El menarik Luna ke sisinya. "Udah selesai kan, mi? Gantian, El mau jalan sama Luna."
Mami mendecak kesal. "Iya... Pergi sana. Jangan pulang malam."
Bersambung...
__ADS_1