Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 4


__ADS_3

Chapter 4: Keluarga


"Memaafkan mudah, tapi melupakan,,, tidak akan pernah."


-Luna-


Terbiasa bangun pagi, Luna yang tidak tau harus melakukan apa akhirnya mencoba membangunkan Jessika. Tapi sayang sekali, Jessika tidur sangat nyenyak, mengalahkan kerbau. Menyerah dengan usahanya selama lima menit terakhir, Luna memutuskan untuk mandi dan berpakaian. Semalam dia sudah merapikan peralatan sekolahnya. Dia sempat bingung karena dia tidak membawa satu pun buku sekolah dan alat tulis dari rumahnya. Tapi Jessika bilang Minggu ini hanya berlatih soal dan simulasi ujian saja.


Setelah setengah jam Luna selesai. Dia menuju ke lantai bawah dan menyiapkan sarapan. Dia sempat ragu karena rasanya tidak sopan menggunakan dapur orang lain. Dia mau membangunkan mama Jessika, tapi itu juga tidak terasa benar.


Di tengah kegalauannya, Luna mendengar suara pintu yang terbuka. Itu mama Jessika.


Dia terkejut sebentar melihat Luna yang sudah rapi dengan seragamnya. "Eh, Luna sudah siap?"


Luna mengangguk sopan. "Iya, Bu," ucapnya.


Mama Jessika mengangguk pelan.


Luna akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya, "Boleh saya buat sarapan?"


"Tentu saja!" Mama Jessika tiba-tiba bersemangat. "Apa kamu bisa memasak?"


Luna mengangguk membalas senyumnya. "Bisa!"


"Hebat sekali! Kalau Jessika, saya bahkan tidak yakin apa dia bisa menyalakan kompor atau tidak." Mama Jessika menggeleng. "Dia selalu membeli makanan jadi. Boros sekali."


Luna hanya tersenyum mendengar pernyataan mama Jessika. Dia menyiapkan bahan makanan yang akan dimasak dan mulai mengolahnya.


"Bisa kamu ajarkan Jessika sesekali?" tanya mama Jessika yang sudah ada di depan Luna, memperhatikannya memasak dengan tatapan takjub.


Maaf Bu, saya ga akan sanggup. Saya kasihan dengan telinga saya.


"Ya, Bu." Luna tentu saja tidak akan menyuarakan benaknya.


"Janji ya? Nanti malam saya pulang cepat. Saya mau coba masakan Jessika."


Say what?! Nanti malam?? Yang benar saja! Gue lebih pilih ngajar balita masak daripada Jessika.


"O-o-oh i-i-i-iya..." ucap Luna dengan terpaksa.


Setelah selesai memasak, Luna membangunkan Jessika dan menyuruhnya bersiap. Dia kemudian kembali ke dapur menyiapkan makanan dan duduk manis di meja makan. Tak lama Jessika dan mamanya bergabung dengan Luna. Mereka menikmati sarapan pagi itu. Dan mama Jessika tak henti-hentinya memuji masakan Luna. Jessika pura-pura tidak mendengar.


Setelah makan, Luna mengalami dilema saat akan berangkat sekolah. Dia melupakan kenyataan bahwa setiap pagi Jessika akan dijemput Tyo untuk berangkat sekolah bersama-sama. Bagaimana bisa dia tidak membahas tentang hal ini padahal semalaman dia mengobrol dengan Jessika.


"Gimana Lun? Kita mau naik angkot aja?" Tanya Jessika pada Luna yang masih mengotak-atik ponsel barunya. Tyo sudah parkir di depan rumah Jessika.


"Ga usah, udah ga keburu. Elo bareng Tyo aja, gue udah pesen ojol, nih." Luna menunjukkan aplikasi ojek online di ponselnya.


Jessika mengangguk.


"Tapi nanti pulangnya bareng gue ya!" Luna mengingatkan Jessika akan rencana mereka nanti sore.

__ADS_1


"Iya!!!" Jessika berteriak sambil melambaikan tangan di atas motor yang mulai berjalan.


Di sekolah, Jessika yang tiba lebih dulu menyambut Luna di depan pintu kelas bersama Reina dan Tiara.


"Cieee... Yang udah punya pacar..." Reina dan Tiara langsung menggoda Luna saat Luna sampai di depan pintu kelas.


"Ssssttt!!" Luna meletakkan jari telunjuknya di atas bibir. "Berisik kalian!" Dia buru-buru berjalan ke kursinya dan duduk di sana.


"Traktir kita-kita dong..." ucap Tiara sambil menoleh ke kiri kanan meminta persetujuan Jessika dan Reina.


"Hemmm... Iya nanti, gue traktir baso di kantin." Ucap Luna pasrah.


"Kok bakso doang?" protes Tiara. "Kan si om ka--


Luna langsung membekap mulut Tiara. "Sut, sut! Jangan ember." Luna memperingatkan sambil melotot ke Tiara.


Tiara menjauhkan tangan Luna. "Iya, sorry..." ucapnya.


"Sorry ya, gue lagi ga punya duit banyak," kata Luna dengan muka memelas.


"Elah, elo kayak sama siapa aja."


***


Saat istirahat, Luna menepati janjinya dan mentraktir Jessika, Reina dan Tiara. Dan saat Tyo datang, dia juga mentraktirnya.


Mereka makan sambil bercanda sesekali sampai Arga datang.


Luna menoleh dan hatinya trenyuh sedikit saat melihat adiknya itu.


"Aku mau bicara sama kakak sebentar..." Arga menatap teman-teman Luna seolah menginginkan privasi berdua dengan kakaknya itu.


Merasa lebih baik kalau dia yang pergi daripada 4 temannya, Luna tersenyum sebentar kemudian berucap tenang "sebentar, kakak habisin makanan dulu."


Arga mengangguk dan duduk di sebelah Luna. Keadaan langsung menjadi hening setelah Arga datang. Reina sebentar-sebentar melirik ke arah Arga, yang dia sendiri tidak tau kenapa dia melakukan itu!


"Yuk," Luna mengajak Arga berdiri dan meninggalkan teman-temannya. "Mau bicara dimana?"


Arga membimbing Luna ke ruang OSIS. Sesampainya di sana, dia meminta ijin pada pengurus untuk menggunakan ruangan itu. Mereka pun mengijinkan dan meninggalkan ruangan dengan segera.


CKLEK!


Luna mulai was-was karena Arga tiba-tiba mengunci pintu. Haruskah?


Mencoba mempercayai adiknya, Luna mendudukkan dirinya di kursi yang ada di ruangan. Arga duduk di sebelahnya.


"Kak, kakak harus banget pergi dari rumah?" Arga mulai menatap Luna dengan tatapan memelas.


"Ehm!" Luna berdeham mencoba mengusir rasa tak nyaman yang tiba-tiba muncul di tenggorokannya.


"Kakak gak bisa pulang aja ke rumah?" Arga sudah memotong bahkan saat Luna baru mau membuka mulutnya.

__ADS_1


"Enggak," Luna menjawab singkat.


"Tapi kita kan keluarga," ucap Arga sambil terus menatap Luna, mencoba meyakinkan kakaknya itu.


Luna menarik nafas dalam, sebanyak yang ia bisa. "Keluarga tidak akan mengusir keluarganya yang lain."


Setelah mengucapkan kalimat itu, suasana menjadi mencekam. Luna menatap Arga, mencoba mencari tau apa yang ada dalam pikiran adiknya itu. Tapi dia terlalu payah. Dia tidak bisa menebak sama sekali, ingin rasanya ia berguru pada El dan keluarganya.


Arga terlihat menunduk dan semakin murung, ia jadi tidak tega melihatnya. "Dek..." Luna mencoba meletakkan sebelah tangannya di pundak Arga.


"Kakak ga bisa maafin kita? Aku, Arka, Arsya bahkan Ayah mencari-cari kakak kemarin. Kita mau kakak kembali." Arga memandang Luna dengan kedua matanya yang sudah memerah. Luna merasa mungkin sebentar lagi adiknya ini akan menangis.


"Arga..." Luna mengelus punggung adiknya perlahan. "Kakak udah maafin kalian..." ucap Luna memaksakan senyumnya.


"Kalau begitu kakak mau kembali ke rumah?" tanya Arga.


Luna tersenyum lalu menggeleng pelan. "Maaf."


"Kakak udah gak menganggap kita keluarga lagi?!" Arga sudah bertanya penuh amarah.


Luna diam, dia sedang berpikir, berpikir keras, menyusun kata-kata dengan baik dan benar untuk meredam amarah Arga.


"Kaka--


"Ya sudah kalau kakak udah ga anggap kita keluarga lagi," ucap Arga.


Gue belum jawab woy.


"Aku bisa melakukan apapun. Kita bukan keluarga, dan kakak bukan kakakku lagi..."


Ucapan Arga membuat bulu kuduk Luna meremang. Dia bisa melihat kilatan amarah yang sudah mau meledak di kedua mata Arga. Luna mulai merasa gemetar, dia bergeser menjauhi Arga. Instingnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi.


Luna bangkit berdiri seketika. Hatinya mulai bergemuruh. Otaknya mengirimkan sinyal tanda bahaya. "Sudah selesai bicaranya kan, kakak mau pergi," ucap Luna.


Luna bergerak secepat yang ia bisa menuju ke pintu keluar.


BRUK!


Arga mendorong badan Luna dengan keras hingga ia terbentur pintu. Kepala Luna langsung terasa pusing karena benturan itu, dia mulai merasakan ada cairan hangat yang mengalir di dahinya.


Belum genap kesadaran Luna kembali, Arga membalikkan badan Luna dengan kasar. Kedua tangan Luna dicengkeram erat oleh Arga di atas kepalanya. Badan Arga menekan Luna dan kedua kaki Arga sudah mengurung pergerakan Luna. Dia terkunci di dalam tubuh adiknya.


Luna takut bukan main. Ini pertama kalinya ia melihat Arga seperti ini. Arga biasanya sangat baik padanya, ramah dan perhatian. Tapi sekarang, ia bahkan tidak bisa menggerakkan badannya sedikitpun. Kekuatan Arga benar-benar bukan tandingannya.


"Kita bukan keluarga..." Arga mengucap lirih sambil menatap Luna nanar. Perempuan cantik yang selalu disayanginya. Dia tidak rela kalau Luna menjadi milik orang lain sekarang. Entah kalau nanti, tapi tidak sekarang. Tidak sekarang.


"Arga, lepas!" Luna berteriak sambil meronta sekuat tenaga.


"Tidak akan..." Arga mencium bibir Luna paksa.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2