Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 37


__ADS_3

Chapter 37: Yang berlalu


"Masa lalu ada untuk diingat bukan dibenci." -El-


Bunda sedang sibuk memeriksa mesin cuci miliknya yang baru. Dia membelinya beberapa hari lalu dan sudah selesai dipasang sekarang. Semua tampak berfungsi dengan baik.


Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan di pintu. Dia berjalan pelan kesana. Dibukanya pintu itu sambil mengucapkan salam. Tapi ia sangat terkejut saat melihat sesosok pria di hadapannya. Orang yang kalau ia temui di dalam mimpi saja ia tidak sudi.


"Hai, Dewi. Apa kabarmu?" sapa seorang pria.


"Mau apa kau kesini?! Aku tidak mengenalmu." Ditutupnya cepat pintu itu, tapi sayangnya berhasil dicegah oleh seseorang yang terlihat seperti asisten sang pria.


"Aku hanya ingin bicara denganmu. Boleh aku masuk sebentar?" tanyanya sopan.


"Tidak!" Bunda menjawab ketus. "Jangan pernah berharap!"


"Kalau begitu aku akan berbicara di sini. Aku harap kau tidak menyesalinya." Ucapan sang pria membuat Bunda Dewi melepaskan gagang pintu, membiarkan mereka masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


Tersenyum sesaat, kedua tamu tak diundang itu membuat diri mereka sendiri nyaman di sana.


"Apa yang kau inginkan? Kita tidak saling mengenal. Bahkan tidak ada kata 'kita'." Dewi melipat tangannya di dada, menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak suka.


"Maafkan aku, Dedew..."


"Jangan panggil aku dengan nama itu, Niel. Sudah terlambat 18 tahun." Dewi melotot pada Daniel, memberikan pandangan jijik.


Daniel tersenyum senang. "Bahkan kau masih memanggilku 'Niel'. Katakan kenapa aku tidak boleh memanggilmu dengan panggilan sayang yang kuberikan untukmu."


"Karena kau sampah! Atau bahkan lebih buruk daripada itu! Mungkin kotoran..." Dewi mencibir lalu memalingkan mukanya ke arah lain. "Aku tidak mau mulutmu mengucapkan namaku. Penuh dengan dusta."


"Aku minta maaf. Aku memang b*jangan jahat. Tapi saat itu, kau tahu keadaanku." Suara Daniel berubah pelan, seolah tenggorokannya tercekat.


"Iya, aku tahu. Jadi sekarang pergilah. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Dewi hendak berdiri tapi Daniel menariknya hingga mereka duduk bersebelahan.


"Aku berusaha mencarimu selama ini. Aku sangat senang saat bertemu di pesta malam itu. Kau masih terlihat cantik, persis dengan yang ada dalam ingatanku." Daniel menatap Dewi penuh cinta.


"Simpan saja rayuanmu. Kucing di jalan bahkan tahu kalau kau berbohong. Mustahil tidak menemukan aku selama ini. Aku bahkan tidak bersembunyi."


Daniel tersenyum pilu. "Kau benar. Aku memang tidak benar-benar mencarimu. Aku pengecut."


"Bagus kalau kau sadar. Sekarang, pergilah!" Dewi menepis tangan Daniel yang masih menempel di pergelangan tangannya.


"Jangan begitu! Aku memberanikan diri datang kesini karena melihat anak itu. Bolehkah aku bertemu? Namanya Luna, kan?"


Pertanyaan Daniel membuat Dewi sangat murka. "KAU...!"

__ADS_1


"Dia pasti anakku. Kau tidak perlu berbohong. Wajahnya mirip dengan ibuku." Daniel menghela nafas sesaat. "Aku bersyukur karena kau tidak melenyapkannya. Bagaimanapun dia adalah bukti cinta kita."


Dewi kehabisan kata-kata.


"Bisakah kau dan dia kembali padaku? Kita bisa memulai lagi dari awal." Daniel benar-benar tak tahu malu saat mengatakan hal ini. Tapi dia tidak perduli. Dia sudah membuang rasa malunya sebelum memutuskan untuk datang ke rumah ini.


"Kemana istrimu???" Dewi memekik tak percaya. "Apa dia sudah mati makanya kau datang padaku?!"


"Kau benar, dia sudah meninggal," ucap Daniel.


Dewi tidak melihat kesedihan di mata pria itu. Dia mendesah lelah. Harusnya Daniel menunjukkan kesedihan walau cuma sedikit atau pura-pura sekali pun. Dia mulai muak.


"Tapi suamiku masih hidup! Dan aku tidak berniat meninggalkannya!" Didorongnya Daniel sehingga tubuhnya mundur ke belakang.


"Tapi kau tidak mencintainya. Aku bisa melihatnya." Daniel meraih tangan Dewi dalam genggamannya.


"Ha-ha! Aku juga sudah tidak mencintaimu!" Dewi melengos. Dia lelah dengan percakapan tak berujung ini. "Aku membencimu sampai mati."


"Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi..."


"Kau gila!" Dewi menyeret Daniel ke luar rumah. "Pergi! Jangan pernah datang lagi!"


***


Luna dan Alex sedang menunggu saat mereka tampil. Luna sangat tegang, sampai rasanya ingin meloncat-loncat dan berteriak seperti orang gila.


Luna melepaskan tangan Alex lalu balas mendorong wajah Alex dengan sebelah tangannya. "Aaaaaaaaaaaaaa...!" Luna berteriak tertahan.


"Berisik!" Alex melotot sebal. "Bayangin aja semua orang itu duit yang bisa ngomong."


Luna menarik nafas dalam, memejamkan matanya.


Duit... Duit... Duit yang bisa ngomong...


"Duit kertas atau duit koin?" tanya Luna.


"Emangnya itu penting?!" Alex sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menjitak kepala Luna. Cewek yang merupakan gabungan antara gemas dan menyebalkan.


"Buat gue penting!" Luna menjerit frustasi.


"Buat gue enggak. Terserah elo deh, bodo amat..." Alex menyerah dengan Luna. Dia mengabaikan bocah aneh yang sekarang sedang mengucap mantra pemanggil uang.


Setelah setengah jam menunggu, akhirnya mereka bisa naik ke panggung. Mereka sengaja menggunakan kostum yang sama. Celana jeans dan jaket kulit berwarna hitam.


"Tarik nafas, lakukan seperti latihan yang tadi." Alex memberikan petuah sesaat sebelum mulai. Luna mengangguk mantap.


Mereka duduk di tempat yang tersedia, Luna memandang sudut mencolok dengan beberapa orang yang berkerumun, siapa lagi kalau bukan suaminya yang dikelilingi para pengawal.

__ADS_1


Suasana hening, lampu mulai menyorot hanya Luna dan Alex. Pertunjukan sudah dimulai.


"Bayanganmu membutakan mataku..." Luna mengucapkan puisi bagiannya.


"Senyumanmu menghangatkan jiwaku..." Alex membalasnya.


Mereka saling bertatapan mesra. Penonton terhanyut, kecuali El. Dia ingin meratakan cafe ini dengan segera.


"Aku kira pangeran itu hanya ada di dalam dongeng..." ucap Luna sambil tersenyum pada Alex. El sudah ingin membalikkan meja di hadapannya saat ini.


"Ternyata aku menemukan putriku di sini..." Alex memainkan gitarnya dan mulai menyanyi.


"Akhirnya ku menemukanmu 🎵


saat hati ini mulai meragu 🎵"


"Akhirnya ku menemukanmu 🎵


saat raga ini ingin berlabuh 🎵"


"Ku berharap engkau lah🎵


jawaban sgala risau hatiku🎵"


"Dan biarkan diriku🎵


mencintaimu hingga ujung usiaku🎵"


Duet Luna dan Alex menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh Naff itu berhasil membuat riuh rendah sorakan penonton. Di akhir lagu, Alex meraih tangan Luna dan mengecupnya pelan, membuat kebanyakan dari mereka bersorak. Luna tersenyum lebar karena penampilannya sukses. Berpamitan, mereka turun dari panggung bersama.


Luna menghampiri El segera setelah itu, berlari pelan ke tempat El duduk. Jangan tanyakan tentang wajah El saat ini, sudah memerah menahan amarah.


Menyadari suasana hati El yang buruk, Luna memutuskan untuk pulang duluan setelah memberitahu Alex. Dia tidak ingin El meledak di sini.


Di mobil, El terdiam seribu bahasa. Luna sudah membujuknya, merayunya, bahkan mencium pipinya, namun tidak ada satu pun yang berhasil.


"Kakak, tidak perlu cemburu." Luna mulai bicara. "Setiap hari aku sama kakak, makan bareng, nonton TV bareng, tidur juga bareng. Apa itu belum cukup?" tanya Luna. Ia berusaha menggoyahkan hati El.


"Lagipula tadi kan cuma akting... Di atas panggung... Kalau kakak cemburu berarti aku bisa jadi artis, dong!" Luna berkelakar.


"Tidak lucu, Luna." El menjawab ketus.


"Maafkan aku suamiku..."


El menoleh seketika. "Barusan bilang apa?" tanyanya.


"Maafkan aku suamiku tersayang..." Luna mengusap pipi El. "Raga ini boleh tak di sisimu, tapi kamu, selalu di hatiku... "

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2