
Chapter 17: El juga bocah
"Aku tidak memaksa, hanya meminta dengan sedikit ancaman." -El-
Luna trauma karena digoda oleh El. Dia tidak mau masuk ke kamar lagi. Dia belajar di ruang TV sampai makan malam siap. Mereka makan bersama dengan papi yang baru saja pulang.
"Luna, selamat datang ya di keluarga Rahardja," ucap papi saat mereka selesai makan malam. "Kalau ada sesuatu, jangan ragu buat bilang ke El, papi, atau mami, atau kakak yang lain." Papi tersenyum pada Luna.
Luna membalas senyum papi, dia lalu membuka mulutnya ragu. "Boleh?" tanya Luna.
"Tentu saja boleh! Kamu perlu sesuatu?" tanya papi.
Luna mengangguk cepat.
"Katakan saja," ucap papi.
"Luna mau tidur sama mami," ucap Luna.
"Ohookkk!" mami tersedak seketika. Disusul oleh papi yang sudah terbatuk-batuk. Sedangkan El? Hanya terdiam menatap piring kosong di depannya.
"Ehm!" Papi berdeham, lalu mencoba memperbaiki keadaan. "Kalau Luna sama mami, papi sama siapa?" tanya papi.
"Sama kak El," jawab Luna yakin.
Saat mami dan papi masih terpana dengan jawaban Luna, El bangkit dan melangkah keluar dari ruang makan tanpa berkata sepatah kata pun.
Mami menggenggam tangan Luna. "Kamu harusnya jangan bicara seperti itu," ucap mami. "Sepertinya El marah."
Luna tertunduk lalu mengalihkan pandangannya ke segala arah, menghindari tatapan mami dan papi padanya. "Minta maaflah," sambung mami.
Luna mengangkat wajahnya lalu menatap mami dengan wajah memelas. Seolah mengerti, mami mengajak Luna berdiri. "Ayo, mami temenin," ajaknya.
"El," panggilan mami menghentikan El yang hendak menaiki tangga. El berbalik melihat mami dan Luna yang bersembunyi di belakang maminya.
"Luna mau bicara sama kamu," ucap mami.
"Bilang sama Luna, kalau mau bicara El tunggu di kamar." El berbalik lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Sekarang mami menatap Luna, seakan memintanya untuk menyusul El. Luna diam sejenak kemudian memutuskan hal yang sebaliknya. "Luna, mau belajar dulu," ucapnya.
Mami menyerah, dia memilih menonton TV lagi. Papi datang dan menemaninya, menghabiskan quality time bersama. Sesekali mami melirik Luna yang ternyata memang benar-benar serius belajar.
__ADS_1
"Kenapa kamu ga ke kamar Luna?" El tiba-tiba muncul di ruang TV, mengagetkan mami dan Luna.
El sudah menunggu lama, dan sekarang sudah jam 10 malam. Karena Luna belum juga menunjukkan batang hidungnya, El menjadi sangat kesal dan menyusulnya.
"Ayo," ucap El seraya menarik tangan Luna, tapi Luna tidak beranjak dari duduknya.
Luna menunduk tak berani menatap El. "Aku... masih belajar, kak...." ucapnya pelan.
El mengacak buku-buku Luna emosi. Tadi sore dia hanya iseng menggoda Luna, tapi sekarang Luna malah menjauhinya dan itu membuatnya marah. Percuma ia menyelesaikan pekerjaan lebih cepat kalau ternyata dia tetap saja tidak bisa bersama Luna.
Dasar bocah. Mami membatin pelan dalam hati. Ia kemudian mematikan TV dan berdiri.
"Sudah malam, Luna. Kembalilah ke kamarmu dan lanjutkan disana. Mami sama papi juga mau tidur," ucap mami kemudian menyeret suaminya pergi.
El tersenyum puas. "Cepat rapikan bukumu. Kakak tunggu di kamar. Kalau 5 menit lagi kamu ga masuk, ga usah bicara lagi sama kakak," ancam El lalu menghilang di ujung tangga.
Luna yang masih di ruang TV menggigit bibir bawahnya bingung. Dia takut untuk kembali ke kamar, tapi dia juga takut kalau tidak kembali. Mana yang lebih baik?
Luna terduduk lemas di sisi sofa, meletakkan kepalanya di meja yang dingin itu.
Masuk atau tidak?
El melirik jam di dinding kamarnya. Jam 12 malam dan Luna belum juga datang. Sebenarnya apa yang dilakukannya?! Mana mungkin Luna setakut itu, kan?
***
Luna membuka matanya karena bunyi alarm ponselnya yang menggema nyaring. Dia mendapati dirinya sudah tertidur di atas kasur. Luna melihat sekeliling dan menyadari bahwa itu adalah kamar El. Ia turun dari tempat tidur dan tidak melihat El dimanapun. Apakah El yang membawanya ke kamar?
Luna meraih ponselnya dan mematikan alarm, mendapati bahwa dirinya sudah terlambat. Dia buru-buru ke kamar mandi untuk mandi dan berpakaian. Setelahnya ia secepat kilat merapikan peralatan sekolahnya dan berlari ke lantai bawah.
"Nona Luna mau kemana??" Teriak Pak Ahmad saat Luna berlari di halaman.
"Sekolah!" Luna balas berteriak, dia sudah membuka pintu gerbang rumah El dan langsung naik ojek yang dipesannya.
Di sekolah Luna menghabiskan waktunya bersama teman-temannya yang meledeknya sampai telinganya gatal. Teman-temannya hanya tau kalau ia bertunangan dan belum menikah, dan sebelumnya El juga sudah berpesan agar Luna tidak mengatakan hal itu pada siapapun.
Luna berhasil mengerjakan soal dengan baik karena ia banyak belajar semalam, tapi sekarang ia bingung karena sudah waktunya pulang.
✉️ Lun, ke studio bareng. Gue otw kelas elo.
Pesan dari Alex.
__ADS_1
Iya, gue tunggu.
Luna terus-menerus menghela nafas sepanjang perjalanan sampai mereka ada di dalam studio.
"Kenapa elo? Kucel begitu? Enggak punya duit?" tanya Alex. Dia sedang memilihkan lagu selanjutnya untuk Luna.
"Kenapa? Elo mau ngasih gue duit?" tanya Luna. "Sini buruan, jangan PHP." Luna menadahkan tangannya.
Alex menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan. "Nih, buat lagu yang kemarin. Gue bayar sesuai view. Nanti kalau nambah gue kasih lagi," ucap Alex.
"Makasih," jawab Luna.
"Elo kagak seneng gue kasih duit? Balikin lah kalau gitu!" Alex kesal melihat wajah Luna yang melempem seperti kerupuk lama.
Luna menatap Alex. "Lex, kalau pacar elo marah, elo ngapain?" tanya Luna.
"Elo lagi marahan?" tanya Alex. "Masih pacar aja udah ribet. Cari aja cowok lain, kalau enggak ada yang mau, sama gue aja."
Luna memicingkan matanya tak percaya. "Jangan bercanda. Gue serius nanya," jawab Luna.
Gue kagak bercanda. Gue serius banget. Kalau enggak serius ngapain juga gue bantuin elo.
Alex mendecak kesal. "Gak tau gue! Elo cari aja di google," jawabnya asal.
"Elo sama sekali ga membantu! Gue mau balik aja," ucap Luna. Ia sudah akan pergi saat Alex menahannya.
"Kasih sesuatu," ucap Alex. "Kasih apa yang dia suka," lanjutnya.
Yang kak El suka adalah..... ah, gue ga tau.
"Kalau elo, bakal kasih apa?" Luna balik bertanya.
"Hmmmm..." Alex berpikir sejenak. "Gue nyanyiin aja biar gampang." Sebenarnya Alex hanya beralasan agar Luna mau latihan. "Nih, lagu yang ini bagus."
Luna meraih ponsel yang diberikan Alex, dan mulai memutarnya. "Kalau elo nyanyiin buat pacar elo itu, pasti dia langsung maafin," bujuk Alex.
"Bener?" tanya Luna.
"Iye." Alex memberikan gitar ke Luna. "Udah cepetan gue ajarin sekarang, besok elo harus udah hapal. Semakin cepat elo bisa, semakin cepat elo bisa baikan sama cowok elo itu."
Luna mengambil gitarnya dan mulai mengikuti arahan Alex. Ia selesai berlatih jam 8 malam saat sebuah nomor tak dikenal menghubunginya. Ternyata itu adalah Pak Ahmad yang sudah menunggunya di depan studio, memintanya segera pulang.
__ADS_1
Sepanjang jalan Pak Ahmad mengingatkan Luna untuk berangkat sekolah dan pulang bersamanya, memberitahunya kalau Luna mau pergi ke mana pun, karena mulai sekarang ia ditugaskan untuk mengantar Luna. Luna cuma menjawab iya seadanya. Dia sekarang sedang memikirkan El, apa yang harus dilakukan saat ia sudah sampai? Apa mereka akan bertengkar lagi?
Bersambung