
Chapter 33: Jaga jarak
"Menjagamu tidak mudah karena kamu terlalu indah." -El-
"Dimana lagi yang sakit?" tanya El.
Ditatapnya kedua mata El sesaat, lalu Luna menggeleng pelan.
"Buka bajumu." El sudah menarik kaos Luna dengan kedua tangannya.
"Akkkkk....! Kakak mes*m!!!" teriak Luna.
"Kakak mau lihat..." ucap El gemas.
"Aku enggak mau kasih lihat." Luna menahan bajunya dengan kedua tangan. "Kakak lihat aja di YouTube."
"Maksud kamu apa? Kamu bicara apa, sih?" El tidak tau kemana pikiran Luna berjalan.
"Aku gak mau kasih lihat sekarang. Kakak tunggu aja ulang tahun kakak pas tahun depan!" Jawaban Luna membuat El semakin tersesat.
El menarik nafas. "Luna, buka..."
"Enggak..." Luna menggeleng.
"Buka..."
"Enggak..."
"Buka, ya..."
"Enggak mau!"
"Buka, sayang... Nanti kakak kasih kue..." El masih mencoba membujuk Luna.
"Kakak pikir aku bocah?" balas Luna.
KLEK.
Pintu kamar terbuka. Mami melihat anaknya, yang tampaknya sedang berusaha memperkos* istrinya sendiri.
"Kalian kenapa? Berisik sekali!" Dihampirinya kedua orang itu sambil berkacak pinggang.
"Mami kok disini?" tanya El. Ia pikir maminya ada di kantor sekarang.
"Ini rumah mami kalau kamu lupa," jawab mami.
"Jadi, apa yang sebenarnya kalian lakukan?" Mami bertanya penasaran. Dia sedang di ruang kerja dan teriakan kedua anak ini mampir di telinganya, mengganggu ketenangannya dan membuyarkan konsentrasinya.
"Luna enggak mau buka baju," jawab El.
"Kakak aja yang buka, aku enggak mau," sahut Luna.
"Apa perlu mami yang buka baju, hah?!" Mami melotot kesal. Luna dan El sedang latihan audisi melawak rupanya.
__ADS_1
"Jangan, mi!" pekik El. Dia jujur tidak ingin melihat.
Mami memicingkan matanya mendengar jawaban El. Tentu saja ia tidak berniat melakukan itu. "Ya sudah, kalian jangan berisik. Mami lagi sibuk. Bertengkar tanpa suara, oke?"
El dan Luna saling memandang dalam diam.
"Kalau terdengar teriakan lagi, mami masukin kalian ke kardus terus mami buang ke jalan," ancam mami. "Mami serius," lanjutnya. Setelahnya, mami langsung melangkah keluar dan menutup pintu lagi.
"Lun, ayo buka..." ucap El berbisik. "Cokelat?" bujuknya.
"Enggak mau," jawab Luna.
"Es krim?" tanya El.
"Aku mau lima kotak," jawab Luna.
"Iya, buka dulu ya..." El mulai mengangkat baju Luna. Bilangnya saja bukan bocah, tapi bisa dikadali juga.
El terkesiap melihat punggung Luna. Ada memar kebiruan sebesar telapak tangan, malahan yang ini sedikit bengkak. Dia merabanya perlahan.
"Apa sakit?" tanya El.
"Sakit sedikit. Kalau ditekan baru sakit." Luna membiarkan El mengobatinya. "Awas kalau kakak tekan," ucapnya.
"Mana mungkin kakak setega itu?" Sekarang El membalik badan Luna, melihat bagian depannya, bersih tidak ada noda. Syukurlah.
"Kakak amnesia? Karena kakak marah, aku jadi kepikiran terus sampai tak melihat jalan. Kakak juga enggak bantu aku waktu aku jatuh. Kris yang bantu." Luna memulai protesnya.
"Aku minta maaf," ucap Luna.
"Mana lagi yang sakit? Cepat bilang." El tidak menemukan luka lain, tapi entah kenapa dia yakin kalau masih ada.
"Disini..." Luna menunjuk kepala bagian belakang yang tertutup rambut.
El memeriksanya cepat dan melihat sebuah garis melintang berwarna kemerahan disana. "Kenapa bisa begini? Apa kamu terbentur sesuatu?" tanyanya.
"Mungkin waktu aku terguling. Sepertinya aku menabrak batu atau dahan." Luna sendiri tidak menyadarinya, sampai saat mandi tadi dia merasa perih.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak bilang? Kamu menjawab tidak apa-apa!" El kesal karena Luna selalu saja menutupi sesuatu darinya.
"Aku pikir kakak tidak perduli!" Luna memajukan bibirnya sebal.
"Masih ada lagi?" tanya El untuk kesekian kali.
Luna mengangguk. "Ada," jawabnya.
"Dimana?" El sudah bersiap dengan obat di tangannya.
"Hatiku, kak." Luna memegangi dadanya. "Kapan kakak maafin aku?" tanya Luna.
"Kalau kamu janji tidak akan pernah dekat dengan satu lelaki pun di dunia ini, selama kakak masih hidup." El menjawab dalam satu tarikan nafas.
"Adikku juga enggak boleh?" tanya Luna.
__ADS_1
"Se-mu-a-nya." El menatap Luna lekat.
El menjelaskan pada Luna sejelas-jelasnya. "Semua makhluk yang memiliki alat kelamin laki-laki tidak boleh dekat sama kamu."
Luna terperangah. "Kucing juga??" tanyanya tak percaya.
"Kalau pun nyamuk punya gender lelaki, dia enggak boleh gigit kamu." El harus yakin bahwa Luna mengerti. Seratus persen paham untuk menjaga jarak aman.
"Bagaimana mungkin?" Luna masih tak percaya. Apa dia harus menjauhi tukang bakso langganannya juga? Nanti dia tidak dapat bonus daging.
"Jangan berpikir macam-macam," ucap El.
Luna menelan salivanya susah payah. "Apa yang akan terjadi kalau aku melanggar?" tanyanya.
El tersenyum miring. "Jangan mencobanya sayang..." jawab El.
"Apa aku akan dibuang?!" pekik Luna.
"Kamu mulai mengatakan hal yang tidak masuk akal lagi, sweetheart." El memakaikan baju Luna. Dia mengangkat badan Luna dengan mudah kemudian membiarkan Luna duduk di tempat yang ia suka.
"Lebih parah daripada dibuang?!" Luna masih ingin tahu.
El mencubit kecil hidung Luna, membuatnya berwarna merah muda sebentar. "Lebih parah daripada itu sepertinya..."
Jawaban El yang tidak pasti membuat Luna semakin takut. "Dimutilasi???"
El tertawa geli. Khayalan Luna melayang terlalu tinggi. Diciumnya pipi gadis itu. "Tidak mungkin..." jawabnya.
"Lalu diapakan?" Luna penasaran dengan hidupnya. Apa yang akan terjadi jika saja dia khilaf lagi dan berbuat kesalahan tanpa disengaja.
"Mengurungmu dalam penjara cinta," jawab El.
Luna melengos. Dia sudah serius dan El malah bercanda.
"Seperti ini," El melingkarkan lengannya di badan Luna sampai tubuh Luna sempurna ada dalam dekapannya. "Lalu begini," ucap El sambil mendekatkan wajahnya ke Luna, memejamkan matanya dan menempelkan bibirnya di bibir Luna.
El melepaskan pagutannya. "Begitu terus setiap detik." Dia kemudian tersenyum ke Luna.
"Jadi, lebih baik kamu menjaga jarak. Karena menjagamu sangat sulit." Dielusnya kepala Luna perlahan.
"Apa kamu tidak sadar? Tanpa melakukan apa pun kamu sudah sangat menarik." El memilin helaian rambut Luna dengan jarinya.
"Membuat orang lain ingin mendekat, dan menjadi lebih dekat. Akhirnya mereka ingin memiliki kamu." El beralih ke tangan Luna, mengecup punggung tangan mungil itu penuh rasa sayang.
"Makanya, bantulah kakak." Mata El beradu dengan mata Luna. "Kakak tidak mau melakukan kejahatan karena cemburu."
Tangan El menggenggam tangan Luna, berharap perasaannya bisa tersampaikan lewat sentuhan itu. Bagaimana dia begitu menyayangi Luna. Mungkin siapa pun tidak akan percaya, tapi hal itulah yang dirasakan El saat pertama kali bertemu dengan Luna. Ingin memiliki untuk dirinya sendiri.
"Hm..." Luna sepertinya ingin mengatakan sesuatu. El menunggunya, berharap Luna akan mengatakan sesuatu tentang perasaannya.
"Kapan kita makan es krim, kak?"
Bersambung
__ADS_1