Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 28


__ADS_3

Chapter 28: Kebingungan


"Lihatlah hanya aku, anggap yang lain adalah hampa." -El-


"Kalian pacaran?" Jessika menunjuk Reina dan Arga bergantian. "Sejak kapan?" Suaranya sudah mulai menyakiti telinga siapapun yang mendengarnya. El sampai turun keluar mobil.


"Baru, kok..." jawab Reina cepat.


Luna menatap Arga tidak senang. "Kamu bolos sekolah? Kakak kasih tau Bunda," ucapnya.


"Hhh..." Arga melengos malas. "Gimana caranya, kak? Kakak bahkan ga tau nomor Bunda, kan?" sindirnya.


Keadaan menjadi tidak menyenangkan. Mereka hanya saling memandang satu sama lain, tidak ada yang bicara. Tyo akhirnya memutuskan untuk menengahi.


"Hahahaha.. Ya udahlah, Lun. Kan sudah terlanjur ga masuk juga, ini juga udah siang. Telat kalau mau masuk sekolah." Tyo sudah berdiri diantara Luna dan Arga.


Tangan Luna mengepal erat. "Kamu harusnya sekolah yang bener, bukannya pacaran!" Dia sudah menunjuk-nunjuk Arga emosi. Entah mengapa dia merasa tidak suka dan marah.


"Kakak sendiri gimana?" balas Arga.


Pertanyaan itu membuat Luna semakin gusar. Tentu saja keadaannya dan Arga berbeda. Luna hanya tinggal menunggu kelulusannya, sedangkan Arga? Masih jauh. Dia juga tidak akan menikah kalau dia punya pilihan. Apa dia harus tidur di jalan sampai Bunda memutuskan mau menampungnya lagi? Haruskah dia menangis di depan pintu rumahnya agar tetangga melihat dan semua orang iba baru dia bisa kembali masuk ke dalam? Dia juga tidak tau kalau El akan melamarnya secepat itu.


"Kakak--


Suara Luna terputus karena El sudah menutup mulutnya. Ia melihat Arga sekilas lalu memutuskan untuk tidak perduli. "Sudah belum? Ayo berangkat." Ditariknya tangan Luna masuk ke dalam. Terdengar desahan lega serentak. Mereka pun masuk ke dalam mobil.


"Tunggu, kursinya gak cukup!" seru Jessika sambil melangkah keluar lagi. Dia dan Tyo tidak kebagian tempat duduk karena masuk terakhir.


"Reza, keluar. Kamu di depan sama Kris," ucap El.


"Ish!" Mendecak kesal, Reza menuruti El dan duduk manis di kursi depan.


Mereka pun masuk lagi, tapi Jessika tetap tidak kebagian tempat. Dia sudah cemberut.


"Kalian yang perempuan duduk di belakang, deh." Tyo ikut bicara. "Kalian kan kecil, pasti muat duduk berempat."

__ADS_1


Mobil El punya empat baris kursi. Kursi baris pertama tempat pengemudi. Kursi baris kedua dan ketiga masing-masing ada dua buah captain seat. Yang terakhir, tempat duduk biasa yang mungkin bisa muat 3 orang.


Jessika, Reina dan Tiara masuk duluan. Mereka duduk di paling belakang. Luna menyusul. Sempit.


Tyo dan Sandi masuk, setelahnya Arga dan El. Untung saja muat, karena kalau tidak El akan menyewa bus saja.


Di dalam mobil, hanya terdengar suara para perempuan selama sejam terakhir. Mereka membicarakan entah apa, tapi sepertinya mengandung kata drama dan oppa.


Sementara itu, para pria sibuk dengan gawai masing-masing. El memergoki Arga yang menatapnya beberapa kali. Dia ingin tau kenapa, tapi terlalu malas untuk bertanya. Sudah tidak mau emosinya terpancing oleh anak baru gede ini.


Perjalanan tiga jam terasa sangat panjang dan melelahkan. Apalagi untuk Luna. Ia cuma mendapatkan tempat duduk setengah dari bokongnya. Sungguh menyiksa.


"Akhirnya..." Sandi berseru senang saat mobil terparkir. Ia segera turun dan menghirup aroma pepohonan banyak-banyak.


"Kamu mau berkemah di sini atau mau naik ke atas lagi?" Tanya El seraya melebarkan tangannya menunjukkan sebuah lahan datar tak jauh dari tempat mereka.


"Di atas aja, biar lebih menantang!" Tyo yang menjawab pertanyaan itu. Luna hanya mengangguk mengiyakan.


Mereka membawa tas masing-masing. Tas besar penuh berisi makanan dan pakaian untuk menginap semalam. Bagasi sudah kosong, tidak ada barang lain.


"Kamu berkedip nanti di sana langsung ada," jawab El asal. Luna menatapnya curiga.


Bohong.


"Kakak enggak bohong..." ucap El.


Nyebelin.


"Kakak enggak nyebelin juga, loh," lanjutnya.


Astaga, kenapa dia bisa tau apa yang ada dalam otak gue?! Kan kam-


"Enggak boleh bicara kasar..."


Luna melotot tak percaya, dia mendengus kesal dan pergi menyusul temannya saja.

__ADS_1


Kris memimpin jalan di depan, Reza di paling belakang. Sebenarnya dia tidak mau karena takut, tapi El membuatnya lebih takut dari apapun yang membuat ia takut.


Mereka melalui jalan setapak yang landai tapi kemudian semakin lama semakin menukik. Luna hampir jatuh beberapa kali saat melangkah kalau saja El tidak memeganginya.


"Kita istirahat di sini." Perkataan Kris membuat semua orang menghela nafas lega. Mereka duduk asal sambil menikmati pemandangan air terjun di depannya. Tampaknya Kris memang sengaja berhenti.


"Di sini bisa berenang?" Sandi bertanya penasaran. Dia ingin mencoba air yang tampak jernih berkilauan itu. Kris mengangguk.


"Wow..." Sandi berdecak kagum. Dilepaskannya sepatunya, menyusul kaos dan celana panjangnya. Tyo mengikutinya tak mau kalah. Mereka melompat tanpa ragu ke dalam aliran air itu.


Luna menatap Arga, ingin melarang adiknya melakukan kegiatan berbahaya seperti yang teman-temannya kerjakan. Tapi tampaknya ia tidak perlu khawatir karena Arga sama sekali tidak tertarik dan terus saja menempel ke Reina. Ah, mata Luna gatal melihatnya.


Saat Luna sibuk memperhatikan Arga, dia tidak menyadari kalau El sudah menatapnya sedari tadi. Kesal. Tidak suka. Tidak rela. Kenapa pandangan Luna selalu tertuju ke titik itu.


El tak bisa menahannya lagi, dia melepas pakaiannya dan ikut masuk ke dalam air. Jessika dan Tiara sudah mulai membuka sepatunya dan menaikkan celananya, ingin ikut mencoba. Luna ingin melakukan hal yang sama, tapi dia merasa tidak bisa meninggalkan Reina dan Arga berdua saja.


"Ikutan yuk, Rei." Luna menarik lengan Reina menjauh dari Arga menuju ke tepi air terjun. Kalau begini dia baru tenang. Tapi ternyata Arga mengikuti mereka, membuntuti Reina lebih tepatnya. Me-nye-bal-kan.


Setelah puas bermain air, mereka melanjutkan perjalanan. Luna sudah terseok-seok berjalan. Ternyata melelahkan. Rasanya dulu ia pernah melakukan ini tapi tidak sebegitunya.


"Hahhhhh...." Jessika berseru keras saat mereka akhirnya sampai di tempat berkemah. El tidak bohong karena seluruh peralatan sudah ada di sana. Karena hari sudah mulai sore, Kris memandu untuk segera membuat tenda.


"Luna..." El berdiri di hadapan Luna, menghalangi pandangannya ke Arga. Ups, dia tidak sadar lagi kalau matanya dari tadi kesana.


"Apa kakak tidak penting buatmu?" tanya El. "Dari tadi kamu cuma melihat Arga. Apa kamu cemburu?"


Luna tak bisa menutupi keterkejutannya. "Kakak bicara apa? Aku cuma khawatir. Dia adikku, aku tidak mau terjadi apa-apa padanya. Kalau Bunda tau, pasti aku yang dimarahi."


"Berhentilah memikirkan Bundamu itu, dia bahkan tidak memikirkanmu." El berucap kesal. "Dan berhentilah mengkhawatirkan adikmu, dia sudah besar. Bahkan lebih besar darimu."


Luna menggigit bibir bawahnya. Dia tidak suka apa yang dikatakan El karena itu benar.


El mendekat, sekarang wajahnya persis ada di depan wajah Luna. "Lihatlah hanya aku..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2