Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
71. Badai (4)


__ADS_3

Hari sudah malam saat Ayah Luna pulang. Makan malam sudah selesai dan semua anak laki-laki sedang berada di kamar Arga. Hanya tersisa Luna, Ayah dan Bunda di ruang tamu.


"Ayah sudah dengar dari Bunda." Ayah memulai kata-katanya. "Kamu buat masalah di sekolah, itu ga baik Luna."


"Maaf, Yah." Luna menunduk malu.


"Mulai besok, kamu ga dapat uang saku." Luna tersentak sesaat. "Kamu berangkat dan pulang sekolah sama Arga." Ayah mengakhiri kalimatnya. Sebenarnya Ayah hanya mengatakan apa yang diminta oleh Bunda. Dia langsung mempercayai dan mengiyakan apa yang dikatakan istrinya itu.


"Ini pekerjaan selama di rumah. Dan kamu ga boleh keluar rumah selain buat sekolah. Jangan undang teman kamu ke rumah. Jangan buat masalah lagi, kalau kamu masih mau sekolah." Bunda menyerahkan selembar kertas berisi jadwal pekerjaan rumah. Luna menatapnya lemas saat melihat hanya ia sendiri yang mengerjakan semua pekerjaan itu. Semuanya.


***


"Lun, elo kayak kurusan." Reina memperhatikan Luna yang lagi-lagi cuma membeli roti di jam istirahat. "Elo ga mau makan yang lain? Mau gue pesenin?"


Luna menggeleng. "Ga papa, gue lagi ga pingin makan aja."


"Iya, elo udah beberapa hari begini." Tiara menyambung pertanyaan Reina. "Elo gapapa?"


"Iya, Lun. Elo lagi diet?" Tyo baru datang bersama Jessika yang membawa pesanan makanan untuk mereka.


Jessika duduk di sebelah Luna. "Iya, Lun. Gue udah nunggu-nunggu elo curhat. Elo ga bilang apa-apa." Jessika membagikan pesanan mereka satu-persatu.


"Padahal tiap hari elo dibully sama si Angel itu, tapi elo ga mau bales. Kesel gue lihatnya tau!" Jessika menuang sambal.


"Bales ga boleh, lapor guru ga boleh, mau elo apa sih, Lun?" Jessika mulai ngomel tanpa henti.


"Gue tuh ga mau ngeliat temen gue ngusruk di selokan sekolah tiap hari. Itu orang namanya aja malaikat, nyatanya setan."


Luna tersenyum kecil mendengar Jessika dan teman-temannya perhatian padanya. Dia merasa seperti itu saja dia sudah bersyukur.


"Nih, elo cobain makanan gue." Reina mengambil sesendok nasi goreng dari piringnya dan memberikan ke Luna.


Luna memakannya.


"Enak kan?" Reina terkekeh. "Mau lagi?"


Luna menggeleng. "Ga usah, elo makan aja."


"Cobain mi ayam gue," Tiara gantian memberikan suapannya ke Luna.


Luna memakannya lagi. "Udah ga usah, gue gapapa."


"Elah, elo pakai malu segala." Jessika menusuk bakso paling besar di mangkuk Tyo dengan garpu, kemudian memberikannya ke Luna. "Nih, pegang. Makan."


Tyo mendengus, "Iya ngasih, tapi engga dari mangkok gue juga kali."


Luna akhirnya tertawa.


"Ya ampun, ay. Perhitungan banget, sih. Bakso aku tuh udah berenang di sambel, makanya ga aku kasih ke Luna. Nanti kalau dia sakit perut gimana?"


"Iya, Nyonya." Tyo memutuskan mengalah seperti biasa.


"Eh, si Setan muncul tuh." Luna melirik ke samping ke arah yang dilihat Jessika.


"Gue duluan ya, ga enak ribut disini. Kalian ga usah nyusul gue. Selesain aja makanan kalian." Luna berdiri pergi.

__ADS_1


"Ay, buruan susul Luna. Kamu kan udah mau habis. Pantau aja. Kalau ada apa-apa kabarin, kita nyusul."


"Baik, nyonya." Tyo segera menghabiskan makanannya.


Sementara itu, Angel yang melihat Luna menjauh dari teman-temannya segera menyusul Luna.


"Heh! Mau kabur kemana elo?!" Angel berhasil mendahului Luna dan teman-temannya Angel sudah mengelilingi dirinya.


"Gue mau ke kelas."


"Elo halangin jalan kita. Minta maaf, dong."


"Maaf. Gue lewat jalan lain." Luna mundur dan mencoba mencari jalan keluar dari kerumunan mereka.


"Elo mau kemana?" Angel menarik rambut Luna sampai yang punya mengaduh. "Kita belum selesai ngomong, malah langsung pergi."


"Iya, ga sopan sih elo." Monika mendecak. Dia mendorong bahu Luna keras. "Pasti ga pernah diajarin sama ortu elo ya? Ga heran sih gue."


Cepatlah selesai. Apa kalian ga bosan ganggu gue setiap hari? Gue aja capek lihat kalian.


Luna cuma menyuarakan pendapatnya dalam hati. Seperti yang dikatakan Jessika, Angel setiap hari selalu mengganggunya. Dan makin menjadi karena Luna memutuskan untuk diam saja dan menerima semuanya.


"Diajarin, Mon. Cuma emang dianya aja yang bebal." Angel tersenyum licik. "Dia ngertinya kalau sambil ditampar."


Luna tiba-tiba merasa kepalanya sangat berat. Apa karena dia tidak sarapan tadi pagi?


Pusing.


Angel mengangkat tangannya ke udara. Luna sudah siap menerimanya, dia memejamkan mata erat.


Siapa? Gelap.


***


Luna membuka mata.


"Lun, udah bangun?" Wajah Jessika adalah yang pertama kali dia lihat.


"Jess..."


"Jangan langsung bangun." Jessika mencegah Luna. "Katanya elo darah rendah, elo tiduran aja dulu. Pasti elo pusing kan?"


Luna mengangguk. Dia melihat sekeliling. Ada Tyo yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Reina sama Tiara lagi beli air sama makanan. Katanya elo harus makan dulu sebelum minum obat ini." Jessika menunjukkan sepotong obat.


"Udah bangun?" Reina membukakan pintu untuk Tiara yang membawa semangkuk bubur ayam. Dia sendiri membawa sebotol air mineral.


"Udah, siniin makanannya." Jessika bergeser, memberi ruang pada Reina dan Tiara.


"Makan dulu, Lun." Tiara memberikan mangkuk kepada Luna, Luna segera memakannya sampai habis.


"Nih, obatnya." Jessika memberikan obat dan Reina membukakan botol air itu.


"Makasih ya." Akhirnya Luna berbaring lagi setelah meminum obatnya.

__ADS_1


"Makasih ya Tyo udah bawa gue kesini."


"Sama-sama. Tapi bukan gue.... yang bawa elo..."


Luna sudah tertidur.


10 menit lalu.....


"Elo ngapain?"


"Sayang, kamu sekolah hari ini?" Angel tampak terkejut melihat Alex datang.


BRUK!


Luna terjatuh pingsan tepat di belakang Alex.


"Luna!" Alex langsung berbalik dan berjongkok mendekati Luna. "Lun?" Alex menepuk pelan pipi Luna yang sudah tak sadarkan diri.


"Luna!" Tyo yang melihat dari kejauhan langsung berlari mendekat.


Alex segera mengangkat tubuh Luna.


"Dia kenapa?" Tyo mendekat ke Alex berjalan di sampingnya.


"Pingsan." Alex dan Tyo berjalan cepat membawa Luna ke UKS.


Tyo membukakan pintu UKS. Setelahnya Alex masuk dan meletakkan Luna di ranjang yang kosong.


"Panggil guru kesehatan, cepet." Alex menyuruh Tyo sambil menunjuk pintu keluar. Tyo mengangguk mengerti lalu segera pergi.


Setelah Tyo pergi, Alex menatap gadis di depannya. Gadis yang belakangan ini menarik perhatiannya, yang membuatnya lebih rajin datang ke sekolah, cuma untuk sekedar melihatnya di jam istirahat.


"Kok elo jadi lemah gini sih? Cewek yang nonjok gue..." Alex mencubit hidung Luna pelan.


Alex berhenti bicara dan menjauh saat pintu terbuka. Tyo masuk bersama seorang guru yang kemudian memeriksa Luna.


"Gue keluar dulu, ya. Elo jagain Luna dan panggil teman-teman elo itu." Alex menepuk pundak Tyo pelan kemudian berlalu.


Alex segera berlari keluar mencari sosok perempuan kasar itu, Angel.


"Hai, sayang." Angel tersenyum lebar saat melihat Alex menghampirinya.


"Gue udah bilang kalau gue bukan pacar elo!" Alex menunjuk dahi Angel dengan keras dan mendorongnya sampai dia terhuyung ke belakang.


"Sayang, jangan kasar di depan teman-teman aku, dong. Mereka nanti salah paham." Angel merangkul lengan Alex.


Alex menepis lengan Angel kasar kemudian menggebrak meja dengan keras. "Heh! Kalian denger ya! Gue ga pernah pacaran sama yang namanya Angel! Kalian udah ditipu sama dia!"


"Gue cuma nikmatin badan dia yang dikasih cuma-cuma ke gue."


Teman-teman Angel membelalak kaget, mereka memasang muka jijik beberapa detik kemudian.


"Jadi saran gue, mendingan kalian ga usah temenan sama cewek gak bener kayak dia."


Alex beralih ke Angel. "Dan elo, kalau elo berani ganggu Luna atau menyentuh temen gue sehelai rambut saja, gue bakal sebarin semua foto 'hot' elo yang elo kirim ke gue." Alex menatap Angel dengan sorot mata mengancam. Dia ingin menunjukkan ke Angel bahwa ia benar-benar akan melakukannya. "Jangan lupa, gue juga bisa main kasar, cowok atau cewek gue ga perduli."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2