Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
61. Dua-duanya gila


__ADS_3

Keesokannya Luna memakai sepatu baru dari El. Dia sangat senang. El memberikannya sneakers berwarna hitam, dan harganya lumayan mahal menurut Luna, sekitar lima ratus ribu rupiah. Jadi hari ini Luna ingin memamerkannya kepada Jessika, Tyo, serta Reina dan Tiara.


"Lihat nih, sepatu gue..." Luna menunjukkannya saat jam istirahat.


"Wih, sepatu baru," Tyo langsung menginjak sepatu Luna, yang diikuti oleh Jessika, Reina dan Tiara berturut-turut.


"Yah, jangan injek dong. Sepatu mahal, nih!"


"Elah, elo mau pamer kan, abis dibeliin sama si om? Kayak baru kenal elo kemaren aja!" Jessika menarik rambut Luna, membuat yang punya rambut memekik kecil.


"Emang kenapa pakai dibeliin sepatu segala?" Jessika bertanya penasaran. "Kan elo masih pakai sepatu kemaren."


"Sepatunya gue pakai buat nyambit si Alex. Parah banget tuh orang, nyegat di depan mobil kak El. Bosen idup dia."


"Dia ngikutin elo lagi pas pulang?" Reina bertanya dan Luna mengangguk.


"Itu temen elo emang begitu dari dulu, Yo?" Luna bertanya ke Tyo yang sedang celingukan mencari tempat kosong buat mereka.


"Ga juga. Dulu dia ga begitu. Normal aja hidupnya."


Mereka akhirnya menemukan tempat kosong kemudian duduk. Luna disebelah Jessika dan Tyo, sementara Reina dan Tiara duduk di depan mereka.


"Terus kenapa jadi kayak gitu sekarang?"


"Panjang ceritanya. Gue laper sekarang mah. Mau makan dulu."


"Heh, nitip!" Luna menarik tangan Tyo sebelum dia kabur, lalu memesan sederet makanan untuk dirinya dan yang lain.


Setelah makanan datang, mereka makan dengan tenang. Bahkan Jessika pun makan dengan elegan saat itu.


Tapi, ketenangan langsung sirna saat Angel tiba-tiba datang dan menggebrak meja mereka dengan keras.


"HEH!" Luna dan teman-temannya yang sedang makan terlonjak kaget. Tyo malah tersedak.


"Minum dulu, ay." Jessika menyodorkan gelas minuman.


"Kan gue udah bilang, jangan deketin cowok gue lagi!"


"Elah, gue ga deketin, ya. Yang ada dia udah gue timpuk pakai sepatu biar pergi yang jauh." Luna merasa kesal pada Angel yang menurutnya terlalu 'pintar'. Sudah jelas-jelas Luna tidak mendekati Alex tapi dia terus menyalahkannya.


"Itu karena elo pasti udah godain dia." Angel memicingkan matanya curiga.


Luna menghela nafas. Dia memperhatikan Angel, di belakangnya sudah ada tiga temannya yang mengelilingi mereka. Monika, Sandra dan Lena? Nama di dadanya tak terlihat jelas.


"Gue ga pernah godain. Kenapa elo ga jagain aja cowok elo yang bener, rantai sekalian biar ga kabur."


Dalam satu sentakan Angel sudah menjambak rambut Luna kasar.


Gila nih, bocah! Gue tau elo ga waras tapi ga gini juga, heh.

__ADS_1


"Ay, panggil guru ay," Jessika berbisik pelan di telinga Tyo. Tyo langsung berdiri pergi. Sementara Jessika, Reina dan Tiara sudah bangkit dari kursi mereka.


"Lepas ga!" Luna mulai tak sabar. Dia tidak mau menggunakan kekerasan, selain akan mencoreng nama baiknya dia tidak mau mengambil resiko yang membuat orang tuanya harus ke sekolah. Tau sendiri kan Bunda gimana.


Jessika membantu Luna, mencoba melerai mereka. Tapi sayang dihalangi oleh teman-temannya Angel.


Luna capek, dia akhirnya menginjak kaki Angel dengan keras sampai Angel berteriak kesakitan dan melepaskan jambakannya.


Luna mengambil jarak dengan Angel. "Elo denger ya, pakai kedua telinga elo yang gue yakin masih berfungsi itu. GUE - GAK - PERNAH - DEKETIN - ALEX. Yang ada dia yang nyamperin gue melulu." Luna melipat tangannya di depan dada.


"Elo aja yang denial!" Luna memandang Angel sebal.


Di belakang Angel, Luna bisa melihat Tyo datang bersama seorang guru.


Angel yang sudah kepalang emosi, tidak melihat guru yang sudah mendekat. Dia mendorong bahu Luna cukup keras.


Luna terjatuh dan menutup wajahnya, menangis. "Huhuhuhuhu..."


"Ada apa ini?!" Suara Bu Eva langsung memecah keributan. "Kamu ga apa-apa?" Bu Eva membantu Luna berdiri.


"Sudah jangan nangis," Bu Eva mengelus kepala Luna lembut, lalu dia beralih ke Angel.


"Kamu lagi! Kalian semua ikut saya ke kantor!" Bu Eva menunjuk Angel dan geng nya.


"Kamu bawa dia ke UKS ya," Bu Eva melirik Jessika. Jessika sedang menenangkan Luna di bahunya.


Kerumunan pun segera bubar.


Setelah sampai UKS, Jessika langsung menjauhkan wajah Luna. "Elo lagi playing victim?"


Luna langsung nyengir. "Kok elo tau? Hehe..." Luna duduk di kursi ruang UKS, memeriksa sekeliling, tidak ada orang di sana. "Tapi gue kan emang victim-nya disini." Luna menjulurkan lidahnya ke Jessika.


"Elo pura-pura nangis?" Reina menatap tak percaya, begitu pula dengan Tiara.


"Iya lah, gue udah lihat Tyo datang tadi. Kebetulan aja pas Angel dorong gue, sekalian aja gue dramatisir dikit." Luna melihat sikunya. "Tapi gue beneran lecet nih," Luna melihat sikunya. "Obatin dong!"


Tiara yang paling dekat dengan lemari obat langsung mengambil kapas dan obat luka.


"Gue ga nyangka." Reina geleng-geleng kepala.


"Sorry ya, gue ga sepolos itu." Luna meniup lukanya yang terasa perih. Jessika membantunya memberikan obat.


Luna menutup lukanya dengan plester, kemudian dia memperhatikan betisnya. Ada lecet juga.


"Elo kok berani gitu?" Tiara memandang Luna yang membersihkan lukanya di betisnya. Luka segaris.


"Berani dia mah, dia ga beraninya sama orang tua. Kalau sama Bundanya aja langsung mewek. Cengeng beud."


"Diem Lo!" Luna membentak Jessika tak senang.

__ADS_1


Sesaat kemudian, dia beralih ke Reina dan Tiara. "Kalian mending jangan deket gue dulu. Takut diapa-apain." Luna selesai mengobati lukanya.


"Gue gimana?" Jessika menunjuk dirinya sendiri.


"Elo lupa? Kan kita barengan laporin mereka kemaren. Ya pasti elo diincer juga, lah." Luna menarik rambut Jessika.


"Ga papa ay, kan ada aku." Tyo langsung merapat ke Jessika.


"Iya, terus gue sama siapa?" Luna merengut kesal, menjauhkan Jessika dan Tyo lalu berdiri di tengah-tengah mereka.


"Ada dedek Arga kan?" Jessika menggoda Luna. Dia menarik turunkan alisnya sambil tersenyum penuh arti.


"Yang ada kalau Arga kenapa-kenapa, gue yang kena." Luna berjalan ke pintu keluar UKS.


"Ya udah, kalau gitu gue ganti. Kan, ada si om?" Jessika menarik turunkan alisnya lagi.


***


Pulang sekolah, Luna menunggu dijemput lagi. Hari ini terasa tenang karena tidak Alex, tapi juga terasa menyusahkan karena dengan tidak adanya Alex berarti Angel yang akan muncul.


"Hai, Luna!"


Suara ini! Panjang umur banget dia!


Alex muncul sambil membawa Goody Bag berwarna pink. Dia menyerahkannya ke Luna. "Ini sepatu elo." Luna menerimanya. "Lagi nungguin gue ya?"


Pede banget, sumpah.


"Enggak. Gue lagi nunggu dijemput." Luna menatap ke gerbang sekolah. Tiba-tiba Alex duduk di sebelahnya. Harusnya tadi dia tidak membiarkan Jessika dan Tyo duluan, kalau tau bakal ada Alex.


"Pulang bareng gue aja," Alex menunjuk ke motor kerennya yang berwarna merah terang.


"Enggak." Luna menunjukkan sikunya. "Elo liat?"


"Kenapa elo?" Alex menarik lengan Luna, melihatnya lebih dekat.


"Ini gara-gara cewek elo yang bar-bar itu. Coba elo kasih tau cewek elo yang telinganya bermasalah itu, kalau gue ga pernah deketin elo, jadi, ga usah ganggu gue lagi! Jagain cewek elo yang bener, bisa ga sih?!"


"Angel bukan cewek gue."


"Hah?!" Luna kaget bukan main. "Jangan bohong Lo! Kan kemaren kita gap elo pas lagi begituan di lab."


Alex mengangguk. Luna mencoba mencari kebohongan di matanya, tapi nihil. "Itu dia yang minta. Tapi gue ga ada hubungan apa-apa sama dia."


"Gila elo, ya! Elo begituan tanpa hubungan apa-apa? Mau aja Lo!"


Terdiam sebentar, Luna meralat ucapannya. "Elo berdua sama-sama gila."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2