
Chapter 40: Perdebatan
"Bantulah aku dengan tidak menjadi begitu mempesona di hadapan lelaki lain. Aku mulai kewalahan." -El-
"Sayangnya dia benar. Gue suka sama elo, Luna cantik..."
Mata Luna membulat sempurna, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Jadi selama ini Alex tidak tulus menganggapnya sebagai teman?
Emosi El sudah memuncak. Dia ingin menghabisi bocah di depannya sekarang juga. Ditariknya Luna agar bisa segera pergi dari tempat itu.
"Lun!" Alex menarik sebelah tangan Luna yang lain, mencegahnya melangkah.
El murka, didekatinya Alex dalam dua langkah besar. "Lepasin sekarang. Luna milik saya," ucapnya tertahan. Tangan El mencengkram kerah baju Alex.
"Kak, jangan..." Luna berucap sambil menatap, memohon. El tidak menggubrisnya.
"Lex, lepas!" Luna berganti arah ke Alex, berharap dia sedikit lebih waras. Namun, sia-sia.
Kedua cowok ini sama keras kepalanya. Mengalahkan berlian.
"Lun, elo bukan barang. Gue bisa memperlakukan elo lebih baik daripada pacar elo ini," sinis Alex.
Pacar katanya.
El memutar bola matanya tak percaya. Sungguh anak yang tidak punya rasa takut. Dia tersenyum miring lalu mendekatkan wajahnya ke Alex, berbisik tepat di telinganya. "Luna bukan pacar, dia istri saya..."
"Elo jangan mengada-ada!" Kedua tangan Alex sudah balas mencengkram baju El, merasa tidak terima dan tidak ingin mempercayai apa yang di dengarnya barusan.
"Terima saja kenyataan!" El yang tidak mau kalah ikut menarik baju Alex dengan kedua tangan.
Karena terlalu hanyut dalam pertengkaran, Alex dan El sama-sama melepaskan genggaman dari tangan Luna. Luna yang terbebas memilih lari dan membiarkan kedua cowok itu melanjutkannya sesuka mereka.
Berantem aja lah, sana! Mending gue cabut.
Buat apa dia di sana, tidak ada satupun dari mereka yang memperdulikan dirinya. Dia juga sudah malu ditonton orang banyak.
El yang pertama kali menyadari hilangnya keberadaan Luna, panik seketika. Dia melepaskan tangannya dari Alex dan memandang sekeliling mencari Luna.
"Luna!" El berteriak, tapi tidak ada sahutan.
Alex ikut melepaskan tangannya dari El.
"Kita lanjutin nanti," ucap El sambil menunjuk wajah Alex.
"Gue tunggu," sahut Alex.
"Jangan dekati Luna lagi," ancam El.
__ADS_1
"Gue enggak akan berhenti kecuali ada bendera kuning yang menanti," jawab Alex.
"Sampai salah satu dari kita mati," lanjutnya.
"Wah." El tertawa tak percaya. "Kau sungguh berani."
"Tentu. Gue enggak pernah setengah-setengah," ucap Alex.
"Jangan sampai menyesal." El berucap untuk yang terakhir kali sebelum ia pergi.
Dipecahnya kerumunan orang yang menonton dan mulai berkeliling mencari Luna. Alex melakukan hal yang sama, bedanya, ia menempuh arah yang berlawanan. Sekarang tinggal takdir yang menentukan siapa yang akan menemukan Luna lebih dahulu.
***
"Luna..." El duduk di sebelah Luna. Sengaja ia duduk berdekatan, mencegah agar gadis itu tidak kabur lagi.
Luna cemberut kesal, El yang melihat itu berusaha membujuknya.
Harusnya gue yang marah liat dia dekat sama cowok lain, kenapa jadi dia yang ngambek, coba?
"Kok kakak tau aku di sini?" tanya Luna. Dia sudah bersembunyi di dalam toko buku, duduk di lantai sudut ruangan di antara lemari yang berjajar. Tapi El masih saja bisa menemukannya.
"Sinyal cinta kakak terlalu kuat, Luna. Kakak bisa menemukanmu walaupun kamu bersembunyi di lubang semut dalam hutan belantara sekalipun," rayu El.
Jangan tertipu. Tentu saja itu cuma gombalan belaka, El melacak posisi Luna lewat ponselnya. Memangnya untuk apa teknologi diciptakan?
"Luna, pulang yuk. Kakak udah jauh-jauh loh, jemput kamu di sini, sweetheart..." ucap El. Kali ini El tidak berdusta. Dia memang sengaja pulang lebih awal dan datang kesini untuk ikut Luna main. Hatinya sudah sangat senang saat berangkat, tapi ketika sampai malah terjadi hal laknat semacam ini. Suami mana yang tidak marah melihat istrinya digoda cowok lain.
"BO-MAT," jawab Luna.
El terkekeh mendengar jawaban Luna. Dia menggemaskan saat marah. "Sebegitu inginnya dicium rupanya istriku yang cantik ini," ucapnya. "Bibirnya nakal sekali..."
Mendengar itu, Luna ingin beranjak pergi tapi tidak bisa. El menghalangi jalan, dan sekarang malah sudah memegangi pinggang Luna erat. Dia tidak bisa bergerak.
"Kak, lepas!" protes Luna. Dia menggerakkan tubuhnya ke kanan kiri mencoba mencari celah.
"Kamu suka pojokan ya, ternyata." El tersenyum menggoda. "Kakak juga suka di pojok, lebih asyik..."
Apa maksudnya, coba?!
"Kak, jangan ngaco. Aku enggak suka pojokan!" pekik Luna. Dia kesal dengan tangan El yang melingkarinya, tidak memberikan kesempatan untuk pergi.
"Terus kamu sukanya apa?" tanya El.
"Es krim!" Luna hampir menjerit.
"Oke, es krim rasa vanila datang..." El menempelkan bibirnya dengan milik Luna. Luna balas menggigitnya marah.
__ADS_1
"AW!" pekik El. "Kok kamu tega, Lun?!" tanya El tak percaya.
"Habis kakak genit!"
El terdiam seketika. Dia shock dikatai genit oleh Luna. Ini membuatnya seperti om-om gendut jablay yang suka naikin penumpang di pinggir jalan waktu pagi buta. Oh, tidak bisa, dia tidak seperti itu.
El melepaskan Luna dan berdiri meninggalkannya. Kalau sudah begini, gantian Luna yang mengejar.
"Kak!" panggil Luna. Dia menarik lengan El sampai El menoleh.
"Kenapa?" tanya El malas. "Kakak, kan, genit. Jadi jangan dekat-dekat," sindirnya.
Luna kehabisan kata. Dia cuma asal bicara saja tadi.
"Jangan terlalu dekat. Bahaya nanti kamu bisa hamil." Otak El korslet. Entah apa yang membuatnya bisa mengucapkan itu. Luna sampai melongo.
"Enggak tanggung jawab kalau ada apa-apa," lanjut El.
"Ih, kakak mah, sensitif!" pekik Luna kesal.
"Kakak enggak sensitif, kakak maunya kamu positif," sahut El.
Luna tersesat dalam kode-kode ucapan El.
"Jadi ayo kita pulang sekarang, sebelum kakak berubah pikiran terus pingin menggiling teman kamu yang enggak sopan itu." El meraih tangan Luna menggandengnya pergi.
Kaki Luna tidak mau bergerak, membuat El menambah satu kalimat lagi. "Luna, kamu tidak mau kan mendengar berita kalau ada seorang siswi yang tertangkap sedang melakukan tindakan mes*m di dalam mal?" tanyanya.
Luna berkerut bingung.
"Jadi sekarang ayo kita pulang terus main di rumah aja, ya..." El menarik tangan Luna, mencoba membawanya pergi.
Luna masih tidak bergerak.
"Luna, jangan mengetes kesabaran kakak." El menghela nafas panjang. "Ayo kita coba cara yang lebih mudah...."
Luna menunggu kelanjutan ucapan El.
"Pulang sekarang atau kakak bakar mal ini," ancam El.
Luna mendengus tak percaya.
"Oke, tidak sampai begitu." El berlebihan, memang. "Kakak ulangi lagi." Dia menghembuskan nafas kasar. "Pulang sekarang atau besok temanmu tidak bisa berjalan," ucapnya.
Muka Luna berubah pias. Kalau yang ini, Luna yakin El bisa melakukannya.
"Anak manis." El mengelus kepala Luna. "Ayo kita pulang terus main di pojokan..."
__ADS_1
Bersambung