
Luna menutup mulutnya tak percaya, "Jadi aku semalaman di rumah sakit?"
"Iya." El mengangguk. Setelahnya, Luna baru sadar kalau baju El berbeda dengan yang kemarin, begitu juga dengan baju kak En dan mami yang sedang mengobrol dan duduk di sofa. Bahkan bajunya sendiri juga sudah berbeda! Kenapa dia tidak menyadarinya?
"Kalau gitu Jessika gimana? Jemuran aku?"
Dia malah mikirin jemuran...
"Jessika bentar lagi sampai mungkin..." El mengecek ponselnya.
"Kakak, boleh aku pinjam ponsel kakak? Aku mau telepon Jessika..."
"Luna," En melambaikan tangan pada Luna.
"Iya, kak." Luna menyimpan sejenak ponsel El.
"Kakak sama Mami pamit ya..."
"Kakak, Mami, makasih banyak... Luna sudah membuat mami sama kak En repot..." Luna langsung bangun berdiri dan menyalami mereka berdua.
"Sama-sama sayang..." Mami mengelus kepala Luna dan En mencubit pipinya gemas.
Setelah pintu ruangan tertutup, Luna mengambil ponsel El lagi lalu melanjutkan niatnya untuk menelepon Jessika.
📞 Halo, Jess...
📞 Halo, Luna! Elo udah bangun? Udah sembuh?
📞 Iya, gue baru bangun. Sorry gue baru bisa kabarin elo. Semalam gue ga bisa pulang karena gue dirawat di rumah sakit.
📞 Iya, gue tau. Kan semalam gue sama Tyo jenguk elo. Eh, Luna. Bisa kasih teleponnya ke si om sebentar?
📞 Kenapa?
📞 Gue mau ngomong sebentar.
Luna mengerutkan alisnya. Sejak kapan Jessika dan kak El berhubungan? Dia mulai curiga.
"Kak El, Jessika mau bicara..." Luna memberikan ponsel kepada El.
El tampak terkejut sebentar kemudian mengambilnya.
📞 Halo?
📞 Halo, om? Aku mau kasih tau hal penting. Kalau bisa Luna jangan sampai tau. Apa om bisa menjauh? Kalau bisa bilang iya. Kalau tidak diam saja.
📞 ....
📞 Oke, om pasti masih di dekat Luna. Aku akan kasih tau om, tapi om jangan bilang apa pun, jangan respon apa pun. Oke?
📞 ....
__ADS_1
📞 Semalam aku hubungi Arga buat kasih tau kalau Luna di rumah sakit, tapi ponselnya ga aktif, jadi aku kirim pesan. Tadi pagi dia baru balas. Dia bilang Bunda marah besar.
El hampir saja berteriak.
📞 Jadi kalau Luna sudah baikan, lebih baik dia langsung pulang. Aku mau ke rumah sakit sebentar lagi bawa barang-barang Luna. Nanti aku temenin Luna pulang dan bantu menjelaskan ke keluarganya. Kakak tolong bantu Luna siap-siap.
📞 Tidak perlu. Nanti saya dan Luna kesana. Kamu tunggu.
📞 Oh, oke. Hati-hati di jalan.
El memutuskan sambungan telepon.
"Jessika bilang apa?" Luna penasaran.
"Engga. Dia bilang hati-hati di jalan." Apa yang di bilang El tidak bohong, tapi tidak lengkap.
"Ya udah, aku ganti baju dulu sebentar kak." Luna mengambil kantung baju yang diberikan El kemudian menggantinya di kamar mandi.
"Luna?" El mengetuk pintu kamar mandi. "Kenapa lama? Kamu gapapa?"
"Iya, sebentar kak." Luna bukannya berniat lama di kamar mandi, tapi dia bingung dengan baju yang ada di dalam kantung itu. Itu bukan bajunya, malah itu tampak seperti baju baru.
Luna memakai dress berwarna krem di atas lutut. Dress dengan satu buah renda yang melingkar di pinggang, satu buah renda di ujung masing-masing lengan panjangnya, dan dua buah renda yang memanjang di sepanjang bahu, kemudian ke bagian leher, membentuk kerah. Tidak lupa ada sebuah pita hitam besar di bagian depan kerah dengan bunga berwarna pink di atas pita itu. Baju yang terlihat mahal.
Luna melihat isi kantung lagi, masih ada sebuah kotak. Ada sepatu di dalamnya. Sepatu Mary Jane bermotif kotak-kotak cokelat, putih dan krem. Luna melihat tulisan yang tertera di bagian dalam sepatu, Burberry. Brand yang sama dengan sepatu yang diberikan mami.
Kenapa ga dibeliin motor aja, sih? Sepatu kok mahal banget?
"Kakak, ini bukan baju aku?" Luna memegangi ujung dressnya. "Sepatunya juga?"
"Kak En tadi yang bawa. Sudah, pakai saja. Bagus kok, di kamu. Cantik..."
Setelah keluar rumah sakit, Luna dan El sampai di rumah Jessika diantar Pak Ahmad.
Jessika sudah menunggu di depan rumahnya. Pak Ahmad langsung turun dan memasukkan barang-barang Luna ke bagasi. Jessika duduk di kursi depan, tidak mungkin dia duduk bertiga sempit-sempitan dengan Luna dan El padahal di depan jelas-jelas kosong.
"Jess, makasih ya. Terus sorry ya ngerepotin elo terus."
"Elah, kayak sama siapa aja." Jessika menoleh ke belakang. "Tapi elo beneran udah sembuh? Udah ga ada yang sakit?"
"Hehe... Masih pusing sedikit gue."
El langsung menatap Luna. "Kenapa tadi kamu ga bilang sama dokter kalau kamu masih pusing?" El tampak marah.
"Ahhahahahaha.. Sekarang udah ga pusing, kak." Luna ngeles.
Saat itu, El bertekad dalam hati, kalau setelah ini ia akan memaksa Luna ke rumah sakit dan melakukan tes kesehatan menyeluruh.
Jessika tidak bertanya lagi, karena dia sedang tidak ingin menonton live drama rumah tangga. Dia sibuk menyusun kata-kata yang baik dan sopan untuk berhadapan dengan Bundanya Luna nanti.
"Udah sampai. Disini aja." Luna membuka pintu mobil. "Makasih ya, kak." Dia melambai pada El.
__ADS_1
Jessika ikut membuka pintu mobil. "Gue temenin elo sampai masuk."
"Gak usah, Jess. Elo balik aja ikut sama kak El." Sebenarnya tadi Luna juga bingung kenapa Jessika ikut naik mobil bersamanya. Tapi dia tidak enak kalau melarang Jessika.
"Gue emang mau temenin elo." Jessika sudah turun dari mobil.
"Oh, oke." Luna sedikit kaget mendengar Jessika yang ngotot, tapi dia tidak begitu memikirkannya karena Luna memang tidak tau keadaan apa yang menunggu di depannya.
Luna mengambil tasnya di bagasi dan memakainya. Sedangkan Jessika membawakan Goody Bag Luna.
Luna mengetuk pintu karena pintunya ternyata terkunci.
Bunda yang membukakan pintu. Dia melihat Luna yang sedang tersenyum pada Jessika. Entah karena apa. Luna juga tampak memakai pakaian yang tak pernah ia belikan. Pakaian yang tampak mahal.
"Bunda, maaf Luna--
PLAK!
Bunda langsung menampar Luna tanpa peringatan. Luna sampai terjatuh karena dia tidak siap dengan tamparan itu.
"Luna!" Jessika memekik kaget kemudian langsung berjongkok mendekati Luna. Luna yang shock cuma bisa memegangi pipinya.
"Jangan pikir kalau kamu bawa teman kamu, Bunda ga bisa hukum kamu!"
Jessika naik darah mendengarnya. Dia langsung berdiri di depan Bunda. "Ibu apa-apaan sih?! Luna bahkan belum bilang apa-apa!" Sekarang Jessika mengerti maksud dari perkataan Luna selama ini.
"Dia anak saya. Saya berhak menghukumnya kalau dia salah."
"Tapi ibu kan belum dengar penjelasannya!"
"Tidak perlu! Dia pergi dari rumah tanpa ijin, itu sudah sebuah kesalahan. Saya tidak suka anak yang tidak bisa diatur."
Luna menahan tangisnya kemudian berdiri. Dia tidak bisa menyeret Jessika ke dalam masalahnya. "Maaf Bunda..." Luna menunduk. Terisak dalam diam.
Jessika tidak terima hal yang seperti ini. Bahkan Luna belum melakukan pembelaan! "Ibu ga bisa gitu ke Luna! Dia kemarin sakit, harusnya ibu jangan kasar! Harusnya ibu dengarkan dia dulu! Ini ga adil!"
"Jess, udah Jess..." Luna mencoba menghentikan Jessika. Tapi Jessika sudah terbakar amarah.
"Terus kamu mau apa? Kamu bahkan masih sekolah belum bisa apa-apa, sudah berani macam-macam? Kamu sendiri masih numpang sama orang tua kamu kan?"
"Ibu benar-benar ga berperasaan!" Sebuah tamparan mendarat di pipi Jessika tepat setelah ia berteriak.
"BUNDA!" Luna berdiri diantara Bunda dan Jessika. "Bunda keterlaluan!"
Teriakan Luna membuat adik-adiknya keluar dari kamar mereka. Ayah juga ikut menghampiri.
"Bun, sabar Bun." Ayah memeluk Bunda mencoba menenangkan. Dia menarik Bunda mundur. "Luna, ayo masuk dulu."
Bunda menepis lengan Ayah, kemudian menatap Luna dingin. "Tidak perlu, Yah. Luna sudah merasa mampu hidup sendiri. Dia tidak mau tinggal sama kita lagi. Ya kan, Luna?"
Bersambung...
__ADS_1