
Chapter 29: Peka
"Terkadang, tidak bisa menutupi perasaan bisa menjadi masalah." -Luna-
"Lihatlah hanya aku...."
Luna terkejut dengan sikap El. Apakah ia sudah berlebihan? Dikerjapkannya matanya beberapa kali, berusaha fokus dengan El yang ada di depannya.
"Iya, kak..." Luna menjawab pelan. Diambilnya bagian-bagian tenda itu, perlahan Luna mulai merakitnya.
Tapi tetap saja.... Tetap saja.... Tidak bisa.... Wajahnya selalu menghadap ke Arga, bahkan jempol kakinya pun mengarah ke sana. Luna melirik ke El. Sepertinya aman. Kemudian ia mencuri pandang ke Arga lagi. Adiknya itu sedang membantu temannya menyambung bagian tenda. Kenapa harus sedekat itu?
"Ehm," suara dehaman terdengar. Luna menoleh, itu Kris. "Maaf nona, kalau saya boleh memberi saran... Sebaiknya nona menyambung bagian itu dengan bagian di sana." Kris menunjuk ke atas rerumputan, di sebelah kaki Luna. Ia bisa melihat sebuah potongan di sana.
"Karena, menurut saya... Nona tidak akan berhasil menyambung ini dengan botol minum itu..." ucap Kris. Luna melotot menyadari apa yang ada di tangannya. Sejak kapan ia memegang botol. Tuhan, ini sangat memalukan.
Dilemparnya botol itu sembarangan. "Ahhahahahaha.." Luna tertawa canggung. "Aku juga tau, lho. Aku cuma iseng aja tadi. Siapa tau masuk..."
Kris tersenyum kecil, tentu saja mengejeknya. Menertawakan dalam hati jawabannya yang tidak masuk akal. Untuk menutupi rasa malunya, Luna buru-buru mengambil bagian tiang tenda dan menyambungnya dengan cepat.
Mereka akhirnya menyelesaikan tiga buah tenda. Jangan tanya kenapa tiga, tentu saja satu tenda untuk perempuan, satu untuk laki-laki dan satunya untuk Sultan El.
Kelelahan, satu-persatu duduk melingkar dengan Kris di tengah, sedang menyusun kayu bakar untuk persiapan memasak makan malam mereka.
Luna duduk di atas batang kayu besar yang kosong, dia meluruskan kakinya yang pegal, menekan pelan lututnya yang mulai kram. El menghampiri dan duduk di samping Luna.
Baru saja tangan El terulur untuk membantu Luna memijat kakinya, Luna tiba-tiba berdiri dan berjalan ke tempat Arga dan Reina.
El cuma bisa menarik tangannya, kemudian tersenyum kecut.
Yang benar saja...
Sementara teman-teman Luna memperhatikan sikapnya yang aneh, El bangkit dari duduknya. Tidak ingin melihat lebih banyak lagi. Ia memilih masuk ke dalam tenda berwarna biru muda miliknya.
__ADS_1
"Kita masak aja sekarang, yuk..." Luna menarik Reina, melepaskannya dari rangkulan adiknya, mengajaknya menjauh. Reina mengangguk dan mengikuti Luna.
Mereka menghampiri kotak makanan dan memeriksa isinya. Semua sudah disiapkan dengan baik oleh El. Mulai dari bahan makanan sampai peralatan makan dan alat untuk memasaknya. Luna mengeluarkan beras dan sebuah panci dari sana. Dia meminta Reina mencuci beras itu. Diliriknya Kris, sudah berhasil membuat api kecil untuk mereka memasak. Jessika dan Tiara menghampiri Luna, menanyakan apa yang bisa mereka bantu. Luna meminta mereka mengurus sayuran dan telur. Ia sebelumnya meyakinkan dirinya kalau Tiara bisa melakukannya. Tentu saja karena ada rahasia kelam antara Jessika dan memasak.
Para lelaki mengurus bagian kayu bakar, mereka mengumpulkan dan mengambil lebih banyak untuk persiapan nanti malam. Para lelaki itu adalah Arga, Tyo dan Sandi. Reza cuma sibuk dengan kameranya mengabadikan momen di saat yang dikiranya tepat.
Memasak nasi manual seperti ini merupakan salah satu dalam daftar cobaan Tuhan yang paling berat. Saat inilah kau akan bersyukur dan berterima kasih pada orang yang menemukan listrik dan rice cooker.
Luna terbatuk-batuk karena asap yang mengepul, belum lagi matanya sudah terasa pedas. Setelah bergulat dengan panas dan kepulan, nasinya matang. Dia melanjutkan dengan sayur dan lauknya. Sekalian saja semuanya sekaligus, biar menderita sekali saja.
Hari sudah mulai gelap saat mereka selesai memasak. Luna mengambil jaketnya dan mengancingkannya rapat karena hari mulai dingin. Teman-temannya membantu menyiapkan makanan, mereka lalu makan bersama dengan tenang sampai Jessika bertanya sesuatu.
"Lun, si om ga makan?" tanya Jessika. Mereka sedang mencuci tangan di penampungan air bersih yang tersedia. Jessika dan Luna selesai makan lebih dahulu.
"Ah!" Luna sedari tadi sibuk memasak sampai tidak menyadarinya. "Entar gue anterin ke tenda aja," ucapnya.
Luna menyiapkan sepiring makanan untuk El kemudian masuk ke dalam tenda. Dia mendapati El dengan tab di tangannya. "Kak, makanlah." Luna meletakkan piring di sebelah El. "Aku mau keluar lagi," sambungnya. Dia tidak ingin mengganggu El.
Di luar tenda, teman-temannya sudah mengelilingi api. Hari sudah gelap sempurna. "Coba ada gitar ya, pasti asyik sambil nyanyi di depan api unggun." Tyo menambah kayu bakar pada api di depan mereka.
"Ada, tadi gue lihat di sana." Reza menunjuk ke belakang tenda laki-laki. Ada beberapa kotak di sana. Sepertinya bekas peralatan tenda. "Entar gue ambil," lanjutnya.
"Nih." Reza menyodorkan gitar ke Tyo beberapa saat kemudian.
Tyo cuma menggeleng. "Gue ga bisa main."
"Lah, gimana? Tadi nanya." Reza menggerutu kesal. "Jadi siapa yang mau main?" tanyanya.
"Sini, sama gue." Luna menarik gitar itu. "Tapi kalian yang nyanyi."
Setelah beberapa lagu tanpa nada mulai dari lagu pop kekinian sampai lagu naik-naik ke puncak gunung, suara mereka mulai serak.
"Kenapa kita gak bakar sesuatu aja?" tanya Tiara.
__ADS_1
"Bakar tenda maksud elo?" balas Jessika.
"Gila elo! Tidur dimana kita entar?!" pekik Tiara. "Maksud gue tadi kan ada sosis, kita bakar aja. Gue juga lihat ada marshmallow."
Mata Luna langsung berbinar. Dia meraih senter yang ada di dekatnya. "Biar gue yang ambil." Luna berlari kecil kesana tapi terjatuh beberapa langkah kemudian. Harusnya dia lebih berhati-hati karena keadaan sekitar yang gelap.
Sebuah tangan terulur di depannya. "Makasih, kak." Luna menyambut tangan itu dan berdiri. Tapi ternyata itu bukan El, melainkan Kris. "Ehm, makasih Kris." Luna mengoreksi kalimatnya. Kris cuma mengangguk saja. Hemat bicara.
Luna mendatangi teman-temannya membawa banyak bungkus makanan. "Bantuin bawa alatnya sama sausnya," ucapnya. Sandi dan Tyo langsung mengeksekusi perintah Luna.
Sekarang mereka sudah siap dengan sebatang besi yang sudah ditusuk macam-macam bahan makanan. Tyo menggabungkan sosis dengan marshmallow, dia bilang ingin membuat resep baru.
Jessika menatap Luna yang sedari tadi terus menempel dengan Reina. Luna tampak berusaha keras agar Arga dan Reina selalu ada di dekatnya dan dalam pengawasannya. Lihat saja, sekarang Luna duduk di antara Arga dan Reina, seperti saat dulu Luna selalu duduk di antara dirinya dan Tyo. Apa dia ingin jadi orang ketiga? Lalu kenapa sponsor acara, si om kaya, malah sama sekali tidak muncul? Apa yang sebenarnya terjadi?
Malam sudah semakin larut dan mereka sudah bosan mendengar cerita Sandi yang mulai tidak masuk akal, candaan Tyo yang kelewat garing, dan sekarang Reza malah membuka sesi pengalaman mistis. Luna sudah memeluk lengan Reina ketakutan.
Api unggun diakhiri dengan cerita seorang pembunuh yang melarikan diri ke hutan dan tanpa sengaja jatuh ke jurang membuatnya menjadi hantu penasaran. Sungguh mengerikan. Reza malahan sengaja menggambarkan tempat kejadian sangat persis dengan tempat mereka berkemah sekarang. Luna sudah menjerit dalam hati.
Terjadi masalah, Luna kebelet sekarang. Teman-temannya sudah bersiap masuk ke dalam tenda. Dia memutuskan menarik Jessika untuk menemaninya. Jessika menarik Tyo untuk mengawal mereka. Perjalanan ke tempat buang air tidak jauh, tapi karena gelap membuat suasana menjadi mencekam sepuluh kali lipat.
"Sakit, Lun!" Jessika menepuk tangan Luna yang memegangi lengannya sangat kencang.
"Serem banget, Jess. Gue takut..." ucap Luna.
"Sama, gue juga. Gara-gara kakaknya Reina cerita begituan, gue jadi ikut takut sekarang." Jessika gantian memegangi tangan Tyo.
"Gue juga takut, kalian berdua jangan ngomong apa-apa, bikin gue tambah takut." Tyo mengucap hal yang tidak terduga. "Makanya kalian cepet buang airnya, yang banyak sekalian, biar ga usah balik lagi."
"Kamu kira buang sampah, bisa sekalian..." sinis Jessika. "Ini masalah pingin atau enggak," lanjutnya.
"Tapi, kok, jauh banget ya? Perasaan gue tadi siang ga sejauh ini..." Luna berucap curiga.
"Jangan bilang... kita nyasar....?"
__ADS_1
Bersambung