
Chapter 43: Sepotong ingatan masa lalu
"Mungkin Tuhan memang sudah menautkan takdir kita dari awal..." -El-
"Mami kan sudah bilang kalau kamu harus hati-hati!" Mami berteriak kesal pada anak kecil di hadapannya. Anak lelaki berusia tujuh tahun itu tidak menjawab, ia cuma menunduk dalam diam merasa bersalah. Ditatapnya batu kerikil kecil yang ada di ujung kakinya. Ia memainkannya pelan.
"El cuma mau coba main skateboard, mi..." Dimajukannya bibirnya cemberut, membuat mami El tidak kuasa lagi untuk marah melihat keimutan putra bungsunya itu.
"Kalau begini, mami lebih memilih kamu menjadi anak malas dari pada jadi anak nakal..." Mami menarik El kecil untuk duduk di kursi kosong di dekat mereka.
"Duduk dulu di sini, sebentar lagi papi jemput. Mami mau lihat kamu dimarahi." Dipandanginya tangan kanan putranya yang menggunakan penyangga itu. Jangan lupakan perban di kakinya dan plester di wajah imut anak kesayangannya. Ah, ia ingin berteriak kesal.
Memang, tadi ia menyuruh El bermain di luar, mencoba bersosialisasi dengan teman sebayanya. Tapi yang ada malah anak ini ikut-ikutan anak remaja main skateboard. Tidak tanggung-tanggung, El langsung mencoba gaya terbang untuk melompati kursi taman yang ada di komplek perumahan mereka. Tentu saja sudah bisa ditebak apa yang terjadi kemudian.
El duduk manis di kursi sementara ibunya melongokkan kepala mencari keberadaan suaminya yang tak kunjung datang. Kenapa lama sekali? Ia mulai membatin.
"Mi, masih lama?" El mulai bosan.
"Tunggulah sebentar lagi, Nak..." mami mengelus kepalanya pelan.
"Aku mau jalan-jalan sebentar." El melihat sekeliling. Taman rumah sakit itu tampak asri dengan beberapa pohon rindang. Cuaca cerah pagi ini masih terasa sejuk.
Mami mengangguk sekilas, merasa cukup aman karena besar taman itu masih bisa dijangkau mata. Tapi namanya naluri seorang ibu, matanya tetap mengawasi El. Dia melihat El mendekati seorang suster yang sedang membawa bayi di tangannya. Dia tampak tertarik dengan bayi itu. Mami memutuskan untuk mendekat dan melihatnya juga. Apa mungkin El sebenarnya ingin punya adik lagi?
"Laki-laki atau perempuan?" tanya mami pada suster yang menggendong bayi itu.
Wanita berseragam putih itu tersenyum pada mami kemudian menjawab pelan, "perempuan..."
Mami mengamati bayi mungil berkulit putih mulus itu. Cantik, dengan hidung mancung dan bibir tipis berwarna kemerahan. Ia tampak menggeliat pelan walaupun matanya tetap tertutup.
"Mi, dia tidur?" tanya El.
"Iya, sayang..."
"Lucu, mi. Boleh El bawa pulang?" tanyanya polos.
Jangan woi! Anak orang...
"Tidak bisa El, mamanya bisa menangis mencarinya nanti. Kamu memang tega?" tanya mami. Dia tau El berhati lembut, lebih lembut dibandingkan dua kakaknya yang lain.
"Yah..." El mendesah kecewa. "El suka dia, mi. Tak bisakah?" tanyanya lagi. Kali ini dengan nada memelas dan sedikit memohon.
__ADS_1
"Dia bukan barang sayang. Memangnya kalau mami kasih kamu ke suster kamu mau?" tanya mami.
"Enggak mau, mi! Mami jahat..." El memeluk mami erat, takut kalau-kalau maminya benar akan meninggalkannya.
"Makanya, kamu juga tidak boleh mengambil bayi itu dari ibunya." El mengangguk mengerti.
"Iya deh, mi..." El mengangguk pasrah.
"Siapa namanya?" Giliran mami bertanya pada sang suster.
"Belum diberi nama, Bu..." jawabnya sedih.
"Kenapa?" tanya mami penasaran.
"Tidak tau, Bu. Tapi sepertinya ibunya tidak suka dengan bayi ini. Melihatnya saja dia enggan. Padahal anaknya sempurna dan secantik ini."
Mami El menggeleng prihatin. "Kasihan sekali..." gumamnya pelan. Ia mulai berpikir untuk mengadopsi bayi cantik itu.
"Tapi ayahnya sayang dengan bayi ini..." lanjut sang suster.
"Oh begitu." Setidaknya masih ada yang menyayanginya.
Sang suster diam, dia belum menanggapi. Mami El mulai merasa tidak enak. "Ehm..." Dia berdeham pelan. "Tidak harus dijadikan nama kok, Sus. Nama panggilan dari saya saja..." ucapnya.
"Boleh kok, Bu." Sang suster mengangguk. "Nanti saya usulkan ke orang tuanya."
Mami tersenyum senang. "Boleh saya tau kapan lahirnya bayi ini?" tanyanya. Mami paling suka memberikan nama berdasarkan keadaan saat bayi ini lahir.
"Malam hari, saya ingat. Saya sedang jaga hari itu," jawabnya.
"Malam hari..." Mami mengusap dagunya berpikir.
"Malamnya terang tidak hujan." Suster itu menambahkan informasi untuk mami, mencoba membantunya berpikir.
"Hm... Malam hari yang terang untuk anak perempuan..." Mami masih menggumam. Ah, dia menemukan nama yang cocok.
"Bulan?" tanya mami kepada sang suster. El mengkerutkan dahinya, tampak tidak suka. Mami mencoba berpikir lagi.
"Bagaimana kalau, Luna?"
Mami bisa melihat senyum yang terbit di wajah El. "Itu baru nama yang cantik, Mi. Cocok untuk dia yang cantik..."
__ADS_1
"Halah..." Mami melengos. "Bisa aja kamu..." Dia mengacak rambut El.
"Lunaaaa~~~" El memanggil bayi itu dengan suara khas seorang anak kecil. Sang bayi menggeliat menyambut panggilannya.
"Lihat kan, mi. Dia juga suka nama itu seperti El."
Mami menertawakan dalam hati imajinasi El yang luar biasa. "Iya, deh."
"Luna~~~" Dipanggilnya lagi bayi itu, dan lagi-lagi sang bayi menggeliat seolah menyahutinya.
"Mami," tepukan di bahu mami mengangetkannya. Ternyata papi sudah datang untuk menjemput mereka.
Papi ikut memperhatikan bayi itu. "Siapa?" tanyanya.
Mami mengangkat bahu. "Tidak tau. Kita baru bertemu."
"Luna~~~" El masih belum bosan bertegur sapa dengan sang bayi. Papi yang melihat hal itu tersenyum sendiri.
"Apa El ingin punya adik?" tanya papi. "Mami sama papi bisa buatkan untukmu nanti."
Mami menyambut guyonan papi dengan sebuah cubitan pedas di perut, membuat papi memekik tertahan sesaat. Sang suster yang melihat itu tersenyum simpul.
"Tidak mau, Pi." Tanpa diduga ternyata El menjawab pertanyaan tanpa jawaban papi. "El tidak mau adik. Tapi El mau ini saja." Ditunjuknya bayi itu dengan polosnya, seolah ia minta dibelikan mainan dan ingin membawanya pulang segera. Masih kukuh rupanya.
"Tidak bisakah kita bawa dia pulang? Tidak bisakah?" El memelas ke papi sekarang. Papi mulai serba salah. Dia memang punya banyak uang. Tapi tidak untuk membeli anak orang juga....
Akhirnya mami yang menengahi. "Tidak bisa sekarang sayang..." Mami mencoba memberi pengertian. "Tunggulah sampai dia besar nanti kamu bisa bawa dia pulang..."
"Yah..." El mengeluh kecewa.
"Sudah, jangan sedih lagi. Nanti papi belikan mainan saja, ya..."
"Iya, deh." El mengangguk menurut. "Dadah Luna... Nanti kalau sudah besar aku akan bawa kamu pulang. Tunggu ya..."
Papi dan Mami mengulum senyum mendengar ucapan perpisahan manis itu.
"Tunggu ya..." ucap El yang masih saja menunjuk padahal mereka sudah berpamitan pada sang suster.
"Iya sayang, kalau Tuhan menghendaki. Dia pasti nunggu kamu..." Papi dan mami akhirnya tak kuasa lagi menahan untuk tidak terkekeh pelan. El kecil cuma bisa menatap mereka dengan pandangan tak mengerti.
Bersambung
__ADS_1