Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 54


__ADS_3

Chapter 54: Yang Tersakiti


"Aku tidak pernah tertawa saat takdir sedang bercanda..." -Luna-


Dewi menatap kartu undangan yang telah dikembalikan Hendra. Matanya memandang pilu lembaran kertas itu. Sebegitu besarnya ia mencintai seorang Daniel sampai ia rela memberikan segalanya. Namun apa yang dilakukan pria itu adalah kebalikannya. Dia malah memberikan luka, yang teramat dalam.


Ia tertawa getir seolah takdir sedang menggodanya. Ini lebih buruk dari kelihatannya. Dia memaksa seseorang untuk menikah dengannya hanya untuk menutupi rasa malunya pada semua yang menatap dirinya dan keluarganya. Ini adalah hari terburuk di antara yang paling buruk. Saat yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Dendam yang tak akan hilang dari hatinya.


Hendra menatap Dewi bingung, bertanya tanpa kata. Seolah pasrah dengan apapun yang terjadi setelah ini, perempuan itu melepaskan tangan Hendra yang sedari tadi dipeganginya. Ia seolah memberikan kesempatan untuk lelaki itu memilih, jika ia memang tidak setuju dengan rencananya. Hendra sadar kalau satu hal ini akan menjungkirbalikkan kehidupannya, dan menghancurkan hati orang tuanya. Dia menarik nafas dalam lalu memejamkan matanya dalam diam.


Apa yang harus ia lakukan....


"Baiklah..." Hendra menghela nafas panjang setelah itu. Dia memang menyukai Dewi, mungkin ini memang jalan Tuhan untuk dirinya sehingga ia bisa memiliki wanita itu dalam hidupnya.


Entah bagaimana tapi seolah semua hal berjalan dengan selancar itu. Tidak ada satu kendala pun selama acara. Mungkin inilah yang disebut pepatah, sebaik-baiknya manusia berencana Tuhan pulalah yang menentukan.


Dalam sekejap mata keadaan berubah drastis diantara hubungan Hendra dan Dewi. Hendra menyayangi Dewi sebegitu besarnya. Sedangkan Dewi mencoba sepenuh hati untuk mencintai pria yang sekarang telah menjadi suaminya. Tapi satu hal yang pasti, rasa sakit yang sudah menetap di hati Dewi tidak pernah hilang, melainkan berpindah ke jabang bayi yang ada di dalam kandungannya.


Dewi berkali-kali mencoba menggugurkan kandungannya. Ia malu kepada Hendra. Dia sudah mencoba, tapi hatinya tidak pernah terbuka untuk suaminya. Kehidupan pernikahan mereka terasa hambar untuk Dewi. Semua itu karena pengganggu kecil yang selalu membuatnya mengingat tragedi itu. Ia ingin melenyapkannya dan membuka lembaran baru. Tapi Hendra jelas tidak setuju. Hendra selalu mengingatkan bahwa sebuah nyawa itu sangat berarti. Anak itu pantas dikasihi. Kesalahan bukanlah pada dirinya.


Sampai saat Luna dilahirkan, Dewi tetap menolak kehadiran bayi cantik itu. Wajah Luna senantiasa mengingatkannya akan rasa sakit yang pernah ia alami. Sayangnya, Hendra begitu menyukai bayi mungil tersebut. Begitu menyayanginya sampai ia rela memberikan namanya sendiri untuk Luna. Berharap kehidupan bahagia yang akan menantinya.


***


Alex membawa nampan yang berisi minuman dan beberapa gelas. Kris membantunya. Mereka berjalan beriringan menuju ke ruang tamu tempat berkumpul tadi.


Di letakkannya gelas-gelas itu satu-persatu, membuat bunyi ketukan kecil beberapa kali pada permukaan kayu meja antik yang berwarna cokelat. Alex duduk kembali dan mengamati keadaan orang sekitarnya yang sekarang makin membisu. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah sekarang mereka sudah masuk ke dalam tahap permasalahan?


"Saya kira hubungan di antara keluarga kalian sudah jelas..." El mengakhiri tahap perkenalannya.


"Sekarang mari kita bahas apa yang baru saja terjadi." Alex terdiam, merasa sebentar lagi akan menjadi bagiannya untuk menjadi saksi.


"Sebenarnya baru saja terjadi hal yang tidak baik di dalam rumah ini. Berkaitan dengan Pak Daniel dan Ibu Dewi..." Ayah terkejut bukan main. Dia tidak ingin mempercayainya, lebih tepatnya menolak untuk percaya.


El memberikan ponselnya kepada Ayah dan membiarkan pria itu menonton kemudian menilainya sendiri.


"Jadi bagaimana kamu bisa menjelaskan ini?" Hendra menatap istrinya kecewa. Memang benar pernikahan mereka tidak disengaja, tapi apakah setelah bertahun-tahun, rasa itu tidak pernah ada?


Yang Tersakiti


Ada rasa yang tidak terlihat mata


Untaiannya membuat jiwa dan raga tersiksa


Di sebuah hati ada harapan yang selalu ada


Menunggu untuk menjadi nyata


Bagaikan pendaki yang mencari sumber air di hutan belantara

__ADS_1


Haus dahaga yang kurasa akan sirna setelah bertemu dengannya


Aku tau aku bodoh, tapi ini terlalu indah untuk dilepaskan


Terbuai dalam rayuan maya yang jelas palsu, aku menjadi tak keberatan


Biarkan saja semua orang menghujat karena tetap aku yang merasakan


Tertawalah sepuas kalian aku tak perduli


Cacian tanpa henti tidak akan membuatku mati


Sebab nafasku adalah keberadaanmu


Aku rela menjadi yang tersakiti


Pun tak mengapa menjadi yang terzalimi


Asalkan kamu tetap di sisi


Hendra menghela nafas panjang. Dia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ditopangnya kepala berat miliknya dengan kedua tangan, mencoba menenangkan pikirannya.


"Maafkan aku..." Hanya dua kata itu saja yang bisa diucapkan oleh Dewi. Dia menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya karena malu.


"Jadi apa yang kamu inginkan?" Hendra bertanya dengan suara parau. Dadanya serasa terhimpit oleh batu besar bertuliskan kesedihan.


"A...aku..." Lidah Dewi serasa kelu. Tidak ada satu katapun yang bisa keluar dari mulutnya. Semua yang ingin ia katakan terasa tidak benar. Terlihat layaknya alasan semata.


"Yah...." El yang memegang tangan Luna, menggenggamnya lebih erat, memberikan tanda bahwa sebaiknya Luna tidak ikut bicara dulu. El menarik tubuh Luna lebih dekat ke arahnya, mencoba memberikan kenyamanan di sana. Luna terdiam dalam dekapan El yang mengelus kepalanya pelan.


"Aku...." Dewi melirik Daniel dan Hendra bergantian. Daniel jelas adalah cinta pertamanya, yang paling indah dari yang terindah diantara mimpi yang pernah ia bisa bayangkan. Namun juga orang yang memberinya luka paling dalam. Sementara Hendra, ia adalah malaikat berhati lembut yang selalu ada untuknya. Selalu mempercayainya dan menerima dirinya apa adanya, tak perduli seburuk apa pun itu.


"Aku akan melepaskanmu, kalau kamu menginginkannya..." Hendra melanjutkan ucapannya sambil tersenyum sendu. Ia sudah menyerah dan ia merasa lelah. Kalau memang itu yang diinginkan Dewi, dia akan memberikannya. Asal perempuan itu bahagia, karena mungkin dia hanyalah seorang laki-laki yang tidak dapat memberikan rasa.


Sementara Daniel, tersenyum miring. Alex menyadari hal itu, dan dia tidak menyukainya. Ayahnya itu memang brengs*k. Manusia rendah yang bahkan ia malu akui sebagai orang tua.


"Jangan bercerai atau kau akan menyesal..." Alex tak tahan lagi. Sekarang atau tidak sama sekali.


Luna merasa ada di tengah-tengah masalah. Karena dirinya dan kehadirannya lah semua ini terjadi. Andai saja dia tidak ada, mungkin keadaan lebih baik untuk Bunda. Sekarang ia barulah memahami kenapa Bunda selalu bersikap seperti itu padanya. Ia adalah kesalahan. Bukti nyata aib masa lalu yang tidak bisa dihilangkan. Nyata dan hidup. Setiap saat menyakiti Bunda walau ia hanya bernafas. Luna membalas pelukan El, merebahkan kepalanya ke dada cowok itu. Memejamkan matanya, mencoba menahan air mata dan rasa bersalah yang sudah memenuhi setiap bagian hatinya.


"Ayahku bukan orang yang baik," sinis Alex. "Dia masih bej*t sampai sekarang. Jangan percaya apa pun yang dijanjikan olehnya..."


El tersenyum simpul mendengar ucapan adik tiri Luna. Dibandingkan Arga, dia lebih menyukai Alex. Lelaki itu berani dan jujur. Apa yang dikatakannya adalah apa yang ada di hatinya. Tidak perlu memakai topeng, karena bagi Alex hidupnya adalah miliknya. Dia akan terus melangkah di jalan yang telah dipilih olehnya, tanpa ragu tanpa berniat untuk menoleh ataupun berbalik.


"Dia punya banyak pacar dan simpanan. Tante tidak akan kuat. Bahkan mamaku pun begitu. Dia mati dalam kesedihan. Aku tidak ingin menyaksikan hal yang sama..." Daniel ingin membungkam mulut anaknya. Tapi itu tidak mungkin ia lakukan, alhasil ia cuma bisa menatap tajam dengan sudut matanya. Sambil berpikir hal apa yang bisa ia lakukan untuk membalas anak nakal itu.


Alex dengan jelas menentangnya semenjak kejadian Carla. Semakin hari semakin brutal dan tidak bisa diatur. Daniel sampai merasa bosan untuk mengurusnya yang selalu mencari masalah. Tapi dengan alasan keluarga, dia tidak ingin citra dirinya ternoda. Senantiasa dirinya menyelesaikan setiap masalah yang dibuat oleh Alex sampai ia muak. Puncaknya terjadi saat mama Alex meninggal dunia. Alex pergi dari rumah dengan membawa semua warisan mamanya. Ya, yang kaya disini adalah Mama Alex. Daniel sengaja mencampakkan Dewi dan memilih Rachel. Rachel adalah anak pengusaha kaya. Ia ingin memanfaatkan uang Rachel untuk mejadikan dirinya seorang bintang. Tapi, apa yang kau tanam itulah yang kau tabur. Sebanyak apapun uang yang telah dialirkan untuk membuatnya sukses, seolah itu semua tidak pernah cukup. Karier Daniel berhenti dan hilang begitu saja tanpa pernah mencetak sejarah apapun di dunia musik. Setelahnya, ia terpaksa masuk ke dalam perusahaan, melakukan apapun yang diperintahkan demi kedudukan dan kesejahteraan.


Dewi terkejut dengan ucapan jujur Alex. Dari dahulu ia tau bahwa Daniel adalah seorang playboy. Dan selama ini itu semua tidak berubah?

__ADS_1


"Jangan percaya padanya, ia membenciku..." Alex mendecak kesal mendengar ucapan Daniel. Yang benar saja, batinnya. Satu-satunya penjahat wanita di ruangan ini adalah papanya. Oke, kalau Alex dianggap penjahat wanita juga, tapi setidaknya dia mengakuinya bukannya malah menyatakan kebohongan yang terlihat jelas seperti ini.


"Iya, aku membencimu. Kau membunuh mama perlahan. Ada kalanya aku ingin menyiksamu sampai mati. Tapi aku tidak melakukannya karena mama selalu menyayangimu. Aku akan membiarkan Tuhan yang membalas semuanya nanti..."


Daniel terdiam mendengar jawaban Alex. Sial, batinnya. Anak ini sungguh menyebalkan. Padahal tinggal sedikit lagi ia mendapatkan hati Dewi, tapi bocah semrawut ini datang dan menghancurkan semuanya. Daniel ingin memiliki Dewi sekali lagi. Ia bisa melihat wanita itu masih secantik dulu, membuatnya terpesona untuk kedua kalinya selama hidup. Namun, Dewi masih memiliki suami. Memang Daniel yang tidak punya otak, tapi ia semakin tertantang untuk mendapatkan Dewi, merebut wanita itu dari suami sahnya. Pasti rasanya akan menyenangkan.


"Aku terserah saja..." Arga membuka mulutnya walaupun tidak ada orang yang meminta pendapatnya. "Aku akan memilih bersama Ayah tapi..." Dia mengangkat bahunya tak perduli. Masalah orang dewasa senantiasa membuatnya pusing.


Dewi tampak semakin bingung. Ini murni memang kesalahannya. Dia terbuai dalam rayuan Daniel. Daniel membuatnya merasakan euforia masa muda. Menariknya kembali ke masa lalu dengan memberikannya kebahagiaan dalam romansa. Suatu hal yang selama ini ia dambakan.


Sekarang Arka dan Arsya yang mulai bergerak gelisah. Mereka saling menatap satu sama lain, tampak ingin berucap dan mengikuti jejak kakak sulungnya. Bagi mereka Arga bukan hanya seorang kakak, tapi juga panutan mereka. Jadi kemanapun ia pergi, mereka akan senantiasa bersamanya.


"Aku ikut dengan kak Arga..." ucap Arka akhirnya. Ia memandang kasihan pada Dewi sesaat setelah mengatakannya, membuat wanita itu trenyuh.


"Aku juga ikut dengan kak Arga..." Arsya menambahkan. "Ikut dengan kak Luna pun aku tidak mengapa..."


Arka menatap malas ke arah Arsya. Bocah luar biasa ini kadang terlalu jujur dan tidak bisa menilai situasi yang sedang terjadi. Dia menjitak kepala Arsya sampai adiknya itu meringis dan memaki tanpa suara.


"Sudahlah, kita bercerai saja..." Ayah akhirnya mengucapkan talak. Hati Dewi mencelos mendengarnya. Ingin ia protes tapi ia tak kuasa melakukannya.


"Kita akan membicarakan prosesnya nanti..." Hendra bangkit dari duduknya hendak beranjak pergi.


Langkahnya terhenti. Ia berbalik lalu matanya memandang istri yang selama ini selalu ia kasihi. "Ternyata hidup bersamaku selama ini tidak pernah mengubah hatimu, ya..." Ucapannya tertuju langsung pada sang istri, membuat Dewi menciut dan balas menatap penuh rasa bersalah. "Semoga kamu bahagia dengan lelaki yang kamu cintai..."


Alex bertepuk tangan, menyoraki. "Wow... Selamat datang ke neraka..." puji Alex. "Semoga Anda betah..." ucapnya sambil tersenyum miring.


Hendra melangkah pergi menjauh, diikuti dengan Arga, Arka dan Arsya di belakangnya. "Ayah..." El tiba-tiba menahannya. "Tunggulah aku sebentar..." Hendra tampak enggan, tapi akhirnya ia mengangguk.


El kembali ke tempat duduknya. "Terima kasih untuk waktu kalian. Karena semuanya sudah jelas, aku pamit..." Ia memberi kode pada Kris untuk ikut angkat kaki, meninggalkan pasangan sejoli itu.


"Dan kau..." El menarik lengan Alex. "Ayo ikut bersamaku sebentar..." Alex memutar bola matanya jengah. Mau apa coba orang ini, batinnya malas.


"Kakak ipar, jangan menggangguku... Aku sibuk..." ucapnya setelah mereka menjauh dari ruangan itu.


"Sibuk apa kamu?" El balik bertanya kesal.


"Ambil bajuku buat nge-date..."


"Kamu punya pacar?" El sedikit terkejut, tapi karena Alex menatapnya kesal dia tidak menanyakannya lebih jauh.


"Oke, baiklah, ambil saja. Aku tunggu di luar." El menunjuk ke arah pintu keluar, memberikan isyarat kalau dia menunggunya. Alex menjawabnya dengan anggukan.


Saat El akan melangkah keluar, ia teringat Luna. Ia kembali ke sofa dan melihat gadis itu sedang menghibur ibunya yang tertunduk sambil menahan isak tangis. El mendecak kesal. Gadis ini orang yang paling dibenci oleh Dewi selama hidupnya, dan lihatlah sekarang, hanya seorang Luna yang bersedia tetap ada di sampingnya.


"Luna, ayo kita pulang..." El tanpa ragu meraih tangan gadis itu, mengajaknya pergi. Luna masih ingin menghibur ibunya. Ia mencoba membujuk El dalam tatapan, yang sayangnya gagal.


"Ucapkan salam..." Ucap El ketus. Luna menghela nafas. Ia patuh pada El lalu berpamitan pada papa dan bunda. Dia tidak tega meninggalkan wanita itu. Bagaimanapun, Bunda adalah orang yang memberikannya kehidupan. Dia sungguh bersyukur akan hal itu.


Setidaknya, ia bisa melakukan ini. Luna menarik tangannya dari El, dia menghampiri bunda sesaat kemudian berbisik pelan. "Luna sayang Bunda..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2