
Luna tegang saat hari jalan-jalan bersama mami semakin dekat. Dia bahkan meminjam baju Jessika, si tukang koleksi baju keluaran terbaru, semata-mata hanya karena ingin memberikan kesan yang baik di depan mami. Walaupun beberapa saat kemudian Luna sadar bahwa mami pernah bertemu dengannya dalam keadaan semrawut setelah kehujanan dengan celana sobek dan tampaknya mami tidak perduli. Tapi tetap saja, setidaknya dia harus berusaha!
Luna menatap dua pasang baju di atas tempat tidurnya, tampak menimbang-nimbang setelan mana yang lebih cocok untuknya. Pilihan pertama, gayanya yang biasa, celana jeans warna hitam dengan kaos lengan panjang motif garis berwarna hitam putih. Satunya lagi, baju yang ia pinjam dari Jessika, rok pendek diatas lutut berwarna biru muda dengan blus putih polos dengan ruffle pada kedua lengan pendeknya.
Mungkin gue harus pilih baju yang bisa cocok sama sepatu yang udah dikasih mami. Sepatu yang membuat gue dibully Tyo.
"Luna, Luna...." Tyo geleng-geleng kepala sambil tersenyum mengejek. "Elo mikir susah-susah buat bayar ganti rugi tiga juta, padahal elo dikasih sepatu harga 10 juta. Luar biasa."
Tyo sangat menyebalkan karena dia benar. Sudah susah payah gue membuang harga diri gue buat cium kak El, dan ternyata itu semua sia-sia!
Ponsel Luna bergetar, pesan masuk.
✉️ Luna udah tidur?
Belum, kak. Ada apa?
✉️ Lagi apa? Besok kakak jemput jam 8.
Luna berpikir sejenak.
Kalau ibu kak El suka baju yang seperti apa? Aku bingung mau pakai baju apa besok.
✉️ Yang cantik. Tapi karena kamu sudah cantik jadi bajunya juga kelihatan cantik.
Ini sama sekali tidak membantu. Bisa berikan saran yang lebih nyata?
Rok atau celana?
✉️ Mungkin rok.
Luna memutuskan untuk memakai baju yang dipinjam dari Jessika. Luna mematut dirinya di cermin, tampak cukup oke. Setelahnya dia merapikan baju itu dan bersiap tidur setelah sebelumnya mengirim pesan ke El, tentu saja.
***
Hari Minggu tiba, Luna sudah keluar rumah sejak jam 6 pagi. Dia harus jadi yang pertama keluar sebelum ada masalah atau gangguan apapun.
✉️ Luna sudah bangun?
Udah kak. Aku udah di depan supermarket biasa. Hehe..
✉️ Kenapa?
Luna mengetik..
✉️ Kakak setengah jam lagi sampai.
__ADS_1
Luna menghapus balasannya, memutuskan untuk mengirim jawaban yang baru.
Iya, kak.
Tanpa Luna ketahui, keadaan di kamar El langsung ricuh. El yang baru bangun langsung mengambil kunci mobil dan setengah berlari menuruni tangga.
"Kemana El??" Mami berteriak saat melihat El yang keluar dengan masih memakai baju tidurnya, kaos polos tipis dan celana pendek santai.
"Jemput!!!"
Di dalam mobil yang sudah berjalan, El baru sadar bahwa ia bahkan belum mencuci muka. Dari tadi di pikirannya cuma harus segera menjemput Luna, dia tidak tau kan siapa lagi yang akan menggoda Luna kalau dia sendirian! Awas saja kalau ada yang berani macam-macam!
El membawa mobilnya sangat cepat karena jalan masih lumayan sepi. Dia kebut-kebutan di jalan yang lengang itu. Dia menginjak pedal gas dengan kencang, yang sedetik kemudian dia baru sadar bahkan dia lupa memakai sandal.
Dua puluh menit kemudian El sampai di depan supermarket dan melihat Luna sedang duduk sendirian di kursi teras supermarket yang bahkan belum buka. El memarkirkan mobilnya kemudian melirik cermin mobilnya. Dia merapikan rambutnya, mengecek apakah ada sesuatu di wajahnya, dan semuanya tampak aman.
Tepat saat El selesai mengecek penampilannya, Luna membuka pintu mobil dan masuk.
"Hai, kak." Luna tampak cantik menggunakan baju berwarna putih dan rok pendek birunya, dia bahkan memakai jepit rambut pemberian El.
"Hai, Luna. Pakai seatbeltnya." Setelahnya El langsung mengemudikan mobilnya, ngebut lagi.
"Kak, bisa pelan sedikit? Aku takut." Luna sudah menggenggam erat seatbeltnya dengan satu tangan, dan tangan lain memeluk erat sebuah kantung karton.
El melirik Luna kemudian tersenyum. "Maaf, kakak mau buru-buru mandi biar bisa peluk kamu."
Mobil sudah berhenti sempurna dan El sudah mematikan mesin mobilnya. El turun lebih dahulu dari Luna kemudian mengajak Luna masuk ke dalam rumah.
Luna langsung tegang kembali saat berhadapan dengan pintu rumah El, pikirannya langsung penuh dengan bagaimana dia harus bersikap atau bicara saat di depan orang tua El. Sungguh membuat frustasi!
"Mami!" El membuka pintu dan berseru memanggil mami. Tak lama mami muncul dengan gaun tidur berwarna peach.
"Berisik, El."
"El mau mandi dulu, titip Luna."
"Kamu pergi belum mandi? Ya ampun, El. Ganteng-ganteng tapi jorok." El mengabaikan mami dan segera berlari ke kamarnya di atas.
"Hai Luna," mami menyambut Luna dan memeluknya. "Kamu cantik banget hari ini." Mami menarik Luna masuk ke dalam lalu menutup pintu.
"Kamu udah makan? Makan dulu yuk, sama mami sama El." Mami menggandeng Luna ke meja makan.
Di tepi meja, Luna berhenti. "Ibu, maaf. Ini baju dan tas yang kemarin dipinjam," Luna menyerahkan kantung yang dipegangnya. "Terima kasih." Luna tersenyum. "Terima kasih juga buat sepatunya, Bu. Sepatunya bagus banget. Luna pakai ke sekolah setiap hari."
"Kamu suka sepatunya?" Luna mengangguk. "Syukurlah kalau begitu. El sama sekali tidak bisa diandalkan dalam masalah fashion, buruk sekali. Bisa-bisanya dia membelikan kamu sepatu seperti cowok gitu?"
__ADS_1
Tapi aku suka sepatu dari kak El. Luna protes dalam hati. Aku juga suka sepatu dari mami, sih, karena lebih mahal.
"Baju sama tasnya buat kamu saja, Luna." Mami mendorong kantongnya ke Luna. "Ga usah dikembalikan, ya." Mami mengelus kepala Luna sebentar kemudian duduk di kursi meja makan. "Duduk Luna, kita makan dulu."
Mami meletakkan piring di depan Luna. "Mau ambil sendiri atau mami ambilin?"
"Ah, biar Luna ambil sendiri bu."
Mami memicingkan matanya sebentar, Luna menyadarinya. "Luna, panggil mami, bukan ibu, okay?"
Luna menelan ludah. "Iya Bu, eh, iya mi."
"Good!" mami berseru senang. "Ayo makan."
Kenapa sih mereka sekeluarga suka maksa kalau kasih nama panggilan??
Di tengah dentingan peralatan makan, El muncul dengan wangi semerbak. "Mami kok tinggalin aku?"
"Bisa keburu jadi korban kelaparan mami nungguin kamu." Mami mendengus pelan. "Udah duduk terus makan. Bangun tidur bukannya mandi, malah langsung kabur keluar."
Luna menoleh ke arah El. Dia buru-buru jemput gue?
"Maaf ya kak, harusnya kakak ga usah buru-buru jemput aku, kan kita janjian jam 8."
"Gak papa. Kakak ga bisa biarin kamu sendirian. Lain kali jangan keluar sendirian, kamu kan bisa minta Arga, atau Arka, atau Arsya temenin kamu. Kalau ada apa-apa sama kamu gimana?" El selesai mengomel dan mulai menyendokkan nasi ke mulutnya.
"Aduuhhhh,,, mami iri deh." Mami menggoda El, "kamu perhatian bangettt..."
Muka Luna langsung merah padam mendengarnya. Ia kehabisan kata-kata untuk menjawab.
Mami selesai makan duluan kemudian beranjak dari kursi. "Mami mandi dulu sebentar ya, kamu tunggu aja sama El. Nanti kita pergi bareng."
Luna mengangguk patuh. Setelah itu ia berpaling ke El, masih makan. Luna sendiri sudah selesai.
"Kamu mau tambah Luna?" El sadar kalau Luna bisa makan banyak walaupun badannya sekurus itu. Makanya dia menawarkan lagi.
"Engga usah kak, aku udah kenyang." Luna merapikan piringnya.
"Jangan." El menarik tangan Luna yang hendak menuju tempat pencucian piring. "Tinggalin aja disini, nanti diberesin sama si Bibi," El menunjuk ke arah sudut dapur, yang dari tadi Luna tidak sadar ternyata ada orang disana.
El menyelesaikan makannya cepat kemudian menghabiskan air di gelasnya. "Yuk," El mengajak Luna ke ruang TV. Tapi, bukannya duduk di sofa, El membiarkan dirinya dan Luna berdiri di belakang sofa itu.
"Kamu cantik banget hari ini, Luna." El melebarkan tangannya hendak memeluk Luna, tapi Luna malah melangkah mundur.
"Kenapa?"
__ADS_1
Bersambung..