Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
S 2. Chapter 1


__ADS_3

Chapter 1: Perubahan


"Saat aku membuka mata dan melihatmu, aku merasa perubahan itu indah..."


-Luna-


Luna membuka matanya perlahan. Dia memicingkan matanya sebentar, mencoba beradaptasi dengan cahaya dari luar. Kepalanya sangat sakit dan tubuhnya terasa lemas.


"Luna?"


Pandangannya sudah tidak buram, dia bisa melihat orang di depannya. "Kak El..." Luna melihat sekeliling, tampak tidak asing. "Aku di rumah sakit lagi?"


El memandang wajah Luna yang pucat. "Iya, kamu tiba-tiba demam tinggi. Jadi kakak bawa kamu ke rumah sakit. Bagaimana perasaan kamu sekarang? Ada yang sakit?"


Luna diam, bukannya tidak ada yang sakit, tapi seluruh badannya saat ini terasa sakit.


"Pasti sakit semua ya? Tunggu ya, sebentar lagi dokter datang periksa kamu."


Luna mengangguk pelan. Dia menatap wajah kak El yang cemas. Berdasarkan ingatan Luna, terakhir dia sedang di mobil bersama El. Dan sekarang kak El adalah pa-pa-pa-pacar!


Untungnya dokter datang di saat yang tepat. Luna sudah tidak tau lagi bagaimana cara agar tidak menjadi salah tingkah di depan El.


Dokter memeriksa badan Luna secara keseluruhan, kemudian memberikan sebuah suntikan pada Luna. Luna meringis kecil saat jarum itu masuk ke dalam kulitnya.


Setelah menjelaskan beberapa hal pada El, sang dokter keluar ruangan. Sayangnya mereka berbicara dengan suara pelan, sehingga Luna tidak bisa mendengarnya. Padahal Luna sudah sampai terduduk di ranjang dan menajamkan telinganya, tapi sepertinya El sengaja berbicara sepelan mungkin. Sama sekali tidak terdengar!


"Kamu sedang apa Luna?"


Luna tertangkap basah saat sedang mencoba menguping. "Ah, pegal sekali..." Luna berpura-pura meregangkan tangannya. Dia sudah merasa lebih baik karena sudah bisa akting. Berkat cairan yang dimasukkan ke dalam tubuhnya barusan, Luna tidak merasa lemas lagi.


El tersenyum tipis kemudian mendekat ke Luna, mendudukkan dirinya di atas ranjang tepat di sebelah Luna. Lengan mereka saling bersentuhan. El bisa merasakan suhu tubuh Luna yang masih hangat dan Luna bisa merasakan sejuknya kulit El.


Luna menunjuk dada El. "Pacar."


El terkejut dengan perkataan Luna. Belum lagi melihat ekspresinya yang polos saat ini. Dia kaget dan juga senang.


El memajukan wajahnya, melihat Luna dari dekat. "Iya, kenapa pacar?"


Luna refleks beringsut mundur karena wajah El hanya berjarak 5 Senti dari wajahnya.


"Mau kemana?" El merangkul bahu Luna, tidak membiarkan ia bergeser lebih jauh lagi.


Luna memalingkan wajahnya, dia belum siap kalau harus sedekat ini dengan El.


Tangan El yang lain memaksa wajah Luna yang berpaling agar menghadap ke arahnya. Jantung Luna sudah maraton dari tadi. Dan saat wajah mereka sudah sangat dekat, Luna tanpa sadar menutup kedua matanya.


"Kenapa kamu tutup mata?"


Luna sontak membuka kedua matanya. Panik, Luna mulai membuka suara, "A-a-ku kira... kakak.... mau.... mau...."


"Mau apa?" El menggoda Luna. Dia sudah bisa menebak apa yang ada di dalam otak Luna saat ini.


"Kamu mau?"


"Enggak!" Luna menjawab cepat, mendorong El menjauh.

__ADS_1


"Hahaha..." El tertawa lepas. Dia berpindah dari ranjang ke kursi di sebelahnya. "Istirahatlah..." El menyalakan TV yang ada di ruangan kemudian mulai menonton.


Belum lama mereka menonton, masuklah seseorang yang membawakan makanan untuk Luna dan El. Makanan untuk El diletakkan di meja di depan sofa, sedangkan makanan untuk Luna diberikan pada El. Setelah El mengucapkan terima kasih, orang itu pun pergi.


"Duduk, Luna. Ayo makan." El sudah mengangkat sendok untuk menyuapi Luna.


"Aku bisa makan sendiri. Kakak makan juga sana." Luna menunjuk ke arah sofa.


"Oke." El mengelus kepala Luna kemudian meninggalkannya sebentar untuk makan. Dia makan sangat cepat. Saat sudah selesai, El langsung menghampiri Luna lagi.


Luna baru menghabiskan setengah makanannya. "Maaf, kak. Aku sudah kenyang."


El mengambil nampan itu dan meletakkannya di meja bersama dengan nampan miliknya. "Gapapa." El mengecek suhu tubuh Luna. Sudah tidak demam. "Sudah malam, istirahatlah."


Luna mengangguk kemudian membaringkan badannya. "Kak, kapan kita pu--


Luna menutup mulutnya. Dia lupa. Dia lupa kalau dia bahkan tidak punya tempat untuk pulang.


"Kita pulang besok. Tidurlah." El menaikkan selimut Luna sampai ke leher. "Good night, baby..."


Tapi sejam kemudian, Luna masih melotot. Dia tidak bisa tidur. Dia malah memikirkan akan pulang kemana dia saat keluar dari rumah sakit.


"Tidur sekarang atau kakak akan cium kamu." Luna langsung mengatupkan matanya erat.


Saat sudah yakin Luna tertidur, El mengurus beberapa hal. Waktu masih menunjukkan pukul delapan malam. Dia menelepon kak En.


📞 Kak, bantu aku.


📞 Apa adikku sayang?


📞 Beberapa hal apa yang kamu maksud?


***


Jessika sedari tadi sudah mengirimi pesan ke El, mengatakan bahwa Luna tidak ada di rumah dan keluarganya mencarinya. Arga menelepon Jessika berkali-kali, memastikan bahwa Luna memang tidak ada bersamanya. Jessika sampai murka karena Arga menelepon terus-terusan. Dia pun asal bicara dan menyuruh mereka lapor polisi saja. Saat Jessika bertanya apakah Luna bersama dengan El, El malah tidak menjawabnya.


El menutup pintu ruang rawat Luna dengan perlahan. Dia hendak pergi ke suatu tempat.


Jam 9 malam, dia mengetuk pintu rumah. Baru sedetik, tapi seseorang sudah membukanya.


"Kakak ipar?" ternyata Arka yang membuka pintu. Dia terkejut dengan El yang tiba-tiba muncul. "Kakak ipar cari kak Luna juga? Kak Luna pergi dari tadi siang dan belum kembali. Kita sudah cari kemana-mana tapi belum ketemu sampai sekarang."


El menepuk pundak Arka. "Boleh masuk?"


Arka mengangguk dan memberikan jalan.


El duduk di sofa ruang tamu, kemudian berpaling ke Arka. "Orang tua kamu ada?"


Arka mengangguk lagi kemudian segera berlari dan berteriak memanggil kedua orangtuanya.


Karena teriakan Arka, bukan hanya Ayah dan Bunda yang datang, tapi semua anggota keluarganya sudah berkumpul di ruang tamu.


Ayah dan Bunda baru pertama kali melihat El. Mereka tampak bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya orang di hadapan mereka saat ini.


"Saya El Rahardja." El memperkenalkan dirinya dengan sopan. "Anak-anak ibu dan bapak sudah mengenal saya." Ayah dan Bunda menatap trio PPL, mereka hanya diam.

__ADS_1


"Mungkin Bapak juga kenal saya?" Ayah tampak mengingat-ingat sejenak, tapi tampaknya dia memang tidak tau.


"Saya manager pemasaran di perusahaan. Saya adik An."


Mata Ayah membulat kaget, sekarang dia tau siapa El.


"Tapi, ada apa ya Pak? Kenapa tiba-tiba datang ke rumah saya?" Ayah mencoba menerka, tapi dia tidak menemukan jawaban.


"Luna bersama saya. Kalian tidak perlu mencarinya lagi."


Arga, Arka dan Arsya menghela nafas lega seketika.


"Kalian tidak perlu mencarinya dan memintanya pulang. Sudah tidak perlu." Tatapan El berubah menjadi sangat dingin, terutama ke arah Bunda. "Kalian kan sudah mengusir dia?"


"Maaf Pak, itu sebenarnya adalah kesalah pahaman saja." Ayah berusaha memperbaiki keadaan.


"Kesalah pahaman itu membuat Luna masuk rumah sakit. Dan saya tidak suka." El benar-benar marah saat ini.


"Karena keluarga Anda sudah membuang Luna, mulai sekarang dia akan bersama saya. Besok kakak saya akan datang dan mengurus semuanya."


Semua anggota keluarga Luna tidak mampu mengatakan apa pun. El membuat suasana di sekitar mereka menjadi sangat mencekam.


Ayah memberanikan diri membuka mulutnya. "Apa Luna baik-baik saja?"


"Tentu saja." El bangkit berdiri karena merasa pembicaraannya sudah selesai. "Lebih baik daripada disini."


El meninggalkan keluarga Luna yang masih bingung. Dia tidak perduli, yang terpenting dia sudah mengatakan bahwa Luna bersamanya dan mereka tidak perlu mencarinya lagi.


Pintu ruang rawat Luna sudah terbuka saat El tiba dan dia sangat terkejut mendapati Luna terbangun dengan air mata berderai.


"Luna, kamu bangun?"


"Kakak..." Luna menggenggam tangan El. "Kakak kemana? Aku pikir kakak tinggalin aku..."


"Mana mungkin..." El mengelus kepala Luna sebentar. Dia merebahkan Luna kemudian menyelimutinya lagi. "Tidur lagi ya."


Setelah mengelap sisa air mata di pipi Luna, El mengelus kepala Luna lembut menunggu sampai ia tertidur. Dia kembali terbayang percakapannya dengan dokter tadi.


"Dia sakit apa dokter?"


"Dia sama sekali tidak sakit. Saya hanya memberikan vitamin."


El membelalak kaget. "Lalu kenapa dia---


"Sangat tertekan. Tubuhnya merespon keinginannya. Dia ingin sakit, dia ingin tidur lebih lama. Dia lebih suka di alam mimpi daripada harus membuka matanya."


"Kakak..." Luna membuka matanya. Suaranya membuyarkan lamunan El.


"Kenapa sayang?"


"Apa aku boleh makan pizza?"


"Boleh, cium kakak dulu." El menunjuk pipinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2