
Chapter 55: Yang Berlalu
"Tidak perlu menoleh ke belakang, karena tidak akan ada yang kembali. Fokuslah berjalan ke depan karena kebahagiaan menanti..." -El-
"Apaan?" sinis Alex ke arah El. Wow, bocah nge-gas.
"Jadi bagaimana kalau kamu ikut ke rumah, kita makan malam dulu. Kamu bisa jelaskan semuanya di sana..." El merangkul pundak Alex tanpa ragu lalu menyeretnya mendekat ke mobil.
"Apaan sih?? Malesin banget tau gak?!" Alex menggerakkan pundaknya tak nyaman.
"Sekalian kamu kenalan dengan keluarga baru.." goda El.
"Enggak butuh... Mending pacaran..."
El terkekeh sambil menutup mulutnya. "Iya deh, Karin cantik juga..."
Alex melotot seketika. Bagaimana El tau nama pacarnya! "Elo selidiki gue???"
"Enggak, astaga... Kamu curiga banget sih?" El menoel Alex genit. "Kemarin Kris kebetulan lihat aja..." ucapnya manja.
"Lihat terus lanjut buntuti?" geramnya.
"Tidak... Lihat lalu penasaran..."
Alex mendecak kesal. "Iyaaaaa... Gue ikut... Kambing emang..."
"Gitu dong..." El menepuk-nepuk pundak Alex senang. "Yuk, masuk ke mobil. Yang lain sudah duluan..."
Alex menghela nafas panjang sambil melangkah malas masuk ke dalam mobil El. Di dalamnya, ia melihat Luna yang sudah duduk di sana.
"Hai, kak..." sapanya.
"Hai, Lex..." Luna membalasnya canggung. Memang sih, secara umur, Luna lebih tua daripada Alex, tapi itu kan cuma beda sebulan.
"Lex!" Panggil Luna tiba-tiba, mengagetkan El yang baru saja duduk manis di sebelah Luna.
"Kenapa kak?" tanyanya.
"Panggil Luna kayak biasa aja enggak bisa? Risih gue..." Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ah, nanti enggak sopan..." Alex melirik sekilas ke arah El, yang disambut dengan senyum bangga. Geli dia melihatnya.
"Kayak sama siapa aja..." Luna memicingkan matanya, mencoba meledek, tapi tidak mempan.
"Sama kakak imut, loh...." Malah Luna sekarang yang merah padam. Ia tersipu mendengar pujian Alex.
"Maaf, gombalnya ditahan dulu bisa? Saya gatal mendengarnya..." sindir El yang sontak membuat Alex dan Luna terbahak.
"Saya serius ini..." El memasang wajah tidak suka. Terpaksa, Luna dan Alex menahan tawanya.
Setelah reda, Alex teringat sesuatu. "Eh, kak!" panggilnya.
"Apa, Lex?"
"Kakak masih mau kerja sama aku enggak? Kita dapat undangan tampil buat perpisahan nanti..."
"Perpisahan dimana?" Luna penasaran. "Di sekolah kita?"
Alex mengangguk membenarkan. "Mereka sih mau kasih fee, tapi aku tolak. Kita sumbang gratis aja, kak..." usulnya.
"Boleh..." Luna tersenyum lebar. Acara sekali seumur hidup ini tidak akan dia lewatkan.
"Kalian mau duet lagi?" El mendengus tidak suka. Lagi-lagi.
"Iya, kenapa? Cemburu?" ucap Alex usil. "Kalau om mau ikut boleh kok..."
El membuang muka. Alex sengaja menantangnya. Manalah mungkin dia ikut. El sama sekali tidak bisa menyanyi. Suaranya sumbang bagaikan ayam yang mau lahiran.
"Maaf, saya sibuk..." elaknya.
"Ah... Enggak bisa nyanyi aja itu sebenarnya..." Alex semakin menjadi-jadi. "Uang aja lah yang dipunyai si om ini. Kenapa mau sama dia sih, kak?" ledeknya.
Luna menatap El sesaat, tampak berpikir. "Karena dia bisa membaca pikiran...?"
"Mbah dukun maksudnya?" Alex tertawa sejadi-jadinya sampai perutnya sakit.
***
Pintu rumah El terbuka lebar, menyambut Luna, El dan Alex masuk. Luna menatap lapar ke sekeliling. Dia tidak sabar ingin bertemu Ayah dan keempat adiknya. Dan orang pertama yang ia lihat adalah Ayah yang sedang duduk di sofa sambil menyesap minuman dari cangkirnya.
"Ayah!!!" Luna berlari senang ke arah Hendra. Melihat Luna mendekat ke arahnya, Hendra secara refleks berdiri dengan kedua tangan melebar menyambut putrinya.
"Luna..." Hendra menangkap Luna dalam pelukannya. Sudah lama sekali ia tidak bertemu anak gadisnya itu. Ingin menghampiri tapi malu. Ia tau dirinya yang sekarang berbeda status jauh dari Luna saat ini.
__ADS_1
"Luna rindu sama Ayah..." Didekapnya erat lelaki berumur itu. Menyerap banyak kehangatan dari sana.
"Ayah juga.. Bagaimana keadaanmu? Sehat, kan?" Barulah Hendra ingat untuk menanyakan keadaan putrinya. Keadaan terlalu tegang di rumah Alex tadi.
"Sehat, Yah..." jawab Luna antusias.
"Apa kamu bahagia di sini, sayang? Suamimu baik, kan?" Dipandangnya El sekilas, yang dilihat balas menatap sambil tersenyum sopan.
"Baik, dong..." Luna tersenyum lebar. Memang benar, El sangat perhatian dan baik hati. Dia merasa beruntung mendapatkan El sebagai suaminya. Hadiah terbaik dari Tuhan untuk dirinya.
"Baguslah kalau begitu..." Hendra melepaskan pelukan Luna dan mengelus kepala putrinya itu pelan.
"Emm.. Luna..."
"Iya ayah?" Mata Luna berbinar menatap pria itu, membuat Hendra ragu untuk melanjutkan ucapannya. "Kenapa?" tanya Luna penasaran.
"Kalau Ayah dan Bunda bercerai, mungkin Ayah tidak bisa menjadi orang tuamu lagi..." Hendra terdiam sesaat. "Maafkan Ayah ya..."
Air mata Luna menetes. "Luna tetap ingin Ayah menjadi orang tua Luna. Tidak bisakah?" tanyanya sedih.
Hendra menyeka titik air mata di pipi Luna. "Ayah cuma berpikir kalau kita tidak ada hubungan darah sama sekali..."
"Ayah juga mau buang Luna? Ayah tidak sayang lagi sama Luna?" Luna menatap ayahnya sambil berkaca-kaca. Bagaimanapun Ayah Hendra akan selalu menjadi ayah nomor satu. Dari ia lahir sampai sekarang, tidak pernah sekalipun posisi itu terganti. Meski setelah kehadiran papa Daniel.
"Bukan begitu sayang..." Hendra tersenyum ke arah putrinya, satu-satunya putrinya. "Apa tidak masalah kalau Ayah tetap menjadi ayahmu?" tanyanya.
"Tentu saja tidak mengapa. Ayah pastinya lebih menyayangi aku dibandingkan papa!" protes Luna.
"Iya, Ayah sayang sama Luna. Luna tetap putri ayah yang paling cantik..." Ayah mengecup puncak kepala Luna dan mengelusnya perlahan. "Mungkin kita tidak terhubung darah. Tapi Ayah sudah menyayangimu bahkan sebelum kamu lahir, sayang..." Dipeluknya kembali Luna dengan erat sampai tidak sadar kalau orang-orang sudah berkumpul mengelilingi mereka.
"Ehm!" Arga berdeham. "Boleh ikutan juga enggak?" tanyanya.
"Kesini, Arga..." Ayah melebarkan tangannya, menyambut Arga. Tapi ternyata bukan hanya Arga, empat putranya yang berbarengan mendekat. Arya yang tadinya asyik bermain bersama Reza pun berlari kecil ingin ikut serta.
PLUK.
Sayang sekali tapi El lebih dulu melindungi Luna dari pelukan Arga dan tiga adiknya yang lain. "Aku juga putra ayah sekarang. Aku mau dipeluk..." ucapnya beralasan.
"Hahahaha... Dasar pencemburu..." ledek Ayah mengulum senyum. Sekarang badannya terasa berat dengan pelukan enam orang. Walaupun begitu, dia merasa senang luar biasa. Namun sesaat kemudian, Hendra merasa ada sosok yang menatapnya. Alex, yang berdiri diam tanpa suara.
Dia adalah anak Daniel. Anak dari saingan abadinya. Dilihatnya tatapan iri dalam mata Alex. Anak ini sepertinya juga ingin disayangi. Mungkin hidupnya tidak sebaik kelihatannya. Hendra seolah mengerti hal itu. Ingin disayangi, seperti dirinya. Disayangi dan dicintai, hal yang tidak pernah ia dapatkan dari Dewi. Nasib mereka sepertinya sama nahasnya.
"Kamu boleh jadi putraku juga..." ucapnya sambil tersenyum. "Kamu kan adik Luna. Kemarilah..." Serentak semua yang ada di pelukan Ayah menoleh ke arah Alex. Yang ditatap jadi salah tingkah.
"Enggak usah, gue enggak suka dipeluk..." tolaknya jaim.
"Yuk..." balas Arka. Sedetik kemudian, Luna dan ketiga adiknya itu menyerbu Alex dengan pelukan. Tapi gagal, karena sekali lagi El lebih sigap dan memeluk Alex lebih dulu. Biarlah harga dirinya pergi dengan memeluk cowok lain, yang terpenting Luna hanya menyentuh dirinya seorang.
"Sesak, astaga...." Alex mengomel saat ketujuh orang itu memeluknya.
"Enggak usah terharu. Kita juga sayang sama elo..." ledek Arka. "Jangan nangis ya..."
Suara tawa kemudian terdengar saling menyusul di ruangan itu. Hari ini, sekali lagi, Alex merasa memiliki keluarga.
"Udah ah, udah.... Gerah...." ucap Arga tanpa dosa. Merusak suasana. "Lagian elo juga bau..."
"Anj*rrrrr...." Alex menangkap baju Arga. "Minta?" tantangnya.
"Siapa takut?" balas Arga.
"STOP!" pekik Luna.
Arga + Alex \= Masalah.
"Kalau kalian bertengkar, kakak cium..." ancamnya. Kedua cowok itu membelalak seketika. Padahal maksud Luna cium pakai sepatu. Tapi kedua adiknya itu pasti mengartikan yang lain.
"Kak, berantem sekarang, kuy..." ajak Arga.
Alex mengangguk menyambutnya. "Kuy..." Tangan Alex sudah terangkat saat El berdiri di samping mereka sambil berkacak pinggang.
"BUBARRRRRRRR!!!!!!"
***
Alex dan Arga masih tertawa geli mengingat bagaimana tadi El kewalahan mengurus mereka. Hidup El pasti sangat berat. Istrinya punya enam adik, dan semuanya laki-laki. Ditambah lagi Arga dan Alex adalah pembuat masalah. Mudah-mudahan saja dia ikhlas.
"Yang benar!" protes El saat melihat Alex yang malas-malasan memasukkan daging ke dalam tusuk besi. Mereka sedang bersiap untuk mengadakan pesta barbekyu untuk makan malam.
"Galak sekali kakak ipar ini," ledek Alex. "Stres kayaknya dia, punya adik ganteng macam kita..."
"Kayaknya begitu kak..." Arga menanggapi ucapan Alex. "Dia sebentar lagi darah tinggi, macam emak-emak..." Mereka terkekeh bersama.
"Kalian benar-benar..." Luna datang dan menjewer kedua adiknya itu. Sampai mereka berdua meringis kesakitan dan berhenti bicara. "Berhenti godain kak El. Atau kakak marah," ancamnya.
__ADS_1
"Kak Luna enggak asyik..." gerutu Arga. Alex mengangguk menanggapi.
"Terserah!" balasnya lantang. "Tidak bisa ya kalian kerja dalam diam seperti Arka dan Arsya?" Luna menunjuk ke sudut kiri, niatnya untuk memperlihatkan bagaimana antengnya dua adiknya itu, tapi malah kekosongan yang ada di sana.
"Mana?" tanya Alex meledek. "Ghoib mereka..."
"Ish! Bocah dua itu pun sama saja!!!!" Luna berbalik hendak mencari mereka. Alex dan Arga yang tidak diawasi memilih untuk istirahat sejenak.
Setelah satu jam berkutat dengan bahan makanan. Akhirnya mereka bisa berbahagia menyantapnya. Luna tersenyum senang menatap tumpukan makanan di sana. Tanpa sadar dia menghabiskan bertusuk-tusuk daging sampai Arsya menggelengkan kepala.
"Kakak nanti gendut loh..." Arsya menunjuk perut Luna yang memang sekarang tampak membuncit. "Pipi kakak aja sudah tambah tembam itu..."
Luna refleks menyentuh pipinya. Apa benar dia segendut itu? Dia tidak menyadarinya. Sepertinya setelah ini ia perlu menimbang berat badan. "Yang benar kamu, Sya?" tanyanya curiga.
"Memang kakak tidak merasa baju kakak jadi tambah sempit?" Arka menimpali. Dia suka memanas-manasi Luna. Kakaknya itu terkadang polosnya luar biasa. Dia bisa dengan mudahnya mempercayai orang lain, apalagi orang yang dikenalnya dengan baik.
Luna mengerutkan dahinya. Kalau dipikir-pikir benar juga, batin Luna. Dia merasa pakaian dalamnya menjadi lebih sempit. Tapi karena dia malu untuk meminta dibelikan yang baru oleh El, dia diam saja. Selama masih bisa dipakai, walau sesak tak mengapa. Begitu pikirnya selama ini.
"Coba diet aja, kak..." usul Arsya.
Luna menatap perutnya. "Begitu ya..." Luna tampak berpikir dengan setusuk daging yang ada di tangannya. Mulutnya pun konsisten mengunyah makanan, membuat Arsya dan Arka geleng-geleng kepala.
"Kakak udahan makannya, gih..." ucap Arka. "Enggak eneg apa makan daging sebanyak itu?" tanyanya.
"Belum kenyang kah, kak?" tanya Arsya.
"Enggak eneg sama sekali, ini enak banget..." Luna melanjutkan mengambil setusuk lagi. "Kakak masih bisa nampung, kok. Ini belum kenyang..." sanggahnya.
Arka menutup mulutnya tak percaya. "Jangan-jangan kakak cacingan?" tuduhnya.
"Kalau makannya begini mungkin bukan cacing lagi yang ada di dalam perut. Naga mungkin..." Arga muncul di belakang Arka.
"Bisa jadi..." Arsya mengangguk setuju.
"Ngaco kalian!" Luna meletakkan tusuk yang bersih mengkilat di atas piringnya yang sudah penuh dengan tusuk kosong. Mata ketiga adiknya itu memandang mengikuti gerakan tangan Luna, ia mengambil setusuk daging lagi. "Ini cuma seenak itu..."
"Kakak enggak baca doa pas makan ya?" Arsya heran dengan Luna. Badan sekecil itu tapi makannya dua kali lipat dari pada dirinya. Seingat Arsya, dulu Luna tidak semaniak itu terhadap makanan.
"Enak aja..." gerutu Luna.
"Kakak aneh loh..."
"Aneh kenapa?" Alex ikut bergabung di antara mereka.
"Lihat, kak... Makannya kak Luna parah banget..." Tunjuk Arsya ke arah Luna yang sekarang sibuk mengambil makanan lagi.
Alex yang melihatnya mendadak mendapat pikiran aneh. "Kakak..." panggilnya.
"Hmm..?" Luna menatap Alex, seolah bertanya ada apa.
"Aku tanya boleh?" lanjutnya.
"Tanya saja..." Luna menanggapi dengan santai.
"Coba kakak ingat lagi, apa kakak sudah PMS bulan ini?"
TRAK.
Benda panjang yang ada di tangan Luna jatuh ke lantai seketika. Pertanyaan Alex menyadarkannya akan sesuatu.
"PMS?" Arsya mengelus dagunya. "Apa itu maksudnya hari dimana cewek-cewek suka marah tanpa sebab?" tanyanya polos.
"Lebih parah daripada itu..." sambung Arka. "Rayya bahkan suka mencakar dan menggigit waktu dia lagi PMS. Mengerikan..." Arka bergidig sesaat.
Beda dengan kedua adiknya, Arga fokus kepada Luna. Ia menatap wajah Luna yang sekarang tampak kebingungan. Kalau begini pikirannya sudah tertuju pada satu kesimpulan.
"Belum ya, kak?" Arga akhirnya bertanya karena Luna malah bengong.
"Apa kakak sudah anu?" tanya Alex.
"Apa pula anu?" Arka tidak mengerti.
"Buka buku biologi halaman 158," jawab Arga.
"Hei~~~ Buku biologi kita berbeda!" protesnya.
"Membuat anak..." jawab Alex singkat. Dia tidak suka bertele-tele. Arka dan Arsya langsung terdiam. "Kakak pernah ya?" tanya Alex langsung.
Luna kaget mendengar pertanyaan itu. Kedua matanya membulat menatap Alex, tapi dia tetap diam tidak menjawab.
"Pernah aku rasa..." Alex menjawab pertanyaannya sendiri. "Pasti kakak enggak pakai k*nd*m?"
Pertanyaan Alex membuat Arsya menutup telinga. Dia merasa belum cukup umur. Luna menatap ngeri ke arah Alex, Arga yang sedari tadi mengamati ekspresi kakaknya ini mengucapkan apa yang ada di pikirannya.
__ADS_1
"Kakak hamil kayaknya..."
Bersambung