
Chapter 26: Ulang
"Hanya untukmu saja..." -Luna-
El melirik ponselnya yang bergetar, dari Luna.
📞 Kak El?
📞 Iya sayang?
📞 Kakak pulang jam berapa?
El melihat jam tangannya sekilas. Jam 7 malam. Dia masih ada janji dengan seorang klien setengah jam lagi.
📞 Kenapa sayang?
📞 Apa kakak sibuk? Apa aku mengganggu?
📞 Apa kau memerlukan sesuatu, Luna?
📞 Tidak, aku cuma sedang ingin bersama kakak saja.
El tersenyum kecil.
📞 Kakak sebentar lagi sampai.
📞 Baiklah. Aku tunggu kakak di rumah ya...
Sambungan telepon terputus.
Lupakan saja semua janji itu, ini adalah pertama kalinya Luna memintanya cepat pulang dan menunggunya. Kalau diingat lagi, Luna hampir tak pernah meminta apapun.
Apa ini hari yang spesial?
El mengecek catatan di ponselnya. Tidak ada apa pun. Bukan ulang tahun Luna. Bukan peringatan hari jadian mereka juga. Bukan juga peringatan hari pernikahannya, karena itu masih sangat lama. Adakah yang El lupakan?
"Hmmm...." El berpikir sebentar. "Kris, ke toko bunga..."
El melihat ke sekeliling, meneliti sambil memutar otaknya. Sesuatu yang sangat cocok untuk istrinya yang manja dan menggemaskan. Bagaimana kalau....
"Buatkan saya buket mawar warna merah muda ini," El menunjuk pada deretan bunga yang merekah indah di salah satu sudut toko. "Tolong rangkai agar cocok untuk gadis muda," lanjutnya.
"Boleh tau berapa umurnya dan hubungannya dengan Bapak?" tanya sang penjaga toko.
"Istri saya, umurnya 18 tahun," jawab El. Dia memandangi mawar itu, merah muda sangat cocok dengan Luna. Dia selalu cantik dengan warna itu.
Terkejut sebentar, sang wanita penjaga mengangguk dan mulai merangkainya. "Apa Bapak mau menggunakan kartu ucapan?"
__ADS_1
Mata El menjelajah deretan kartu yang terpajang di dekat meja kasir. Dia memilih satu yang berwarna biru gelap dengan gambar bulan purnama perak di depannya. Sempurna untuk Luna.
"Silahkan pulpennya, Pak..."
Diambilnya pulpen yang disodorkan oleh wanita paruh baya itu, lalu El mulai menulis beberapa kata.
"Ini," ucapnya seraya memberikan tulisannya pada wanita di hadapannya.
Wanita itu mengangguk pelan dan menata kembali bunga setelah ia menyelipkan kartu ucapan di tengahnya. El membayar bunga tersebut dan melangkah keluar toko. Tapi setelah beberapa langkah, ia berhenti. Ia berbalik dan berjalan kembali ke arah meja kasir. "Selain bunga, apalagi yang disukai anak perempuan?" tanyanya.
"Cokelat dan boneka beruang," jawab si wanita. "Anak saya kemarin mendapatkan itu dari pacarnya."
"Baiklah, terima kasih." El melangkah pergi dan masuk kembali ke mobilnya.
"Kris, kita pergi ke tempat yang ada cokelat dan boneka beruang..."
***
Tepat jam 9 malam, dan El belum menunjukkan batang hidungnya. Luna sudah berjalan memutari kamar beberapa kali. Lututnya terasa lemas, dan dia mulai capek. Luna duduk di sofa sejenak, mencegah dirinya untuk tidak melakukan putaran berkeliling untuk yang kesekian kalinya.
Kenapa kak El lama sekali? Bukankah waktu itu dia bisa sampai dalam waktu 15 menit?
CKLEK.
Pintu kamar akhirnya terbuka. Luna bisa melihat El masuk dengan buket bunga di tangannya. Dia berdiri menyambut El, kemudian melihat Kris di belakang El membawa sebuah boneka beruang berwarna putih sebesar badannya. Apakah semua itu hadiah untuknya? Luna bertanya dalam hati.
"Terima kasih, kak..." Luna tersenyum lebar setelah membaca isi kartu itu. "Apa itu juga untukku?" Luna tak bisa menahan senyumnya yang sudah menjadi lebih lebar lagi. Tangannya terulur mengambil boneka beruang itu dan memeluknya erat. "Aku suka sekali...."
"Tentu saja." El mengucap sombong. "Dan jangan lupa, cokelat untukmu." El menjentikkan jarinya dan Kris memberikan sekotak besar cokelat yang dikemas dalam kotak segi empat yang terhias pita cantik berwarna merah.
"Aku juga suka cokelat," ucap Luna.
"Ya, kakak tau..."
Setelah menyelesaikan tugasnya, Kris pergi keluar dan menutup pintu kamar. Luna memandang El lalu mulai berucap.
"Apa kakak sudah makan?"
El mengangguk.
"Apa kakak mau mandi?"
El menaikkan sebelah alisnya. "Karena kau mengingatkannya, baiklah, aku mau mandi sekarang..."
Luna mengawasi El yang berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan memainkan jarinya tegang. Setiap menit penantian terasa seperti setahun lamanya. Dia menatap lurus pintu kamar mandi, menunggunya terbuka.
Akhirnya El keluar dengan sebuah kaos polos dan celana pendek berwana hitam. Luna melangkah perlahan menghampirinya dengan seloyang kue di tangannya. "Selamat ulang tahun, Kak..."
__ADS_1
El menatap nyala api dari lilin yang terpasang di atas kue cokelat itu. Ternyata, hari ulang tahunnya.
"Aku membuat kuenya sendiri. Maaf kalau rasanya tidak enak," ucap Luna. "Tiup kak, ucapkan keinginan kakak." Luna menunggu El meniup lilinnya.
"Baiklah..." El menautkan alisnya sejenak. "Semoga Luna selalu bahagia." Ditiupnya lilin itu hingga apinya padam. Luna tersenyum senang mendapati El yang selalu mengingatnya.
"Apa kakak mau mencoba kuenya dulu?" tanya Luna.
"Boleh," jawab El. Luna memberikan sepotong kue untuk El, lalu menunggu El memberikan komentarnya.
"Enak, kok..." El menghabiskan kue yang diberikan Luna.
"Aku juga punya hadiah untuk kakak," ucap Luna. Ia berdiri di hadapan El, kemudian membuka tali gaun tidurnya perlahan, membiarkan pakaian itu jatuh tak berdaya di lantai.
El menatap tak percaya. Di depannya, ia melihat tubuh polos milik istrinya yang hanya memakai bra dan celana dalam berwarna merah. "Luna...?" tanyanya bingung.
"Aku sudah pakai pita, kak." Luna menunjuk ke lehernya yang diikat sebuah pita yang juga berwarna merah. "Bukalah hadiah kakak..."
Gue salah, mungkin Luna lebih cocok dengan warna merah.
El meraih tubuh Luna dan membawanya ke atas tempat tidur mereka. "Kakak buka sekarang, ya..."
Luna menahan nafas saat El membuka pita yang ada di lehernya. Dirinya sudah terkurung sempurna di bawah tubuh El. Dia memejamkan matanya, menunggu bibir El sampai di bibirnya. El memulai kecupannya perlahan lalu mulai memasukkan lidahnya dan mengajak lidah Luna bermain di dalam sana. Tersengal, dia melepaskan pagutannya, menarik nafas banyak kemudian mengulanginya lagi. Lebih lama, dengan tangannya yang mencoba melepas pengait dada Luna. Terlepas.
"Kakak suka sekali hadiah dari kamu, sayang. Hadiah terbaik selama hidup kakak..."
El mulai menciumi Luna lagi, dengan tangannya yang sudah meremas gundukan milik istrinya itu, hangat dan sangat lembut. Lebih kenyal daripada squishy yang pernah ia mainkan punya En dulu.
Luna kehabisan nafas, jadi El memutuskan berpindah menyusuri leher putih milik gadisnya. Ia mencecap setiap incinya dan memberikan sebuah tanda disana, membuat sebuah suara keluar dari bibir Luna.
Tampaknya istrinya itu menikmatinya. El melanjutkan petualangannya ke kedua bukit putih. Dia memainkan puncak berwarna pink itu dengan jarinya, kemudian menghisapnya perlahan.
"Ahh..." Luna mulai menggila dengan sentuhan El disana. "Kalau... aku... mati... kakak harus tanggung jawab..." desahnya. Ia merasa jantungnya akan meledak sebentar lagi.
"Tak akan sayang... Kakak bahkan belum sampai ke bawah sana. Kau akan menikmatinya lebih lagi..."
Semakin lama El bermain dengan kedua puncak itu, tangan Luna tanpa sadar sudah memegangi kepala El dan membenamkannya semakin dalam di sana. Dirabanya perut Luna perlahan dan ia kemudian sampai di penutup terakhir badan Luna. Dia melepasnya dan melemparkan ke sembarang arah. Setelahnya, ia mengeceknya, sudah basah.
Secepat kilat, El melepaskan seluruh pakaiannya lalu memulai aksinya yang mungkin akan membuat Luna menjerit bahagia nanti.
"Pegangan, sayang..." El menuntun tangan Luna ke pundaknya dan memulai penyatuan mereka. Terdengar bunyi deritan tempat tidur dan lenguhan tertahan. El meringis pelan saat Luna mencakar punggungnya tanpa sadar. Dia menyelesaikan waktu indah itu dengan menitipkan banyak calon anak di dalam sana.
Untuk Luna yang selalu ada di Langit,
Aku hanya mencintaimu, sweetheart....
Bersambung
__ADS_1