
Luna tertidur di ruang UKS setelah Jessika menyeretnya. Tadi, orang-orang mulai berkerumun mendengar isakan Luna, sehingga percuma saja Reina dan Tiara berusaha mati-matian menutupinya. Makanya mereka memutuskan untuk membawa Luna kesana.
"Kalian masuk kelas gih, nanti ditanyain kalau kebanyakan yang disini." Jessika meminta Reina dan Tiara kembali ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi. "Bilang gue ijin nemenin Luna yang sakit."
"Oke." Tiara mengacungkan jempol kemudian mereka keluar dari ruangan itu.
"Kita ke kelas dulu, ya." Reina melambai pada Jessika yang sekarang sedang duduk di sisi tempat tidur.
Jessika mengangkat kakinya ke atas kasur, kemudian berbaring di sebelah Luna, menyandarkan kepalanya ke bantal Luna.
Keadaan hening seketika karena tidak ada orang selain mereka. Jessika memutuskan untuk mengambil ponselnya dan memberitahukan Tyo tentang keadaan Luna. Tadi Tyo sibuk mengerjakan tugas kelompoknya, jadi tidak bareng saat istirahat.
Ay, si Luna di UKS sekarang.
✉️ Iya, aku tau. Tadi kelas udah heboh. Angel udah nyebarin berita kalau dia udah labrak Luna habis-habisan sampai nangis-nangis.
Seriusan?
✉️ Iya, udah kesebar lah. Kayak ga tau aja temennya si Angel lambenya.
Jadi nanti pulang gimana? Aku temenin Luna pulang dulu?
✉️ Maksud kamu kita naik motor bertiga?
Ya enggaklah. Kita ga pulang bareng berarti hari ini. Aku anterin Luna dulu.
✉️ Yahhh..
Oh, bentar. Aku coba bilang ke Arga dulu.
Jessika mengirimkan pesan ke Arga memintanya untuk menunggu Luna pulang. Dibaca, tidak direspon. Jessika mengirimkan pesan lagi dan lagi, tetap tidak ada jawaban. Jessika tidak tau kalau Arga masih kesal menghadapi pengakuan Luna yang ternyata memang memiliki perasaan pada si om.
Mendengus kesal, Jessika menyerah dan memutuskan untuk mengelus kepala Luna saja. Berharap agar ia cepat bangun.
Luna bergerak sedikit.
"Lun? Udah baikan?" Jessika menatap Luna yang baru membuka matanya.
"Iya, gapapa." Luna menjawab dengan suara serak. "Makasih ya udah nemenin gue." Luna sudah terduduk sambil menyandarkan kepalanya.
"Tadi.... kenapa?" Jessika bertanya hati-hati. Dia tidak ingin bertanya, tapi dia sungguh penasaran!
"Enggak papa..." Luna menggeleng pelan.
"Elo... dipukul ya?"
Luna menoleh dan menatap Jessika lama. "Jam berapa sekarang?"
"Hah?" otak Jessika loading sebentar. "Oh, jam? Bentar..." Jessika mengecek ponselnya. "Jam---
"Boleh pinjam ga?" Luna menunjuk ponsel Jessika. Jessika tidak jadi menjawab pertanyaan Luna. "Gue mau ikut kirim pesan."
Entah kenapa hal yang terlintas saat Luna bangun adalah El. Dia takut si om itu mencarinya.
"Boleh..." Jessika memberikan ponselnya sambil terus menatap Luna.
Luna memasukkan kontak baru, lalu membuka aplikasi chat. Dia mencari nama yang baru dia simpan tadi. Kak El.
Kak, ini Luna. Aku pakai punya teman. Telepon aku rusak. Hari ini kakak ga usah jemput aku lagi ya. Maaf...
__ADS_1
Pesan balasan masuk.
✉️ Luna, ponsel kamu kenapa? Kakak belikan yang baru ya...
✉️ Kamu mau pergi sama Jessika lagi?
"Kok elo bilang pergi sama gue sih?" Jessika protes saat namanya terseret.
"Sorry ya. Elo tau kan, gosip gue di sekolah ini gimana. Gue ga mau memperburuk keadaan kalau kak El jemput gue."
"Ck." Jessika cemberut. "Kenapa elo berdua ga jadian aja sih, biar ga ribet?"
"Tambah parah dong gosipnya?"
"Ya, tapi kan lebih mending daripada kayak sekarang. Sekarang mah, pacar bukan, tapi digosipin. Mending sekalian aja lah, udah tanggung juga!"
Luna tersenyum kecut. Perkataan Jessika ada benarnya juga. Tapi dia sedang tak ingin memikirkan itu sekarang.
Maaf ya, kak. Mungkin Minggu depan ponsel aku sudah bisa dipakai lagi. Kakak gak perlu belikan aku yang baru.
Iya, aku pergi sama Jessika.
✉️ Ya sudah, hati-hati di jalan. Kalau begitu kakak jemput besok.
Luna berpikir sebentar lalu mengirimkan jawaban.
Ga perlu, kak. Aku ada tugas kelompok sampai akhir Minggu ini, aku bakal sama Jessika terus.
"Terus aja nama gue dibawa." Jessika masih memantau isi pesan Luna.
✉️ Kalau begitu hari Sabtu jam 2 siang kakak jemput di tempat biasa. Mami kasih undangan, kamu harus datang.
✉️ Undangan peresmian cabang. Harus datang, Luna. Kan kita sudah beli dressnya kemarin.
Iya, kak.
Luna menghela nafas panjang. Ternyata itu alasan Kak El membelikan Luna banyak baju dan sepatu. Dia tidak mungkin menolaknya. Lalu bagaimana dengan Bunda? Apa akan diijinkan?
***
"Nih, tas kalian." Reina memberikan tas Luna dan Jessika saat pulang sekolah.
"Makasih." Luna tersenyum.
"Mau gue temenin pulang, Lun?" Jessika menawarkan pelayanan antar hari ini.
"Iya, diantar Jessika aja. Tadi gue udah suruh Arga tunggu elo, tapi dia malah ga santai jawabnya." Tyo menggerutu kesal.
"Minta anterin aja pakai mobil si om kaya itu, mending naik mobil daripada motor butut gue kan!" Tyo menirukan ucapan Arga dengan gaya yang dilebih-lebihkan.
"Adek elo kenapa jadi durhaka gitu sih, Lun?" Tyo masih ga percaya dengan kata-kata Arga tadi. Rasanya baru kemarin dia mencegat si om bareng Arga. Kenapa sekarang jadi cuek begini?
"Elo mau gue anterin, Lun?" Reina bertanya pada Luna yang ada di depannya. Reina dan Tiara masih ada bersama mereka, tentu saja bersama Sandi.
"Gapapa, Rei. Gue ga mau ngerepotin elo." Luna meraih tangan Reina dan menggoyangkannya sedikit.
"Elo masih belum nganggep kita temen elo kan? Gue sama Tiara?"
Luna terkejut dengan pertanyaan Reina. Dia merasa bersalah karena itu benar.
__ADS_1
"Maaf ya. Mulai sekarang kalian temen gue yang paling baik." Luna merangkul Reina dan Tiara, memberikan pelukan yang besar. "Sama seperti Jessika dan Tyo."
Jessika ikut memeluk mereka. "Kalau gue boleh ikutan ga?" Tyo bertanya di belakang mereka, sudah siap melebarkan kedua tangannya.
"Enggak!" Mereka menjawab berbarengan.
"Ya udah, elo sama gue aja sini." Sandi melebarkan tangannya menyambut pelukan Tyo.
"Emang, cuma elo yang paling ngerti gue." Tyo menghampiri Sandi. Sandi pun menepuk-nepuk punggung Tyo.
"Geli gue liatnya! Lepas!" Jessika memisahkan mereka.
Luna tertawa melihat kelakuan teman-temannya yang aneh itu. Setelah mereka puas saling meledek, Luna akhirnya menyerah dan setuju diantar oleh Reina.
Sepanjang perjalanan hanya Reina yang berbicara, baik di jalan ataupun di angkot. Luna setia mendengarkan, saat ini dia merasa itu lebih baik daripada mendengarkan kesunyian.
"Rumah gue ada di dalam komplek ini, Rei. Ga papa elo anterin sampai sini aja." Luna menunjuk gerbang kompleks yang berwarna hitam.
"Gue capek, Lun. Boleh masuk dulu ga? Sambil nunggu ojol juga."
Luna ragu sesaat. Keadaan sedang sangat buruk untuknya. Tapi Reina juga sudah berbaik hati mengantarnya. "Ya udah, yuk."
Luna mengetuk pintu rumahnya, Arga yang membukakan pintu. Arga dari tadi memang menunggu di ruang tamu, tepat di sebelah pintu.
Luna tersenyum, "Makasih." Dia menggandeng Reina masuk dan menyuruhnya duduk. "Gue ambilin minum dulu ya, Rei."
Reina mengangguk kemudian melepaskan tasnya dan duduk di kursi, meregangkan otot-ototnya yang lelah. Rumah Luna jauh dari jalan raya, mereka harus berjalan kaki, dan itu membuat Reina pegal karena dia biasanya naik ojek jadi tidak pernah jalan sejauh itu.
"Makasih udah nganterin kak Luna." Reina kaget mendengar suara. Dia tidak sadar dari tadi Arga masih berdiri di sana.
"Ah, sama-sama." Reina tersenyum sedikit lalu merapikan posisi duduknya. "Tapi kenapa kamu ga nganter tadi? Jessika sama Tyo udah bilang kan?"
Bukannya menjawab Arga malah pergi dan masuk ke kamarnya.
Anak aneh...
Reina mendengar suara pekikan tertahan dari sudut dalam rumah, tak lama Luna keluar. "Ini, Rei." Luna meletakkan segelas air.
"Makasih, Lun." Reina memperhatikan raut wajah Luna yang tampak khawatir. Tapi dia tidak menanyakannya.
"Elo udah pesen ojeknya?" Luna akhirnya bertanya.
"Belum, bentar..." Baru saja Reina mau mengeluarkan ponselnya, terdengar teriakan dari dalam.
Bunda memanggil Luna. Luna langsung panik. "Rei, sorry ya. Elo tunggu ojeknya di luar aja. Maaf banget..."
Reina mengkerutkan dahinya sebentar lalu mengambil tasnya. "Iya, ga papa Lun."
"Makasih banyak udah nganterin gue." Luna menunjukkan muka bersalah. "Maaf ya, bye..."
Bersambung...
EPILOG
Reina berjalan keluar gerbang sambil menatap ponselnya, melihat aplikasi ojol yang berputar dari tadi tanpa menunjukkan hasil.
CKIT!
Suara decitan tiba-tiba menggema. Reina yang kaget mengangkat wajahnya dan melihat sebuah motor berhenti tepat di depannya. Sang pengemudi motor membuka helmnya.
__ADS_1
"Rumah kakak dimana? Biar aku anterin." Sosok yang dia kenal, Arga.