
Chapter 51: Bocah
"Tidak perlu malu untuk bersikap seperti anak kecil..." -El-
"AW... Sakit..." El meringis berkali-kali saat Luna mengobati luka-lukanya di rumah. Mereka sudah memeriksakan tubuh berharga El di rumah sakit terdekat tadi, dan dokter bilang tidak ada luka serius. El berlebihan.
"Kakak diam dulu. Jangan bergerak terus!" Luna yang biasanya sabar sekarang mulai kewalahan menghadapi tingkah El. Dulu, lelaki ini tidak begini. Sekarang manjanya kebangetan.
"Sakit, sweetie..." keluh El untuk kesekian kali. Luna sudah tidak menghitung karena terlalu banyak.
"Ya sudah, kakak obati saja sendiri!" Luna mendecak kesal. Ini sudah hampir setengah jam, tapi wajah El belum juga selesai diobati. Luka di tubuh El apalagi, belum tersentuh sama sekali.
"Yah.. kok marah, sih..." El menarik tangan Luna mendekat ke arahnya lalu menyandarkan kepalanya manja di bahu Luna. Berhasil membuat Luna menghela nafas panjang lalu mengambil salep obat lagi.
"Diam atau aku enggak mau bobo sama kakak," ancamnya. El bergidik ngeri. Ini serius. Dilingkarkannya lengan miliknya ke lengan Luna, sampai badan mereka menempel di atas tempat tidur berlapis sprei berwarna hitam itu.
"Aku tak bisa tidur tanpamu, sayang..."
Luna memutar bola matanya jengah. Dia seperti sedang mengurus bocah umur tujuh tahun. El sekarang bertingkah seperti Arya. Malah lebih parah, karena badan El lebih besar dan dia tidak seimut Arya. El si bocah besar. Big Babe.
"Hm..." Dengan sangat perlahan Luna mengobati setiap inci luka El. Ia bisa melihat tangan El yang terkadang mengepal erat. Tampaknya memang betul-betul sakit, batin Luna.
"Sudah..." ucapan Luna membuat El membuka matanya. Dia tersenyum senang, akhirnya kepedihan itu selesai.
"Sekarang badan kakak... Ayo buka bajunya..." Tarikan Luna pada baju El berhenti saat ia melihat lelaki itu mengedip genit.
"Kamu agresif sekarang, sayang..."
ASTAGA... Om genid...
Luna ingin menampar El kalau saja orang itu bukan suaminya. Gabungan antara manja dan genit itu sungguh di luar imajinasi Luna. Ia sampai bergidig geli.
"Kak, aku bobo sama mami..." Luna menunjuk pintu kamar. Dia bukan cuma mengancam sekarang. Dia serius. Ditatapnya El tajam dengan kedua mata yang terbuka lebar seolah menunjukkan kalau memang itu lah maksudnya.
"Okay... Sorry, princess...." El membuka bajunya dengan sukarela. Sekarang, giliran Luna yang menelan ludah. Kalau tadi El menggodanya terus menerus dan dia mengacuhkannya, sekarang terbalik. Ia ingin digoda.
El melihat tatapan lapar Luna pada perut atletnya dan dada bidangnya. Ia mengulum senyum. Hasil work out selama ini terbayar sudah. El ingin tertawa keras saat melihat Luna yang hampir meneteskan air liur.
"Sayang...." panggilnya pelan. Luna terhenyak dari tatapan nista yang baru saja ia lakukan. Buru-buru ia menyebut nama hewan dalam hati banyak-banyak. Ini berhasil membantu dirinya fokus kembali. Tidak bermoral memang, tapi cara ini berhasil tiap waktu.
Sekali lagi Luna mengoleskan obat di bagian tubuh El yang sekarang sudah berubah warna menjadi merah, biru dan ungu. Luar biasa. Badan El sekarang mirip rainbow cake.
"Sudah menatapnya?" goda El. Luna berpaling menyembunyikan semburat merah muda yang muncul di pipinya lalu melebar sampai ke telinga.
Imutnya istriku!
Dipeluknya Luna tanpa menunggu. Luna terlonjak saking kagetnya. Ia tidak siap. "Kak!" Protesnya marah. "Kalau begini obatnya jadi nempel di baju aku, kan...." Sia-sia sudah hasil jerih payahnya selama satu jam terakhir. Hilang semua karena El merapatkan tubuhnya ke Luna dan menempel di sana. Melekat erat sambil menyurukkan wajahnya ke dada Luna.
"Kalau begini besok aku tidak mau pakaikan obat untuk kakak lagi!" ujarnya sebal. "Minta saja Pak Kris yang melakukannya." Luna menggerutu sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan El, yang tentu saja tidak berhasil.
"Kenapa jadi Kris? Jangan bilang kamu cemburu....?"
"Kecuali dia waria baru aku cemburu, Kak!" balas Luna asal. Tawa El pecah seketika. Pasalnya bayangan Kris memakai dress ketat dan make up menor melintas begitu saja dalam benaknya. Perutnya sampai sakit karena bergetar terlalu keras.
"Kamu lucu, sayang..." El menarik tengkuk Luna mendekat, menghabiskan jarak antara mereka. Ia mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di seluruh bagian wajah Luna. Suara manis itu terdengar di seluruh penjuru kamar yang hening. Setelah puas El menarik dirinya menjauh sedikit.
"Terima kasih karena selalu setia padaku... Dan hanya aku..."
"I love only you, as always... My everlasting love..."
__ADS_1
Perkataan El membuat Luna tertunduk malu. El menjadi gemas sendiri melihatnya. Sesaat kemudian pandangannya tertarik ke arah lengkungan berwarna merah muda di sana, yang seolah memanggil untuk mendekat.
Luna memejamkan matanya saat wajah El menghampiri. Dalam sedetik, ia bisa merasakan kehangatan di setiap sudut bibirnya. Seperti biasanya, hangat dengan tekstur lembut dan rasa manis. Saat suara deru nafas semakin jelas terdengar, tangan El mulai bergerilya. Satu tangan itu dengan rajin menjamah di dalam pakaian Luna.
"Ah, bagaimana ini sayang?" El bertanya bimbang. Ia sukses membuat dahi Luna berkerut karena tiba-tiba melepas ciumannya dan malah bertanya hal yang aneh.
"Badanku sangat sakit tapi aku ingin sekali melakukannya denganmu..." keluhnya.
Luna tersenyum sesaat. "Tidur saja, kak. Masih ada hari esok," jawabnya. "Aku selalu di sini bersamamu...." Luna mengecup sekilas pipi El.
"Sini, kak..." Luna merebahkan badan El di sampingnya, menarik wajah cowok itu ke dalam dekapannya. El bisa merasakan dua bantalan empuk milik istrinya itu menyambut pipinya. "Bobo ya..." ucapnya sambil mengelus kepala El.
El bergerak tak nyaman dalam pelukan Luna. "Kenapa, kak?" tanyanya. "Tidak bisa bernafas?" Dia merenggangkan tangannya, membiarkan El menjauh.
"Tidak, cuma aku merasa ingin sesuatu sekarang..."
"Kakak mau apa? Biar aku ambilkan..." El terdiam sesaat setengah ragu untuk mengutarakan keinginannya.
"Aku mau susu..."
"Aku buatin sekarang..." Dalam sepersekian detik Luna sudah menghilang di balik pintu menyisakan El yang melongo heran.
BUKAN YANG ITU, WOY!
Gagal Paham.
***
Alex menatap gadis yang jelas lebih tua darinya dengan penuh tanya. Demi alasan kesopanan kepada adik sang guru, ia mengiyakan ajakan cewek penunggu gerbang. Lagipula dia memang tidak ingin membuat drama. Tapi apa sih maksudnya ini? Kenapa mereka malah berakhir makan bersama di cafe?
Ini semua terjadi karena tadi banyak tatapan curiga mengarah padanya. Playboy kelas kakap sedang beraksi. Pastilah seperti itu yang ada dalam pikiran mereka. Akhirnya Alex terpaksa merelakan motornya dinaiki perempuan baru lagi. Entah sudah berapa banyak yang ia bonceng dengan motor ini? Terlalu banyak namun tak penting untuk diingat.
"Nama kamu siapa, dek?" Karin bertanya santai sambil memotong steak di hadapannya. Ia buntu mencari topik pembicaraan. Dan dia cuma bisa menanyakan hal ini saja. Sungguh ironis, pura-pura menanyakan nama padahal baru saja ia yang sok kenal.
"Hai, Alex. Aku Karin..."
Iya udah tau... Kenapa jadi berputar-putar begini, sih?!
Setelah mengucapkan nama keadaan menjadi sangat canggung. Tidak ada yang mulai bicara lagi. Alex akhirnya cuma memperhatikan Karin yang hampir menghabiskan makanannya. Jangan tanyakan milik Alex. Menu yang ia pesan sudah tandas tak bersisa, berpindah ke dalam perutnya. Sedari tadi.
Karin meletakkan peralatan makannya lalu minum sedikit. Ia memandang Alex sekarang, seolah mau mengucapkan sesuatu padahal tidak.
Tak sabaran, Alex membuka mulutnya. "Jadi, ada apa kak?" Alex langsung saja bertanya. Ia penasaran juga kenapa kakak itu sampai menghampirinya ke sekolah.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk yang semalam..." jawab Karin.
"Aku sepanjang pagi ini sudah memohon dan memelas pada kak Re agar bisa datang menemuimu...."
Alex membalas tatapan Karin, mencari kebohongan di sana. Jujur sepertinya.
"Aku benar ingin mengucapkan terima kasih dan mentraktirmu...." ucapnya.
Alex mengulum senyum. Perempuan baik. Atau, tidak juga. Anak baik tidak akan main ke club. Alex meralat sendiri kesimpulannya.
"Sama-sama, kak..." jawab Alex santai. "Dan terima kasih juga untuk makanannya..."
"Apa kamu suka makanannya?" tanya Karin.
"Enak, kok..." jawab Alex seadanya. Dia masih melayani kakak ini karena ia yakin masih ada yang belum disampaikan.
__ADS_1
"Dek, semalam... Apa aku melakukan sesuatu padamu?" tanyanya was-was.
Alex terkekeh sedikit. "Apa kakak mau tau?" godanya.
Mata cewek itu membulat kaget sesaat. "Apa aku berbuat hal yang memalukan???" Karin menutup mulutnya. Berbagai macam bayangan sudah berlarian di dalam benaknya. Dari hal biasa sampai hal yang sangat memalukan. Apa mungkin ia berteriak seperti orang gila? Atau menari di atas meja?
"Apa kakak baru saja diputuskan?" Pertanyaan yang telak menusuk perasaan Karin. Apakah mukanya sengenes itu? Sampai-sampai orang yang baru mengenalnya saja bisa menebak dengan tepat apa yang terjadi pada dirinya.
"Ahhahahahaha.." Karin tertawa canggung. Dia ingin mengelak, tapi sudah terlanjur. "Iya..." jawabnya pelan.
Ternyata memang sama seperti dirinya. Sama-sama patah hati. "Sabar ya, kak..."
Karin menatap cowok di hadapannya. Anak SMA yang lebih muda dari dirinya itu berwajah bad boy, tapi nyatanya sikapnya manis begini.
"Aku minta maaf atas apapun yang aku lakukan padamu semalam. Kamu tau, kan, itu karena aku tidak bisa mengendalikan diri..." Karin menutup wajahnya malu.
"Tidak apa, kak..." Alex mengulum senyum. "Kakak cuma minta dipangku saja dan mengecupku beberapa kali..." Dia sengaja mengatakan itu, penasaran melihat reaksi perempuan ini.
"Ah...." Mulut Karin terbuka lebar. Ya ampun, sangat memalukan. Pipinya langsung berubah kemerahan, segera ia menutupnya dengan kedua tangan. "Maafkan aku..." ucapnya.
"Tidak apa, kak..." Alex mengedipkan sebelah matanya ke arah Karin. "Aku tidak keberatan karena kakak cantik yang melakukannya...." Karin tersenyum malu-malu membuat Alex menduga bahwa gadis ini sepolos kelihatannya.
"Tapi lain kali, jangan pergi kesana lagi. Terlalu berbahaya untuk kakak..." sarannya.
"Kakak beruntung kemarin karena menggodaku. Aku tidak tau apa yang akan terjadi kalau misalnya kakak menggoda cowok lain. Bisa-bisa kakak berakhir di kamar hotel." Alex menakuti Karin. Gadis itu menatapnya dengan tatapan ngeri.
Wah, sudah besar tapi masih bocah ternyata...
Karin memukul mejanya pelan. "Ini semua gara-gara cowok brengs*k itu!" geramnya. "Dia bilang padaku aku terlalu baik..." Karin malah curhat ke Alex.
"Jadi kakak mau mencoba jadi cewek yang tidak baik?" Alex mendengus. Masih saja ada orang bodoh yang merubah dirinya demi seseorang yang bahkan tidak perduli.
"Aku mau membuktikan padanya kalau aku tidak sebaik itu. Aku juga bisa menjadi anak nakal..."
Bocah dalam arti sebenarnya...
"Padahal kita sudah pacaran selama 2 tahun. Teganya dia meninggalkanku begitu saja..." Karin mulai berlebihan. Dia tidak memiliki siapa pun sebagai teman cerita. Kakaknya sudah bosan mendengar rengekannya. Dan dia terlalu malu untuk curhat berkali-kali pada teman kuliahnya.
"Mau pacaran sama aku, kak?" tanya Alex tanpa berpikir panjang. "Ayo kita balas pacar kakak itu..." Hobi lamanya muncul kembali, suka mencari masalah.
"Ng?" Karin tidak percaya apa yang didengarnya. Dia melihat Alex dari atas hingga bawah. Kenapa anak ini tiba-tiba mau menjalin hubungan dengannya? Bahkan baru sehari kenal.
"Jadi pacarku kak..." Alex mengulang ucapannya lagi.
"Kamu tidak punya pacar, dek?" tanya Karin. Alex setampan itu, mustahil tidak punya pacar.
"Tidak ada kak... Ayo, kita pacaran..."
Karin menatap tak percaya. Alex mengajak pacaran seperti menawarkan permen. Semudah itu.
"Kakak tidak mau?" tanya Alex. "Kan tadi juga kakak bilang aku ganteng..." Ia terkekeh pelan.
Ya memang, dia bilang begitu tadi. Tapi itu untuk mendapatkan perhatian Alex saja. Bayangkan kalau tadi Karin datang lalu menyapanya dengan 'hai, jelek..' Yang ada bukannya dihampiri dia malah ditimpuk nanti.
Karin menimbang sejenak. Alex tampan, dia juga baik. Dan dia kenal dengan kak Regina. Pasti tidak akan macam-macam, kan?
"Kakak bisa pamerkan aku pada mantan busuk kakak itu... Aku akan buat dia menyesal sudah menyia-nyiakan perempuan secantik kakak...."
Lagi-lagi wajah Karin merah padam. Alex sungguh pintar merayu. "Hmm.. Baiklah..."
__ADS_1
"Selamat menjadi pacarku, kakak cantik..."
Bersambung