Langit Untuk Luna

Langit Untuk Luna
67. Sebelum Badai


__ADS_3

"Luna mau nonton film apa?" El bersemangat menunjuk poster film yang ada di sepanjang dinding bioskop di mall yang mereka datangi.


Mami sudah pulang dengan semua belanjaan mereka tadi. Dia juga berpesan untuk datang lagi Minggu depan.


Saat ini, Luna tidak bisa berkonsentrasi dengan gambar-gambar di depannya. Entah kenapa dia merasa sedikit lapar dan perutnya sudah berbunyi.


"Kakak," Luna menarik ujung baju El. Dan ini merupakan bagian favorit El. Saat Luna berucap manja sambil menarik ujung bajunya. Itu sungguh menggemaskan.


"Kenapa Luna?"


"Aku lapar. Bisa kita makan dulu?"


El melirik jam, mereka masih punya waktu sebelum film dimulai. "Kita pesan tiketnya dulu, baru makan ya."


"Iya, kak." Luna mengangguk.


"Kamu mau nonton film apa?"


"Apa aja boleh."


El mengantri di barisan film horror.


Luna menarik tangan El, lalu menatapnya tajam. "Aku ga suka film horror."


Dia tetap imut walaupun lagi marah.


Luna menyeret El keluar barisan sambil berjalan mundur.


"Hati-hati!" El merangkul Luna karena ia hampir saja menubruk orang di belakangnya tanpa sadar. Dan itu adalah seorang ibu yang membawa balitanya.


"Maaf ya Bu." Luna meminta maaf dengan sopan. "Kakak, sih!" Dengan malu-malu Luna menyenggol lengan El. El cuma terkekeh geli.


"Makanya, kamu jawab yang betul mau nonton apa..."


"Apapun asalkan jangan film horor." Luna meneliti poster di sekeliling mereka, kemudian menunjuk salah satu. "Itu aja." Pilihannya jatuh pada film action ternama Hollywood.


"Oke." El menggandeng Luna untuk mengantri membeli tiket. El sebenarnya tidak perlu mengantri, tapi ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Luna. Dia sengaja melakukannya.


Setelah tiket didapat, mereka memilih restoran untuk makan siang. Luna yang memilih. Restoran Korea lagi, memang k-popers sejati.


Saat melihat buku menu, Luna melirik-lirik El.


"Pesan aja yang kamu mau, nanti kakak traktir." El tersenyum penuh arti.


"Hehe... Kakak tau aja aku lagi ga punya uang." Luna tersenyum senang. "Aku janji, kalau nanti aku udah kerja, terus aku punya uang sendiri, kakak orang pertama yang aku traktir!"

__ADS_1


"Oke, kakak tunggu ya." El mengelus kepala Luna.


Setelah itu tanpa ragu Luna memesan sebuah paket makanan lengkap, minuman, teokpokki, spicy chicken wings, puding dan es krim. Sementara El cuma membeli satu paket makanan dan minuman.


Saat makanan datang, El heran melihat makanan Luna yang sangat banyak sampai berjejer memenuhi meja mereka.


"Kamu bisa habisin itu semua?"


"Kakak mau? Nanti aku bagi."


Luna sungguh terbawa suasana, dengan sombongnya bilang mau membagi makanannya, padahal jelas-jelas El yang membayar.


"Katanya kamu mau bagi?" El menatap semua makanan di meja yang sudah ludes tanpa ia sadari.


Luna menutup mulutnya kaget, dia lupa. "Ah, gimana dong kak. Mau pesan makanan lagi?"


"Udah ga usah, nanti filmnya keburu mulai. Yuk."


"Aku beliin es krim deh, kak." Luna merasa bersalah dan akhirnya ia mampir ke kedai es krim dan membeli sebuah es krim cone rasa vanilla.


"Ini, kak." Luna menyodorkan es krim nya. Tapi El tidak mengambil es krim itu, malah memegang tangan Luna dan mencicipi es krimnya.


"Ambil aja buat kakak semua es krimnya. Nanti kalau aku yang pegang, bisa-bisa aku habisin lagi tanpa sadar."


El tertawa pelan. "Ga apa kalau kamu mau habisin, kakak barusan udah cobain."


Luna dan El masuk ke dalam ruang pemutaran film tepat waktu. Mereka duduk di barisan tengah sebelah kiri. Di sebelah kiri dan kanan mereka kosong. Luna merasa itu aneh, tapi dia diam saja dan menikmati filmnya.


Sepanjang film El mengambil kesempatan untuk menggenggam tangan Luna. Entahlah, dia merasa ingin meminta ganti rugi karena tidak bisa memeluk Luna lagi, jadi dia melampiaskannya dengan cara: 'tidak akan melepaskan genggaman tangan'.


Luna begitu menghayati filmnya, sampai-sampai dia tidak menyadari kalau yang El lakukan bukanlah menonton film, tapi memandanginya.


El sudah menonton film itu, satu-satunya film yang belum dia tonton hanyalah film horror yang ditolak Luna tadi. Dia hanya ikut menonton agar bisa disamping Luna.


Lampu bioskop menyala, pertanda film selesai. "Kak, pulang yuk. Udah sore."


El menghela nafas berat. Hal yang tak pernah Luna lupakan hanyalah jam pulang. Tidak taukah Luna kalau dirinya ingin bersama walau cuma sedikit lebih lama?


"Iya. Kakak minta Pak Ahmad jemput sekarang." El mengeluarkan ponselnya malas.


***


Luna hampir terlambat masuk sekolah hari ini. Kemarin dia merasa sangat lelah, dan akhirnya bangun kesiangan.


"Hai, Jess."

__ADS_1


Jessika tersentak kaget mendengar sapaan Luna. Begitu juga dengan Tiara dan Reina yang sedang nongkrong di depan meja mereka.


"Kenapa? Ada apaan di muka gue?" Luna mengusap wajahnya bingung.


"Lun, duduk sini." Jessika menarik Luna duduk di sebelahnya.


"Ada apaan sih?" Luna membuka tasnya dan duduk di sebelah Jessika.


"Lihat, nih" Jessika mendekatkan ponselnya ke Luna, menunjukkan serangkaian fotonya dengan El saat mereka nonton kemarin.


Luna membelalak kaget. "Darimana nih foto?" Dia mulai mengecek satu persatu fotonya dengan El. Foto saat El merangkulnya, foto saat mereka makan es krim bareng, foto saat mereka bergandengan tangan, dan masih banyak foto lainnya.


"Gue ga tau, Lun. Yang pasti ini udah nyebar ke anak-anak di sekolah."


Luna geram mendengarnya. "Gak ada kerjaan banget, sumpah!"


"Dan sekarang, mereka mulai percaya sama gosip yang dibuat Monika kemarin."


Luna menjambak rambutnya frustasi.


"Udah sabar, Lun. Kita kan kemarin udah ketemu sama si om itu. Dan elo bukan cewek kayak gitu, kok." Reina berusaha menenangkan.


"Mereka pada iri aja sama elo, Lun. Ga usah di dengerin." Tiara menepuk dan mengusap pundak Luna pelan.


Luna menutup wajahnya, berusaha meredam amarahnya yang meluap-luap. Dia sadar kalau perbedaan umur antara dirinya dan El akan membuat gosip yang tidak enak didengar. Tapi dia tidak menyangka kalau gosip itu harus tersebar ke seantero sekolah. Jelas sudah cita-cita Angel dan teman-temannya, menjadi admin Lambe turah.


Sayangnya, sekesal apa pun dirinya, pembelajaran di sekolah tetap berjalan seperti biasa. Luna sama sekali tidak bisa berkonsentrasi selama di kelas. Dia terus-terusan menghela nafas kesal. Sampai akhirnya jam istirahat tiba. Luna berjalan malas menuju kantin sekolah. Dia tidak suka dengan tatapan teman-teman sekolahnya yang seolah menghakimi dirinya. Oh, ayolah, kenal saja tidak, kenapa harus sok menghakimi!


"Kak Luna,"


Mendengar namanya dipanggil, Luna segera menoleh. Itu Arga. Arga menghampiri Luna dan teman-temannya, Jessika, Reina dan Tiara.


"Kenapa?" Sungguh tak biasa di jam istirahat Arga bergabung dengannya.


Kalau kau mau tau apa yang Arga lakukan selama jam istirahat, itu sungguh tidak bisa ditebak. Arga selama ini dicegat oleh siswi perempuan yang mengerubunginya sejak bel berbunyi. Terkadang dia bersembunyi di ruang OSIS atau di perpustakaan. Kalau sedang beruntung, Arga bisa menghampiri Luna atau Tyo.


"Aku liat foto kakak di grup kelas. Kakak kemarin habis pergi sama si om?"


"Jangan dibahas, dek." Luna berjalan cepat ke kursi kosong yang sudah ditempati Tyo.


"Kakak kenapa masih deket-deket sama dia, sih? Kan hutang kita udah lunas?" Arga duduk di sebelah Luna. Jessika dan Tyo di sebelahnya.


Luna diam tak menjawab, dia menunggu Reina dan Tiara yang duduk di depannya pergi untuk memesan makanan.


"Elo kayak ga tau aja sih, Arga." Jessika yang menjawab pertanyaan yang ditujukan untuk Luna. "Ya jelas karena Luna emang suka sama si om itu."

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2